KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Cemburu


__ADS_3

Sampai di rumah Satrio masih merasa Adis belum bisa bersikap seperti biasa.


Walau kalau di ajak ngomong tetap selalu menjawab, tapi nadanya males- malesan dan datar banget.


Dah lah, cita- cita yang sedari tadi gue impi- impikan nggak bakalan ada jalan untuk terwujud, desah batin Satrio sedih.


Padahal si Paijo kecil belum juga tenang sepenuhnya.


Dilihatnya Adis yang melintas disampingnya tanpa suara.


Jangankan bersuara, menoleh aja nggak.


Mungkin melirik aja juga nggak.


Gini amat sih rasanya di cuekin bini. Udah ngerasa jadi orang asing di rumah sendiri aja.


Padahal tadi Satrio berharap Adis pasti masih akan ceriwis bertanya ini itu tentang letak apa- apa di rumahnya ini. Dan Satrio sudah berharap bisa merayu Adis di sela- sela itu.


Tapi ternyata Adis lebih memilih menelpon Mbak Puji yang hari ini libur setelah kemarin ikut repot mengurusi nikah dadakannya.


Padahal Bian barusan tidur lagi setelah tadi mandi sore dan makan.


Kesempatan banget kan sebenarnya nih.


Mbak Novi mulai hari ini akan tidur menemani Mbak Yanti di rumah Adis.


Dia akan ke rumah Satrio mulai jam 7 pagi dan akan selesai bekerja jam 4 sore setiap harinya.


Jadi dari sore sampai pagi rumah ini akan dihuni mereka bertiga saja.


Sempurna bukan pengaturan situasinya?


Tapi sempurna itu bisa dikatakan sempurna kalau Adis nggak jutek. Kalau jutek gini udah jauh beda namanya. Bukannya sempurna, tapi bencana. Bencana buat Paijonya yang nggak tahu diri ini.


"Kamu nggak mandi, Mas?" lamunan Satrio berakhir mendadak karena suara Adis dari belakangnya.


Satrio cepat memutar tubuhnya dan sudah mendapati Adis dengan penampilan yang baru sekali ini dilihatnya dan membuatnya semakin blingsatan saja karenanya.


Istrinya itu hanya memakai kaos pendek, rambut yang dikepang asal namun malah terlihat seksi, dan satu lagi, dia memakai celana pendek!


Celana pendeknya sepaha, hingga paha putih mulusnya terpampang jelas di depan matanya yang sedari tadi rasanya sepet sampai ke jantung.


Matanya tiba- tiba seterang lampu sorot bandara melihat pemandangan indah di depan matanya itu.


"Kedip!" seru Adis dengan nada jengkel tapi dengan wajah yang tersipu malu.


"Don't ask me to blink my eyes. I was looking at my twilight angel. You're so beautiful, honey." gumam Satrio tanpa berkedip dengan wajah mupeng bahkan mungkin sudah meneteskan air liur tak kasat mata.


Paijo yang tadi sudah beranjak frustasi tiba- tiba semangat lagi. Itu terbukti dari yang tadinya sudah setengah loyo karena pasrah dicuekin, kini mulai bergerak segar lagi.


Dasar nggak ada sopan- santun lu....Padahal Paijo gede juga belum tentu bisa merayu mbak Jumintenmu....


"Mandi sana. Udah mau magrib. Sambil tolong pasang telinga kalau Bian bangun ya. Aku di bawah soalnya." kata Adis kemudian melenggang ke dapur.


Bukannya naik ke kamar untuk menuruti perintah Adis supaya mandi, Satrio malah menyusul Adis ke dapur.


Sedang bikin minum ternyata.


Ada dua gelas. Pasti buat mereka berdua.

__ADS_1


"Aku nggak usah pake gula aja." bisik Satrio yang tiba- tiba memeluk tubuh Adis dari belakang.


Adis yang tak mendengar langkah Satrio tentu saja kaget mendapat pelukan lembut dadakan itu.


Sendok berisi gula di tangannya langsung meluncur turun begitu saja.


Untung jatuhnya pas masuk gelas. Kalau terpeleset sedikit saja, biisa dipastikan gula itu akan bertebaran di lantai dapur.


"Jangan suka ngagetin ih!" sungut Adis sambil berusaha melepaskan diri dari dekapan Satrio yang malah semakin nempel kayak lintah.


"Jangan ngambek dong, Mama Adis...Ayah jadi ngerasa kayak anak tiri." rengek Satrio sambil menciumi leher samping Adis dengan hidungmya.


Adis nyaris tertawa mendengar kata- kata Satrio barusan.


Sa ae ngegombalnya....memposisikan dirinya jadi pihak yang teraniaya...dasar buaya jantan...


"Kamu tadi disuruh apa sih ayah buaya? Mandi tuh ke kamar mandi, bukan ke dapur." sungut Adis sambil kembali berusaha melepaskan dirinya. Tapi tentu saja gagal lepas begitu saja.


Walaupun Satrio sudah melepaskan pelukan posesifnya, nyatanya sebelah tangan lelaki itu masih melingkari pinggangnya.


"Nggak mau mandi kalau masih dicemberutin." kata Satrio merajuk.


"Terserah!" sahut Adis ketus.


Oops, even more fierce. My strategy is wrong...


"Kamu marah karena ngira aku pacaran sama si Tomi?" tanya Satrio dengan wajah serius.


Adis mengerutkan keningnya.


Tomi? Siapa lagi ini?


"Lhoh?! Kok gitu nanyanya?" tanya Satrio bingung melihat reaksi Adis barusan.


"Lha itu barusan kamu ngomongin aku cemburu sama Tomi? Serius, Mas, kamu AC DC?" tanya Adis dengan tatapan tajam dan kecewa. Satrio jadi nggak tega melihatnya.


Satrio mencium pipi Adis sambil mengeratkan pelukannya di pinggang Adis.


"Harusnya kamu nanya dulu, Tomi itu siapa? Baru nanya lainnya." kata Satrio sambil tersenyum geli sekaligus senang dalam hati karena bisa mencuri satu ciuman di senja yang indah ini.


Dan nampaknya yang kecurian nggak sadar kalau telah kecolongan pipinya barusan karena saking emosinya.


"Tomi itu Widuri. Kami di kantor dulu manggilnya Tomi karena dia tomboy. Ya ang aku sama dia deket. Kami kerja cuma bertiga sama Pak Cahyo, jadi kayak aku kakaknya, dia adiknya, Pak Cahyo bapaknya. Pergi kemanapun aku seringnya sama dia, atau bertiga sama Lukas. Ya bukan karena naksir atau cinta, tapi karena dia dan Lukas yang pertama aku kenal saat pertama kerja disini. Ya sekalian aja aku membiarkan asumsi orang- orang pabrik kalau aku pacaran sma dia, biarnghak terlalu banyak hati yang mendamba." jelas Satrio yang membuat Adis nampak lega.


"Segitu larisnya ya kamu di tempat kerja?" tanya Adis sambil menatap Satrio.


"Laris banget. Secara aku tampan dan menawan. Motorku keren pula. Aku cool kalo sama cewek. Idaman banget kan itu?" tanya Satrio dengan wajah songong yang membuat Adis mencibir kesal.


"Pedenya amit- amit deeeeh!" kata Adis sambil menepuk bahunya.


"Udah macarin berapa cewek pabrik?" tanya Adis kemudian sambil berjalan ke meja makan sambil membawa dua gelas teh hangat.


"Nggak ada. Udah keburu jatuh cinta dulu sama cewek jutek di taman, emaknya kucing." jawab Satrio sambil mengekori Adis.


Adis mencibirkan bibirnya walau hatinya tersipu- sipu juga.


"Percaya kan?" tanya Satrio sambil meraih jemari Adis dan tersenyum manis.


"Belum percaya sepenuhnya." jawab Adis santai.

__ADS_1


"Aku beneran nggak ada perasaan sama Widuri, Sayang....Sumpah! Dia juga nggak ada rasa sama aku, aku bisa rasakan itu.Beda kalau dia sama Wira. Kalau sama si Sableng itu dia ada bibit suka, walau kayaknya di tahan- tahan." kata Satrio.


"Hah? Mereka pacaran?" tanya Adis kaget.


"Belum. Wira sih naksir banget kayaknya. Tapi Widurinya yang kayaknya susah move on dari cinta pertamanya."kata Satrio santai kemudian menyeruput teh tawar hangatnya.


"Janji jangan bikin aku jantungan dengan affair baru ya,Mas..." kata Adis memelas.


Satrio tersedak dibuatnya.


"Ya nggak akan lah. Aku udah selesai badungnya. Selesai di kamu.Janji." kata Satrio kemudian.


"Aku harus deg- degan sepanjang pernikahan kita kalau- kalau nanti ada perempuan atau anak yang tiba- tiba muncul minta tanggung jawab kamu. Nggak mudah itu,Mas." kata Adis menegaskan.


Satrio menatap Adis penuh sesal.


Kasihan sekali istrinya ini. Dia nggak tahu apapun, tapi harus ikut menanggung semua dosa masa lalunya seumur hidupnya.


"Maafkan aku, Sayang. Bikin kamu jadi sengsara seumur hidupmu karena jadi istriku." kata Satrio penuh sesal.


Adis sangat menyesal dengan ucapannya tadi karena malah membuat Satrio merasa bersalah seperti itu.


"Maaf....bukan seperti itu maksudku, Mas.Maaf. Aku. nggak maksud..."


"Sebelum ngajak kamu nikah, aku udah menelusuri mantan- mantan yang berpotensi memiliki anak dariku.Semuanya sudah diselidiki sama Wira, hasilnya nihil. Wira kurang menyelidiki Dea doang, tapi keburu Mama ketemu duluan sama Bian. Jadi kemungkinan besar nggak ada anak lain selain Bian." jelas Satrio mencoba menjelaskan.


Adis mengangguk mengerti.


"Maaf ya, kami berdua pasti merepotkanmu." kata Satrio sendu.


Adis semakin merasa bersalah mendengarnya.


Dipeluknya lengan Satrio kemudian menyandarkan kepalanya di lengan atas suaminya itu.


"Jangan berpikir begitu. Nggak akan mungkin aku berpikir kamu dan Bian ngerepotin aku. Pikiran dari mana itu? Maaf ya, Mas....aku nggak bermaksud menyinggung perasaan kamu dengan omonganku barusan. Aku sungguh- sungguh sayang sama kalian. Aku cuma nggak mau kalau sampai harus membagi kamu sama perempuan lain. Aku maunya kamu hanya jadi milikku aja." kata Adis pelan.


Satrio merengkuh tubuh Adis ke dadanya.


"Aku tentu saja hanya akan jadi milikmu saja. Bahkan aku mohon padamu, pertahankan aku kalau ada yang akan mencoba mengambilku darimu nantinya. Janji ya?" kata Satrio lembut. Dagunya bertumpu di puncak kepala Adis.


Adis mengangguk- angguk pelan di dada Satrio.


"Sekarang coba lihat mana wajahnya...?" bujuk Satrio seperti pada anak kecil.


"Nggak mau!" sergah Adis cepat.


"Kenapa? Masih marah?" tanya Satrio sambil tersenyum kecut.


"Cuma mau cium aku kan?" tebak Adis dengan cepat.


"Emangnya nggak boleh ciuman sekarang?" tanya Satrio memelas.


"Nggak boleh!" jawab Adis sambil kemudian melepaskan diri dari Satrio dengan cepat dan berlari menuju lantai atas.


Satrio yang tidak menduga Adis akan kabur darinya langsung lari mengejar istrinya itu.


"Aku jadi suamimu nggak pakai jam ya,Mama Adis. Inget itu!" seru Satrio sambil terus memburu Adis yang sudah terlihat menghilang di balik pintu kamar.


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...

__ADS_1


__ADS_2