KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Menghargai yang ku punya


__ADS_3

Satrio bergegas merapikan meja kerjanya saat dilihatnya jam pulang kantor kurang dua menit lagi.


Dia berencana begitu bel pulang berbunyi, akan segera melesat ke parkiran secepat mungkin agar bisa cepat sampai rumah dan mempersiapkan diri untuk menjemput Adis.


Widuri yang melirik wajah Satrio - yang seharian ini cerah ceria- sudah tak tahan lagi menahan komentarnya.


"Mau pulang gerakannya gesit amat, Bang. Ada kencan ya?" ledek Widuri.


Satrio hanya mengerlingkan matanya jenaka.


"Kayaknya serius nih sama yang punya matic tosca..." sahut Pak Cahyo yang sudah mengikuti langkah Satrio meninggalkan meja kerjanya.


Satrio hanya tertawa kecil.


"Kalau mengingat umur, memang udah nggak pantes main- main sama anak orang, Pak. Doakan saja dia jodohku ya, Pak." kata Satrio sambil mengiringi langkah Pak Cahyo ke parkiran.


"Aamiin.....nggak sabar liat kamu pakai baju pengantin." kekeh Pak Cahyo sambil meninju pelan lengan Satrio.


Satrio ikut tertawa membayangkan dirinya pakai baju adat Jawa bersanding dengan Adis dengan Reta di tengah berpakaian sama dengan mamanya.


"Ngebayangin juga ya?" tebak Pak Cahyo sambil menunjuk muka Satrio yang cengar- cengir.


"Iya...Hahaha....."


"Pernikahan itu akan jadi surga kalau kita bersama dengan orang yang sama- sama ingin menciptakan surga. Pastikan itu dulu. Kita punya tujuan sama dengan pasangan dalam sebuah pernikahan. Kalau itu sudah kuat, in syaa Allah sekalipun ada badai tsunami di rumah tangga kita, akan bisa kita lewati sama- sama. Jangan pernah saling mengumbar amarah. Harus saling sabar." kata Pak Cahyo menasehati.


Satrio merasa sedang menghadapi penasehat pernikahan walau dia juga menyimpan nasehat itu baik- baik.


"Ngerawat anak orang susah ya, Pak?" seloroh Satrio.


"Jangan dilihat susahnya. Ingat- ingat enaknya aja. Punya istri itu enak. Kalau istrinya ngenakin ya....." kata Pak Cahyo sambil terkekeh. Satrio terkikik.


Pak Cahyo sudah menuju tempat motornya terparkir saat Lukas dengan tergesa mendekat ke arah Satrio.


"HP mu kemana sih,Sat? Di telpon nggak diangkat." kata Lukas dengan setengah terengah- engah berhenti di samping Satrio yang sudah menaiki motornya.


"Masak kamu nelpon.....Kok nggak kerasa getar?" kata Satrio sambil meraba saku celananya kemudian meringis saat melihat notifikasi panggilan tak terjawab dari Lukas.


"Nada dering di kasih volume dong kalau getar nggak diaktifkan." kata Lukas masih dengan wajah sedikit kesal.


"Iyaaa. Udah nih.Ini tadi juga ggak sengaja ke silent." kata Satrio.


"Ada apa sih?" tanya Satrio setelah kembali memasukkan ponselnya ke saku celananya.


"Ada yang nawarin L300 tahun 96. Mintanya 60 juta. Tapi kayaknya masih bisa di nego. Bugdetmu masuk nggak?" tanya Lukas.


"Plat mana?" tanya Satrio santai.


"Plat AB, Sleman. Punya tetangga desa. Kata temenku bengkel yang biasa pegang mobil itu, kondisinya masih sangat sehat mesinnya. Cuma memang bak belakangnya minta sedikit perhatian." kata Lukas.


Satrio sedang akan menjawab saat ponsel di sakunya bergetar dan berbunyi.


Pesan dari Adis. Bertanya jadi bisa jemput dia nggak setelah magrib. Satrio membalas mengiyakan dengan tersenyum.


"Nanti malam aku ke rumahmu deh ngomongin ini ya. Kalau kamu yakin mobilnya OK, ambil aja. Kasih tanda jadi dulu aja bisa ya?" tanya Satrio.


Lukas mengangguk senang.

__ADS_1


"Bisa. Aku langsung ke rumahnya yang punya mobil aja kalau gitu." kata Lukas semangat.


"Kasih berapa dulu?" tanya Satrio sambil meraba dompet di saku belakang celananya.


"Tanda jadi 500 ribu aja." kata Lukas membuat Satrio keheranan.


"Masak 500 ribu?" kata Satrio nggak percaya.


Lukas salah tingkah karena mengira 500 ribu terlalu banyak.


"Beli mobil kok tanda jadinya 500 ribu doang. Sejuta lah minimal." kata Satrio sambil mengulurkan sepuluh lembar uang merah penghuni dompetnya.


"Kebanyakan sejuta, Sat....Lima ratus aja. Lagian dompetmu langsung melongo tuh, uangnya kamu kasihin aku semua." kata Lukas sambil tertawa dan mengulurkan kembali lima lembar uang pada Satrio.


"Seriusan 500 aja?" tanya Satrio nggak yakin


"Iya! Nanti kalau ada yang nyaranin kasih 200 aja mau aku kasih 200 kok." kata Lukas kemudian terbahak.


"Pale lu 200!" kata Satrio kesal.


Kadang Satrio suka keki dengan jiwa minimalisnya Lukas


"Ya udah. Aku harus cepet pulang. Ada urusan sama calon ibu negara." kata Satrio sambil bergegas memakai helmnya.


"Salam deh buat calon ibu negaranya." kata Lukas.


"Wa' alaikumsalam. Udah ku balas salamnya." kata Satrio sambil manyun.


"Walahyung....Ming titip salam we ra oleh ( cuma titip salam aja nggak boleh)." gelak Lukas.


Satrio menyempatkan memampirkan kakinya ke tulang kering Lukas sebelum melajukan motor putihnya, meninggalkan Lukas yang mengumpat kesakitan sambil mengelus- elus tulang keringnya.


Adis menatap keheranan melihat motornya sudah terparkir di halaman samping rumah kakaknya.


Dia baru saja pulang dari jalan membeli sate ayam di sebelah ruko Didit.


Memasuki teras dia mulai mendengar suara Satrio yang tertawa bersama Didit.


"Tuh yang di jemput udah pulang beli satenya." kata Didit yang melihat dulu kedatangan Adis.


Satrio yang duduk membelakangi pintu masuk bergegas menoleh dan mendapati Adis membawa satu plastik kresek berisi beberapa bungkus sate.


"Kok bisa bawa motorku?" tanya Adis sambil menatap Satrio tanpa pembukaan lebih dulu.


"Mas...." sahut Didit sambil menatap Adis mengingatkan.


"Ha?" tanya Adis nggak mengerti maksud perkataan kakaknya.


"Kok bisa bawa motorku, Mas?" kata Didit mengulang pertanyaan Adis pada Satrio.


Adis tertawa malu setelah mengerti maksud kakaknya yang menyuruhnya memanggil Satrio dengan sebutan Mas.


Satrio hanya tertawa tertahan.


"Makan dulu yuk sebelum kalian pulang." ajak Didit sambil beranjak berdiri dan melambaikan tangannya mengajak Satrio masuk ke ruang makan.


Satrio mengikuti langkah Didit masuk ke ruang makan yang mungil namun rapi.

__ADS_1


Hanya ada meja makan dengan empat kursi makan di satu sudut ruangan, hingga menyisakan sedikit ruangan terbuka yang diberi karpet. Mungkin dipakai untuk area bermain anaknya Didit.


Satrio bisa melihat halaman samping tempat dia ngobrol dengan Didit kemarin dari jendela yang ada di sebelahnya.


Adis keluar dari dapur membawa nampan berisi empat gelas air putih, beriringan dengan Desi yang membawa nampan berisi piring berisi sate lontong.


Tanpa bersuara Adis mennempatkan empat gelas air putih di depan tempat duduk masing- masing.


"Doyan sate ayam kan,Sat?" tanya Mbak Desi sambil menaruh piring- piring berisi sate lontong.


"Doyan. Mbak. Apa- apa doyan aku mah." jawab Satrio sambil meringis.


"Sejenis sama papinya Cleo berarti. Nggak nyusahin istri kalau soal urusan makan." kata Mbak Desi sambil tersenyum melirik suaminya.


Didit hanya tersenyum bangga .


"Dalam urusan makan nggak nyusahin. Tapi urusan lainnya nyusahin." seloroh Adis sambil melirik meledek kakaknya.


"Nggak ada aku nyusahin. Tanya aja Desi tuh,aku nyusahin apa. Nggak ada." beladiri Didit.


Adis mencibirkan bibirnya. Sedang Desi hanya tersenyum.


"Yang penting aku cinta sama kamu." kata Desi sambil melakukan kiss bye pada Didit. Satrio tertawa melihatnya.


"Ih, nggak ada malu- malunya begitu ada orang lain juga." omel Adis sebel.


"Begitu apa? Emang kenapa kalau kita kiss bye sama kesayangan?" tanya Mbak Desi sambil terkikik.


"Dih, kesayangan...." sungut Adis lagi.


"Bocah kok kebanyakan protes." kata Didit sambil terkekeh menatap Adis.


Adis hanya mendengus kesal menatap kakaknya yang meledek.


Satrio hanya tersenyum- senyum saja melihat Adis yang bersungut- sungut. Sangat Adis banget kalau begitu.


"Kamu di rumah sendirian ya, Sat?" tanya Didit setelah menyuap satenya.


"Iya." jawab Satrio sambil mengangguk.


"Kasihan...." ledek Didit yang membuat Satrio tergelak.


"Tetanggamu juga ada yang sendirian. Nggak ada minat gitu ndeketin dia biar nggak sendirian juga." kata Mas Didit yang hanya di balas senyuman oleh Satrio yang melihat Adis yang cuek saja.


"Lagi nyusun strategi biar PDKT nya berhasil, Mas." kata Satrio kemudian.


"Susah ya?" tanya Mbak Desi sambil melirik Adis.


"Lumayan. Butuh kesabaran ekstra." jawab Satrio sambil terkekeh.


Adis menampilkan wajah cuek- cuek saja walau dia tahu yang jadi bahan pembicaraan adalah dirinya.


"Yang susah di dapat itu biasanya akan sangat membahagiakan kalau udah dimiliki." kata Mbak Desi lagi.


"Mudah- mudahan akan begitu." jawab Satrio sambil tersenyum.


"Tergantung juga bagaimana cara memperlakukannya nanti setelah dimiliki. Kalau disia- siain ya nggak mungkin bisa membahagiakan." celetuk Adis membuat Satrio menghentikan kunyahannya.

__ADS_1


"Aku selalu berusaha menjaga dan menghargai apapun yang ku punya." kata Satrio, membuat Adis menunduk.


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...


__ADS_2