KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Obrolan tengah malam


__ADS_3

Didit menatap Satrio sambil mengangkat satu alisnya dan mengulum senyum.


"Aku nggak ikut campur soal urusanmu sama Satrio. Yang penting urusan kita soal Adis sudah selesai." kata Didit cuek.


Satrio meringis keki dalam hati.


Mas Didit sialan !!!


Panji mulai akan tersenyum saat Didit kembali bersuara.


"Tapi kalau boleh aku kasih saran. Mending kamu nggak usah berurusan sama dia. Bakalan ribet hidupmu ntar." kata Didit sambil terkekeh menatap Panji yang tak mengerti maksud ucapan Didit.


Memangnya Satrio ini siapa? Anak orang kaya? Sekaya apa?


"Kalau kamu penasaran, aku kasih tahu aja sebelum kamu menyesal. Dia putra mahkota Pak Susilo Buwono. Kenal kan Pak Susilo Buwono?" tanya Didit yang membuat Panji dan Satrio kaget.


Satrio kaget, kok Mas Didit tahu keluarganya?


Perasaan tadi waktu mereka ngobrol Mas Didit cuma tanya siapa nama bapaknya.


Panji tentu saja lebih kaget mendengar nama Susilo Buwono.


Kelangsungan hidup perusahaan orang tuanya sangat bergantung pada perusahaan Susilo Buwono.


Bahkan perusahaan advertising miliknya sendiri baru saja menjalin kerjasama dengan salah satu perusahaan milik Susilo Buwono.


Benar- benar deh!!!!, batin Panji kesal dengan kesialan bertubi- tubi ini.


Mana mungkin dia berani menyentuh Putra Mahkota sialan ini.


Benar kata Didit, kalau dia macam- macam sama Satrio, yang ada bukan hanya dia yang kelar, tapi juga semua usaha orangtuanya bisa dilibas oleh Susilo Buwono.


"So, urusan kita selesai sampai disini ya, Nji?" tanya Didit setelah dilihatnya Panji mulai berpikir.


Panji hanya mengangguk lemah.


"Aku nggak perlu permintaan maaf kamu. Dan aku pastikan videomu aman bersamaku. Nanti aku kirim ke kamu biar kamu bisa mengagumi permainanmu yang monoton itu." kata Didit santai.


Satrio terkekeh mendengar ucapan Didit.


Somplak juga calon kakak ipar nih.


"OK. Kita undur diri dulu.Silakan dilanjut ah uh ah uh nya. Jangan lupa kunci pintu dulu daripada nanti kami bikin video lagi disini." kata Didit sambil menepuk bahu Satrio agar segera mengikutinya.


Satrio berlalu tanpa melihat ke arah Panji yang hanya bisa menatapnya geram.


Belum sampai pintu, keduanya sudah mendengar suara manja perempuan yang selama kejadian tadi berubah jadi patung.


"Aku obatin sini sakit hatinya, Mas."


"KUNCI PINTU DULU PANJUUUL!!!!" teriak Didit sebelum keluar dari pintu kamar itu.


Satrio terbahak- bahak melihat wajah kesal Didit.


"Nggak bisa ngebayangin kalau adikku di ajak nikah sama Panjul dan dia main dengan gaya kayak gitu. Nggak ada hot- hot nya. Bakalan nggak pernah ngerasain surga dunia dong adikku." gerutu Didit sengit sambil mengikuti Satrio memasuki kamarnya.


Satrio meringis keki.


"Nyatanya ceweknya tadi juga kli maks gitu kok." kata Satrio santai sambil berjalan ke kamar mandi.


"Ceweknya tadi boongan itu.Yakin aku." kata Didit sambil membuka kulkas kecil dan mengambil satu dari dua minuman soda yang ada di dalamnya.

__ADS_1


"Kamu mandi, Sat?!" tanya Didit saat samar- samar didengarnya gemericik air dari kamar mandi.


"Iya.Sebentar aja, Mas!" sahut Satrio samar- samar di telinga Didit yang bersandar santai di kursi.


Didit terkikik- kikik.


Pasti Satrio kepanasan liat live tadi.


Pasti mainan sabun dia, batin Didit sambil tergelak.


"Mainan sabun malem- malem ya?" tembak Didit sambil tertawa meledek begitu Satrio keluar dari kamar mandi dengan berkalung handuk den mengacak- acak rambut basahnya dengan handuk itu.


"Aku kan cowok normal, Mas. Kelewatan kalau ngeliat begituan nggak on, walaupun mainnya amatiran gitu." kata Satrio sambil meringis walau agak tersipu.


"Mainnya kurang jauh kayaknya si Panjul. Jam terbangnya kurang tinggi." seloroh Didit kemudian tergelak.


"Kalau kamu aku yakin pasti sangat pro." kata Didit sambil tertawa renyah.


"Kata siapa?" tanya Satrio sok menyangkal.


"Reputasimu di dunia persilatan udah jadi rahasia umum. Aku beberapa kali mendengar namamu." kata Didit santai.


Satrio menatap Didit dengan khawatir.


"Selama itu hanya kamu lakukan di masa lalu, itu sudah bukan urusanku. Tapi kalau itu kamu lakukan saat sudah bersama adikku, aku yang akan menghajarmu melebihi hajaran bapakmu.Aku pastikan itu." kata Didit santai namun penuh aura ancaman.


Tapi bukan ancaman itu yang menjadi perhatian Satrio dan membuatnya kini tersenyum.


"Apa ini artinya aku boleh mendekati Adis, Mas?" tanya Satrio untuk meyakinkan dirinya sendiri.


Didit sesaat terpaku menatap Satrio.


"Hidup Adis tadinya normal layaknya gadis remaja lainnya. Tapi karena satu dosa besar, hidupnya nggak lagi ceria bahkan sangat murung. Kamu sudah tahu?" tanya Didit sambil menatap Satrio lekat- lekat.


Dia ingat pada kenyataan kalau Adis masih mencintai almarhum suaminya.


"Merasa berat ya mau saingan sama almarhum?" tanya Didit tepat sasaran.


Satrio hanya tersenyum kecut.


"Aku bahkan nggak tahu gimana caranya untuk bisa memenangkan persaingan dengan kenangan manis." kata Satrio sedih.


Didit mengangguk mengerti.


"Adis memang sangat mencintai Beni. Kurasa. mereka saling mencintai." Didit berkata dengan mata yang sudah menerawang lalu menarik nafas panjang.


" Sayang, takdir jodoh mereka pendek banget. Saking sedihnya ditinggal Beni, Adis sampai hilang kesadaran selama dua bulan. Masa paling sedih di keluarga kami saat melihat Adis yang hanya seperti seonggok daging tanpa jiwa saat itu. Nggak histeris, nggak nangis, nggak bicara. Hanya diam sambil menatap kosong hari demi hari. Betah duduk dari pagi sampai malam di satu tempat, tak mau bergerak." kata Didit sambil tersenyum pedih mengingat masa itu.


Hatinya sangat hancur melihat adik cantik semata wayangnya yang biasanya ceria tiba- tiba seolah membeku dengan tatapan kosong seolah tanpa jiwa.


Sekalinya bicara pasti hanya menanyakan Beni sudah sampai belum.


"Kalau kamu belum yakin dengan hatimu sendiri, tolong menjauh saja dari Adis. Jangan memberinya harapan yang berujung ketidakpastian padanya. Sebelum semuanya akan lebih mendalam dalam hati kalian. Aku nggak mau dia terluka lagi." kata Didit sambil menatap Satrio tegas.


"Kamu hanya penasaran ya sama Adis?" tanya Didit dengan senyumnya yang nampak dipaksakan.


Satrio bisa menangkap kekhawatiran dan kekecewaan di tatapan Didit padanya.


Satrio termangu.


Apa yang diminta Didit agar dia tidak mendekati Adis bila dia belum yakin dengan hatinya, bisa Satrio mengerti.

__ADS_1


Didit pasti nggak mau Adis sakit hati lagi nantinya.


Dan pasti ada kekhawatiran yang lebih dari hanya sekedar Adis patah hati.


Tapi lebih menyedihkan dari itu adalah pasti Didit khawatir Adis akan mengalami kehilangan seperti saat suaminya meninggal.


Tapi dengan pertanyaan yang mengira dia hanya penasaran, sepertinya itu nggak benar.


Apa yang harus membuat Satrio penasaran pada Adis? Juteknya? Mamanya bisa lebih jutek dari Adis kalau lagi marah.


Menurut Satrio dia perhatian ke Adis terjadi natural saja, bukan karena penasaran atau sesuatu yang menantang adrenalin lainnya.


Dia hanya tiba- tiba merasa sangat senang bahkan bahagia kalau bisa meledek Adis dan membuatnya cemberut.


Dia hanya langsung merasa harus menyayangi, melindungi, dan ingin memiliki Adis dan Reta dalam hidupnya, Dan perasaan itu entah mulai dari kapan tepatnya.


Hanya tiba- tiba begitu saja. That's all.


"Memangnya apanya Adis yang harus membuatku penasaran?" tanya Satrio seperti gumaman sambil menatap Didit yang tak bisa menyembunyikan kekagetannya dengan pertanyaan Satrio.


Didit diam tak menjawab.


Pertanyaan Satrio apakah bermaksud mengatakan kalau dugaan Didit kalau Satrio menaruh hati pada adiknya adalah salah?


Tapi kalau melihat dari cara mereka berdua saling menatap, mereka saling suka. Sangat jelas terlihat itu, walau Adis nampak masih sangat ingin menyembunyikan perasaannya yang berbeda pada Satrio dari siapapun.


"Nggak ada. Adikku hanya cewek biasa aja. Nggak ada yang istimewa. Yang membuatnya sedikit berbeda adalah saat teman sebayanya mungkin baru saja menikah atau baru punya baby, dia sudah memiliki anak yang sudah mau SD dan sudah berstatus janda. Hanya itu. Tapi dia adalah peri kecil kesayangan kami, dari dulu sampai nanti. Dan aku akan menjaganya sebaik yang aku bisa." kata Didit akhirnya.


"Keluargamu pasti juga menginginkan seorang princess untuk mendampingi putra mahkotanya. Bukan seorang single mother seperti adikku." kata Didit sambil mengangkat pandangannya menatap Satrio yang terpaku.


"Aku mengerti kalau kamu memilih tidak mendekati Adis. Akan sulit jalanmu kalau kamu sama Adis. Double trouble. Satu sisi kamu harus berurusan dengan kenangan Adis dan suaminya.Di sisi lain kamu harus berhadapan dengan keluargamu soal status Adis." kata Didit sambil tersenyum penuh pengertian.


Satrio tertunduk.


Apa yang dikatakan Didit ada benarnya walau tidak semuanya.


Bagi Satrio bukan keluarganya ancaman terberat, tapi kenangan Adis pada suaminya.


Sanggupkah dia menahan cemburu sepanjang umurnya pada almarhum?


Sanggupkah dia berlaku lebih baik dan lebih manis pada Adis, melebihi perlakuan Beni pada Adis dulu?


Sungguhkah dia bisa mengganti posisi Beni untuk menjaga dan melindungi Adis dan Reta?


"Yang aku tahu, aku hanya ingin menjaga dan memiliki Adis dan Reta. Aku ingin membahagiakan mereka. Aku merasa pasti akan bahagia kalau memiliki mereka berdua dalam hidupku. Apakah itu bisa jadi modal untukku mendekati Adis, Mas?" tanya Satrio sambil menatap Didit dengan tatapan penuh harap.


Disit menatap Satrio dengan haru.


Bocah ini ya.....


"Pastikan dulu keluargamu bisa menerima Adis dan Reta nggak. Kalau keluargamu OK,aku akan jadi suporter utamamu mendekati Adis." kata Didit kemudian dengan haru.


Tangannya terulur menepuk- nepuk bahu Satrio.


Bagaimana pun dia tidak ingin Adis terluka karena penolakan keluarga Satrio.


Maka satu- satunya jalan,menurutnya adalah memastikan dulu backing Satrio welcome pada status Adis dan Reta. Bila itu sudah OK, akan lebih mudah meyakinkan Adis untuk menerima Satrio nantinya.


"Baiklah. Akan aku pastikan dulu soal itu walau aku merasa orangtuaku nggak masalah soal itu.Apalagi Adis janda karena suaminya meninggal." kata Satrio meyakinkan.


"Aku doakan semua akan berjalan sesuai harapanmu." kata Didit sungguh- sungguh.

__ADS_1


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...


__ADS_2