
Adis memekik tertahan saat melihat video kiriman dari Widuri.
Dia yang sudah bersiap- siap hendak berangkat ke tempat klien pagi ini, urung melanjutkan langkahnya menuju motornya saat dia melihat video Satrio yang sedang mengagumi nasi goreng dengan wajah penuh kekaguman dan bahkan kemudian berteriak- teriak panik pada Lukas karena Lukas mengambil kotak nasinya.
Yang membuat Adis nyaris berteriak adalah saat melihat tampilan nasi goreng yang sengaja diphoto Widuri.
Sepertinya Widuri mencuri mengambil photo nasi itu dari arah belakang Satrio yang sedang duduk.
Adis bergegas kembali masuk untuk melayangkan protes pada Mbak Yanti.
Setengah berteriak dia memanggil- manggil Mbak Yanti sambil melangkah cepat dari satu ruang ke ruang lain di dalam rumah untuk dapat segera menemukan Mbak Yanti.
ART nya itu akhirnya dia temukan di dalam kamar mandi belakang, sedang menyikat lantai kamar mandi dan menghidupkan kran air di dekatnya.
Pantas saja nggak denger panggilan Adis.
Suara Adis tentu saja kalah oleh kolaborasi suara air dan sikat kamar mandi.
"Mbak!" panggil Adis keras sambil mengetok pintu kamar mandi yang terbuka penuh agar perhatian Mbak Yanti segera beralih, dari keramik kamar mandi ke arah muka Adis.
"Lho, kukira udah bablas, Mbak. Ada apa?" tanya Mbak Yanti kemudian berdiri dan mematikan kran air agar mereka tak perlu mengeluarkan tenaga untuk bersuara ekstra.
Dia merasa harus waspada saat melihat wajah keruh Adis.
Dia salah apa sepagi ini udah dicemberutin tuan putrinya ini?
"Kenapa nasi goreng buat Satrio kamu bikin kayak gini sih, Mbak?!" tanya Adis kesal sambil mengulurkan tangannya ke depan wajah Mbak Yanti dari luar kamar mandi, menunjukkan photo nasi goreng pada Mbak Yanti.
Mbak Yanti yang melihat wajah Adis yang nampak kesal namun seperti hendak menangis tentu saja bingung.
Emang apa salahnya menghias nasi bekal biar cakep?
"Apa yang salah, Mbak?" tanya Mbak Yanti takut- takut dengan tetap berdiri di dalam kamar mandi.
Adis menghentakkan kakinya kesal.
"Itu cetakan bentuk hati, Mbaaaak!!! Satrio pasti mikirnya aneh- aneh sama aku. Dikiranya aku ngasih kode sama dia. Aku malu, Mbaaaak...!" kata Adis sudah setengah menangis.
Mbak Yanti terpaku melihat reaksi Adis yang seperti itu.
Kenapa Adis harus malu sih?
"Kenapa Mbak Adis yang malu? Aku yang bikin aja nggak malu...." kata Mbak Yanti dengan wajah bingung.
Dia bingung bagian mananya yang bisa bikin malu Adis.
Nasi bikinan dia bagus. Bahkan di photo tadi malah terlihat bagus banget. Nggak terlalu malu- maluin buat di pasang di story' medsos.
"Satrio pasti mikirnya aku yang bikin itu...." kata Adis dengan suara sedih.
"Enggaklah,Mbak. Tadi aku bilang kalau yang masak nasinya Mbak Adis, tapi yang menata di kotak bekal aku. Jadi nggak mungkin Mas Satrio salah paham apalagi berpikiran kalau Mbak Adis ngasih kode- kode." kata Mbak Yanti sambil tertawa lega.
Fyuuuh.....kirain dia ngelakuin kesalahan besar apa, ternyata cuma gegara tampilan nasi bekal.
"Beneran kamu tadi bilang kalau bukan aku yang menata? " tanya Adis nampak mulai lega.
"Beneraaaaan. Bahkan tadi Mas Satrio menggombal Mbak, bilang sama aku, kalau aku yang tiap hari kirimin bekal, bisa- bisa aku dijadiinnya pacar kedua, hihihi....." kata Mbak Yanti dengan wajah yang bersemu kegelian.
Adis menghembuskan napasnya lega walau hatinya kemudian terasa sangat jengkel mendengar cerita Mbak Yanti barusan.
Dasar buaya darat, nggak pandang bulu ngegombalnya!
"Ya udah kalau begitu. Maaf ya Mbak, aku tadi teriak- teriak jengkel." kata Adis sambil tersenyum salah tingkah.
"Never mind lah, Mbak. Aku juga minta maaf kalau bikin Mbak Adis malu. Nggak akan aku buat kayak gitu lagi kalau ngasih bekal Mas Satrio." kata Mbak Yanti sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
"Dibuat bagus juga nggak papa. Tapi jangan yang bentuk love..." kata Adis sambil tersipu malu.
"Kenapa? Mbak Adis cemburu aku ngasih love sama Mas Satrio?" tanya Mbak Yanti sambil terkekeh.
"Dih, cemburu! Nggak!" kata Adis ketus sambil bergegas keluar.
"Kalau nggak cemburu, aku besok bikin nasi love lagi lho...!" seru Mbak Yanti sambil tertawa.
"Nggak boleh! Saru, ( nggak pantes) Mbak!" teriak Adis dari ruang depan.
Mbak Yanti hanya tertawa- tawa saja mendengarnya.
...🧚🧚🧚🧚🧚...
Adis baru saja memasuki warung yang akan dia jadikan tempat makan siangnya saat ponselnya membunyikan notifikasi sebuah pesan masuk.
Dari Satrio rupanya.
Dia meringis malu sendiri saat menyadari hatinya merasa dihinggapi banyak kupu- kupu yang sedang mengepakkan sayapnya.
Bapak 🐈 : Makasih ya udah dimasakin nasi goreng tadi pagi 😍 SUKAK 💖💕
Tanpa sadar Adis tersenyum senang.
Ada rasa bahagia dan bangga menelusup ke hatinya membaca pesan Satrio itu.
Emak 🐈: Sama- sama. Jangan minta tiap hari tapinya. Tadi juga karena Mbak Yanti yang ngide.
Satrio tersenyum membaca balasan Adis yang bisa diipastikan selalu jaim.
Dasar ratu jaim.
Bapak 🐈: Aku mah nggak akan minta...Tapi tiap pagi bakalan nanya doang mau dikasih bekal atau nggak 😛🙈
Satrio terkikik kecil sambil mengirimkan pesannya.
Satrio tak bisa menahan gelaknya saat menerima balasan dari Adis.
Dia dipanggil dengan sebutan Paijan sama Adis.
Dasar Juminten!
"Telpon aja telpoooon.....! Video call...video call....!" kata Lukas yang tahu pasti Satrio sedang chatting dengan siapa.
"Nggak! Yang ada ntar lu ngrecokin!" jawab Satrio ketus.
Lukas tertawa songong. Memang benar sekali apa yang di bilang Satrio barusan.
Ada kepuasan tersendiri saat bisa mengacau acara telponan Satrio dan Adis.
Rasa irinya karena nggak punya gebetan yang bisa digombalin sedikit terkikis kalau bisa mengacau obrolan sejoli itu.
Apalagi kalau sampai bisa membuat Satrio berteriak dengan mengancamnya akan memecatnya jadi direktur pabrik batako. Itu membuatnya puas luar biasa.
"Enak kamu tuh, Sat. Biar kata hidup sendirian, masalah konsumsi nggak pernah kekurangan. Makanan tumbuh dari arah manapun." kata Lukas dengan nada iri.
"Tumbuh...tumbuh...." sungut Satrio sebal.
"Lho lha iya kan? Sarapan sering di kasih bekal sama pujaan hati yang nggak mau jadi pacarmu...."
"Mulut luuuu....!" sergah Satrio kesal.
"Apa lagi salah mulutku? Kan bener kan kalau Adis nggak mau kamu pacarin? Nyatanya sampai sekarang kalian belum pacaran kan? Cuma HTS an kan?" tanya Lukas dengan lugas.
Satrio mengangguk dengan wajah menyedihkan.
__ADS_1
"Perhatian banget tapi nggak mau dijadiin pasangan....Bikin pegel ati nggak sih kayak gitu?" tanya Lukas dengan tatapan serius pada Satrio.
Satrio kembali mengangguk.
"Pegel. Serba salah." jawab Satrio kemudian.
"Tegesinlah, Sat. Kalian udah bukan ABG juga. Udah bukan waktunya buang- buang waktu buat HTS an." saran Lukas.
"Gue udah teges sama dia kalau beneran serius. Tapi dia masih ragu sama perasaan dia sendiri." kata Satrio pelan.
"Memangnya perasaan dia nyantol dimana?" tanya Lukas penasaran.
"Di masa lalunya lah. Di cinta pertamanya yang berakhir tragis." jawab Satrio dengan wajah prihatin.
"Tragis gimana?" tanya Lukas semakin kepo.
Selama ini Satrio tak pernah menceritakan apapun soal pribadi Adis.
Makanya, mumpung saat ini Satrio membuka celah, Lukas ingin tahu sebanyak mungkin soal Adis.
"Dia ditinggal meninggal pas lagi sayang- sayangnya." kata Satrio sambil tersenyum getir.
"Waduh! Berat, Sat saingan sama kenangan. Apalagi saingan sama almarhum." kata Lukas ikut sedih.
Satrio mengangguk sambil menghela napasnya.
"I know. Makanya aku juga nggak bisa maksa dia yang gimana- gimana. Aku cuma bisa ngomong ke dia kalau aku juga punya batas waktu untuk menunggu dia bisa membereskan hatinya dengan masa lalunya. Aku cuma bisa berharap, dia nanti nggak akan terlambat menerima cintaku." kata Satrio dengan senyuman yang membuat trenyuh.
Lukas terdiam.
"Terus kalau ternyata dia nggak jawab sampai batas akhir waktumu, gimana?" tanya Lukas dengan nada khawatir.
Satrio mengangkat kedua bahunya dengan sedih.
"Berarti dugaanku kalau dia jodohku, salah." kata Satrio sambil tersenyum garing.
Berat sekali ngomong seperti itu bagi Satrio.
Sejujurnya saja, dia sangat berharap Adislah jodohnya.
"Sesimple itu?" tanya Lukas tak percaya.
Satrio tersenyum sedih.
"Simple ngomongnya. Ngerasainnya nggak simple. Sebelas dua belas kan sama cinta lu?" kekeh Satrio sambil melempar Lukas dengan kulit kacang.
Lukas meringis.
"Kalau perasaanku sama Widuri penghalangnya jelas. Ujungnya jelas. Buntu. Aku udah terima takdir cintaku kandas. Tapi kalau kisah cintamu kan beda kasus,Sat. Masih bisa diperjuangkan." dalih Lukas dengan niat menyemangati Satrio.
"Aku juga berjuang ini....Tapi kendali di tangan dia. Dia yang bermasalah, bukan gue." kilah Satrio.
"Ya kamu harus bantu dia meninggalkan kenangannya dong. Jangan cuma nunggu dia mengemasi kenangannya sendirian." kata Lukas.
Satrio terhenyak dibuatnya.
Membantu Adis mengemasi kenangan manisnya dengan Beni?
Bagaimana caranya?
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...
Ada yang bisa ngasih tahu Satrio nggak, gimana caranya? 😀
Pusing aku sama mereka berdua tuh 😛
__ADS_1
BTW, selamat menikmati perjalanan cinta Adis dan Satrio....Makasih banyak tinggalan jempolnya...😍🙏