
Panji yang tak terima dengan perlakuan Satrio bergerak cepat balas menerjang Satrio yang sudah siap dengan aksi balasan Panji.
"Masuk, Dis!" perintah Satrio lagi karena melihat Adis mematung melihat baku hantam live di depan matanya.
"Tapi....."
"Nurut, Dis...." kata Satrio sambil menepis pukulan Panji.
"I iya...." kata Adis bergegas berlari ke arah pintu rumah, masuk secepat kilat, kemudian bergegas menguncinya dari dalam.
Jantungnya berdegup kencang tak beraturan. Tubuhnya gemetaran. Dia ketakutan.
Mbak Yanti yang baru selesai mandi dari tadi dan nggak tahu apa yang terjadi di depan, nampak kaget saat melihat Adis bersandar di pintu ruang tamu dengan wajah pucat dan gemetar.
"Mbak! Kenapa, Mbak?" tanya Mbak Yanti panik.
Adis hanya menggeleng- gelengkan kepalanya.
Tubuhnya masih terlalu gemetar dengan yang barusan terjadi.
Mbak Yanti bergegas melongok keluar saat di dengarnya keributan di depan dan dilihatnya Satrio dan Panji saling menghindari pukulan dari lawan dan saling mengumpat.
"Ya Allah, Mas Satrio! Mas Panji!" teriak Mbak Yanti.
"Urus Adis aja, Mbak!" seru Satrio sambil menyarangkan pukulan ke lengan Panji yang tadi berkelit.
Panji terjengkang ke kursi dan dengan kaki kanannya, Satrio menekan dada Panji sekuat tenaga.
Tepukan- tepukan kedua tangan Panji di kakinya tak di rasa oleh Satrio.
Panji sudah tak berdaya.
Dia yang sama sekali nggak menguasai bela diri jelas kalah stamina dan skill berkelahi bila melawan Satrio yang punya dasar taekwondo.
"Beneran banci lu. Pantesan beraninya main fisik sama perempuan doang." ejek Satrio sambil menekan sekali lagi kakinya ke dada Panji hingga Panji megap- megap lalu melepaskannya.
"Minggat sana! Nggak level gue kelahi lawan banci. Inget, jangan deketin Adis apalagi Reta lagi. Jangan ngebacot aneh- aneh sama orang tua kalian. Putusin Adis." kata Satrio sambil menepuk- nepuk kerah depan baju Panji yang masih menatapnya tak terima.
"Masih mau kelahi lagi atau gimana nih ngeliatinnya kayak gitu? Atau jangan- jangan sebenarnya lu pendekar tapi pura- pura ngalah sama gue? Ayo kalau masih mau berantem. Pilih lokasi mau kelahi dimana." kata Satrio santai.
"Kamu bakalan nyesel berurusan denganku." geram Panji sambil menepis tangan Satrio yang masih bertengger di pundaknya.
Panji pergi dengan wajah kesal dan menatap Satrio dengan tatapan penuh dendam.
"Kalau lu laki- laki, lu pasti tahu gimana caranya fair play, Bro!" seru Satrio sebelum Panji melewati pagar rumah Adis.
Panji hanya mendengus kesal.
Persetan dengan fair play!!!
Panji berlalu dari rumah Adis dengan segala sumpah serapahnya.
Dia merasa terhina, sekaligus merasa terancam.
Dia harus nyari tahu siapa cowok songong yang sok jadi pahlawan itu.
Apa bisa dia melawan power kekuasaan papanya. Lihat saja nanti.
Panji tersenyum penuh khayalan kemenangan.
Sementara Satrio bergegas mengetuk pintu rumah Adis dan segera dibukakan oleh Mbak Yanti.
"Adis nggak papa,Mbak?" tanya Satrio dengan nada khawatir.
__ADS_1
"Masih agak gemetar, Mas." kata Mbak Yanti sambil bergegas masuk ke ruang tengah diikuti Satrio yang langsung mendapati Adis yang duduk melamun di sudut sofa panjang di depan tv.
Kedua lututnya tertekuk di peluk kedua lengannya.
"Dis, are you okay?" tanya Satrio lembut sambil duduk di sebelah Adis sepekan mungkin.
Dia nggak mau ambil resiko Adis kaget dan nantinya histeris. Nyeremin banget pasti.
Adis hanya mengangguk kecil.
Satrio sedikit bernafas lega melihat Adis langsung meresponnya.
"Kamu ada saudara nggak di sini?" tanya Satrio kemudian.
Adis mengalihkan tatapannya pada Satrio.
"Ada baiknya beberapa hari ini kamu nggak di rumah dulu. Panji kayaknya belum rela ngelepas kamu. Takutnya nanti kamu di kasarin lebih parah dari tadi sama dia." kata Satrio menjelaskan.
Adis mengangguk mengerti.
Dia juga berpikir begitu.
Dulu saja Panji nyaris mencekiknya gegara saat mereka berdua jalan makan dan Adis nggak sengaja ketemu dengan teman SMA di tempat makan itu lalu mereka ngobrol dengan seru.
Flashback on
**************
Adis memang sempat mengesampingkan keberadaan Panji karena saking asiknya ngobrol ngalor ngidul dengan temannya itu walau hanya beberapa menit.
Karena jengkel dicuekin, Panji membisu sepanjang mereka makan, bahkan sampai mereka jalan pulang.
Dia mengendarai mobil dengan ugal- ugalan karena emosi.
Adis yang ketakutan dengan gaya menyetir Panji sampai teriak- teriak meminta turun saking takutnya.
"KAMU PIKIR KAMU SIAPA HAH?!!! TERIAK- TERIAK DIMOBILKU?!" teriak Panji sambil menangkup rahang Adis kuat.
Adis langsung ketakutan dibuatnya.
"Aku takut kita nanti celaka kalau kamu bawa mobilnya kayak tadi, Mas." kata Adis gemetar.
"AKU NGGAK PERDULI !!! PEREMPUAN NGGAK TAU DIRI MACAM KAMU MEMANG PANTESNYA CELAKA! KAMU MAU TAHU RASANYA CELAKA?! HAH?!" teriak Panji garang di depan muka Adis yang kini menggeleng cepat.
Wajah ketakutan Adis bukannya menerbitkan iba di hati Panji malah membuatnya merasa semakin harus mengintimidasi Adis lebih lagi.
"Kayak gini nih celaka karena sembarangan sama aku." kata Panji menggeram sambil kedua jempolnya menekan kuat lekukan di atas pertemuan dua tulang selangka Adis hingga Adis gelagapan.
Sekuat tenaga Adis memukul- mukul jendela di belakang kepalanya,berharap ada orang lewat yang perduli.
Panji semakin menekan lehernya, bahkan sudah mencengkeram leher Adis dengan tatapan penuh amarah.
Nyaris saja Adis kehilangan nafas sebelum kaca jendela di ketuk dari luar bebrapa kali oleh seorang penjual asongan yang sengaja mengintip karena mobil berhenti di tempat yang sepi.
Dia berpikir sepasang manusia di dalam mobil sedang melakukan perbuatan mesum.
Adis pulang dengan taksi setelah berhasil keluar dari mobil Panji.
Tak ada acara Panji mengejar Adis untuk meminta maaf.Tak juga ada telepon Panji untuk menanyakan keadaan Adis setelah kejadian itu.
Dan beberapa hari kemudian Panji muncul lagi di rumahnya dengan wajah tanpa dosa dan seperti tak terjadi apa- apa sebelumnya.
Flashback off
__ADS_1
**************
"Aku bisa anterin kamu kemana?" tanya Satrio lembut.
"Hah?" tanya Adis kaget karena belum sepenuhnya pulih dari lamunannya.
"Kamu harus pergi dari sini beberapa waktu sampai di rasa kondisinya aman lagi buat kamu tinggal disini. Aku mau anterin kamu ke rumah yang kamu anggep aman sementara ini." kata Satrio lembut.
"Ah ya....Kakakku ada di jalan Parangtritis. Aku bisa kesana nanti." kata Adis kemudian.
"Aku anterin sekarang. Kamu siap- siap aja dulu. Aku pulang ambil mobil dulu." kata Satrio kemudian beranjak berdiri.
"Tapi....." Adis nampak ragu untuk mengiyakan ucapan Satrio.
"Nurut, Dis. please...." kata Satrio dengan tatapan memohon.
Adis terpaku melihat tatapan Satrio itu.
Sekuatir itukah Satrio padanya? Hingga harus memohon seperti itu untuk melindunginya?
"Iya." kata Adis pelan.
Satrio tersenyum lega.
"Aku pulang dulu ambil mobil." pamit Satrio kemudian bergegas meninggalkan Adis.
Adis masih bisa mendengar Satrio memanggil Mbak Yanti dan mengajaknya bicara, tapi Adis tak terlalu memperdulikan itu.
Dia lebih memilih bergegas memasuki kamarnya dan menyiapkan barang- barang yang akan di bawanya ' mengungsi' ke rumah Mas Didit
Dia segera menelpon Mbak Desi, istri Mas Didit, untuk memberitahu kalau dia akan menginap disana beberapa waktu di rumahnya.
Kakak iparnya itu terdengar senang dengan rencananya menginap.
Sambil menunggu Satrio menjemputnya,Adis memilih untuk mandi dan memberi makan cacing- cacing di perutnya walau hanya memasukkan beberapa suapan makanan ke perutnya.
"Kok dikit banget Mbak makannya?" tegur Mbak Yanti yang tadi melihat Adis hanya mengambil nasi sepucuk centong nasi.
"Lagi nggak nafsu makan, Mbak." jawab Adis sambil tersenyum getir.
Gimana mau nafsu makan, gemetaran di tubuhnya akibat perlakuan Panji saja belum benar- benar hilang.
"Maafkan aku ya, Mbak. Tadi nggak bisa nolongin Mbak Adis." kata Mbak Yanti penuh sesal.
Tadi dia dimarahi Satrio karena lengah jaga kondisi rumah. Dan Mbak Yanti sangat merasa bersalah kali ini.
Harusnya dia nggak meninggalkan Panji sendirian di rumah ini. Bahkan dia tinggal mandi. Bodoh sekali kelakuannya tadi.
"Udah kejadian, Mbak. Lagian kamu juga belum kenal sama kelakuan Panji. Mulai sekarang kita harus lebih hati- hati kayaknya." kata Adis sambil tersenyum, mencoba bersikap tenang.
"Tadi Mas Satrio nyuruh aku untuk nggak bukain pintu kalau ada Mas Panji atau siapapun tamunya selain orang yang aku tahu dengan baik kalau itu orang yang baik sama Mbak Adis." kata Mbak Yanti.
Adis terdiam sesaat.
"Gitu juga nggak papa, Mbak. Kita nyari amannya aja." kata Adis kemudian.
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...
Mohon maaf ya up nya mundur 😅
Untuk besok kayaknya ijin buat nggak up sehari ya....ada keribetan di RL.
Kalaupun bisa up kemungkinan malam.
__ADS_1
Mohon di maklumi ya.....😊😀
Happy reading...💖💕