KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Taksa Biantara


__ADS_3

Satrio memeluk mamanya erat dengan rasa bersalah yang amat dalam begitu dia turun dari helikopter di helipad yang berada di atap kediaman rumah orangtuanya.


Mamanya hanya tersenyum tanpa mengucap satu katapun.


Dihampirinya papanya yang juga menyambut pelukannya dengan hangat tanpa berani mengucap satu patah katapun.


Wira yang menunggunya di samping pintu rooftop nampak tersenyum salah tingkah menatapnya.


"Kenapa lu nggak bilang duluan sama gue, Sableng?!" geram Satrio sambil me re mas bahu Wira dengan kekuatan penuh saat mereka berpelukan.


Wira meringis kesakitan namun tak kuasa melepaskan diri dari cengkeraman kakaknya itu.


"Gue kalah cepet, Mas. Pas anak lu datang, gue lagi di Bali tiga hari." jawab Wira menjelaskan singkat.


"Minggir, kami mau lewat. Dingin banget disini. Kasak- kusuk apa kalian? Mau melakukan kudeta ya?" suara menuduh Pak Susilo mengagetkan Satrio dan Wira yang kasak- kusuk di depan pintu.


Keduanya lalu serentak minggir memberi jalan orangtuanya untuk turun ke dalam rumah tanpa merespon ucapan Papanya.


"Papa ih kalau ngomong sama anaknya mbok di saring. Asal aja!" omel Bu Katarina.


"Mama Papa kok yakin banget sih itu anak gue?" tanya Satrio keheranan.


"Yakinlah. Orang wajahnya plek ketiplek muka lu pas bayi." jawab Wira.


"Wajah bayi kan masih bisa berubah- ubah." kata Satrio masih mencoba berkelit.


"Golongan darahnya sama kayak lu, kayak gue, kayak Papa." jawab Wira lagi.


"Mungkin kebetulan aja." kata Satrio masih berusaha menyangkal.


"Kebetulan yang susah juga secara golongan darah kita termasuk langka." sergah Wira.


"Harus tes DNA biar pasti." kata Satrio sambil mengikuti Wira memasuki lift menuju dalam rumah.


"Kakek neneknya juga ngomong gitu. Mereka juga sangat mendukung untuk kita melakukan tes DNA itu. Dan mereka bersedia menerima anak itu kembali kalau memang bukan lu bapaknya." kata Wira menjelaskan.


Baik banget kakek nenek bayi itu, pikir Satrio.


"BTW, itu anaknya siapa sih?" tanya Satrio begitu mereka keluar lift.


"Aku kira perempuan yang terakhir kali lu tidurin." jawab Wira.


Satrio mengernyit.


Yang terakhir tidur dengannya adalah Dea. Tapi waktu itu dia inget banget pakai pengaman kok.


Waaah,anak hasil kebocoran dong tuh bayi.


Dan kenapa Dea nggak nyariin dia kalau tahu dirinya hamil?


Pasti ada yang nggak bener ini.


"Wah putra mahkota sudah sampai rupanya." seloroh Mas Didit yang melihat Satrio dan Wira baru keluar dari lorong dimana lift berada.


Satrio meringis malu sambil menjabat tangan Mas Didit.


"Kok aku nggak liat kamu datang ya? Padahal aku barusan dari depan lho." kata Mas Didit keheranan.


Satrio hanya tersenyum sambil melirik Wira.


"Menyelinap, Mas." kata Satrio sambil terkekeh.


"Udah ketemu anakmu?" tanya Mas Didit kemudian.


"Belum. Ini baru mau nyari dia. Dimana dia?" tanya Satrio sambil menatap Wira.


"Tadi baru dibobokin sama Mbak Adis. Di kamar lu." jawab Wira sambil tersenyum meledek.


Satrio nyengir kuda.


Kamarnya sudah jadi kamar bayi sekarang.


"Ya udah aku liat bayi itu dulu ya, Mas." pamit Satrio pada Mas Didit yang mempersilakan dengan tangannya.


"Anak lu! Bayi itu...bayi itu..." sergah Wira kesal dengan cara Satrio menyebut anaknya.


"Belum tentu anak gue." jawab Satrio sambil melenggang ke kamarnya.


"Dasar lu! Mau jadi bapak durhaka lu?" omel Wira yang tak digubris Satrio.


Wira kemudian mengikuti langkah Mas Didit yang mengajaknya ngadem di taman samping.


Menapaki tangga menuju kamarnya, Satrio merasa dadanya tiba- tiba berdetak tak beraturan.


Ya Allah, rasa apa ini?


Rasanya seperti akan bertemu dengan sesuatu yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

__ADS_1


Sesuatu yang membuat nyalinya ciut.


Tangannya nyaris meraih handle pintu kamarnya dan akan bergegas begitu saja masuk.


Untung saja dia ingat ada Adis di dalamnya.


Diketuknya pintu kamarnya dengan pelan, berharap agar yang ada di dalam tak kaget.


Tapi setelah beberapa kali ketukan, dari pelan sampai agak keras nggak ada sahutan juga, Satrio memutuskan untuk membuka pintu pelan.


Sepi. Seperti tak berpenghuni.


Hidungnya langsung mencium aroma wangi lain.


Wangi bedak bayi dan minyak telon.


Satrio tersenyum dalam hati.


Aroma yang bisa membuatnya tiba- tiba merasa rindu. Entah pada apa.


"Dis..." panggil Satrio tanpa bergerak dari depan pintu, berharap Adis mendengarnya kemudian menyahut panggilannya.


Tapi tetap tak ada suara.


Satrio kemudian pelan meninggalkan pintu kamar yang terbuka dan berjalan menuju ranjang yang ada tersembunyi dibalik partisi.


"Dis..." panggil Satrio lagi sebelum mencapai partisi. Namun tak ada sahutan juga.


Dengan pelan Satrio akhirnya maju dua langkah untuk melongok ke balik partisi.


Dan jantungnya rasanya langsung jatuh melihat pemandangan di depan matanya.


Tangannya memegang erat pinggiran partisi tanpa melepaskan tatapannya dari ranjangnya.


Di ranjang itu, nampak Adis tertidur dengan posisi miring beralaskan satu lengannya sendiri.


Di depannya nampak seorang bayi berbaju setelan hijau pastel tengah tidur lelap dengan kedua tangan terangkat disisi kepalanya yang memakai topi mungil berwarna merah.


Airmata Satrio begitu saja luruh melihat pemandangan itu.


Sebuah pemandangan yang sangat indah dan sangat menghangatkan hatinya.


Membuat dia merasa telah memiliki segalanya di dunia ini.


Dengan menyusut airmatanya, Satrio mendekat untuk melihat lebih cermat bayi yang terlihat montok itu.


Wajah bayi itu sangat mirip dengannya. Semuanya benar- benar mirip dirinya.


Dia ingat betul punya photo masa bayinya dengan posisi persis seperti bayi itu.


Pantas saja semua langsung percaya kalau bayi ini anaknya.


Dengan tergesa Satrio mengambil ponselnya dan memotret posisi Adis dan bayi itu.


Beberapa kali jepretan dan Satrio sangat suka melihat hasilnya. Sangat keren.


Kalian akan jadi milikku.


"Mas..." suara Mamanya dari depan pintu mengagetkan Satrio.


Satrio hanya melambaikan tangannya pada mamanya agar mendekat dan memberi kode agar tidak bersuara.


Bu Katarina mendekat kemudian tersenyum saat melihat Adis dan bayi itu sudah terlelap.


"Nggak mau sama yang lain. Maunya sama Adis terus. Di pegang yang lain nangis, sama Adis anteng aja dia." bisik mamanya sambil tersenyum bahagia.


"Pantesan Adis kecapekan gitu wajahnya." kata Satrio berbisik pula sambil menatap Adis iba.


"Adis juga nggak mau diminta istirahat, Dari kemarin begini tidurnya. Ngelonin, terus ikut tidur." kata Bu Katarina lagi.


Satrio mengangguk sambil tersenyum.


"Mungkin memang harus begini jalannya. Bian langsung lengket sama Adis. Adis juga pas melihat Bian pertama kali juga sampai nangis kayak ketemu anaknya yang lama berpisah." kata Bu Katarina dengan mata berkaca- kaca.


"Namanya Bian?" tanya Satrio sambil menatap bayi yang masih terlelap namun mulutnya sedang sejenak sibuk itu, seperti sedang menyusu.


Menggemaskan sekali.


"Namanya Taksa Biantara. Panggilannya Bian." jawab Bu Katarina.


(Taksa \= Sayap. Biantara \= Angkasa).


Satrio mengeja nama itu berulangkali dalam hatinya.


Seolah ingin memahat nama itu dengan cepat di sanubarinya.


"Beneran mirip banget sama aku ya,Ma?" bisik Satrio sambil menatap mamanya.

__ADS_1


"Banget...banget! Mama kayak dejavu. Semua kebiasaan dia persis kayak kamu pas bayi. Ya Allah Sat, nggak perlu DNA pun Mama yakin dia anak kamu.." kata Bu Katarina sambil melingkarkan lengannya ke lengan Satrio kemudian menatap cucu nya itu dengan menyandarkan kepalanya di lengan Satrio.


Kepala Bu Katarina masih bersandar di lengan Satrio saat Adis membuka mata dan langsung mendapati dirinya sedang jadi tontonan.


Dengan terlonjak dia segera bangun hingga Bian nampak sedikit terlonjak namun segera tenang setelah Adis menepuk- nepuk lembut paha montok bayi itu.


"Ma...maaf...aku ketiduran." kata Adis dengan wajah merona.


Di benahinya posisi jilbab instantnya yang sedikit melenceng.


"Nggak papa. Kamu pasti capek seharian sama Bian." kata Bu Katarina kemudian mendekat dan ikut duduk di ranjang.


"Udah lama, Mas sampainya?" tanya Adis sambil beranjak berdiri.


"Belum. Belum ada setengah jam." jawab Satrio sambil melirik jam tangannya.


"Kalian turunlah dulu makan. Biar Mama yang nungguin Bian." kata Bu Katarina sambil menatap Adis dan Satrio.


"Yuk." ajak Satrio pada Adis yang kemudian beringsut berdiri.


Tiba- tiba saja Satrio merasa lapar.


"Titip sebentar ya, Ma." kata Adis sambil tersenyum malu pada Bu Katarina.


"Lama juga boleh." kata Bu Katarina sambil tersenyum.


Satrio terlihat sedikit terkejut kemudian mengulum senyumnya mendahului Adis keluar kamar.


"Udah manggil Mama?" tanya Satrio sambil menatap meledek pada Adis yang langsung merona.


"Diminta gitu manggilnya." kata Adis sambil tersenyum malu.


"Ya nggak papa. Bagus malah. Berarti kamu udah mau kalau jadi anaknya Buwono juga. Welcome, Mama Adis." kata Satrio sambil tersenyum menatap Adis yang menunduk malu disampingnya sambil menuruni anak tangga.


"Dis...." panggil Satrio saat Adis akan melangkah menuju ruang makan.


"Ya? Kenapa?" tanya Adis saat dilihatnya Satrio malah bersandar di dinding di ujung tangga.


Adis memilih kembali mendekat.


"Ternyata aku beneran punya anak. Maaf ya..." kata Satrio penuh sesal.


Adis hanya tersenyum.


"Alhamdulillah bisa ketemu sama anakmu. Alhamdulillah juga akan bisa merawatnya. Setidaknya nggak menambah beban dosa. Aku nggak papa, Mas. Demi Allah aku nggak papa." kata Adis sambil menatap Satrio lembut.


Satrio menundukkan kepalanya. Mencoba menyembunyikan airmatanya yang tiba- tiba terbit.


"Apa nanti kamu mau kalau harus merawatnya?" tanya Satrio pelan sambil menghapus genangan airmatanya.


"Aku mau. Mau banget malah." jawab Adis penuh semangat.


Satrio menatap Adis tak percaya.


"Kenapa?" tanya Satrio keheranan.


"Dia cakep bangeeet." jawab Adis dengan wajah sangat gemas.


"Dan yang pasti aku langsung jatuh cinta sama Bian saat pertama kali matanya melihatku. Aku merasakan ada sesuatu disini." kata Adis sambil mendekap dadanya sendiri dengan haru.


"Andai sekalipun dia bukan anakmu, aku akan dengan senang hati merawatnya" kata Adis dengan tatapan haru.


Ingin rasanya Satrio memeluk Adis saat ini.


Sekedar untuk mengucapkan terimakasihnya yang tak terhingga.


Namun pasti Adis nggak akan mau dipeluknya.


"Besok kita nikah ya?" pinta Satrio kemudian. Dengan tatapan penuh harap pada Adis yang terpaku menatapnya.


"Be...besok? Besok kapan?" tanya Adis gugup.


""Besok. Boleh siang, boleh sore, atau malam. Yang penting besok." jawab Satrio semangat.


"Mas..."


"Aku bilang Papa dulu." kata Satrio langsung berlari menuju ruang kerja Papanya.


Meninggalkan Adis yang masih terpaku kebingungan dengan yang baru saja terjadi.


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...


Boleh mengucapkan selamat datang buat baby B πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„


Mohon maaf kalau ada yang kecewa dengan episode ini...β˜ΊοΈπŸ™


Happy reading semuanyaaaaa....πŸ’–πŸ’•

__ADS_1


__ADS_2