
"Mbak, kemarin yang nolongin Tristan di selokan itu Mas Satrio ya?" tanya mbak Yanti pada Adis yang kini tengah duduk bersila di atas sofa depan tv dengan jaket berwarna peach membungkus tubuhnya.
Di sampingnya ada sekotak tissu yang isinya tinggal separo karena yang separo sudah berpindah ke kotak tempat sampah di dekat kaki sofa.
Adis menatap cangkir berwarna hitam berisi jahe wangi yang di letakkan mbak Yanti di meja depannya. Seharusnya baunya enak. Tapi karena hidungnya baru mampet, Adis tak bisa menikmati bau jahe wangi itu.
"Makasih, Mbak." kata Adis pelan, kemudian kembali bersin.
"Sama- sama, Mbak." jawab mbak Yanti kemudian ikut duduk di samping Adis.
"Iya, Mbak?" tanya mbak Yanti sambil menoleh menatap Adis yang sedang meraih cangkir, kembali mencari jawaban atas pertanyaannya tadi yang belum terjawab.
"Nggak tahu namanya." jawab Adis kemudian menghirup pelan jahe wanginya.
"Orangnya tinggi, ada kumis tipis, agak gondrong, cakep deh pokoknya." kata mbak Yanti malah seperti sedang bercerita.
Adis hanya melirik keheranan.
Ini tadi niatnya nanya apa mau promo sih?
"Aku nggak begitu merhatiin. Cuma kalau tinggi, iya." kata Adis setelah dirasanya mbak Yanti sudah landing lagi dari alam khayalnya dan gantian Adis yang tak sadar membayangkan cowok tinggi yang tempo hari sempat dia marahi di taman,namun tadi menolongnya dan sempat berdiri di sampingnya sebelum nyemplung ke selokan.
Adis ingat, dia harus agak mendongak saat menjawab pertanyaan cowok itu karena tingginya hanya sepundak cowok itu.
"Pakai motor sport putih?" tanya mbak Yanti lagi, membuyarkan lamunan Adis.
Adis mengingat sebentar.
Kayaknya sih iya.
"Kayaknya iya." jawab Adis ragu- ragu.
"Ya itu Mas Satrio namanya. Dia juga flu dan demam lho, Mbak dari semalam." kata mbak Yanti membuat Adis merasa bersalah kalau memang pria itu yang kemarin menolongnya.
*Kok kamu tahu? Tahu dari siapa?" tanya Adis penasaran.
"Dari Mbak Puji." jawab mbak Yanti kalem.
"Ooooo, jadi Satrio itu tinggal di rumah yang selama ini di jagain mbak Puji?" tanya Adis.
"Iya. Dia yang punya kali, Mbak." kata mbak Yanti meluruskan.
Adis memang kenal dengan mbak Puji dan beberapa ART yang kadang suka main ke rumah buat ngobrol dan bergosip dengan mbak Yanti.
"Mau nengokin nggak,Mbak?" tanya mbak Yanti.
"Hah? Nengokin siapa?" tanya Adis kaget.
"Ya nengokin Mas Satrio. Nggak merasa bersalah apa, gara- gara ujan- ujan buat nolongin Tristan dia jadi demam dan flu? Nggak kebayang tadi malam dia sendirian di rumah meriang. Kasian." gumam mbak Yanti provokatif sambil melirik Adis yang tercenung.
Mbak Yanti yakin, tuan putrinya itu sedang merasa bersalah.
"Tapi aku juga demam." gumam Adis akhirnya, mencoba membela diri.
"Kalau Mbak Adis demam sih wajar, kan Mbak Adis nolongin Tristan, peliharaan sendiri." kata mbak Yanti yang kemudian mendapat anggukan Adis pelan.
Dia ingat cowok itu bahkan tanpa banyak bertanya langsung berhenti saat dia mencegat laju motornya.
Bahkan tanpa berpikir panjang langsung sigap nyemplung ke selokan walau setelah berusaha agak lama meraih Tristan terus tiba- tiba melompat naik ke atas seperti terkejut dan takut.
Oh iya, kemarin dia kenapa ya kok kayak kaget gitu?
Kayak yang takut gitu, terus buru- buru naik dari selokan dan bikin Tristan hanyut ke arahnya.
"Atau besok kita kirim makanan aja, Mbak? Hari Minggu kan Mbak Puji libur. Mas Satrio pasti kesusahan nyari sarapan kalau belum sehat. Kita kirimin bubur ayam aja besok pagi. Gimana? Atau lontong sayur? Anggap saja sebagai ucapan terimakasih karena sudah nolongin Tristan. Gimana, Mbak?" tanya mbak Yanti dengan ide briliantnya yang setengah memaksa agar disetujui oleh Adis.
"Kamu aja yang nganterin." kata Adis akhirnya.
Nggak papa lah cuma kirim makanan ini. Bener kata mbak Yanti, hanya sebagai ucapan terimakasih karena sudah menolong Tristan kemarin.
"Siyaaaaaap!!!" sahut mbak Yanti cepat.
"Eh, tapi yakin kemarin yang nolongin Tristan si Satrio itu? Ntar salah orang lagi." kata Adis kemudian, dengan nada ragu.
" Sik (tunggu), aku mintain photonya Mas Satrio dulu, biar Cetho ( jelas) oknumnya." kata mbak Yanti sudah sambil bermain dengan ponselnya.
__ADS_1
Menelpon mbak Puji agar mengiriminya photo Satrio dan tak sampai semenit, notifikasi pesan masuk sudah. berbunyi di ponsel mbak Yanti.
Adis menatap kelakuan ART nya itu dengan tatapan ambigu.
"Nih photonya, Mbak. Ini bukan yang kemarin nolongin Mbak Adis?" tanya Mbak Yanti sambil menyorongkan ponsel ke depan Adis.
Dengan sedikit enggan Adis melirik layar ponsel yang menyala terang di depan mukanya, memajang photo close up satu wajah ganteng dengan senyum simpatik.
Matanya ternyata berwarna coklat, bersinar riang namun tajam.
Garis rahangnya nampak samar.
Alisnya tebal hampir bertaut di tengah.
"Terpesona, Mbak?" ledek mbak Yanti sambil mendekatkan mukanya ke muka Adis yang langsung mencebik.
"Terpesona dari Hongkong?!" ketus Adis sambil menjauhkan ponsel dari depan mukanya.
Mbak Yanti hanya cengengesan.
"Oknumnya bener itu kan, Mbak?"
"Hah?" tanya Adis kaget.
"Yang kemarin nolongin Tristan orang itu bukan?" tanya mbak Yanti dengan senyum yang jelas meledek.
"Iya dia." jawab Adis pelan.
"Berarti nggak akan salah orang ya kalau besok mbak Adis ngasih sarapan....." kata mbak Yanti sambil cengengesan.
"Kok aku?! Kan kamu yang mau ngasih." sergah Adis cepat.
Malu banget kalau besok dia harus ketemu orang itu. Ngasih sarapan pula. Gimana pikiran cowok itu terhadapnya nanti?
"Iya, aku yang ngasih. Bubur ayam, lontong sayur, atau nasi uduk, Mbak? Atau bubur kacang ijo aja?" tanya mbak Yanti heboh.
"Terserah." jawab Adis malas
Mau ngasih sarapan orang aja hebohnya kayak gitu.
"Tanya mbak Puji aja sana, dia sukanya apa. Aku mau tidur. Pusing." kata Adis sambil bergegas berdiri kemudian meninggalkan mbak Yanti yang menatapnya putus asa.
Tapi mbak Yanti langsung menuruti perintah Adis untuk menanyakan makanan kesukaan Satrio pada mbak Puji.
Ternyata makanan kesukaan Satrio bukan salah satu menu yang di tawarkan mbak Yanti tadi.
Cowok itu suka kalau dibelikan sarapan bubur gudeg pedas dengan lauk sayap.
Jadilah dua 'pengasuh' sepasang jomblo itu berkoordinasi agar kolaborasi mereka mendekatkan Satrio dan Adis berjalan dengan lancar.
Mbak Puji mengirim pesan pada Satrio kalau besok pagi sarapan akan di antar oleh utusan Adis sebagai ucapan terimakasih Adis karena Satrio sudah menolong Tristan.
Kebetulan juga kalau hari Minggu memang mbak Puji jatah libur, jadi nggak ke rumah Satrio.
Satrio yang mendapat pesan dari mbak Puji tersenyum- senyum sendiri.
Jadi namanya Adis......
Dan keesokan paginya, belum genap jam enam, bel rumah berbunyi.
Satrio yang baru menikmati teh hangatnya bergegas berlari ke depan walau kepalanya masih agak cenat- cenut.
Pintu kecil sebelah gerbang segera dibuka oleh Satrio dan menemukan senyum manis mbak Yanti yang pagi itu memakai kaos lengan panjang berwarna hijau pupus dan celana training warna hitam dengan bando Korea warna hijau daun menghiasi kepalanya.
"Ya, Mbak? Nyari siapa?" tanya Satrio datar saat ditunggunya wanita seumuran mbak Puji itu hanya terpana melihatnya.
"Nganu, Mas....mau ketemu Mas Satrio...." kata mbak Yanti dengan suara di kalem- kalemkan.
"Ya. Saya Satrio." kata Satrio sambil menahan senyum melihat kelakuan mbak Yanti itu.
"Ini, Mas.....saya asistennya mbak Adis. Ini mau nganter sarapan buat Mas Satrio...." kata mbak Yanti sambil mengulurkan satu tas plastik pada Satrio yang tak segera menerima uluran itu.
"Adis siapa? Saya nggak ada kenalan namanya Adis." kata Satrio pura- pura jutek.
Mbak Yanti nampak bingung.
__ADS_1
Waduh, mbak Puji Ki piye to iki? ( waduh, mbak Puji ni gimana sih?) masak nggak ngomong sama Mas Satrio kalau mau di kirimi sarapan.
"Adis siapa ya, Mbak?" tanya Satrio sengaja menambah panik mbak Yanti.
"Punya photo orangnya?" tanya Satrio yang disambut anggukan mbak Yanti yang segera mengulik ponselnya kemudian menyerahkan pada Satrio.
"Itu photonya, Mas. Dia yang kemarin menghadang Mas Satrio pas hujan- hujan buat nolongan kucing." terang mbak Yanti saat dilihatnya Satrio malah mengulik ponsel miliknya.
Entah apa yang dilakukannya pada ponsel keramatnya itu.
"Kucing? Dimana?" tanya Satrio pura- pura mengingat sambil menatap mengintimidasi mbak Yanti, yang tentu saja langsung grogi dan kehilangan fokus.
"Di dekat taman, Mas. Dua hari yang lalu." jawab mbak Yanti dengan wajah antara bingung dan bimbang. Konsentrasinya buyar sudah.
Jangan- jangan beneran bukan Mas Satrio yang nolongin Mbak Adis.
"Oooo..... kucing yang ngumpet di selokan?" tanya Satrio sambil tersenyum dan mengulurkan kembali ponsel mbak Yanti.
"Ya, betul yang itu, Mas!" seru mbak Yanti lega.
Alhamdulillah, ternyata nggak salah orang.
"Namanya Adis ya...." kata Satrio sambil mengangguk- angguk.
"Iya. Ini, Mas, diterima dulu buat sarapan. Mbak Adis mengucapkan terimakasih karena Mas sudah nolongin Tristan." kata mbak Yanti kembali mengulurkan bungkusan plastik kepada Satrio yang nampak ragu- ragu menerimanya.
"Beneran dari Adis?" tanya Satrio dengan nada tak percaya.
"Beneran,Mas. Masak saya bohong." jawab mbak Yanti kembali dibuat salah tingkah.
Gini amat yak cuma mau ngasih sarapan gratis aja.
"Kenapa bukan Adis sendiri yang nganterin ini? Mbak modus ya....?" tanya Satrio sambil tersenyum meledek.
"Nggak! Nggak! Ini beneran mbak Adis yang ngirim. Dia lagi flu berat,makanya nggak bisa nganter sendiri." sergah mbak Yanti cepat.
"Masa'?" tanya Satrio tak percaya.
"Ya udah,aku telponin mbak Adis ya,biar Mas Satrio percaya." kata mbak Yanti akhirnya.
"Video call aja biar meyakinkan." pinta Satrio ngelunjak.
"Oke." jawab mbak Yanti merasa ditantang.
Mana sudi kan cuma nganter sarapan aja dibilang modus apalagi bohong.
Satrio tersenyum- senyum senang dalam hati.
Muslihatnya berjalan lancar tanpa hambatan pada mbak Yanti.
Senyumannya semakin lebar saat dilihatnya mbak Yanti sudah berbicara dengan Adis lewat VC.
Di dengarnya suara cewek itu bertanya keheranan karena tumben mbak Yanti ngajak VC.
"Mas Satrio nggak percaya, Mbak kalau sarapannya yang ngirim Mbak Adis...."
"Hah? Nggak percaya?" potong Adis cepat.
"Dikira aku modus, Mbak." adu mbak Yanti yang melirik Satrio yang menatapnya tajam.
Terdengar Adis tertawa.
"Dia bilang apa?" tanya Adis.
"Minta ditelponin mbak Adis, mau tanya bener nggak Mbak Adis yang ngirim sarapan." jawab mbak Yanti.
"Trus kamu jawab apa?" tanya Adis penasaran.
"Ya aku VC ini...." jawab mbak Yanti polos.
"Hah?! Ini kamu dimana,Mbak?" tanya Adis terdengar panik.
"Di rumahku." kata Satrio yang wajahnya tiba- tiba sudah memenuhi layar ponsel milik Adis.
Cewek itu sampai melemparkan ponselnya saking kagetnya karena wajah mbak Yanti seketika berubah menjadi wajah Satrio dalam sekedipan matanya.
__ADS_1
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...