KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Tentang Lukas


__ADS_3

Kemarin udah melihat kebahagiaan SaDis (Satrio- Adis 😅) kan ya....Jadi biarlah mereka menikmati kebahagiaan mereka tanpa kita ganggu hari ini 😀


Sekarang kita tengok lebih dalam soal sahabatnya Satrio, Si Lukas itu dulu ya, biar lebih kenal sama dia. Siapa tahu kan terus ada yang falling in love sama dia 🙈.


...🧚🧚🏼‍♀️🧚🧚🧚...


Lukas adalah bungsu dari dua bersaudara.


Dia punya kakak laki- laki yang usianya hanya terpaut 3 tahun dan biasa dipanggil dengan nama Mas Bertus oleh Lukas.


Dia lahir dari keluarga yang sangat biasa. Bukan keluarga yang sangat hangat, tapi juga bukan keluarga yang amburadul. Keluarga biasa saja.


Bapaknya yang kini sudah almarhum sedari muda hanya buruh bangunan. Bekerja berpindah- pindah mengikuti dimana akan ada bangunan baru didirikan. Jabatan terakhir bapaknya sebelum meninggal adalah mandor bangunan.


Bapaknya meninggal saat Lukas kelas dua SMA, jatuh tersandung di depan pintu rumah dan langsung meninggal.


Meninggal semudah itu, dan membuat langit dunia keluarga kecilnya serta merta terasa runtuh.


Sejak bapaknya meninggal, Bertus yang langsung mengambil alih tanggung jawab keluarganya.


Karena ibunya selama ini menuruti kehendak bapaknya hanya agar mengurus rumah dan keluarga dan mengisi waktu luangnya sebagai IRT dengan memiliki kesibukan membuat makanan dan cemilan tradisional bila ada yang memesan saja.


Bertus banting tulang kerja serabutan disela- sela kuliah D3 nya yang sudah hampir selesai.


Tadinya dia mau tidak melanjutkan kuliahnya itu, tapi ibunya memaksanya untuk bertahan dan berjuang sebentar lagi. Sayang kalau ditinggalkan mengingat bapaknya dulu susah payah membiayainya.


Lukas yang dari kecil terbiasa mandiri, semakin rajin mencari penghasilan sendiri agar ibunya tak terlalu kesusahan membiayai kehidupan keluarga mereka.


Otaknya yang cerdas, pembawaannya yang ramah dan ringan tangan dengan sekitarnya menjadi modal dia mengais rejeki dari lingkungan sekitarnya.


Dia mengajari les anak- anak SD dan SMP di lingkungannya, menjadi ojek langganan tetangganya, kadang ikut kerja serabutan di WO tetangganya, bahkan membawakan pulang hasil panen tetangganya dari sawah dengan motor tuanya.


Apapun itu dia lakukan dengan senang hati dan percaya kalau dia mampu melewati semuanya, sedikit demi sedikit, pelan- pelan pun tak apa.


Yang penting dia cukup makan dan bisa membantu ibu dan kakaknya membiayai sekolahnya sendiri.


Harapan besarnya ingin mengangkat derajat keluarganya semakin tumbuh saat dia mendapat beasiswa full dari desa untuk kuliah S1.


Tidak bisa aktif di kegiatan kemahasiswaan adalah hal yang kadang membuat jiwa mudanya dulu sedih.


Kehidupan ekonomi keluarga memaksanya harus memilih melakukan 'kewajiban' utamanya melakukan sesuatu yang menghasilkan uang daripada mengisi waktunya 'hanya' dengan kegiatan- kegiatan kemahasiswaan yang sedikit banyak pasti merampas waktu dan dananya.


Dia sadar sepenuhnya kalau Mas Bertus pasti akan punya tanggung jawab sendiri bila nanti berumahtangga dengan pacarnya yang cantik itu.


Dia tahu sejak lulus kuliah dan bekerja, Mas Bertus sudah mulai menabung untuk bisa melamar dan menikahi pacarnya.


Dana yang masuk ke keluarga mereka tentu berkurang dan Lukas merasa harus bisa 'menutup' kekurangan itu.


Dia harus mulai belajar mengambil alih tanggung jawab Mas Bertus atas ekonomi keluarga mereka agar bisa tetap umum tonggo ( bisa seperti tetangga yang lainnya dalam standar berkehidupan sosial/ umum).


Kadang Lukas merasa iri dengan teman- temannya yang terlihat tak punya beban hidup seperti dirinya.


Beban hidup mereka sepertinya hanya berkisar antara patah hati karena cintanya ditolak gebetannya atau permintaan mereka atas barang- barang tersier ke orang tua mereka di tolak.


Tak seperti Lukas yang minder dengan teman cewek dan takut naksir karena tahu kondisi keluarganya.


Dia merasa tak akan bisa menyenangkan pacarnya kalau dia saat itu berpacaran.


Uang yang mampu dihasilkannya belum seberapa. Belum bisa dia sisihkan untuk menyenangkan hati pacarnya.

__ADS_1


Uang yang dia hasilkan lebih dia utamakan untuk mencukupi keluarganya daripada untuk membiayai acara pacarannya.


Bukannya tak ada yang mendekatinya selama ini.


Beberapa gadis bahkan tak sungkan mendatanginya di rumah.


Namun saat melihat gelagat gadis- gadis itu mengarah ke menggiringnya ke arah mengajak pacaran, Lukas memilih untuk menegaskan status mereka yang hanya akan selalu sebagai teman saja dan Lukas tak ingin berpacaran.


Lukas tak pernah ingin memberi harapan palsu pada para gadis- gadis. Kasihan, anak orang, pikirnya.


Setiap ada lowongan penerimaan PNS, Lukas berusaha selalu ikut. Tak perduli di departemen apapun itu.


Semakin kesini dia semakin tak perduli kalau sekalipun dia diterima jadi PNS dan harus keluar dari pulau Jawa.


Seandainya itu terjadi, dia akan tetap menerimanya.


Yang penting jadi PNS dan bisa membuat ibunya bangga dan kembali tersenyum.


Senyum ibunya sekarang sulit untuk di nikmatinya sejak Mas Bertus masuk penjara.


Ya, Masnya itu masuk penjara karena tertangkap tangan membawa Shabu.


Walaupun Bertus bersumpah pada petugas kepolisian dan keluarganya kalau itu barang titipan temannya yang sampai sekarang belum juga tertangkap, tapi hukum hanya melihat fakta.


Faktanya Bertus membawa barang terlarang itu dalam jumlah yang lumayan banyak.


Untungnya saat test urine, Bertus negatif mengandung zat adiktif itu. Itu sedikit meringankan tuduhan atas dirinya.


Bertus di vonis penjara enam tahun tepat saat seminggu lagi istrinya akan melahirkan anak mereka, Sabina.


Ibunya yang wanita desa dan lugu, sangat shock dan malu menerima kenyataan anak sulungnya dipenjara.


Pada dasarnya Bertus tidak bersalah.


Bertus hanya korban.


Dan sebagai keluarga, tentu saja mereka tetap harus merengkuh dan menyayangi Bertus.


Dengan seijin Bertus, Mbak Anita, istrinya memilih menjadi TKW ke Hongkong selama Bertus menjalani hukuman dengan harapan uang tabungan dari hasil bekerja disana nantinya dapat mereka gunakan sebagai modal usaha selepas Bertus menjalani hukumannya nanti.


Maka Sabina yang masih berumur empat bulan waktu itu, diserahkan dalam perawatan Lukas dan ibunya.


Sayangnya kakak ipar Lukas itu kurang peduli dengan keadaan ekonomi keluarga suaminya.


Apalagi ada anak yang dia tinggalkan bersama mereka.


Hasil Mbak Anita kerja di Hongkong selama ini sangat jarang sekali bahkan nyaris tak pernah menetes ke anaknya sendiri apalagi ke keluarga Lukas.


Hanya saat mau Natal saja dia mengirim uang ala kadarnya untuk membelikan baju dan kado natal untuk Sabina.


Sedang untuk kebutuhan sehari- hari lainnya dia tak pernah ikut mengulurkan bantuan, bahkan sekedar untuk biaya jajan anaknya sendiri.


Maka otomatis, selama ini kehidupan Sabina menjadi tanggung jawab penuh Lukas sebagai pamannya.


Karena tanggung jawab itu pula Lukas semakin rajin mencari nafkah.


Mobil pakliknya yang lebih sering nganggur di garasi,atas saran keluarga pakliknya, dia gunakan sebagai taksi online di hari- hari libur.


Tentu saja bagi hasil. Tapi Lukas senang bisa mendapatkan penghasilan dari situ berapapun jumlahnya.

__ADS_1



Maka saat seorang Satrio muncul dihidupnya bak dewa keberuntungan untuknya, dia sangat mensyukuri itu.


Impian besarnya selain menjadi PNS adalah memiliki sebuah usaha yang long lasting.


Dan yang muncul dipikirannya adalah memiliki usaha pembuatan batako.


Sebuah usaha yang minim resiko nggak laku, asal mutu buatannya bagus, dan pasti bisa bertahan lama karena pangsa pasar sangat luas.


Namun sayangnya hanya untuk menyisihkan uang satu juta saja sebagai modal awal dia membuat batako manual, itu ternyata sangat sulit.


Setiap kali uang hampir terkumpul, sumbangan untuk hajatan tetangga atau kerabat selalu menjegalnya.


Uang simpananpun musnah untuk menutup muka datang ke hajatan.


Percakapan santai saat dia makan siang dengan Satrio yang nampak berwajah kusut saat itu, tak disangkanya menjadi jalan menuju terwujudnya impiannya memiliki usaha pembuatan batako.


Tidak hanya memiliki satu cetakan batako manual berharga enam ratus ribu, dua zak semen seharga seratus ribu, dan satu rit pasir seharga tiga ratus ribu saja, seperti impian awalnya dulu memulai usaha pembuatan batako.


Satrio menanam modal lebih dari dua ratus juta untuk usaha impian Lukas itu.


Rencana awal Lukas yang hanya akan membuat tempat cetak batako di kebun samping rumahnya tanpa atap, diwujudkan Satrio dengan membuatkan bedeng beratap seng cukup luas untuk tempat mencetak seribuan batako perharinya.


Cetakan batako manual berharga enam ratus ribu impiannya dulu, diwujudkan Satrio menjadi satu mesin cetak batako berharga dua puluh lima juta dengan satu tenaga kerja borongan yang sangat rajin.


Bahkan belum lama Satrio sudah menyediakan satu mobil pickup untuk memperlancar dan meluaskan jangkauan usahanya.


Sesuai kesepakatan dengan Satrio di awal mereka memulai menjalankan usaha itu, seluruh modal dikeluarkan oleh Satrio.


Semua pencatatan biaya dan pemasukan mereka handle berdua dengan pembagian tugas Satrio bagian penerimaan uang dan pengeluaran uang, Lukas sebagai pelaksana di lapangan.


Selama ini Lukas dan Satrio hanya digaji berdasarkan prosentase dari keuntungan usaha tiap bulannya.


Sisa keuntungan akan masuk seluruhnya ke rekening Satrio untuk mencicil mengembalikan semua modal yang telah keluar untuk usaha itu.


Nanti, saat semua modal yang telah Satrio keluarkan sudah kembali, usaha itu akan menjadi milik Lukas sepenuhnya.


Karena itulah, Lukas sangat getol promo dan mencari peluang untuk usaha barunya itu.


Apalagi sekarang, dengan memiliki armada sendiri, Lukas bisa melayani bukan hanya orderan batako, tapi juga pasir, batu, dan jasa angkut untuk pindahan atau mengusung pulang hasil panenan petani dari sawah.


Seiring hari dan banyaknya orderan yang membludak, karyawannya pun sekarang bertambah dua lagi dengan satu sebagai sopir dan satu sebagai buruh cetak batako dengan cetakan manual yang dia beli untuk mem back up mesin cetakan batako.


Saat ini Lukas merasa setengah cita- cita hidupnya telah tercapai.


Impian utamanya menjadi PNS kini sudah mulai meredup walau dia tetap masih berusaha mengikutinya.


Setengah cita- cita hidupnya yang harus dia usahakan lagi adalah membahagiakan Ibunya dan dirinya sendiri.


Lukas kini ingin memiliki kekasih yang ingin diperistrinya.


Tapi sampai sekarang belum ada gadis yang bisa mengganti pesona Widuri di hatinya, yang terlihat semakin cantik dengan hijabnya.


Dia hanya mampu berdoa, semoga Tuhan segera mengirim seorang perempuan yang akan bisa membuatnya jatuh cinta lagi agar dia bisa menikmati keseruan double date walau cuma sekali bersama Satrio dan kekasihnya.


Hanya sesederhana itu harapannya kini.


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...

__ADS_1


Besok kita kembali ngintipin kehidupan Satrio ya....😀


__ADS_2