KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
The Day


__ADS_3

Adis menatap pantulan dirinya di cermin kamarnya.


Rambut hitamnya yang sepunggung masih sedikit basah.


Hair dryer yang sudah di tangannya sedari tadi tak juga dia hidupkan.


Dia lebih memilih asik mengingat kembali peristiwa sejak pagi tadi.


Sangat hactic, namun menyisakan kelegaan yang luar biasa kini.


Kehebohan sejak pagi tadi dalam persiapan pernikahan dadakannya terbayar lunas dengan sangat lancarnya acara di rumahnya selepas magrib tadi.


Tadi pagi dia masih di Jakarta. Masih mencoba beberapa jenis kebaya yang menurutnya sendiri , menurut Bu Katarina,dan menurut Satrio sempurna untuk penampilannya di acara ijab qobul.


Harus berganti lima kali kebaya baru ketiganya merasa OK.


Flashback on


*************


Seusai dari butik sudah tengah hari dan mereka tidak lagi pulang ke rumah tapi langsung ke bandara untuk terbang kembali ke Jogja.


Di bandara ternyata sudah menunggu Pak Susilo, Mas Didit,Wira, dan seorang baby sitter yang menggendong Bian, dengan tujuh koper bersama mereka.


Hampir jam tiga Adis sampai di rumahnya dan langsung tertegun melihat halaman rumahnya sudah cantik dengan tenda mulai dari gerbang sampai samping teras rumah.


Di tiap tiang tenda yang berwarna putih menempel rangkaian bunga sweetpea aneka warna, sementara di dinding pagar samping rumahnya sudah cantik berhias pot- pot artistik berisi bunga anyelir beraneka warna, terkesan meriah, ceria, namun tetap cantik.


Di beberapa meja yang sudah tertata rapi di halaman, ada vas cantik berisi rangkaian bunga baby breath. Ada yang berwarna pink, ada juga yang berwarna ungu.


Di langit- langit tenda juga cantik dengan rangkaian bunga yang membuat Adis berdebar- debat melihat kecantikannya.


Adis semakin melongo saat masuk ke dalam ruang tamu yang dekorasinya semakin spectakuler.


Ruang tamu kini berubah begitu cantik dengan dekorasi dominan berwarna tosca, warna kegemarannya.


Di langit- langit, tepat di tengah ruangan juga tergantung rangkaian bunga yang sangat cantik.


Seperangkat meja dan kursi yang tak kalah elegan juga sudah tersedia disana sebagai lokasi acara inti pernikahannya nanti.


Adis menangis haru di pelukan mamanya yang menyambut kedatangannya di ruang tamu itu.


"Kapan nyiapin ini semuanya?" tanya Adis sambil menyusut airmatanya.


"Keluarga calon suamimu yang melakukan semuanya. Tadi pagi- pagi Bu Buwono nelpon Mama katanya malam ini kalian jadi nikah karena kamu sudah menjawab mau. Kami hanya diminta langsung siap- siap karena nanti kami akan dijemput karyawan mereka untuk segera terbang ke sini." cerita mama Adis dengan semangat.


Adis mengangguk walau masih sedikit heran.


Sambil berjalan masuk ke dalam ruang keluarga mungilnya,mama Adis melanjutkan ceritanya.


"Kami kira akan naik pesawat komersil ternyata enggak." kata mama Adis sambil tersenyum.


Adis menatap mamanya dengan keheranan.


"Trus naik apa? Awan kinton?" tanya Adis nggak sabar karena mamanya nggak segera melanjutkan ceritanya.


"Naik pesawat pribadi, Dis! Kami takut dan kaget banget waktu kami nggak di bawa ke lokasi bandara yang biasanya. Papamu baru nanya sama yang menjemput kami, baru deh di kasih tahu kalau kami naik pesawat pribadi. Kami baru percaya begitu papamu telpon Pak Buwono dan dibenarkan sama beliau. Kami nggak nyangka orangtua Satrio sekaya itu. Punya pesawat pribadi segala." bisik mama Adis.


Adis hanya melongo. Dia juga baru tahu kalau calon mertuanya sekaya itu.


Tampilan rumahnya yang di Jakarta saja sudah membuat Adis dan Mas Didit nyaris mati berdiri waktu pertama kali sampai disana, saking bagusnya.


Ini malah ada cerita baru lagi kalau punya pesawat pribadi.


Dan sekarang Adis nggak heran kalau acara menikah mendadaknya sekeren ini dekorasinya.


The power of money benar- benar bekerja saat ini.


"Mama....!" suara Reta yang berlari mengarah kepada Adis membuat Adis dan mamanya berhenti berbincang.


Adis memeluk dan menciumi pipi Reta yang tertawa- tawa senang.


"Mama sama om ayah mau menikah ya?" tanya Reta yang membuat Adis tertawa geli.


Beneran Reta manggil Satrio tetap om ayah.


"Iya. Reta kasih ijin kan mama nikah sama om Rio?" tanya Adis sambil tersenyum.


"Kasih doooooong! Aku seneng punya ayah om Rio. Katanya aku udah punya adik Ma... Mana?" tanya Reta antusias sambil celingukan.


"Adik Bian lagi sama Oma di rumah Om Rio." kata Adis menjelaskan.


"Aku kesana boleh nggak, Ma? Pengen liat adik Bian..." pinta Reta dengan tatapan memohon.


""Boleh. Minta tolong di anter Mbak Yanti ya. Dan jangan nakal di sana, juga harus so...?"

__ADS_1


"Pan!" sahut Reta sambil berlari keluar mencari Mbak Yanti.


Adis kemudian mengetik pesan pada Satrio kalau Reta akan ke sana.


Sekitar jam lima, seorang MUA datang untuk mulai merias Adis, mamanya, dan Reta.


Hanya riasan simple saja. Apalagi tak perlu menggunakan jasa hair do karena Adis dan mamanya menggunakan jilbab.


Cukup menambah tiara di kepalanya, Adis sudah akan tampil sangat cantik dan elegan.


Walau baru pernikahan di bawah tangan, namun keluarga Buwono mengundang hampir setengah kompleks bapak- bapak penghuni kompleks.


"Nggak papa, biar semakin banyak yang tahu pernikahan ini." begitu kata Pak Buwono saat Satrio kaget melihat tamu yang datang lumayan banyak.


Satrio mengabari Adis berangkat dari rumahnya seusai jamaah sholat magrib.


Beberapa tamu sudah nampak hadir di depan dan berbincang santai satu sama lain beserta tuan rumah.


Adis duduk tenang di dalam kamarnya walau dalam hatinya deg- degan nggak karuan.


Tak ada yang menemaninya saat ini.


Matanya kembali menyapu seisi kamar yang di hias begitu cantik dan romantis, khas kamar pengantin.


Adis meringis malu sendiri.


Mamanya yang sedari tadi menemaninya baru saja keluar untuk ikut menyambut kedatangan keluarga Satrio.


Adis menarik dalam- dalam nafasnya lalu menghembuskannya perlahan- lahan berharap bisa sedikit meredakan ketegangan yang tiba- tiba melingkupinya.


Beberapa menit ke depan, dia akan jadi seorang istri.


Bukan lagi seorang janda mati beranak satu.


Dia akan jadi seorang istri dan ibu dengan dua orang anak yang menyenangkan.


Tolong lancarkan acara malam ini ya Allah.


Lancarkanlah kehidupan keluarga kecil kami nantinya.


Keringat dingin begitu saja terbit di telapak tangan Adis setelah di dengarnya beberapa sambutan singkat dari kedua belah pihak keluarga telah usai.


Sekarang waktunya, bisik batinnya semakin berdebar tak karuan.


Dipasangnya tajam- tajam pendengarannya untuk mendengarkan acara selanjutnya.


Airmata Adis mulai terbit saat di dengarnya penghulu menanyakan kesiapan Satrio dan Satrio menjawabnya dengan mantap bila sudah siap.


Mamanya muncul dari balik pintu kamar tepat saat Satrio mengucapkan akadnya.


Adis menunduk menahan tangis sementara tangannya menggenggam erat tangan mamanya yang juga ikut menangis haru saat di dengarnya Satrio sangat lancar mengucapkan bagian akadnya.


"Saatnya kamu keluar,Nak." kata mamanya begitu suara 'sah' berdengung di dalam rumah itu.


Adis mengangguk kemudian berdiri dan merapikan kebayanya.


Mamanya memeriksa dandanan Adis sekali lagi sebelum akhirnya keduanya keluar dari kamar.


Adis tetap menundukkan pandangannya sampai dia duduk di samping Satrio.


"Kamu cantik banget." bisik Satrio sebelum menerima uluran tangan dari Adis.


Adis gemetar merasakan genggaman hangat jemari Satrio.


Ini kali pertama tangannya digenggam Satrio.


Ternyata sangat hangat,nyaman, dan merasa aman.


Dikecupnya ta'zim punggung tangan Satrio. Bentuk bakti dan penghormatan pertamanya sebagai seorang istri.


Airmatanya menetes tak terbendung saat dirasanya bibir Satrio mengecup dahinya lembut.


"I love so much." bisik Satrio setelah dia memanjatkan doa untuk kebaikan istrinya itu.


"Love you too." jawab Adis malu- malu dan lirih yang disambut senyum lebar Satrio.


Keduanya lalu saling memasangkan cincin sebagai penutup acara inti.


Pak penghulu turut berbincang sejenak dengan keluarga mempelai sebelum pamit pulang.


"Segera di urus surat- suratnya ya, Mas. Biar cepat sah di mata negara juga." kata Pak penghulu saat menjabat tangan Satrio untuk pamit pulang.


"Siap,Pak! Minggu depan sudah mulai kami urus berkasnya." jawab Satrio mantap.


Acara ramah tamah diselingi makan malam berlangsung cukup menyenangkan.

__ADS_1


Adis segera masuk lagi ke kamar untuk membersihkan make- up dan dirinya setelah ikut menyalami para tamu yang menjadi saksi pernikahannya tadi.


Reta yang tampil cantik dengan kebaya mini yang seragam dengan kedua neneknya ikut masuk ke dalam kamar mamanya.


"Waaaaaawwwww....kamarnya jadi bagus banget!" seru Reta dengan tatapan penuh kekaguman.


"Kata Oma, nanti aku tidurnya sama nenek aja. Soalnya mama udah di temenin om ayah. Emang iya ya, Ma?" tanya Reta penasaran.


Adis meringis malu.


"Iya. Nggak papa kan?" tanya Adis kemudian.


"Karena tadi Mama dan Om ayah menikah, trus boleh bobok bareng?" tanya Reta lagi.


Adis hanya mengangguk malu.


Duh,Nak,please jangan nanya yang aneh- aneh deh...Mama malu...


"Kalau aku mau tidur sama om ayah, aku juga harus nikah sama om ayah dulu, Ma?" tanya Reta sambil menatap Adis bingung.


Adis berjengit kaget. Lalu menunduk. bingung harus menjawab bagaimana.


Astagaaaa, pikiranmu kok bisa gitu s


"Gini...Menikah itu hanya boleh dilakukan oleh dua orang yang sudah dewasa. Anak- anak belum boleh menikah. Apalagi nikahnya sama orang dewasa...nggak boleh. Jadi kamu nggak boleh nikah sama om Rio. Apalagi om Rio kan udah jadi suaminya Mama, udah jadi ayahnya Reta. Masak anak mau nikah sama ayahnya...?" kata Adis sambil mencubit pelan pipi Reta.


"Kalau ikut bobok boleh dong berarti?" tanya Reta lagi.


"Boleh. Tapi nggak boleh sering- sering ya...Besok kalau udah gede nggak boleh ya minta tidur bareng sama om Rio." kata Adis.


"Kenapa?" tanya Reta protes.


"Nggak boleh dong cewek dan cowok yang sudah gede dan bukan suami istri bobok bareng." kata Adis.


"Dosa ya,Ma?" tanya Reta kemudian.


"Betul." jawab Adis dengan berat hati.


Dia ingat perbuatannya dengan Beni hingga Reta hadir dalam kehidupan mereka.


Dia juga ingat soal Satrio dan Dea yang membuat Bian hadir di dunia ini.


Semua dosa mereka menghasilkan anak yang begitu menggemaskan seperti Reta dan Bian.


Kalau saja waktu bisa diputar kembali, alangkah lebih bermaknanya kehadiran kedua anak itu dalam sebuah ikatan pernikahan suci.


Flashback off


**************


Adis menoleh kaget ke arah pintu yang terketuk dari luar.


"Dis..." terdengar suara Satrio di depan pintu.


"Ya. Sebentar, Mas." jawab Adis sambil menyambar bergo di sandaran kursi kemudian bergegas ke pintu untuk membuka kunci.


Senyum Satrio yang manis namun terlihat sedikit salah tingkah membuat Adis ikut salah tingkah.


"Boleh masuk?" tanya Satrio ragu karena Adis berdiri menutupi akses masuk ke kamar.


"Oh...eh...ih..iyya...Masuk aja." jawab Adis salah tingkah.


Tubuhnya segera bergeser memberi jalan pada Satrio agar bisa masuk.


"Ada Reta?" tanya Satrio sambil menatap Reta yang terbaring di atas ranjang.


Adis tersenyum salah tingkah.


"I...iya. Dia ketiduran waktu aku tinggal mandi tadi. Biar aku bawa ke kamar Mama dulu." kata Adis bergegas mendekat ke bibir ranjang.


"Nggak usah. Biar aja." cegah Satrio sambil menyambar pinggang Adis.


Keduanya kini berhadapan, sangat dekat.


Adis tak berani menatap mata Satrio yang menatapnya lembut.


"Reta sudah beneran nyenyak tidurnya?" tanya Satrio berbisik.


Adis menatap Reta yang terpejam dan baru saja berganti posisi memunggungi Satrio dan Adis.


Adis kemudian mengangguk pelan.


Satrio langsung memeluk erat tubuh Adis yang langsung menegang.


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...

__ADS_1


Dah ya.....bersambung besok Senin....😄😄😄


Selamat berakhir pekan semuanyaaaaa....💖💕


__ADS_2