
Satrio memicingkan matanya saat di dengarnya celotehan Bian.
Di sampingnya Adis nampak lelap tertidur.
Di elusnya pipi Adis sekilas sebelum bangkit dari pembaringan dan mendekati box Bian.
Anak itu tertawa saat melihat Ayahnya melongokkan kepalanya.
"Jam berapa ini, kok udah bangun?" bisik Satrio sambil menoleh ke arah jam dinding. Jam empat pagi rupanya.
"Ya....ya...ya..." kata Bian sambil beranjak duduk dan mengulurkan kedua tangannya pada Satrio, sepertinya minta keluar dari box.
"Minta gendong? Mau bobok lagi atau mau main nih? Bobok aja ya...masih gelap diluar." kata Satrio sambil membawa tubuh Bian ke dekapannya.
"Ma...ma...ma...." celoteh Bian sambil berusaha memutar tubuhnya sendiri untuk mencari mamanya.
"Mama masih tidur.Capek mamanya. Sekarang sama ayah dulu aja ya...Nanti kalau Ayah kerja, kamu sama Mama dan Mbak Novi. Jangan nakal ya..." kata Satrio sambil menepuk- nepuk punggung Bian yang menempel di dadanya.
Satrio tersenyum saat dilihatnya mata Bian kembali terpejam.
Kepala anak itu terkulai cantik di pundaknya.
'Anak baik...Udah tidur lagi. Bobok sendiri di box ya..." gumam Satrio sambil beranjak membaringkan tubuh mungil Bian yang pasrah.
Setelah menyelimuti Bian, Satrio kembali ke tempat tidurnya. Berniat berbaring sebentar untuk menunggu adzan subuh.
Matanya sebenarnya masih agak ngantuk. Kalau dituruti dia pengen tidur lagi sampai siang.
Tapi kegiatan tidur nyaman itu harus dia singkirkan mulai sekarang.
Ada tanggung jawab dan kewajiban yang membuatnya tak boleh lagi berleha- leha sesuka hatinya seperti dulu.
Dia kepala keluarga sekarang. Selain dia harus memberi contoh yang baik, dia juga harus berpikir lebih dewasa dan taktis agar keluarganya bisa selalu nyaman dalam hal apapun.
Semalam sebelum dia terlelap seusai mandi junub, Satrio berpikir akan mendiskusikan dengan Adis masalah keuangan mereka dan saran Papanya untuk mereka tinggal di Jakarta
Tapi dilihatnya Adis sudah sangat mengantuk, Jadi dia urungkan membicarakannya hal itu..
Di Jakarta nanti Satrio pasti akan diberi pegangan perusahaan agar bisa memiliki gaji yang bisa mencukupi dan mensejahterakan keluarga kecilnya.
Tapi apa iya solusi masalah kebutuhan rumah tangganya harus diselesaikan dengan ' mendompleng' Papanya?
Wira saja yang jelas jiwa bisnisnya oke saja memilih membuka usaha sendiri. Masak dia nggak bisa kayak Wira?
"Mikirin apa?" Satrio tersentak saat tiba- tiba tangannya tergenggam dari belakang tubuhnya.
Punggungnya langsung terasa hangat karena tubuh depan Adis menempel di sana.
Rupanya Adis sudah bangun. Dan entah berapa lama dia melamun tadi.
Apakah Adis sudah lama melihatnya melamun tadi?
"Ngelamunin apa kalau boleh tahu..." tanya Adis yang kini sudah bergerak untuk duduk bersila di samping Satrio.
Dahinya dia sandarkan di sudut pundak Satrio.
Nyaman sekali kalau saja boleh terlelap lagi.
"Mikir tawaran Papa kemarin." jawab Satrio sambil menarik tubuh Adis agar duduk di pangkuannya.
"Tawaran apa?" tanya Adis sambil menyandarkan kepalanya ke tulang belikat Satrio.
"Tawaran supaya kita tinggal di Jakarta dan membantu perusahaan-perusahaannya Papa." jawab Satrio datar.
"Perusahaan- perusahaan?" tanya Adis kaget sambil mengangkat kepalanya dari sandarannya.
Ditatapnya wajah Satrio dengan keheranan.
__ADS_1
"Iya." jawab Satrio santai.
"Maksudnya perusahaan Papa nggak cuma satu?" tanya Adis menegaskan.
"Iya." jawab Satrio masih dengan wajah datar.
"Ya Allah...aku nggak tahu kalau mertuaku sultan..." gumam Adis membuat Satrio merengut.
"Sultan kan, Mas?" tanya Adis meyakinkan dirinya sendiri.
"Ini kenapa malah ngebahas itu? Aku lagi mikir yang lebih penting." jawab Satrio sambil merengut.
"Selama ini kamu kenapa nggak mau bantuin Papa?" tanya Adis kemudian.
Satrio diam tak segera menjawab.
Apa iya dia harus menjawab kalau karena malas dan gengsi aja?
"Ngerasa nggak ada tantangan aja kalau ujug- ujug jadi pimpinan." jawab Satrio akhirnya.
"Ya kan bisa nggak harus langsung jadi pimpinan...Duduk dijajaran menengah dulu. Atau kalau mau lebih ekstrim lagi ya ngelamar jadi karyawan biasa. Daripada kamu kerja di perusahaan orang lain, kamu mending kerja bantuin perusahaan keluarga. Udah bikin Papa seneng, kalau perusahaan berkembang kamu juga dapat efek positifnya. Daripada ngebantuin perusahaan orang lain, mending ngebantuin orang tua lah,Mas." kata Adis berpendapat.
Satrio bungkam.
"Wira aja nggak mau bantuin Papa karena ogah disebut numpang beken nama orang tua. Dan sekarang aku yang harus nanggung itu..." gumam Satrio seperti mengeluh.
"Memangnya nama baik Papa di kalangan pengusaha jelek ya?" tanya Adis penuh selidik.
"Ya enggaklah! Enak aja! Papa tuh keren sebagai pengusaha. Karyawannya aja karyawan lama semua saking betahnya mereka." sergah Satrio cepat.
"Lha kalau nama perusahaan baik dan nama baik Papa sudah terjamin, kenapa harus malu meneruskan semua itu? Aneh. Nerusin nama baik kok malu." gumam Adis nggak habis mengerti.
"Kamu harusnya yang lebih tahu bagaimana perjuangan Papa membangun semua usahanya. Aku yakin itu nggak mudah. Dan semua usaha Papa itu pasti motivasinya untuk keluarganya. Untuk anak cucunya. Kalau anak- anaknya nggak ada yang mau meneruskan, aku yakin Papa sebenarnya sedih. Tapi karena Papa adalah Papa yang baik, pasti beliau tidak ingin memaksa kalian menuruti keinginannya. Tapi harusnya kita nggak boleh setega itu, Mas. Kasihan Papa." kata Adis membujuk.
"Jadi kalau aku ikut gabung ke perusahaan Papa nggak apa- apa nih?" tanya Satrio ragu.
Satrio masih diam tak bereaksi walau hatinya mulai tersentuh juga.
Selama ini dia nggak pernah berpikir sejauh itu.
Nggak pernah berpikir bagaimana cara menghargai semua usaha dan kebaikan Papanya dalam hidupnya.
Mungkin benar, Papanya pasti sebenarnya sedih dengan penolakan anak- anaknya dalam meneruskan usahanya.
Satrio mendesah sedih.
Tega sekali dia. Tinggal meneruskan dan menjaga saja tidak mau. Bahkan sok- sokan nggak mau mendompleng nama bapaknya katanya.
Hah, dia pikir dia ini siapa? Dia punya apa? Dia bisa apa tanpa Papanya?
"Aku ke kamar mandi dulu ya." pamit Adis sambil beringsut turun dari pangkuan suaminya.
Satrio agak kaget saat bibir Adis mampir ke pipinya.
"Genitnya!" kata Satrio sambil menepuk pan tat Adis lembut yang menjulurkan lidahnya meledek.
"Siap- siap sholat subuh,Mas." kata Adis sebelum hilang di balik pintu kamar mandi.
Tak lama Adis sudah keluar dari kamar mandi sudah dengan wajah segar.
"Buruan ambil wudhu." kata Adis karena Satrio tak juga beranjak berdiri.
"Ngantuk." keluh Satrio manja.
"Makanya kalau malem tuh tidur, bukannya mainan Paijo." kata Adis sambil tersenyum meledek.
"Enak sih." kata Satrio sambil tertawa malu.
__ADS_1
"Udah buruan wudhu. Nanti aku kasih sesuatu deh biarnggak ngantuk." kata Adis sambil tersenyum misterius.
"Kasih apa? Di elus lagi? Mauuu." kata Satrio penuh semangat.
"Nggak! Lebih special." kata Adis cepat.
Satrio berpikir cepat. Apa kira- kira itu...
Lebih special dari memanjakan Paijo? Apa ya?
Satrio bergegas melesat mengambil wudhu. Dan dia tersenyum saat di lihatnya Adis sudah menunggunya dengan memakai mukena.
Dua sajadah sudah terhampar, tentu saja untuknya dan untuk Adis sendiri.
"Jamaah ya,Mas." kata Adis sambil mengulurkan sarung pada Satrio yang segera di pakainya. Lalu melepas kaos oblongnya untuk memakai baju Koko yang sudah disiapkan Adis pula.
Dalam hati Satrio bersyukur dipertemukan dengan Adis disaat dia sudah kembali mendekat kepada Allah.
Kalau dia masih bengal dulu,gimana bisa dia menjadi imam dalam sholat mereka?
Seusai memanjatkan doa untuk kebaikan keluarganya dan kebaikan kehidupan mereka, Satrio menoleh ke belakang dan mendapati Adis tengah menatapnya lembut.
"Kenapa?" tanya Satrio sambil menyentuh pipi Adis.
"Nggak papa. Masih nggak percaya aja aku sudah jadi istrinya bapak kucing yang nyebelin itu." kata Adis sambil tersenyum. Satrio terkekeh malu.
"Nggak nyesel kan tapi?" tanya Satrio sambil merangsek mendekat kemudian memeluk Adis.
"Sampai detik ini sih nggak nyesel. Nggak tahu besok lusa." jawab Adis sambil membelai rahang Satrio.
Diperlakukan seperti itu Satrio langsung blingsatan.
Si Paijo dengan kurang ajarnya langsung bereaksi.
"Jangan suka belai- belai rahangku, Sayang. Nggak bagus untuk ketenangan Paijo." kata Satrio sambil membawa tangan Adis ke bibirnya kemudian mengecupinya.
"Kamu juga jangan kayak gitu.Juminten tergoda." bisik Adis sambil tersenyum malu.
Satrio menatap Adis tak percaya.Namun dilihat dari tatapannya, Adis nampaknya memang mulai tergoda.
Sip!
"Bian bangunnya jam berapa biasanya?" tanya Satrio sambil bangkit berdiri untuk merapikan alat ibadahnya.
Kembali melepas sarung dan kokonya.
"Jam enaman kurang dikit biasanya." jawab Adis sambil menumpuk sajadah kemudian mengaitkan mukenanya di hanger.
Sip lagi!
"Bisa ya buat satu ronde lagi? Belum ada jam lima ini." kata Satrio sambil memeluk Adis dari belakang.
"Nggak nanti malam aja biar puas?" tanya Adis sambil menagkap tangan Satrio yang sudah nyelonong ke balik bajunya.
"Nanti malam lagi. Sekarang juga mau." bisik Satrio di samping telinga Adis yang sudah mulai terpejam.
"Lampunya..."
Satrio bergerak cepat mematikan lampu utama kamar lalu tanpa basa- basi lagi membawa tubuh Adis untuk kembali memporak-porandakan ranjang mereka.
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...
Mohon maaf ya kemarin nggak up nggak bilang- bilang 😅 authornya sedang ikut berpartisipasi hari meriang nasional 😂😂😂
Kalau besok nggak up lagi berarti authornya belum selesai mengikuti perayaan meriang nasional 🙊🙈
Jaga kesehatan ya guys.....💖💕
__ADS_1