KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Bersama Wira


__ADS_3

Masuk ke dalam mobil bagus seperti sekarang ini adalah pengalaman pertama bagi Widuri.


Tangannya bahkan tak berani bergerak dari rangkuman di pangkuannya karena takut akan nyelonong menyentuh tombol- tombol yang dia nggak tahu sama sekali fungsinya.


Hanya matanya saja pelan- pelan menyapu area depan matanya untuk mengamati satu demi satu nama dan kemungkinan fungsinya.


"Di perjalanan tadi aman kan? Nggak ada yang mengganggumu?" tanya Wira memecah kesunyian yang tercipta selepas mobil meninggalkan stasiun.


"Alhamdulillah aman." jawab Widuri masih dengan agak kikuk walau dia berusaha menyantaikan dirinya sendiri di depan Wira.


Pasti juga nggak jauh- jauh banget somplaknya sama abangnya, bisik batin Widuri menenangkan dirinya sendiri.


"Ngambil cuti berapa hari?" tanya Wira lagi.


"Dua hari cuti.Hari Senin dan Selasa." jawab Widuri lagi.


Wira mengangguk- angguk.


Ini Sabtu sore. Berarti ada waktu tiga hari ke depan bagi Widuri dekat dan bertemu dengan ibu kandungnya.


Cukuplah untuk membuat terang kondisi keluarga Widuri nantinya.


"Balik ke Jogjanya Selasa sore kan?" tanya Wira lagi.


"Rencana sih Selasa pagi, Mas. Belum beli tiketnya juga sih. Lihat nanti aja. Kalau memang harus Selasa sore juga nggak papa kalau masih ada tiketnya." jawab Widuri santai.


"Sip!" jawab Wira riang.


Widuri hanya mampu tersenyum sambil matanya menatap pemandangan gedung- gedung tinggi yang seolah berusaha menutupi macetnya jalanan akhir pekan ini.


Dia sekilas melirik ke arah Wira saat ponsel cowok itu berdering.


"Ibu Ratu nelpon." kata Wira sambil nyengir pada Widuri sebelum menerima panggilan dari mamanya lewat perangkat di mobil itu.


"Sudah ketemu Widurinya, Mas?" terdengar suara yang Widuri yakin itu mamanya Wira.


"Udah. Ini lagi di jalan, Ma." jawab Wira sambil melirik Widuri sekilas.


"Alhamdulillah...Buruan jalannya, Mama pengen cepetan ketemu Widurinya." kata mamanya lagi dengan suara tak sabar.


"Ya nggak bisa cepet juga, Ma. Jalan macet. Kalau pengen cepat, harusnya tadi jemputnya disuruh pakai helikopter, nggak bakalan kena macet di atas." kata Wira sambil meringis.


Ini orang becanda atau beneran ngomong soal helikopter tuh? Masak iya keluarga Bang Sat punya helikopter juga? Bikin serem aja.


"Ya udah deh. Yang penting hati- hati bawa adikmu. Mama tunggu di rumah." kata mamanya kemudian.


Adik? Nggak salah mamanya Bang Sat menganggap dia adiknya mereka berdua? Tiba- tiba punya dua abang sekeren itu? O em jiiii.....!!!


"Adik mau aku ajak nengok ke cafe sebentar, Ma. Sekalian lewat daripada nanti aku harus bolak balik lagi. Males macetnya." kata Wira kembali terdengar.


"Ya udah, boleh. Hati- hati bawa mobilnya." kata mamanya lagi.


"Iya. Eh Mama mau say hello dulu nggak sama Adik?" tawar Wira tiba- tiba. Membuat Widuri langsung deg- degan.


"Boleh...! boleh...! Hallo sayang....Widuri...." suara Bu Katarina langsung mencari Widuri.


"Hallo Tante....Saya Widuri." sapa Widuri dengan kikuk.


"Panggil Mama aja.... Dulu kamu manggilnya mama juga ngikut kakak- kakakmu dua itu." kata Bu Katarina hangat dan riang.


Entah mengapa hati Widuri terasa langsung begitu hangat. Merasa sangat diterima dan disayangi.


"I...iya...Ma." sahut Widuri canggung.

__ADS_1


"Nggak usah sungkan sama kami semua. Kamu itu dulu princess nya keluarga Buwono. Udah kayak jadi anak bungsunya mama. Jangan sungkan ya, Nak." kata Bu Katarina lembut.


Tiba- tiba saja airmata Widuri langsung merebak.


Dia tidak pernah membayangkan akan mendapat sambutan sehangat ini dalam perjalanannya bertemu orangtua kandungnya.


Dia bahkan sudah merasa 'pulang' sebelum sampai di tempat tujuannya.


Sebahagia ini ternyata kehidupan masa kecilnya dulu.


Jadi Putri tunggal di keluarga aslinya, dan jadi Putri bungsu di keluarga sahabat orangtuanya.


Walaupun tak bisa mengingat semuanya, Widuri bahagia mengetahuinya kini.


"Iya...Mama..." jawab Widuri dengan menahan suaranya agar tak bergetar di sela airmata yang kini sudah menetes di pipinya.


Wira merasakan keharuan yang sama.


Dia seperti bisa ikut merasakan perasaan Widuri saat ini.


"Ya udah. Kami tunggu di rumah ya, Nak. Jalan- jalan dulu sama Mas juga boleh." kata Bu Katarina sebelum mengakhiri panggilan telpon.


Widuri masih sibuk menyeka airmatanya yang tak juga mau berhenti.


Dadanya rasanya penuh sesak oleh rasa haru dan bahagia.


Ini saja belum bertemu dengan orangtua kandungnya.


Akan bagaimana perasaannya nanti saat bisa bertemu dan memeluk ibu kandungnya nanti?


Walau mungkin beliaunya tidak akan mengenalinya, Widuri tak akan mempermasalahkan itu.


Yang penting dia bisa bertemu dan memeluk malaikat tak bersayap yang telah membawanya ke dunia ini.


Widuri hanya tersenyum santai saja saat karyawan cafe Wira ramai- ramai meledeki Boss nya itu karena tumben- tumbenan malam Minggu ngontrol cafe bawa cewek.


"Jangan ginilah kalian. Nanti dia nggak mau lagi kalau aku ajak kesini. Malu." kata Wira menatap Widuri penuh permohonan maaf.


Widuri hanya tersenyum it's okay saja.


Setelah menikmati makan malam mereka di cafe itu, barulah Wira mengajak Widuri pulang.


Obrolan mereka di jalan di dominasi mengghibah soal Satrio.


Keduanya bisa tertawa terpingkal-pingkal berdua saat mendapatkan hal lucu soal kelakuan Satrio.


"Kamu kenal juga sama pacarnya?!" tanya Wira kaget saat Widuri membicarakan hal yang menyangkut soal Adis.


"Kenal dong! Agak pendiam sih orangnya. Kayak pemikir malah. Tapi baik. Suka bikin makanan banyak buat bekal Bang Rio sama buat temen- temen kantor. Kata Bang Rio sih dia jutek dan galak, hihihi...."


"Waaaaaawwwww.....ngeri tuh! Pacar Mas Sat sebelum- sebelumnya nggak ada yang galak lho." kata Wira keheranan. Widuri hanya mengangkat bahunya kurang mengerti.


Keduanya hening begitu Wira memasuki kawasan perumahan dengan bangunan rumah yang besar- besar.


Widuri mulai deg- degan.


"Sudah mau sampai rumahmu, Mas?" tanya Widuri terpaksa bertanya.


Ya siapa tahu kan mereka hanya melewati kawasan ini...


"Udah. Dua belokan lagi." jawab Wira sambil tersenyum.


Widuri mengangguk kaku.

__ADS_1


Dua belokan tuh masih masuk di kawasan ini apa enggak ya?


"Siapkan telingamu baik- baik. Udah mau ketemu Mama..." seloroh Wira begitu dia membelokkan kemudinya untuk yang kedua.


Ternyata masih di kawasan mentereng juga...


"Sampai..." kata Wira saat menghentikan mobil di depan gerbang kayu tinggi, kemudian membunyikan klakson dan belum sempat memulai menghitung gerbang itu sudah mulai bergerak terbuka.


"Makasih, Pak Nandar!" seru Wira pada seorang paruh baya berseragam satpam yang kemudian tersenyum lebar sambil memberi hormat.


Widuri sudah melongo mengikuti pergerakan mobil yang bergerak pelan menyusuri jalan ber conblock hingga beberapa puluh meter. Disepanjang dinding pagar tinggi yang mereka lewati sudah tertutup tanaman menjalar dengan sempurna. Nampak meneduhkan dengan cahaya redup lampu- lampu taman kecil di sepanjang jalan itu.


Dan Widuri semakin deg- degan saat Wira sudah mengarahkan mobil ke arah garasi, dimana sudah ada empat...lima...enam mobil mewah berbeda terparkir disana.


Gilaaaaa....Ini rumah siapa?! Orang tua Bang Rio pemilik rumah ini?!


Mas Lukas gimana ya kalau tahu sohibnya ternyata anak sultan gini?


"Udah sampai. Mau masuk ke rumah sekarang atau kita main petak umpet dulu disini?" tanya Wira sambil tersenyum geli pada Widuri.


"Hah?!"


"Kata Mama dulu kita sering petak umpet disini. Dan seingatku kamu yang selalu jadi yang nyariin." kata Wira sambil terkekeh- kekeh mengenang sedikit masa kecilnya yang sempat dia ingat.


Waktu itu dia masih berumur sekitar empat atau lima tahun.


"Curang!" sungut Widuri sambil cemberut begitu dia mengira pasti telah jadi korban kecurangan dua kakak beradik ini.


Wira tergelak melihat bibir Widuri yang sudah seperti bibir bebek itu.


Lucu sekali manyunnya....!


Wira tak tahu kalau saat ini Widuri masih terperangah pada rumah yang akan dimasukinya nanti.


Empat pilar besar yang dilihat Widuri, besarnya bisa buat ngumpet orang dewasa dibaliknya.


Pintu utama yang tingginya entah berapa meter itu, seperti ingin memakan siapapun yang menatapnya.


"Keluar yuk!" ajak Wira mengagetkan Widuri.


"Ya." jawab Widuri lirih kemudian bergegas mengikuti Wira keluar dari mobil itu.


Mengikuti langkah Wira dengan ragu dan malu menuju pintu lebar dan tinggi yang tadi dia lihat sebelum mobil terparkir.


Diam- diam Widuri mengeratkan genggaman tangannya sendiri.


Keringat dingin begitu saja membanjiri telapak tangannya.


Dia sama sekali tidak menyangka kalau Satrio yang selama ini dia kenal, yang setiap hari berdebat dengannya, adalah seorang pangeran.


Dia yakin Satrio memang dari keluarga kaya, tapi dia tidak mengira sekaya ini.


Sampai punya rumah bak istana begini juga.


Sepertinya dia harus membuat perhitungan sekembalinya nanti dia Jogja.


Dia merasa telah ditipu oleh Satrio.


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...


Maaf ya molor lagi up nya....😅 Semoga mulai besok udah nggak molor lagi.


Happy reading semuanyaaaaa....💖💕

__ADS_1


__ADS_2