
"Fix di pecat ya, Pak?" tanya Widuri sambil mendekat ke meja Pak Cahyo.
"Siapa?" tanya Pak Cahyo dengan wajah bingung.
"Ya Bang Rio...Atau bahkan mungkin njenengan?" tanya Widuri sedih.
"Belum tahu." jawab Pak Cahyo pelan.
Widuri bisa melihat kegusaran dan kecemasan namun coba disembunyikan di wajah Pak Cahyo.
"Kalau sampai njenengan di pecat gara- gara Bang Satrio,njenengan harus minta tanggung jawab dia,Pak."kata Widuri dengan wajah kesal.
Pak Cahyo tertawa lirih.
"Kenapa harus dia yang tanggungjawab? Dia kan anakku disini. Apa yang dia lakukan juga sudah sepengetahuanku.Otomatis jadi tanggungjawabku sendiri.Kamu tuh ada- ada aja pikirannya." kata Pak Cahyo sambil tersenyum.
Widuri malah semakin iba melihat Pak Cahyo seperti itu.
Terbayang bagaimana sedihnya Pak Cahyo bila harus kehilangan pekerjaan ini.
Bagaimana sedihnya istrinya di rumah nanti saat tahu tulang punggung keluarga kehilangan mata pencahariannya.
Apa mereka punya tabungan untuk menunggu Pak Cahyo sampai dapat pekerjaan lagi nantinya?
"Pak, maafin Bang Rio ya...." kata Widuri tiba- tiba dengan wajah sedih bahkan nyaris menangis.
Pak Cahyo menatap Widuri dengan rasa heran namun juga haru.
"Satrio kan nggak salah apa- ap,Wid. Harus dimaafkan apanya?" tanya Pak. Cahyo sambil tersenyum menatap Widuri.
"Kalau sampai njenengan di PHK itu kan karena Bang Rio." kata Widuri.
"Bukan karena dia. Tapi karena jatah rejekiku di sini sudah habis. Berarti aku harus pindah ke tempat baru dimana Allah telak meletakkan rejekiku disana. Wis to,sing ayem wae ( Dah lah, yang tenang aja.)." kata Pak Cahyo sambil menepuk lengan Widuri lembut.
"Tapi njenengan kalau bener- bener kehilangan pekerjaan, gimana dengan keluarga di rumah? aku kepikiran itu dari tadi." kata Widuri sudah mulai berkaca- kaca.
"Jangan ngomong kayak gitu. Bikin orang pesimis aja. Insyaa Allah tetap ada rejeki untuk keluargaku, Wid. Setiap nyawa yang ada di dunia ini sudah dijamin rejekinya sama Allah. Kita saling mendoakan saja,semoga rejeki kita selalu dekat sama kita dan kita dapat cepat bertemu dengannya, kapanpun itu, dia manapun itu." kata Pak Cahyo tenang.
"Iya...Tapi kalau sampai...."
"Stttt...udah! Kalau- kalau terus...Kerja sana!" potong Pak Cahyo sambil kembali memposisikan dirinya menghadap laptopnya.
Widuri cemberut walau terus kembali ke mejanya.
🧚🧚🧚🧚🧚
"Menurut kamu, siapa yang salah dalam kasus kamu ini?" tanya Pak Ardi sambil menatap Satrio yang duduk tenang di depannya.
"Sistem dan komunikasinya yang salah." jawab Satrio tenang.
"Kok bisa?" tanya Pak Ardi kaget dengan jawaban Satrio.
"Mungkin kalau perubahan BOM itu tidak harus minta persetujuan Anda, dengan kata lain cukup diselesaikan di teras kedua, pasti akan lebih fleksibel dan nggak perlu drama seperti ini." terang Satrio.
"Tapi kalau itu diterapkan akan riskan dalam kevalidan data." sanggah Pak Ardi.
"Data yang mana maksudnya, Pak?" tanya Satrio.
"Nanti kalian akan sesuka hati mengubah BOM. Bisa kacau keuangan kita." kata Pak Ardi.
__ADS_1
Satrio tersenyum. Sebenarnya geli dalam hati.
"Maaf Pak, bisa Saya jelaskan sedikit soal terciptanya BOM?" tanya Satrio yang kemudian mendapat anggukan dari Pak Ardi yang tercenung sesaat.
"BOM dibuat berdasarkan data yang di dapat dari trial ( percobaan) di produksi. Nah kadang kala bahan yang digunakan saat trial dulu sudah tidak sama dengan yang sekarang digunakan di produksi. Entah itu karena bahan sudah tidak diproduksi lagi, yang otomatis kita harus cari ganti. Atau bahannya sama tapi bahan tersebut sudah berganti ukuran." Satrio menatap Pak Ardi yang nampak serius mendengarkannya.
"Dan itu otomatis akan mengubah hitung- hitungan yang sudah ada di BOM." sahut Pak Ardi.
"Betul sekali!" sahut Satrio cepat.
"Dan masalah BOM yang akan mengacau keuangan, Saya rasa tidak semudah itu terjadi selama perusahaan punya karyawan kompeten di keuangan, PPIC, dan purchase, juga manager produksi yang handal, Pak." kata Satrio melanjutkan.
"Maksudnya?"
"Perubahan BOM harus dilakukan setelah ada persetujuan pengajuan dari manager produksi, di setujui PPIC yang harus berkonsultasi dengan purchase, baru diajukan ke bagian keuangan, baru kemudian budgeting mengubah BOM. Jadi, BOM diubah harus dengan tanda tangan manager produksi, PPIC, purchase, dan keuangan sebagai pihak- pihak yang nantinya bertanggung jawab atas perubahan itu." papar Satrio.
Pak Ardi diam mendengarkan penjelasan Satrio namun Satrio tahu kalau boss nya itu sedang menelaah.
Diam- diam Satrio berdoa dalam hati,semoga penjelasannya barusan berefek baik ke semuanya.
"Dan menurutmu, perusahaan kita sudah punya SDM yang kompeten untuk mengurus BOM itu belum?" tanya Pak Ardi kemudian.
"Sudah, Pak." jawab Satrio cepat dan mantap.
"Manager produksi, kepala PPIC, purchase, dan kepala keuangan perusahaan ini menurut Saya sudah sangat kompeten,Pak." jawab Satrio tanpa ragu.
"Kalau saat ini Saya harus mengeluarkan satu orang, siapa yang menurutmu pantas dikeluarkan?" tanya Pak Ardi.
"Orang yang tidak bisa kerja team." jawab Satrio.
"Siapa orangnya?" tanya Pak Ardi kemudian.
"Kenapa? Daripada orang ini mengganggu sistem? Bikin kacau team work?" kejar Pak Ardi.
"Semua orang dewasa mengambil sikap pasti ada alasannya. Akan lebih bijaksana dan lebih manusiawi rasanya kalau kita cari tahu dulu kenapa dia seperti itu. Kalau bisa kita benahi, kenapa harus menghilangkan rejeki orang?" dalih Satrio.
"Tugas HRD nih berarti." gumam Pak Ardi.
"Iya. HRD nya juga sangat bijaksana dan adil kok,Pak. Anda bisa mempercayakan hal ini pada beliau." kata Satrio sambil tersenyum.
"Kamu kalau urusan muji temen kerja aja cepet, disuruh nunjukin jeleknya temen nggak mau." seloroh Pak Ardi heran.
"Saya nggak memuji, Pak. Tapi realita." sergah Satrio.
"OK! Saya kira cukup. Kamu boleh kembali bekerja. Terimakasih masukannya." kata Pak Ardi sambil mengulurkan jabat tangan pada Satrio yang bergegas berdiri dari kursinya kemudian menerima tangan itu dengan mantap.
"Sama- sama, Pak. Saya permisi bekerja kembali." pamit Satrio sambil sedikit membungkukkan badannya.
"Silakan." jawab Pak Ardi sambil tersenyum.
🧚🧚🧚🧚🧚
Satrio mengernyitkan dahinya saat didengarnya Mbak Yanti bilang kalau Adis ke Jakarta.
"Kapan?" tanya Satrio kaget.
"Dari kemarin,Mas. Masak Mbak Adis nggak bilang sama Mas Satrio?" tanya Mbak Yanti gantian kaget.
"Kemarin sih memang bilang di telpon kalau lagi di Jakarta. Kirain becanda." kata Satrio linglung.
__ADS_1
"Beneran itu! Mas Satrio ini gimana sih?!" sungut Mbak Yanti kesal.
"Dia ke Jakarta sama siapa?" tanya Satrio kemudian.
"Sama Mas Didit." jawab Mbak Yanti sambil menatap Satrio curiga.
"Kenapa ngeliatnya kayak gitu sama aku?" tanya Satrio salah tingkah.
"Kalian nggak lagi berantem kan?" tanya Mbak Yanti curiga.
"Enggak. Kenapa?"
"Kok Mas Satrio nggak tau kalau Mbak Adis ke Jakarta sama Mas Didit?"
"Aku yang nggak percaya kalau dia ke Jakarta. Kemarin telponan dia bilang lagi di Jakarta, kirain becanda." kata Satrio menjelaskan.
"Lagian ya, rumah kalian aja deketan. Deket banget malah. Dua menit sampai. Tapi kenapa Mas Satrio nggak sering kesini? Pacarnya pergi sampai nggak tahu. Terlalu." tanya Mbak Yanti dengan kesal.
Satrio meringis salah tingkah.
Ya, walaupun jarak mereka sedekat itu, keduanya memang sepakat untuk tidak setiap hari bertemu muka walau rajin telponan.
Meminimalisir hasrat untuk menyentuh sih sebenarnya.
"Adis ke Jakarta ada kerjaan atau apa?" tanya Satrio lagi.
"Mbuh Mas!. Pacar model opo sampeyan ki? ( Sebodo,Mas! Pacar model apa kamu tuh?)" sungut Mbak Yanti kesal.
"Lha kan Adis nggak bilang ke Jakartanya ngapain... Kerjaan? Atau urusan keluarga?" tanya Satrio lagi.
"Urusan keluarga!" sungut Mbak Yanti.
Satrio mengangguk mengerti.
"Keluarga kalian maksudku." kata Mbak Yanti lagi.
"Hah? Gimana maksudnya? Keluarga kami? Maksudnya apa?" tanya Satrio bingung.
"Masih punya HP kan?" tanya Mbak Yanti galak.
Satrio mengangguk.
"Punya paket data?"
Satrio kembali mengangguk.
"Kalau masih punya nomernya pacarmu, tanya sendiri pakai HP mu itu. Aku nggak tahu urusan keluarga apa. Pamitnya sama aku cuma mau ke rumahnya Mas Satrio." kata Mbak Yanti kesal.
"HAH???"
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...
...PENGUMUMAN...
Berhubung authornya akan slowly nulisnya karena sesuatu hal, kayaknya lebih baik jam tayang kita mundurkan ke jam 3 atau 4 sore aja ya....
Mulai besok nengokinnya sorean aja ya genks 😆😘
Makasiiiih pengertiannya....🙏😘
__ADS_1