KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Mangga muda


__ADS_3

Adis mendekat ke arah Bian yang dari tadi berisik mengganggu Ayah dan kakaknya yang sedang mengerjakan PR.


Prisha tenang di gendongannya karena tengah menghisap jempolnya sendiri.


"Abang pengen gambar apa?" tanya Adis sambil duduk di samping Bian yang sedang giat menghapus buku gambarnya dengan penghapus karet.


"Mau gambal Tistan, Ma. Tapi Tistannya deket- deket kakak telus. Kakak nggak mau kesini duduknya. Kakak sama Ayah nggak temen sama aku." sungut Bian dengan muka cemberut.


Satrio dan Adis saling lirik melihat sikap Bian.


"Ngambekan kayak kamu." kata Satrio tanpa bersuara.


Adis hanya mencibirkan bibirnya.


"Tristan...sini, Nak. Bang Bian pengen gambar kamu nih." panggil Adis pada kucing kecintaan keluarga yang tengah duduk manis di samping Reta yang sedang mengerjakan PR berhitungnya.


Tristan mendekat ke arah Adis dan duduk di samping Bian.


"Nah, sudah Deket kan Tistannya. Udah bisa digambar sekarang." kata Adis sambil mengelus kepala Bian kemudian mengelus kepala Tristan yang kini berbaring malas.


"Tistannya malah tidul." kata Bian sambil menatap Adis bingung.


"Coba Abang dudukkan, mau nggak dia." kata Adis sambil tersenyum.


Bian dengan lembut mendudukkan Tristan yang ternyata menurut.


"Besok- besok lagi kalau pengen apa- apa di coba dikerjakan sendiri dulu, Bi. Jangan marah- marah melulu. Kerjaannya ngomel terus." kata Reta menasehati adiknya.


"Tadi Abang suluh kesini Tistannya nggak mau. Kakak aku minta tolong juga cuma diem aja. Sibuk sendili sama Ayah." sergah Bian nggak terima.


"Aku kan lagi ngerjain PR. Lagi serius." kata Reta membalas.


"Aku juga selius mau gambal Tistan." sahut Bian cepat.


"Udah...udah...Kok jadi bertengkar gini sih? Maaf ya Ayah tadi baru ngajarin kakak Reta dulu, soalnya takut nanti kakak keburu ngantuk dan PR nya nggak selesai, besok bisa dimarahin Bu gurunya kalau nggak selesai PR nya. Nah sekarang giliran Abang deh belajarnya. Mau gambar Tristan ya?" bujuk Satrio sambil merapat ke arah duduk Bian yang masih terlihat kesal.


"Aku sama Mama aja. Papa kalau gambal jelek." kata Bian sambil memegang lutut Adis.


Satrio meringis malu.


"Mama lagi mau bobokin Adek." kata Satrio lagi.


"Adek nggak mau bobok. Tuh lagi makan jempol." sanggah Bian sambil menunjuk adiknya yang mulai bersuara.


"Ya udah...Adek sama Ayah dulu yuk main sama kakak Reta. Mama mau belajar gambar dulu sama Abang Bian yang ganteng." kata Satrio sambil mengulurkan tangannya meminta Prisha dari gendongan Adis.


Bian langsung berwajah cerah dan tersenyum manis saat ayahnya bilang dia ganteng.


Adis dan Satrio sudah hapal banget bagaimana cara mengembalikan bad mood nya Bian.


Cukup dipanggil 'Abang Bian ganteng' saja, anak itu bisa langsung berwajah cerah kembali.


Ternyata itu menurun dari mama kandungnya. Berdasarkan cerita orangtua Dea - yang tetap sering dikunjungi Satrio dan keluarga kecilnya- Semasa kecil Dea selalu kembali ceria kalau dipuji dengan kalimat 'Teh Dea cantik'.


"Abang Bian yang ganteng tapi ngambekan." seloroh Reta sambil bersembunyi di belakang tubuh Ayahnya.


"Nggak! Aku nggak ngambekan kan, Ma?" tanya Bian memandang mamanya dengan tatapan iba minta dibela.


"Enggak. Abang Bian anak baik kok. Kakak Reta cuma bercanda tadi." kata Adis sambil menatap Reta agar meminta maaf.


Bian memang cukup sensitif dengan kata- kata sedikit tajam.


Itu jugalah yang membuat Satrio kini sangat berhati- hati dalam berucap.


"Becanda Bi... Kakak cuma becanda..." kata Reta sambil nyengir.

__ADS_1


"Kenapa nggak minta maaf? Kakak kan bikin Abang sedih..." kata Bian pelan.


"Iya...Kakak minta maaf ya Abang Bian yang ganteng." kata Reta sambil mendekat kemudian memeluk adiknya itu dengan sayang.


"Iya. Besok- besok jangan diulangi lagi." kata Bian meniru ucapan mamanya kalau dia berbuat salah.


Satrio dan Adis saling melempar senyum melihat interaksi kedua anaknya.


"Udah yuk kita mulai gambarnya. Nanti Tristannya keburu ngantuk." ajak Adis kemudian.


Satrio dan Reta memilih agak bergeser menjauh dari tempat Bian dan Adis belajar menggambar.


Harus Satrio akui, Adis lebih bagus gambarnya daripada dia.


Dan hasil gambar Bian sangat bagus untuk anak seusianya.


Sayangnya Bian belum mau saat ditawari untuk ikut les gambar dan melukis.


Dia lebih nyaman menggambar bersama mamanya selama ini.


"Ayah, kalau sekolah di pesantren itu harus nginep ya?" tanya Reta sambil memainkan jemari adik kecilnya yang sedang tengkurap di depannya.


"Iya. Kenapa?" tanya Satrio penasaran dengan pertanyaan anak kelas dua SD itu.


"Aku kalau sudah lulus SD pengennya di pesantren, biar pinter ilmu agama. Biar jadi anak solehah yang bisa bantuin Ayah, mama, dan Papa masuk surga nantinya. Tapi kalau aku nginep, Ayah boleh nggak?" tanya Reta kemudian.


Satrio tersenyum haru.


Kenapa anak sekecil ini sudah punya cita- cita semulia itu? Ingin membantu orangtuanya agar bisa masuk surga.


"Kalau kakak bener- bener serius pengen sekolah di pesantren, Ayah pasti ijinin. Tapi nanti kita obrolin dulu sama Mama ya. Masih ada waktu 4 tahun lagi kalau mau ke pesantren." kata Satrio sambil tersenyum. Reta mengangguk senang.


Ponsel Satrio yang ada di saku celananya bergetar.


Bergegas Satrio melihat siapa yang meneleponnya malam- malam.


"Halo...tumben nelpon malem- malem. Ada apa?" tanya Satrio setelah sedikit menyingkir dari hadapan anak- anaknya.


"Pohon mangga di rumahmu ada buahnya nggak?"


"Hah? Nggak tau gue. Kenapa emangnya?" tanya Satrio keberanan.


Nggak penting banget deh kayaknya malem- malem nanyain pohon mangga.


"Ada yang pengen mangga tapi harus dari pohon yang di rumahmu." kata Lukas bernada sedih.


"Hah? Siapa? Kurang kerjaan amat." kata Satrio sambil terkekeh.


"Lydia..." jawab Lukas memelankan suaranya.


"Wah, istri lu modus aja tuh cuma pengen main kesini buat ngeliat anak gue." seloroh Satrio.


"Bukan! Enggak gitu! Dia minta sekarang juga mangganya." sergah Lukas cepat.


Satrio sedikit kaget.


Kok harus sekarang juga sih? Kayak orang ngidam aja...


Satrio berjengit kaget. Hamil?


"Istri lu hamil, Kas?" tanya Satrio setengah berseru.


"Iya..." jawab Lukas sambil tertawa malu.


"Weiiisss....ngebut aja lu...Baru juga nikah lima bulan, udah tumbuh aja bercocok tanamnya. Berapa bulan?" tanya Satrio penasaran.

__ADS_1


"Tiga bulan." jawab Lukas sambil tertawa senang.


"Alhamdulillah...selamat ya, bro...." kata Satrio dengan riang. Dia tahu bagaimana bahagianya perasaan saat tahu akan jadi Bapak.


Begitu merasa sempurna namun juga terharu karena dipercaya untuk menjaga dan merawat seorang makhluk hasil buah cintanya.


"Mangganya tolong diliatin dulu bisa nggak sekarang? Daripada aku udah kesitu ternyata nggak ada kan rugi bensin aku. Rumahmu jauh banget lagi." kata Lukas kemudian.


"Oke! Bentar gue liatin dulu. Ntar segera gue kabarin." kata Satrio langsung menutup sambungan telpon.


"Ayah, gambalku sudah jadi." kata Bian yang ternyata sudah berdiri di samping Satrio.


Anak itu sabar menunggu sampai ayahnya selesai menelpon.


Memang seperti itu yang diajarkan orangtuanya. Agar tidak mengganggu dan harus sabar menunggu kalau ingin bicara dengan orang yang sedang menelpon.


Maka begitu melihat ayahnya memasukkan ponsel ke saku celana, Bian langsung bersuara.


Diulurkannya gambar kucing buatannya pada ayahnya yang menatap kagum.



"MasyaaAllah...ini Abang yang gambar tadi?" tanya Satrio dengan takjub.


"Iya. Tistannya di pegangin Mama sebental kalena mau pegi." jawab Bian santai.


"Bagus banget ini, Bang... Nanti kita pigura ya? Trus kita tempel di dinding." kata Satrio.


"Baguskah?" tanya Bian keheranan.


"Bagus banget! Ayah aja nggak akan bisa menggambar kayak gini. Pinter deh anak Ayah ini." puji Satrio sambil mengelus kepala Bian yang nampak sangat senang mendengar pujian Ayahnya barusan.


"Makasih, Ayah." kata Bian sambil memeluk pinggang ayahnya.


"Sama- sama Abang ganteng." jawab Satrio sambil tersenyum menahan ledakan rasa haru yang baru saja menyerbu hatinya.


Sungguh, detik demi detik hidupnya setelah menikah dan memiliki anak- anak adalah waktu yang selalu mampu memberi warna dan rasa baru dalam hatinya. Selalu menyenangkan sekaligus mengharukan.


Rasa yang dulu bahkan tak terbayangkan akan bisa dia miliki dan rasakan.


Merasakan pelukan hangat tubuh- tubuh mungil di tubuhnya seperti saat ini adalah sebuah keindahan dan kenyamanan yang tak bisa diuraikan dengan penjabaran kata.


Dia bahagia. Hanya itu yang bisa dia mengerti.


"Sekarang ikut Ayah liat pohon mangga di depan rumah mau nggak?" tawar Satrio.


"Mau! Kenapa malam- malam liat pohon mangga,Yah?" tanya Bian sambil menggelayuti lengan ayahnya.


"Adek yang diperut Tante Lydia pengen mangga punya kita." jawab Satrio sambil tersenyum.


"Tante Lydia mau punya adek kecil kayak Mama?" tanya Bian senang.


"Iya." jawab Satrio sambil mendongak mengamati pohon mangga yang sedang lebat berbunga.


"Mana buahnya?" gumam Satrio sambil menggeser- geser berdirinya sambil tetap mendongak.


Untung halaman depan rumahnya sangat terang, jadi dia bisa melihat isi pohon mangganya.


"Itu,Yah ada mangganya." tunjuk Bian sambil menarik tangan ayahnya.


Satrio mengikuti arah telunjuk Bian.


"Alhamdulillah..." kata Satrio sambil tersenyum lega saat melihat beberapa mangga muda bergerombol.


Dia bergegas menelpon Lukas untuk mengabari.

__ADS_1


...masih belum...


...🧚🧚🧚 T A M A T 🧚🧚🧚...


__ADS_2