KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Video


__ADS_3

Adis membaringkan tubuhnya dan menutupinya dengan selimut sampai sebatas dada.


Diraihnya ponsel dan membuka beberapa pesan yang sejak pagi tadi masuk namun dianggapnya nggak terlalu penting untuk segera dibaca dan di balas.


Salah satunya adalah satu kiriman video dari nomer yang nggak dia kenal.


Dan dia kembali duduk saat menyadari siapa yang mengirim video itu.


Si Bapak kucing.


Narsis banget sih, kirim video segala cuma makan nugget doang, batinnya kesal saat diputarnya video itu dan hanya menunjukkan satu cewek berambut cepak berwarna coklat sedang menunjukkan nugget yang telah tergigit ke arah kamera, lalu ada dua pria juga sedang menikmati makanan yang sama.


Tapi itu awalnya.


Yang terjadi selanjutnya justru diluar akal sehatnya.


Tanpa terkendali jarinya menyentuh kembali layar ponsel itu dan kembali memutar video.


Tidak hanya sekali memutar ulang. Tapi sampai lima kali.


Sampai dia hafal apa yang diucapkan satu- satunya cewek yang ada di video itu, juga pria yang terlihat paling tua disitu, dan satu lagi cowok yang ada di video itu.


Sang pengambil video jelas adalah sang pengirim video padanya, suaranya jadi opening dan closing video, tanpa sedikitpun terlihat wajahnya disana.


Adis jadi teringat kejadian pagi tadi.


Saat tiba- tiba Mbak Yanti mendekatinya yang hendak keluar rumah untuk jogging.


"Mbak, ini Mas Satrio tanya Mbak Adis udah bangun belum." kata Mbak Yanti sambil mengulurkan ponselnya.


"Apa?" tanya Adis bingung dengan 'serangan' tiba- tiba itu.


"Tadi Mas Satrio nelpon Mbak Adis katanya. Tapi nggak diangkat...."


"HAH....???"


"Itu Mas Satrio nunggu mau bicara penting katanya." kata Mbak Yanti sambil menunjuk ponselnya yang sudah di genggam Adis dari tadi.


"Apa?" tanya Adis linglung.


"Ya Allah,Mbak Adiiiis.....Itu Mas Satrio pengen ngomong di hape yang Mbak pegang itu...." kata Mbak Yanti nyaris habis kesabaran dengan kelinglungan mendadak yang melanda Adis.


"Ngapain dia nelpon?" tanya Adis sambil berbisik dan menyembunyikan ponsel dibelakang punggungnya.


"Nggak tahu. Katanya penting. Udah buruan diterima dulu aja. Keburu lumutan Mas Satrio nunggunya." kata Mbak Yanti kemudian berlalu.


Meninggalkan Adis yang kebingungan memandang ponsel Mbak Yanti di genggamannya.


"Hallo....." ucapnya akhirnya setelah menarik napas beberapa kali.


"Alhamdulillah ya Allah....Udah mandinya?" suara lega dari Satrio di seberang telpon membuat dahi Adis mengkerut.


Siapa pula yang mandi? Salah nelpon nih orang.....


"Hallo.....Adisty....." panggilan Satrio di ponsel mengagetkan Adis.


"Ya. Ada apa nelpon?" tanya Adis cepat.


"Mau nanya." kata Satrio tak kalah cepat.


"Nanya apa?" tanya Adis dengan nada kesal. Jadwal joggingnya terhambat gegara Bapak kucing ini.


Apa dia kira aku tempat bertanya?


"Nugget yang kemarin kalau sebagian aku bawa ke kantor buat temen- temenku boleh nggak? Aku khawatir nggak habis kalau aku makan sendirian. Sayang banget kalau kebuang." kata Satrio membuat Adis melongo tak percaya dengan pertanyaan yang baru saja dia dengar.


Timbang nugget doang dia sampai nelpon dan bilang penting sama Mbak Yanti?

__ADS_1


Dasar kadal. Modusnya nggak banget deh.


"Terserah!" jawab Adis datar. Tak ada sahutan dari Satrio. Dan Adis bermaksud hendak menutup sambungan telponnya tapi keduluan Satrio kembali. bersuara.


"Cara masaknya gimana? Gorengnya minyaknya panas banget atau panas sedang?" tanya Satrio sarat kekepoan.


Adis menghela nafas berat.


Ya ampun ni cowok.......😠


"Goreng aja biasa panasnya. Sama kayak kamu kalau mau goreng tempe. Pernah goreng tempe nggak?" tanya Adis dengan nada mengejek.


Mana mungkin si Bapak kucing itu akan becanda dengan wajan kan? Dari tampilannya aja yakin banget, nggak mungkin dia bisa goreng-goreng. Bisa- bisa ngidupin kompor aja dia nggak tahu caranya.


Ini sok- sokan pagi- pagi modus pakai ganggu orang mau jogging segala.


"OK. Makasih ya." dan sambungan telpon langsung ditutup sepihak oleh Satrio.


E buseeet nih orang main tutup telpon aja, nggak pamit pula. Nyebelin banget, sungut Adis sambol kembali masuk untuk mengembalikan ponsel Mbak Yanti.


"Besok lagi kalau si bapak kucing itu nyariin aku, jangan pedulikan, Mbak. Nyebelin." kata Adis dengan wajah cemberut sambil mengulurkan ponsel pada Mbak Yanti yang melongo.


"Bapak kucing? Siapa, Mbak?" tanya Mbak Yanti bingung.


"Yang barusan nelpon." jawab Adis sambil ngeloyor keluar untuk melanjutkan niat awalnya jogging.


"Oalah, Mas Satrio punya panggilan kesayangan to." kikik Mbak Yanti sendirian sambil menjalankan sapu di tangannya.


Dalam hatinya senang, ada bahan gosip siang sama Mbak Puji nanti.


...🧚🧚🧚🧚🧚...


Satrio kembali membuka dan melihat aplikasi hijau dengan gambar gagang telpon di tengahnya.


Pesan video yang dia kirimkan siang tadi ternyata baru saja terbaca.


Dia bisa melihat centang dua berwarna abu baru saja berganti warna jadi biru.


Sayangnya harapan remehnya itu tak terkabul.


Hanya ada tulisan online dibawah nama nama Emak 🐈 itu.


Ditunggunya sampai sepuluh menit, tak ada juga pesan masuk dari yang diharapkannya.


Dasar cewek kanebo kering. Masak dikirimin video menyentuh hati kek gitu nggak ada respon barang emoticon doang, batin Satrio mulai ngomel menutupi rasa kecewa yang tiba- tiba hadir di hatinya.


Hei.....kecewa? Ngapain juga kecewa?


Satrio akhirnya memilih meletakkan ponselnya ke nakas di sebelah ranjangnya dan akan tidur saja dari pada gondok nggak jelas alasannya.


Baru selesai berdoa mau tidur di dalam hati, notifikasi pesan masuk terdengar dari ponselnya.


Satrio tersenyum dalam hati.


"Akhirnyaaaaa....." gumamnya riang sambil meraih ponsel dan kembali duduk.


Tapi bibirnya segera manyun saat dilihatnya pesan yang masuk ternyata dari Wira, adiknya.


Dua minggu lagi pulang lu! Mama mau ultah. Jan lupa !


Satrio membanting ponselnya ke bantal.


"Emang harus banget ya kirim pesan jam segini buat ngomongin itu?! Dasar dodol gosong!" omel Satrio.


Kembali notifikasi pesan terdengar. Tapi Satrio sudah males membukanya.


Palingan juga masih dari Wira.

__ADS_1


Tapi kalau nggak dia jawab bisa semalaman bocah itu sibuk ngirimin pesan ke dia dan besok pagi layar ponselnya sudah persis kayak koran saking penuhnya tulisan nggak jelas dari Wira.


Kebiasaan bocah sableng itu kalau nggak dibalas pesannya.


Dengan malas di raihnya ponselnya lagi.


Benerkan. Masih dari Wira.


Kalau mau pulang bawain roti tiwul ya ☺️😍


"Ni bocah, makanan apa pula yang dia minta ini? Roti tiwul apaan sih?" omel Satrio.


Ponsel kembali berbunyi.


Dengan memicingkan sebelah matanya, Satrio kembali membaca pesan dari Wira.


Sama keripik tempe yang biasa di beli mbak Puji πŸ˜€πŸ’–


"Dasar bocah sarap! Ngapain juga pakai lop- lop segala?! Mengerikan!" omel Satrio sambil mulai mengetik di ponselnya.


Udah itu aja pesen oleh- olehnya. Uangku cekak. Baiiiii !!!! Aku mo tidur.


Satrio lalu meletakkan ponselnya kembali ke nakas.


Ada PR baru nih besok pagi gegara bocah dodol itu.


Harus nanya Mbak Puji soal roti tiwul yang jual dimana.


Satrio sudah nge fly saat telinganya masih bisa menangkap satu notifikasi pesan masuk. Tapi matanya sudah tak mau di ajak terjaga lagi.


Dan senyumnya langsung melebar saat pagi hari bangun tidur sambil meminum segelas air putih dia membuka ponsel dan ternyata ada pesan dari si emak kucing.


Belum membaca pesannya saja Satrio sudah tertawa girang.


Harus banget ya pakai di video segala?


Satrio meringis keki mengingat kealaiannya kemarin.


Karena bingung mau jawab gimana, dia memilih tak langsung menjawab sekarang.


Dijawab nanti saja kalau sudah nemu kata- kata yang pas.


Dan ide itu nggak lama muncul saat dia ingat pesanan Wira semalam.


Dia memilih bertanya pada Adis saja soal roti tiwul karena Satrio nggak yakin Mbak Puji tahu soal makanan itu.


Apalagi ini jenis makanan olahan modifikasi.


Kamu tahu toko roti yang jual roti tiwul nggak?


Satrio kemudian mengirimkan pesan itu dan dia bergegas mandi.


Seusai mandi Satrio menengok ponselnya, siapa tahu Adis sudah menjawab pesannya.


Tapi jangankan jawaban, dibaca saja belum.


Satrio menghela nafasnya.


Sabar......


Dan kesabaran Satrio hanya diperlukan sampai cowok itu sampai kantornya.


Senyumnya mengembang saat Adis telah membalas pesannya dengan beberapa photo kue dan tulisan tinggal pilih yang mana.


"Pilih kamu aja, Sayang." tiba- tiba suara Lukas sudah menempel di telinganya.


"Kampret lu! Ngagetin aja." umpat Satrio sambil mencoba menendang pantat Lukas yang sudah berlari.

__ADS_1


Sialan, ternyata Lukas ngintip pesan yang sedang di bacanya. Kenapa bisa dia nggak tahu keberadaan orang itu di dekatnya sih?


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...


__ADS_2