
Satrio terkekeh saat dilihatnya mata cewek itu seketika melotot kemudian disusul raibnya wajah cewek itu dari layar ponsel dan kini nampak sebuah lampu di layar ponsel milik mbak Yanti yang kini dipegangnya.
Sepertinya posisi ponselnya sekarang sedang telentang menghadap langit- langit rumah.
"Terimakasih ya sarapannya. Jangan lupa minum obatnya biar cepet sembuh flu nya. Salam buat Tristan. Assalamualaikum.....Nggak jawab dosa lho...." kata Satrio sambil tersenyum- senyum karena layar ponsel belum berganti gambar, masih gambar lampu.
"Wa'alaikumussalam." terdengar jawaban salam dari Adis lalu VC dimatikan sepihak.
Satrio kembali terkekeh sambil menyerahkan ponsel kembali ke empunya.
"Makasih ya, Mbak Yanti. Sering- sering juga boleh lho ngirim makanannya. Nggak usah nunggu aku meriang." kata Satrio sudah menjadi Satrio yang asli. Satrio yang agak koplak, seperti yang pernah dibilang Mbak Puji.
"Siaaaap, Mas. Nanti saya bilangin ke mbak Adis kalau Mas Satrio siap menerima kiriman makanan." kata Mbak Yanti sambil tertawa senang.
"Bilang juga jangan jutek- jutek sama Mas Satrio, gitu ya." kata Satrio sambil cengengesan.
"Siaaaap." jawab Mbak Yanti lagi. Kali ini tawanya semakin lebar.
"Ya sudah ya, Mas. Saya pamit pulang dulu. Kalau perlu bantuan apa- apa saya siap membantu." kata Mbak Yanti sambil tersenyum penuh arti.
"OK. Makasih ya, Mbak. Salam buat Tristan sama emaknya." kata Satrio sambil tertawa jahil.
"Emaknya siapa?" tanya Mbak Yanti bingung.
"Emaknya Tristan...." jawab Satrio sambil cengar- cengir.
"Oalaaaah....Buat Mbak Adis? Siap, Mas, nanti saya sampaikan. " kata Mbak Yanti setelah mengerti siapa yang dimaksud Satrio.
"Nah itu maksudku." kata Satrio sambil mengacungkan jempolnya pada Mbak Yanti.
"Naksir nih sama Mbak Adis?" tanya Mbak Yanti to the point sambil tersenyum.
"Nggak gitu juga. Tapi heran aku, kok ada cewek kayak gitu." kata Satrio malah tanpa sadar membuat satu topik perbincangan baru.
"Kayak gitu gimana?" tanya Mbak Yanti nggak enak hati.
"Yaaaaaa cantik sih. Tapi jutek. Tapi baik juga karena mau ngirim makanan buat orang yang belum dia kenal walaupun hanya sebagai ucapan terimakasih....." kata Satrio.
"Tapi Mbak Adis baik kok, Mas. Juteknya cuma sama cowok. Kalau sama cewek nggak jutek dia." kata Mbak Yanti meluruskan.
"Kenapa juteknya pilih kasih gitu?" tanya Satrio keheranan.
"Nggak tahu. Kalau Mas Satrio penasaran, deketin dong." kata Mbak Yanti memprovokasi.
"Males. Aku nggak biasa mendekati cewek. Apalagi cewek jutek. Nggak siap patah hati aku." kata Satrio malah membuat hati Mbak Yanti patah.
Mbak Yanti kecewa dengan pernyataan Satrio barusan.
Padahal dia dari kemarin sudah berpikir kalau cowok cakep ini high quality jomblo yang dia harapkan bisa mendekati tuan putrinya biar nggak jomblo terus.
Ternyata jauh panggang dari api.
Satrio malah nggak mau maju karena males dengan kejutekan Adis.
...🧚🧚🧚🧚🧚...
"Kamu ngapain mesam- mesem gitu dari tadi, Bang? Ada anak produksi yang kamu taksir?" tanya Widuri sambil membuka gordyn di depan meja kerjanya hingga hanya tertinggal vitrage tipis yang menghalangi pandangan matanya langsung ke arah ruang produksi di bawah sana.
Ruang kantor perusahaan memang berdinding kaca, hingga bisa saling melihat dari dalam dan dari luar kantor.
Konsepnya agar bisa saling mengawasi kinerja satu sama lain.
Orang kantor bisa melihat pergerakan orang produksi, pun begitu, orang produksi bisa melihat suasana kerja orang administrasi.
Dan bagi Satrio, melihat bagaimana orang produksi bekerja adalah mood booster tersendiri baginya.
Kadang dia bisa melihat ibu- ibu yang bergotongroyong menggeser coffee table dari akar jati -yang tentu saja lumayan besar dan berat- dengan tetap ngobrol dan bahkan kadang tertawa- tawa seolah yang dilakukannya bukanlah sebuah beban.
Dari pemandangan itu saja dia bisa menarik pembelajaran, bahwa (lagi- lagi) hidupnya lebih beruntung dari mereka.
Dia nggak perlu mengeluarkan tenaga berat untuk bekerja. Tentu saja karena dia bekerja di bagian administrasi.
Dia hanya perlu menggunakan sedikit ilmu yang dia punya untuk pekerjaan yang dia jalani ini.
Ditambah dengan kemahirannya menguasai beberapa bahasa asing, membuatnya semakin memiliki nilai lebih di kantornya.
Ya, dari kecil dia sekolah di sekolah internasional yang tentu saja berisi banyak orang asing yang bisa dia pelajari bahasanya saat mereka bergaul.
Dan kesempatan bersekolah di tempat mahal itu tentu saja bisa dia nikmati karena orangtuanya kaya.
__ADS_1
Satrio kembali tertegun. Lagi- lagi papanya yang membuat hidupnya senyaman ini.
I love you, Pa......
"Kamu bener- bener bikin aku curiga deh, Bang. Kamu lagi ngawasin siapa sih?" tanya Widuri masih tetap penasaran.
"Kepo." sahut Satrio sok berahasia.
Padahal Satrio nggak lagi ngawasin siapapun.
Dia memandang ke arah produksi dengan senyum- senyum -tanpa dia sadari- sebenarnya hanya sebagai kamuflase saja dari hatinya yang sedang berbunga- bunga dari pagi tadi.
Mau tahu juga kenapa Satrio mood nya bagus banget seharian ini?
Tentu saja karena si emak kucing itu.
Iya, si jutek Adis itu.
Tadi pagi, saat Satrio jalan berangkat kerja, nggak sengaja melihat Adis menuntun motor matic nya.
Sudah lumayan jauh dari kompleks mereka sih.
Tentu saja jiwa ksatria Satrio terpanggil untuk menawarkan bantuan.
Setelah memarkirkan motornya di pinggir jalan, Satrio bergegas menghampiri Adis.
"Motornya kenapa?" tanya Satrio sambil menatap wajah Adis yang sudah kemerahan karena gerah dan mungkin sudah capek menuntun motornya.
"Mogok." jawab Adis pelan setelah melihat wajah sang penanya yang datang kayak penampakan, tiba- tiba.
"Bengkelnya masih jauh dari sini. Kamu mau kemana sih?" tanya Satrio kemudian.
"Kerja." jawab Adis singkat. Bikin Satrio gemes karena Adis menjawab dalam mode ambigu.
Kenapa nggak mau ngomong banyak sih? Minta tolong kek.....
"Kerjanya dimana?" tanya Satrio lagi.
Adis hanya menatap tak senang pada Satrio. Merasa cowok itu terlalu kepo dengan urusannya.
"Ini sudah hampir jam masuk kerja. Kalau kamu nuntun motormu sampai bengkel terdekat trus nungguin motor kamu diperbaiki, kamu bisa telat. Masalah nggak kalau kamu telat?" tanya Satrio, membuat wajah sebel Adis mengendur.
Pagi ini dia ada janji dengan klien baru. Nggak enak rasanya kalau dia minta reschedule hanya karena motornya mogok.
Sepanjang jalan yang dia lewati pintu- pintu kios belum ada yang buka.
Coba kalau ada yang buka, dia bakal nitipin motor mogoknya di salah satu kios itu saja biar nanti diurusin Mas Didit.
"Gimana?" tanya Satrio setelah dilihatnya Adis nampak mulai gelisah.
"Aku ada janji dengan klien baru pagi ini." kata Adis pelan.
"Ya udah, kamu pesan ojol aja, atau taksi." kata Satrio cepat.
"Trus motorku?" tanya Adis.
"Nanti aku bawa ke bengkel di ujung jalan sana." kata Satrio sambil menunjuk ke depan jauh sana.
"Trus motormu?" tanya Adis lagi.
"Oh iya...ya...." sahut Satrio seperti baru sadar dengan kondisi.
"Kalau ada yang bisa bawa motorku, selesai sebenarnya masalah ini." gumam Satrio jadi bingung.
"Aku bisa bawa motormu." kata Adis pelan sambil menatap Satrio takut- takut.
"Beneran? Kamu bisa bawa motor kayak gini?" tanya Satrio merasa surprise.
Adis hanya mengangguk.
Dia biasa pinjem motornya Mas Didit yang kayak punya Satrio juga, tapi warnanya hitam.
"Kalau kamu bisa bawa motorku, ya udah motorku kamu bawa kerja aja. Motormu biar aku yang ngurus." kata Satrio lega.
"Tapi...." Adis nampak ragu.
"Kamu serius bisa bawa motor cowok kan?" tanya Satrio kemudian.
Adis mendengus kesal. Merasa disepelekan oleh pertanyaan Satrio itu.
__ADS_1
Bikin pengen emosi aja.
Nggak tahu apa kalau dia udah capek banget habis nuntun motor mogok?
Lagi haus banget. Kegerahan.
Ini ada orang nanya lagunya menyepelekan banget pertanyaannya.
Dia kira cuma dia yang punya motor kayak gitu?
"Heh, Bapak kucing, kakakku juga punya motor kayak gitu." kata Adis akhirnya beneran meledak sambil menunjuk motor Satrio.
Satrio sampai kaget dibuatnya.
Dan apa tadi dia bilang? Bapak kucing? Oh God.
Gelar baru lagi dia dapat dengan tak terduga.
Bapak kucing.
Nggak keren banget.
Mata Adis sudah berhias kilatan belati dalam kobaran api saat menatap Satrio.
"Aku nggak bermaksud menyinggungmu bertanya begitu. Ya kan nggak semua cewek bisa naik motor cowok. Kali aja kamu juga nggak bisa." kata Satrio berusaha tenang, berusaha tak terbawa emosi.
"Aku kan tadi udah bilang kalau bisa. Kamu ngira aku bohong, pura- pura bisa?" tuduh Adis kesal.
"Bukan gitu juga....."
"Dahlah! Minggir!" usir Adis sambil mengibaskan tangannya mengusir Satrio dari sebelah motornya dengan wajah cemberut dan putus asa.
Hilang sudah klien barunya.
Apes lagi kalau calon klien itu nanti ngomelin dia dulu.
Apes beneeeer hari ini, Tuhan.
"Ini kunci dan STNK nya. Kamu bawa motorku. Aku bawa motormu." kata Satrio lembut sambil mengulurkan kunci dan STNK motornya tanpa memperdulikan wajah Adis yang cemberut.
Namun Adis tak perduli.
Dia tetap berusaha menerjang Satrio yang kini memegang bagian kepala motor matic nya agar tak bergerak.
"Minggir!" geram Adis sambil menatap tajam pada Satrio. Bikin deg- degan dan takut yang mendapat tatapan maut itu.
Seremnya nih cewek......
"Jangan seperti ini, Adisty....." kata Satrio lembut, membuat kobaran api di mata Adis seketika hilang, berganti dengan tatapan terkejut dan kemudian sedih.
Kalimat itu.......
"Kenapa?" tanya Satrio khawatir dengan perubahan emosi Adis yang mendadak.
Yang bisa Satrio tangkap adalah gurat kesedihan yang langsung tercipta di wajah Adis.
Adis hanya menggeleng lemah, menghela nafasnya pelan, kemudian dengan gerakan lambat menerima uluran dua benda itu - STNK dan kunci motor- dari tangan Satrio.
"Udah sana berangkat! Ntar keburu telat kamu." kata Satrio sambil tersenyum saat dilihatnya Adis nampak agak ragu.
"Kamu sendiri ntar gimana kerjanya? Pasti telat juga nanti." tanya Adis nggak enak hati.
"Gampang......nanti aku tinggal telpon, bilang kalau datang telat karena motor mogok." jawab Satrio santai.
"Emangnya boleh begitu?" tanya Adis keheranan.
"Boleh." jawab Satrio tenang.
"Beneran?" tanya Adis belum yakin.
"Udah deh, emak kucing, buruan berangkat sana! Kalau kamu ngajak tanya jawab terus, kamu bisa telat dan aku tambah lama telatnya." potong Satrio kemudian. Membuat Adis seketika melotot dengan sebutan Satrio padanya.
Emak kucing dia bilang?
"Aku bukan emak kucing!" sergah Adis dengan wajah memprotes.
"Aku juga bukan bapak kucing." sahut Satrio cepat.
Membuat keduanya kemudian sama- sama saling menatap dengan salah tingkah.
__ADS_1
"Aku pergi sekarang." pamit Adis kemudian untuk mengurai kecanggungan yang baru saja tercipta.
...🧚🧚🧚 be r s a m b u n g 🧚🧚🧚...