KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Nasi Goreng


__ADS_3

Satrio meraih jam weker di nakas samping ranjangnya.


Udara pagi yang dingin merayunya untuk tetap bergelung di bawah selimut hangatnya.


Gemericik hujan terdengar menembus dinding kaca kamarnya.


Alangkah nikmatnya kalau saja hari ini adalah weekend. Pagi hari hujan nggak bakal jadi soal. Tinggal meneruskan tidur lagi saja.


Tapi sayangnya ini week day. Dan nanti dia ada jadwal mendampingi calon buyer.


Dengan malas Satrio mendudukkan tubuhnya.


Meregangkan otot- ototnya dengan menggeliat.


Baru saja akan melangkahkan kakinya hendak ke kamar mandi, ponselnya berdering.


Dengan cepat Satrio menyambar benda kotak pipih di atas nakas itu.


"Si Sableng ngapain juga pagi- pagi telpon". gumam Satrio malas kemudian menggulir tombol hijau di layar.


"Selamat pagi Masku yang pasti belum mandi.....!!!" suara renyah dan riang gembira Wira langsung terdengar sebelum Satrio membuka mulutnya.


Perasaan Satrio langsung nggak enak.


Pasti ada maunya nih bocah.


"Ngapain pagi- pagi nelpon? Gue mau mandi." tanya Satrio dengan suara bernada kesal.


"Gue nanti mau ketemu mamanya Widuri sama Mama." kata Wira langsung to the point sebelum Satrio kesal dan menutup percakapan secara sepihak.


"HAH???!!! KAN GUE UDAH BILANG INI RAHASIA, SABLEEEENGGG!!!! NGAPAIN LU MALAH BILANG MAMA SEGALA SIH?!" teriak Satrio murka sampai Wira harus menjauhkan ponselnya dari telinganya.


Darah Satrio sudah langsung naik ke ubun- ubun.


Geblek banget sih si Sableng! Dibilangin rahasia...rahasia malah ngomong sama Mama. Ribet nih bakalan. Pasti ribet nih.


"Kalem Bro.....jangan teriak dulu. Mamanya Widuri itu sohibnya Mama. Namanya Tante Melly. Si Widuri itu dulu namanya Hapsari. Tante Melly dirawat di RSJ, bro...." kata Wira tenang.


Wajah keruh dan emosi Satrio langsung luruh begitu mendengar paparan Wira.


Apalagi saat mendengar kalimat terakhir Wira.


Mama Widuri di RSJ.


Sejak kapan?


"Gue kirimin foto lamanya orangtuanya Widuri. Coba lu liat kemiripannya sama Widuri." kata Wira kemudian.


"Lu dapat photo lama itu dari mana?" tanya Satrio penasaran.


Dia kembali duduk di ranjang.


"Dari Mama. Aku kan tadi bilang, Tante Melly sohibnya Mama." kata Wira. Satrio mengangguk- angguk.


"Ya udah. Ntar gue gali lebih dalam lagi soal Tante Melly ya. Sekarang tugas lu buat nyiapin mental Widuri soal kondisi mamanya yang jadi penghuni RSJ. Kalau dia mau, sebentar lagi kita bisa liat drama pertemuan anak hilang dan ibunya." kata Wira.


"OK. Nanti gue obrolin sama Widuri soal mamanya. Ya udah, gue mau mojok dulu." kata Satrio langsung mematikan panggilan telpon.


"Gue kan belum ngomong maksud utama dari gue nelpon pagi- pagi gini. Malah dimatiin." omel Wira kesal.


Wira yang masih mau ngomong langsung menggerutu begitu mendengar sambungan telpon dimatikan secara sepihak oleh Satrio.

__ADS_1


Pantesan dulu kita sempat photo bareng. Ternyata mama kita sahabatan....


...🧚🧚🧚🧚🧚...


Adis melongo menatap Mbak Yanti yang baru selesai mengemukakan ide nyeleneh di pagi yang basah ini.


Mbak Yanti memberi saran -namun setengah memaksa- pada Adis agar meminta Satrio mampir ke rumah sebelum berangkat ke kantor untuk diberi bekal sarapan.


"Yang namanya mampir itu, Satrio ngelewatin rumah kita,Mbak. Kalau Satrio kesini namanya nyamperin, bukan nglewatin." kata Adis mengingat posisi rumahnya memang lebih masuk dari pada rumah Satrio.


Kalau mengarah ke gerbang keluar kompleks jelas Satrio nggak akan lewat depan rumahnya.


Mbak Yanti meringis malu menyadari kekeliruannya.


"Ya udah, nanti aku aja yang nganterin sarapannya. Sayang Mbak nasi goreng segini banyak nggak bakalan habis kita makan berdua juga. Di kasih Mas Satrio pasti dia seneng. Lagian ini hujan, kasihan kalau dia harus mampir beli sarapan dulu." kata Mbak Yanti dengan bijaksananya.


Adis tak segera bersuara.


Terus terang saja dia agak keberatan dengan usul Mbak Yanti mengingat dia sedang berusaha membangun jarak dengan Satrio.


Kalau dia ngasih sarapan di pagi yang hujan pada cowok itu, apa nggak terkesan dia plin plan dalam bersikap?


Dan memberi sarapan di suasana seperti ini apa tidak terlalu manis untuk dua insan berbeda gender yang nggak ada hubungan perasaan?


"Mbak Adis atau aku yang mau nyiapin buat Mas Satrio, Mbak?' tanya Mbak Yanti karena melihat Adis nggak ada pergerakan.


"Kamu aja." jawab Adis malas.


"Lagi berantem lagi ya?" tanya Mbak Yanti menebak- nebak.


"Enggak." jawab Adis cepat.


"Kok yang kayak males gitu sama Mas Satrio?" tanya Mbak Yanti nggak percaya dengan jawaban Adis.


"Lhah? Bukannya memang harus saling perhatian ya?" tanya Mbak Yanti dengan wajah keheranan.


"Enggak. Siapa yang ngeharusin?" tanya Adis dengan wajah cemberut.


Mbak Yanti yang semakin menyadari suasana sedang kurang kondusif memilih nyari aman dengan hanya nyengir kuda.


"Ya udah, aku aja yang perhatian sama Mas Satrio. Kasihan anak rantau nggak ada yang merhatiin. Di kasih nasi goreng aja pasti nanti seneng. Daripada nasi goreng dibuang kan bisa dikasih ke orang, nggak mubadzir." kata Mbak Yanti sambil mulai mengambil nasi goreng dan mencetaknya dengan cetakan nasi berbentuk hati kemudian memasukkannya ke kotak bekal dan menghiasnya dengan irisan telur dadar, Nori, sosis, abon, kacang tanah goreng, dan mentimun.


Dimasukkannya kotak bekal ke tas kain kecil bersama bungkusan kerupuk dan satu buah apel.


"Mau ditambahin apa- apa nggak, Mbak?" tanya Mbak Yanti yang sudah siap dengan jinjingan tas bekal untuk Satrio.


"Nggak ada." jawab Adis cuek.


Mbak Yanti hanya mengulum senyumnya.


"Ya udah. Aku anterin ini dulu ya,Mbak."


"Hmmm." jawab Adis sambil sekilas melirik ke tas kain yang dijinjing Mbak Yanti.


"Titip salam nggak?" tanya Mbak Yanti sengaja menggoda Adis.


"Nggak!" jawab Adis kesal.


"Ya udah. Nanti aku bilangin." kata Mbak Yanti sambil kembali mengulum senyum.


"Bilangin apa?" tanya Adis dengan wajah yang mulai salah tingkah.

__ADS_1


"Bilangin kalau Mbak Adis nggak kirim salam. Atau mau aku bilangin Mbak Adis titip salam?" tanya Mbak Yanti sambil tertawa.


"Mbak Yantiiiiii." geram Adis kesal.


Mbak Yanti hanya tertawa kemudian berlalu ke garasi.


Perasaan Adis nggak karu- karuan memikirkan apa reaksi Satrio dan apa yang mungkin dipikirkan Satrio tentang nasi goreng pagi ini.


Malu sekali rasanya kalau sampai Satrio berpikir dia mau sok jual mahal.


Cuma pura- pura nggak mau sama Satrio padahal mau dan cuma 'bertingkah' biar Satrio mengejarnya.


Hadeeeeeeh. Seharusnya dia tadi tegas melarang Mbak Yanti mengirim nasi goreng itu.


Nasi gorengnya kan bisa dikasih ke satpam, nggak harus ke Satrio.


Lamunan Adis buyar saat di dengarnya satu notifikasi pesan masuk.


Dari si Bapak kucing.


Panjang umur banget orang itu.


Bapak 🐈 : Apakah kamu nggak ada niat bersedekah padaku pagi ini? 😉😅🙈


Adis tersenyum tanpa sadar.


Emak 🐈 : OTW


Adis hanya mampu menjawab singkat dengan wajah yang merona.


Satrio yang menerima jawaban singkat itu sudah tersenyum riang.


Baginya, apa yang diucapkan Adis padanya agar dia tak menunggu Adis, tak akan pernah dia ambil pusing selama Adis tetap tak berubah dalam bersikap padanya.


Selama masih ada kiriman makanan walau tak tiap hari, Satrio sudah senang dan merasa masih memiliki tempat istimewa di hati Adis.


Bapak 🐈: Terimakasih mamanya Reta 😍💖💕


Adis menitikkan airmatanya membaca balasan pesan dari Satrio itu.


Mamanya Reta.


Manis sekali panggilan itu baginya.


*Please Sat, jangan semanis ini padaku. Aku bisa nggak kuat bertahan.


...🧚🧚🧚🧚🧚*...


"Ya Allah.....manis sekali bekalmu,Bang..." kata Widuri sambil berdiri dan terkekeh di samping Satrio yang masih tersenyum- senyum di depan kotak bekal yang baru saja di bukanya.


"Mau bilang bekalku kayak anak TK lu?!" sergah Satrio dengan tatapan mengancam.


"Enggaaaak.....kan aku bilang tadi manis, bukan lucu." kata Widuri sambil mengibas- ngibaskan tangannya dengan cepat.


"Lucu gini nasinya. Sayang mau ngerusaknya." gumam Satrio sambil menatap nasi goreng berbentuk hati yang dibuat jadi seperti wajah dengan hiasan irisan telur sebagai rambut, Nori sebagai alis, abon sebagai kumis, irisan bulat sosis sebagai rona pipi,kacang tanah goreng sebagai biji mata dan kerah baju, satu mentimun kecil yang menyerupai dasi.


Benar- benar kayak bekal anak TK sih. Tapi Satrio suka.


"HEH KAMPRET, MAU LU APAIN NASI GUE?!" teriak Satrio panik saat tiba- tiba Lukas mengangkat kotak bekal yang sedari tadi disenyuminya kemudian meletakkannya di meja Pak Cahyo dan Lukas mulai mengangkat tangannya untuk mencomot mentimun dengan oenuh semangat.


"LU SENTUH ITU, GUE PECAT LU JADI DIREKTUR !!" teriak Satrio dengan wajah panik.

__ADS_1


Widuri hanya terkikik- kikik sambil meneruskan mengambil video kelakuan Lukas yang sengaja menggoda Satrio itu.


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...


__ADS_2