
Satrio menghembuskan nafasnya berkali- kali untuk menghilangkan resah yang tiba- tiba menelusup ke hatinya.
Digoyang- goyangkannya kakinya yang berselonjor di kursi panjang yang menghuni sudut balkon kamarnya.
Tubuhnya masih bisa merasakan pelukan erat lengan mungil Reta tadi.
Lengannya masih merasakan lengan mungil Reta yang bertumpu di atas lengannya saat tadi menemaninya memberi makan kucing- kucing di taman.
Dadanya masih terasa hangat karena sandaran kepala mungil yang sesekali bergerak- gerak saat bicara dengannya saat perjalanan menuju rumah Adis.
Ingatannya masih menyimpan wangi shampo dari rambut gadis kecil bermata bulat berwarna coklat terang itu.
Sungguh, hatinya tiba- tiba merasakan mendamba.
Ya Tuhan.....apa- apaan ini? Kenapa bisa perasaan ini tiba- tiba muncul hanya karena anak kecil itu?
Satrio merasa ingin sekali memiliki seorang anak.
Pikiran gila menurutnya.
Kayak gini nih kalau kelamaan menjomblo. Pikiranku jadi ngelantur kemana- mana.
Lamunan Satrio terhenti saat ponselnya yang ada di dalam kamar meneriakkan nada panggilan telepon masuk.
Dengan malas Satrio membawa raganya masuk kembali ke kamar dan menubruk kasur sebelum meraih ponselnya yang layarnya penuh oleh gambar Wira yang sedang memicingkan matanya.
"Hallo...." sapanya malas setelah menggeser tombol hijau.
"Jangan lupa besok pulang lu!" sembur Wira to the point.
"Iya! brisik amat sih lu!" sahut Satrio cepat.
"Pesenanku jangan lupa juga." sambung Wira lagi.
"Hmmmm!"
Wira hanya terkekeh di seberang telpon.
"Bawa cewek lu sekalian juga boleh. Biar cepet dilamar sama BoNyok." kata Wira lagi.
"Nggak ada cewek." jawab Satrio ketus.
Wira terbahak- bahak mengejek kakak semata wayangnya itu.
"Kasihan banget sih lu jadi orang. Udah di buang dari rumah, kerja cuma jadi karyawan, nggak punya pacar pula." ledek Wira semakin membabi buta.
"Brisik!" bentak Satrio yang membuat Wira semakin tergelak.
"Lu mau ngomongin apa?" tanya Satrio kemudian.
"Itu, masalah alamat yang lu minta cek itu. Gue udah cek,dan udah nggak ada jejaknya. Udah jadi barisan ruko wilayahnya." kata Wira melaporkan.
Kali ini suaranya sudah berubah serius.
Satrio sudah menduga kalau akan seperti ini.
Sudah duapuluh tahun.
Pasti telah terjadi perubahan besar di alamat itu.
"Tau nama orangnya nggak? Biar gue bisa nanya orang sekitar situ. Siapa tahu ada yang masih ingat." tanya Wira semakin serius.
"Bagus Adipati." kata Satrio kemudian.
"Wiiiih....keren amat namanya. Orang jadul namanya aja udah keren gitu. Jangan- jangan orang penting ini, Mas." kata Wira mulai menebak- nebak.
"Maybe......"
"Gue perlu kerahin orang nggak, Mas? Biar cepet ketemu." tanya Wira.
Satrio tak segera menjawab.
Mengerahkan orang berarti harus keluar uang yang nggak sedikit.
Tapi dia nggak punya uang.
Apa ambil uang jatah dari Papa aja untuk misi ini?
"Jangan dulu deh. Besok kalau gue pulang dan nggak ada perkembangan yang signifikan, baru kita pikirin buat pakai orang." putus Satrio akhirnya.
"Ya udah. OK kalau gitu. Besok gue jalan kesana lagi buat nyari info soal Pak Bagus Adipati itu." kata Wira kemudian.
__ADS_1
"Ini masih secret ya, Wir....." kata Satrio mengingatkan.
"Siyaaap!" sahut Wira cepat.
"Ya udah.Gue mau tidur. Ngantuk."pamit Satrio yang malah membuat tawa Wira kembali berderai.
"Ini baru setengah sepuluh woiii! Kayak bocah SMP aja lu jam segini molor. Ini jamnya lu berangkat main, Bambuaaang!!!" seru Wira.
Satrio hanya mendengus kesal.
"Nggak ada tempat main malem disini." kata Satrio cuek.
"Dih! Lu kira gue nggak pernah tahu Jogja? Yang lu tempatin itu rumah gue, Bro. Gue tahu lu suka kemana kalau kita pas main ke Jogja." kata Wira sambil terkekeh.
Satrio nyengir kesal.
"Sekarang gue dah lupa arah kesana- sana. Ruteku cuma rumah sama kantor." kata Satrio kemudian.
"Serius lu?! Udah hampir setengah tahun lu disitu belum pernah main ke klub?" tanya Wira nggak percaya.
"Nggak pernah."
"Sama sekali?"
"Sama sekali."
"Edaaaaan! Keren kakak gue nih! Tobat beneran lu?" tanya Wira dengan suara senang.
"Mestakung. Circle pertemanan baru bener- bener sangat bermanfaat." kata Satrio sambil menyunggingkan senyum.
Terbayang wajah teman- temannya di sini.
"Gue bangga sama lu, Bro." kata Wira serius.
"Itu sudah seharusnya." jawab Satrio mengambang.
"Dih! Nggak boleh kena pujian sedikitpun." sungut Wira.
"Yang lu tolongin nih cewek opa cowok?" tanya Wira kemudian.
"Cewek." jawab Satrio ringan.
"Calon kakak ipar gue?" tanya Wira serius.
"Temen gue di kantor. Kasihan soalnya. Segede gitu katanya belum pernah nginjak Jakarta." terang Satrio.
"Ati- ati lu. Ntar jatuh cinta sama dia. Dari iba jadi cinta." kata Wira.
"Emangnya lu pikir gue lagi main FTV?! Dari iba jadi cinta?" sungut Satrio.
"Cakep nggak?" tanya Wira.
"Lumayan. Kayak emak kita, hihihi...." kata Satrio sambil terkikik.
"Tua?" tanya Wira setengah berbisik dengan nada serius.
"Tua pale lu?! Tomboy." kata Satrio sebel.
"Pas tuh!" seru Wira girang.
"Pas apanya?" tanya Satrio nggak paham.
"Gue suka yang tomboy gitu. Kenalin dong, Mas. Biar tambah all out gue nolonginnya." pinta Wira merayu.
"Besok- besok aja." sahut Satrio cepat.
"Nggak asik lu!" sahut Wira kesal.
"Sama nyokap cakepan mana?" tanya Wira lagi.
"Emmmm.....sama manisnya sih. Pembawaannya juga mirip Mama sih. Riang, gampang kenal sama orang,, berisik juga." terang Satrio sambil terkikik.
"Jago benerin genteng dan manjat pohon nggak?" tanya Wira dengan nada serius.
Satrio tertawa.
Dia jadi ingat mamanya yang suka manjat genteng dan pohon mangga di rumah mereka.
"Nggak tahu kalau itu. Yang gue tahu dia jago karate. Gue pernah beberapa kali nonton dia latihan dan tanding " kata Satrio lagi.
"Waaaah! Fix! Bungkusan buat gue aja, Mas." seru Wira penuh semangat.
__ADS_1
"Dih!" sungut Satrio sebel dengan harapan Wira itu.
Nggak tahu aja tuh bocah kalau Widuri udah cinta mati sama akhi- akhi yang udah mau nikah.
"Lu beneran nggak naksir dia kan,Bang?" tanya Wira lagi.
"Nggak! Nggak nyampe hati gue pacaran sama cewek tomboy. Kayak pacaran sama emak gue." kata Satrio sambil tergelak.
"Ya nggak gitu juga keleees!" seru Wira nggak setuju.
"Kenalin napa sih,Mas?" rengek Wira belum menyerah.
"Nggak!"
"Medsosnya aja deh kalau gitu. Kasih tahu medsosnya dong...."
"Nggak ada!" kata Satrio tegas.
"Nggak asik lu!" seru Wira mulai putus asa.
Dia tahu, kakaknya itu sekali bilang enggak ya bakal konsisten enggak.
"Udah! Gue mau tidur!" kata Satrio langsung memutus sambungan telpon.
...🧚🧚🧚🧚🧚...
Adis membuka matanya kembali dan mengerjap- ngerjapkannya dengan kesal.
Sudah lebih setengah jam lalu dia berbaring dan memejamkan mata, berharap kantuk akan segera merengkuhnya menuju perjalanan mimpi.
Tapi kantuk yang ditunggunya malah seakan semakin menjauh.
Bayangan Reta yang dia lihat memeluk tubuh Satrio saat duduk di palangan sepeda cowok itu dan melambai riang pada cowok itu sebelum berlari masuk ke rumah terus saja berputar berulang- ulang di kepalanya.
Apalagi saat dilihatnya Satrio kembali memakai kaosnya yang tadi dijadikan alas duduk Reta di sepedanya.
Nggak nyangka setulus itu.
Satrio bahkan baru pertama bertemu dengan Reta. Dan besar kemungkinan dia nggak kenal keluarga anak itu. Tapi Satrio sudah mau berkorban dan nampak sangat sayang pada gadis kecil itu.
Adis yang tadinya akan menyusul Reta ke taman berakhir jadi pengintip di balik jendela rumahnya karena dilihatnya gadis kecil itu sudah berada di depan pagar rumah dan memeluk erat tubuh Satrio yang hanya berlapis kaos dalam berwarna abu- abu
Otot tubuh yang terekspose nampak seperti pahatan sempurna layaknya pria muda yang suka bermain dengan alat olahraga pembentuk tubuh.
Dilihatnya tadi Satrio sangat lembut menurunkan Reta dari boncengannya.
Dan yang membuat Adis tersentuh adalah senyum sangat riang dan pijar bahagia di mata gadis kecil itu saat sesampainya di dalam rumah dan bercerita kalau tadi bonceng Om cakep yang lagi ngasih makan banyak kucing.
"Aku jadi punya temen Om- om." kata Reta riang.
Mbak Yanti dan Adis tertawa dibuatnya.
"Namanya siapa om cakepnya?" tanya Mbak Yanti.
"Om Rio." jawab Reta dengan mantap.
Mbak Yanti mengernyitkan dahinya.
"Om Rio? Yang suka ngasih makan kucing bukannya Mas Satrio ya, Mbak?" tanya Mbak Yanti pada Adis.
"Rio. Sat Rio." jawab Adis menjelaskan penggalan nama si Bapak kucing itu menurut analisa mendadaknya.
"Ooooo....Mas Satrio ternyata.Itu juga nama kesayangan, Mbak?" tanya Mbak Yanti dengan wajah kepo.
"Meneketehe!" jawab Adis galak.
"Sayangnya dia belum punya anak." kata Reta sedih.
"Ha?" Adis kaget mendengar gumaman Reta.
"Kalau dia punya anak kan bisa aku ajak main. Jadi temen aku disini. Katanya dia belum nikah, makanya belum punya anak. Dia kan udah tua dan cakep,kenapa belum nikah ya, Mbak?" tanya Reta bertanya pada Mbak Yanti dengan raut wajah serius.
Anak itu sedang asik mencomoti satu- satu parutan keju yang ada di atas pisang coklatnya kemudian memasukkannya ke mulut mungilnya dengan santuy.
"Bukan tua. Tapi dewasa." kata Adis membenarkan ucapan Reta.
"Aku mau jadi anaknya." cetus Reta membuat Mbak Yanti tersedak sambal balado yang sedang diicipnya.
Dan Adis tersedak tahu isi yang sedang dikunyahnya.
Reta memandang keduanya dengan tatapan heran.
__ADS_1
Kenapa mereka tersedak gitu?
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...