
Satrio terkikik- kikik riang saat memainkan jemarinya di keyboard dan mengirim pesan untuk kekasih hatinya.
Satrio : Selamat siang Jum.... 👁️😍
Satrio semakin lebar tertawa saat dilihatnya pesannya langsung terbaca dan Adis sedang menulis balasan.
Emak 🐈: Paijaaaaaaan 😫😫😫 nyebelin 😪
Satrio terbahak sambil membayangkan wajah kesal Adis, membuat kaget Widuri dan Pak Cahyo yang kemudian saling pandang kemudian mengangkat bahu.
Widuri menyilangkan telunjuknya di dahinya yang membuat Pak Cahyo meringis.
Sejak datang pagi tadi wajah Satrio terlihat kelewat bahagia.
Widuri sampai keheranan dibuatnya.
"Bahagia banget, Bang. Dapat orderan batako banyak ya?" ledek Widuri.
"Hidupku tidak hanya berputar di antara kantor dan batako, gadis muda. Tapi juga ada cinta di hidupku, kalau kamu lupa." jawab Satrio membuat Pak Cahyo tertawa keras dan Widuri menunjukkan wajah hendak muntah.
"Kayak yang baru pertama kali jatuh cinta aja polahmu( tingkahmu), Sat." kata Pak Cahyo setengah mencibir.
"Setiap jatuh cinta kan beda- beda rasanya, Pak. Lupa ya jaman muda dulu?" tanya Satrio sengaja meledek balik pimpinannya itu.
"Bukannya lupa, tapi aku jatuh cinta ya cuma sama istriku itu aja. Cinta pertama dan terakhir. Cinta monyet sampai jadi cinta kingkong." jawab Pak Cahyo sambil tertawa malu.
"Waaaah.....Setiawan dong, Pak." seru Widuri yang langsung memutar arah duduknya untuk menghadap ke arah Pak Cahyo.
Pembuatan MRP yang belum selesai, dengan senang hati dia tinggal sejenak begitu saja demi harapan bisa mendengar kisah romansa tempo dulu versi Pak Cahyo.
"Setiawan siapa?" tanya Satrio bingung karena merasa komentar Widuri nggak nyambung dengan pembicaraan mereka barusan.
"Setiawan itu artinya cowok setia. Bukan bolangman kayak kamu." kata Widuri dengan wajah mengejek
"Bolangman pale lu!" sungut Satrio kesal.
Pak Cahyo kembali tertawa.
"Udah... kerja lagi yuk..." lerai Pak Cahyo kemudian.
Nampak wajah tidak terima diwajah kedua 'anaknya' itu mengingat perseteruan urat saraf baru saja dimulai.
"MRP nya ditunggu purchase, Tom. Segera di selesaikan yang itu." kata Pak Cahyo mencoba mengalihkan perhatian Widuri.
"Pesan pacarmu di balas sekali lagi,Sat. Habis ini kamu ikut aku ke produksi. Kayaknya ada ukuran frame yang nggak sesuai sama gambar." kata Pak Cahyo sengaja 'memecah' kedua anaknya.
"Siyap!" jawab Satrio cepat kemudian asik dengan keyboard nya sejenak lalu mengikuti Pak Cahyo sambil memasukkan ponselnya ke saku celana.
"Jangan WA nan di produksi woyyy!!!" seru Widuri yang melihat Satrio memasukkan ponselnya ke saku celana.
"Iya!" jawab Satrio dengan berseru sebelum turun ke lantai bawah.
Melewati bagian produksi divisi finishing yang dominan berisi karyawan perempuan, pesona Satrio masih saja memikat mereka.
__ADS_1
Apalagi Satrio suka bergurau dengan ibu- ibu pekerja itu. Membuat suasana selalu semarak walaupun Satrio kadang hanya sekilas menyapa sambil berlalu.
Untuk menyapa gadis- gadis, Satrio sangat menahan diri.
Dia tidak ingin dianggap PHP karena bersikap manis pada seorang gadis.
Dia tidak mau jadi heartbreaker seperti yang dikatakan Widuri gegara ada cewek yang katanya sampai sakit saat tahu kalau Satrio sudah punya pacar.
Ya kali cowok tampan rupawan gini jomblo lama- lama, wkwkwkwk.....
Kan payah tuh....Nggak tahu apa- apa, tahu- tahu pagi- pagi diomelin Widuri karena ada anak packing -yang memang Satrio tahu dengan pasti jadi fans beratnya- ijin nggak masuk kerja karena sakit.
"Riana sakit karena shock kemarin denger kalau Bang Rio punya pacar." kata Widuri saat pagi itu mereka melihat presensi semua karyawan.
"Ngarang bebaaaas." sahut Satrio sambil mencibir.
"Beneran! Kemarin kan pas habis istirahat aku main ke packing. Ngobrol sama gadis- gadis sana yang ujungnya ngomongin siapa lagi kalau bukan cowok cakep kita." kata Widuri sambil melirik sadis ke arah Satrio yang terkekeh heran.
"Aku yang sengaja bilang biar mereka nggak pada ngarep lagi sama kamu. Terutama Riana. Eh, begitu dia denger kamu udah ada pacar, dia langsung nangis. Aku kan kaget." cerita Widuri dengan semangat.
"Bohong lu!" sergah Satrio nggak percaya.
"Iiiiiih! Beneran! Tanya sama yang lain kalau nggak percaya." tukas Widuri kesal karena merasa nggak dipercaya.
"Kata temen kostnya tadi, sampai pagi Riana nangisnya. Bahkan tadi pagi matanya jendol- jendol kata temennya di parkiran tadi. Kasihan." kata Widuri kemudian.
Satrio tersenyum salah tingkah.
"Ya nggaklah! Aku kan nggak ngapa- ngapain. Bersalah dimananya gue?" tanya Satrio keheranan.
"Dianya aja yang terlalu terobsesi. Makanya dari dulu kan aku udah bilang sama kamu, jangan mau kalau dititipin makanan sama dia. Eh kamu bandel. Udah makanan aku nggak pernah nyentuh, aku yang kena pencemaran nama baik. Ya kayak gini akhirnya. Dia pasti merasa aku PHP kan? Salah siapa coba sebenarnya? Elu yang salah, mau nerima dan menikmati makanan dari dia yang dialamatkan untukku." cerocos Satrio kesal dan panjang lebar membuat Widuri meringis malu.
"Udah...udah....Ini jadi pembelajaran ke depannya." kata Pak Cahyo melerai (lagi dan lagi!) keduanya.
...🧚🧚🧚🧚🧚...
Satrio rasanya ingin menjitak botak di kepala Suseno yang masih saja berusaha membela diri atas kesalahannya meloloskan frame coffee table yang ukurannya tidak sama dengan order mereka ke pengrajin.
Suseno yang bertugas sebagai QC luar adalah orang yang paling bertanggungjawab atas barang dari supplier yang akan dimasukkan ke pabrik.
Beruntung, di bagian pembahanan ada satu QC yang oleh PPIC diberi tugas untuk recheck frame yang masuk sebelum di TTB ( tanda terima barang) dan di proses.
Dari laporan Toni, QC divisi pembahanan itulah Pak Cahyo dan Satrio tahu ada yang salah di ukuran frame yang akan segera di proses.
"Nggak papa lah cuma beda lima centi ini." berkali- kali Seno berucap seperti itu untuk membela dirinya.
"Lima centi kamu bilang cuma?! Kamu nggak mikir kalau yang cuma lima centi itu nggak bakalan muat masuk carton box yang ukurannya udah standard dari dulu dan udah siap nunggu barang ini jadi buat dibungkus. Cuma lima centimu mempengaruhi hitungan kubikasi kontener juga. Jangan egois gitu jadi orang. Kita ini kerja team. Pikirin juga divisi lainnya. Pikirin step produksi lainnya. Kerja udah ada panduannya, ada working order. Taati itu, selesai urusan! Nyaman semuanya!" kata Satrio sudah dengan setengah emosi.
Pak Cahyo yang sedari awal bicara pada Seno dan selalu dijawab dengan sangat tidak profesional oleh Seno, tadi sudah terlihat putus asa.
Dan saat melihat wajah pias Seno karena ucapan Satrio barusan, diam- diam Pak Cahyo tersenyum dalam hati.
__ADS_1
"Terus gimana ini maumu?" tanya Seno akhirnya dengan nada putus asa.
"Aku maunya barang yang sesuai WO ( working order). Itu aja." kata Satrio masih dengan wajah mengeras.
Orang macam Seno ini nggak bisa diajak ngomong dengan cara lembek. Dia akan tak menggubris teguran dan tuntutan halus.
"Harus kita balikin lagi dong?" keluh Seno.
"Itu tanggung jawabmu yang kemarin berani masukin barang ini. Kami nggak akan ACC kalau kamu memakai tenaga karyawan sini untuk mereparasi barang ini. TTB ( tanda terima barang) juga belum di tanda tangani kok." kata Satrio tegas.
"Ya udah. Aku telpon suppliernya dulu untuk reparasi lagi." kata Seno menyerah.
"Dan, nggak ada tambahan biaya reparasi ya." sambung Satrio tegas.
"Iya. Oke." jawab Seno semakin sedih.
Dia sedih karena uang pelicin yang diberikan oleh supplier untuk meloloskan barang itu masuk nyatanya harus dia kembalikan lagi.
Impiannya menghabiskan akhir pekan di karaoke langganannya bubar jalan sudah.
Terus terang saja mentalnya langsung down begitu Satrio bicara dengan nada keras tadi.
Berwibawa sekali orang itu.
Kalau marah auranya nyeremin banget.
"Besok lagi jangan diulangi ya, Bro." kata Pak Cahyo setengah berbisik sambil menepuk pundaknya sebelum mereka membubarkan diri dari satu sudut di divisi pembahanan.
Seno hanya mengangguk sedih.
"Keren! Tap....tap....tap! Cakep!" puji Pak Cahyo sambil terkekeh- kekeh memuji Satrio yang berjalan disampingnya.
"Njenengan terlalu muter- muter negur dianya. Orang nggak bisa dikasih hati, situ malah masih main hati." protes Satrio kemudian.
"Ini baru pertama kalinya ada kasus kayak gini. Dan terus terang pikiranku tadi malah belum sampai ke bagian packing dan kontener. Kamu keren. Nggak salah masuk PPIC." puji Pak Cahyo lagi.
"Nanti aku traktir nasi Padang deh karena udah muji- muji aku dari tadi." kelakar Satrio sambil tertawa menjajari langkah Pak Cahyo.
"Alhamdulillah..... Kebetulan aku nggak bawa bekal dari rumah. Istriku agak meriang tadi, jadi ngak masak." kata Pak Cahyo riang gembira sambil memeluk bahu Satrio senang.
"Lagian kamu memang pantas mendapat pujian. Bukan karena aku ngarep nasi Padangnya." sambung Pak Cahyo kemudian.
"Terimakasih pujiannya....." kata Satrio sambil tersenyum sebelum masuk kembali ke kantor.
"Sama- sama, Anak Muda. Semoga kelak kamu jadi pimpinan yang hebat." kata Pak Cahyo sambil tersenyum.
"Aamiin....aamiin." sahut Satrio kemudian.
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...
Boleh protes kalau penampakan Bang Sat versiku jauh dari ekspektasi masing- masing reader 😀.
Jangan lupa jempolnya dimampirkan ke pojok kiri kalau sudah senyum- senyum ya....🙊
__ADS_1
Komen banyak juga boleh banget asal sopan 😘
Happy reading gaesss.....💖💕