
Satrio melambatkan laju motornya setelah beberapa saat melewati gerbang kompleks.
Sedikit memicingkan mata, Satrio menatap cewek berhijab lilac dengan tunik selutut berwarna hitam dengan motif bunga ungu kecil- kecil nampak berjalan tenang dengan tas ransel di punggungnya.
Adisty.
"Dis, kok jalan?" tanya Satrio setelah menjajari langkah Adis.
"Motorku bocor." jawab Adis tanpa menoleh setelah dari ujung matanya dia melihat motor Satrio yang menjajarinya berjalan.
"Bocor dimana motormu?" tanya Satrio dengan nada khawatir yang langsung di sesalinya.
Lebay banget lu, Sat....!
"Mau masuk kompleks baru kerasa bocor. Aku bawa ke bengkel sebelah itu. Katanya harus ganti ban dan mereka kehabisan stock, harus beli dulu. Ya udah aku tinggal pulang dulu aja." kata Adis menjelaskan.
Satrio tersenyum dalam hati.
Adis bisa ngomong banyak ternyata, hihihi.......
"Ya udah yuk." ajak Satrio sambil menatap Adis yang ikut berhenti di sampingnya.
"Apa?" tanya Adis dengan wajah bingung.
"Aku anterin sampai rumahmu. Lumayan bisa ngirit sepuluh menit daripada jalan kaki." kata Satrio sambil nyengir.
Adis nampak ragu.
"Nggak usah kebanyakan mikir, Adisty....Aku nggak modus sama posisi joknya. Bukan salahku juga joknya begini. Atau mau kamu yang di depan, biar aku yang pegangan kamu?" tawar Satrio dengan cengengesan.
Baru kali ini Satrio sebel dengan bentuk jok motor sport nya.
Nggak sopan banget. Bikin orang mikirnya modus.
Adis hanya mencebik kesal walau ada kelegaan menelusup di hatinya.
Tuan tengil masih tetap datang tengilnya.
"Pegangan belakang juga boleh kalau nggak mau pegangan bahuku. Aku jalan pelan kok, biar lama sampainya." kata Satrio sambil terkekeh menyebalkan.
Adis melirik sengit di sertai perutnya yang tanpa sopan santun tiba- tiba berbunyi cukup keras.
Bahkan Satrio langsung melebarkan senyumnya karena langsung punya ide untuk segera meledek Adis lagi.
"Kalau nggak kasihan sama kakimu, kasihanilah lambung dan cacing di perutmu. Hanya kamu yang bisa menghidupi mereka. Ayo buruan biar bisa cepat makan." kata Satrio memaksa.
Adis yang malu setengah mati karena ulah perutnya, dengan malu hati segera naik ke boncengan Satrio yang sangat tidak nyaman baginya.
"Nanti mau ambil motormu jam berapa?" tanya Satrio setelah mulai melajukan motornya perlahan.
Dirasakannya tangan Adis menekan tas punggungnya sebagai penahan biar nggak melorot turun dan menimpa tubuh belakangnya.
"Emang kenapa?" tanya Adis balik.
"Tinggal jawab aja sih. Nggak harus balik nanya." kata Satrio datar.
"Sejam lagi. Aku mau mandi dan makan dulu." jawab Adis pelan.
"Ya udah nanti aku jemput buat ngambil motormu." jawab Satrio.
"Nggak usah! Aku jalan aja nanti." jawab Adis cepat.
Dia nggak mau bonceng motor ini lagi. Pegel.
__ADS_1
"Kalau bonceng motor ini pegel, nanti aku jemput pakai sepeda. Kamu bisa duduk di depan kayak Reta." kata Satrio sambil tertawa.
"Dih, ngarep!" dengus Adis sambil menahan tawa membayangkan dia membonceng sepedanya Satrio dengan cara duduk di depan seperti Reta.
"Ada tamu kayaknya." kata Satrio begitu menghentikan motor di depan pagar rumah Adis dan melihat seorang pria muda perlente duduk di kursi teras dan kini sedang menatap tajam ke arah mereka berdua. Wajahnya nggak ada ramah- ramahnya sama sekali.
Yang bener aja kalau dia pacarnya emak kucing. Songong banget wajahnya.
"Dia pacarmu?" tanya Satrio pelan saat menoleh ke arah Adis dan mendapati wajah Adis terlihat gelisah.
"Dis, are you okay?" tanya Satrio saat melihat wajah Adis kini terlihat takut.
"Ya." jawab Adis pelan.
"Biar aku jelasin ke cowokmu biar dia nggak salah paham." kata Satrio sambil bergegas berjalan mendahului Adis untuk menyapa cowok itu.
"Sorry Mas, aku boncengin Adis dari depan. Ban motornya pecah, jadi dari bengkel depan aku boncengin biar cepat sampai rumah. O ya kenalin, aku Satrio. Tinggal di kompleks ini juga." sapa Satrio ramah sambil mengulurkan tangannya yang di sambut males- malesan oleh Panji tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya selain menyebut namanya
Mata cowok itu menatap tajam Adis yang mendekat dengan pelan.
"Kenapa tiap aku telpon nggak pernah di angkat?" tanya Panji sambil menatap marah pada Adis.
Adis tak menjawab. Dia hanya membuang wajahnya dengan hembusan nafas lelah.
"Adisty! Aku nanya kamu, kenapa nggak jawab?" tanya Panji semakin jengkel.
"Aku males berdebat, Mas. Maaf, aku capek, mau istirahat." kata Adis kemudian berlalu meninggalkan Satrio yang melongo melihat adegan barusan di depannya.
Adis yang akan melintasi Panji terhenti karena lengannya di cekal dengan erat oleh Panji.
"Aku sudah menunggumu pulang dari tadi." kata Panji dingin.
Adis malah meringis menahan sakit di pergelangan tangannya karena Panji mencengkeram sangat erat dengan emosinya.
"Lepasin! Sakit." keluh Adis tertahan.
Satrio terpaku melihat adegan itu.
Apa yang dilakukan Panji bukannya udah masuk kategori kekerasan terhadap perempuan ya?
"Aku juga sakit hati kamu cuekin. Kamu anggap apa aku hah?!" sentak Panji sambil menyentak tangan Adis yang tadi di cengkeramnya.
Satrio sigap menangkap tubuh Adis yang terhuyung ke depan karena hentakan Panji.
"Bro, nggak perlu main kasar ginilah sama cewek. Bukan lawan yang imbang buatmu." kata Satrio masih memegang bahu Adis lembut.
"Kamu ngapain ikut campur?! Ini urusanku sama Adis. Kamu siapa? Selingkuhan perempuan ini?" tanya Panji tajam sambil menunjuk muka Adis yang tengah menatap Panji dengan mulut terkatup. Rahangnya mengeras menahan amarah.
"Kan sudah ku bilang tadi, kami tetanggaan. Tapi kalau melihat perlakuanmu barusan pada Adis, ada baiknya aku akan mendaftar jadi kekasihnya saja, menggantikan posisimu." kata Satrio tenang.
"Dasar perempuan murahan." desis Panji di depan muka Adis.
Matanya berkilat penuh amarah dan penghinaan.
"Sudah punya calon suami masih saja ngelaba sama lelaki lain. Kamu pengen menjebak laki- laki ini biar menghamilimu?" tanya Panji dengan kasar.
Satrio terperanjat mendengar ucapan itu.
Kasar sekali mulut lelaki ini.
Kenapa Adis diam saja begitu?
__ADS_1
"Aku capek, mau masuk." kata Adis setelah berkali- kali menunduk menata deru nafasnya yang penuh amarah.
"Aku nggak perduli kamu capek atau apa. Hargai aku, Dis!" sentak Panji lagi.
Adis tak bergeming.
Tangan Panji yang terulur hendak mencengkeramnya lagi kali ini bisa dia hindari dengan beringsut mendekat ke arah berdirinya Satrio.
Sesungguhnya dia malu. Sangat malu karena Satrio harus melihat dirinya lemah tak berdaya di hadapan Panji seperti ini.
Tapi setiap kali Panji menghujaninya dengan kata- kata menghina seperti itu, hatinya langsung hancur dan membuatnya tak berdaya sekalipun hanya untuk membela dirinya sendiri.
Dia terlalu gemetar dan hancur. Selalu seperti itu.
"Aku curiga. Kamu mulai berani menolak kehadiranku apa karena dia?" tanya Panji geram menatap Adis sambil menunjuk Satrio.
"Dia nggak ada hubungannya sama sekali dengan masalah kita." sahut Adis cepat.
"Waoww, cepat sekali responnya! Kamu mau nyoba menutupi perselingkuhan kalian?" tuduh Panji semakin menjadi.
Satrio diam- diam sudah mengepalkan kedua tangannya menahan emosi.
Dia masih menahan diri untuk tak ikut campur dengan perseteruan di depannya walau namanya sudah terseret.
Dia lebih fokus pada ketidakberdayaan Adis di depan kekasihnya itu. Sangat terlihat lemah sekali.
Dia seperti melihat bukan Emak kucing yang sedang ada di depannya.
Wajah cantik dan juteknya sama sekali hilang.
Yang ada di depannya kini hanyalah seraut wajah lelah, sedih, dan tak berdaya kini.
Kenapa Adis bisa jadi selemah ini di depan cowok bar- bar ini?
"Aku sudah pernah minta kita putus, tapi kamu nggak mau. Aku udah nggak bisa lanjutkan hubungan kita lagi. Aku nggak bisa kalau kita begini terus. Tolonglah Mas, lepasin aku. Aku hanya ingin hidup tenang." kata Adis membuat Satrio sedikit tahu kondisi hubungan Adis dan pacarnya itu.
"Nggak bisa begini terus gimana maksudnya? Kamu pengen kita segera nikah?" tanya Panji pura- pura pilon.
Adis mendecih kesal.
"Ngapain aku minta putus kalau pengen kamu nikahin? Aku pengen kita nggak usah berhubungan lagi, kita jalan sendiri- sendiri saja." kata Adis pelan.
"Yakin kamu mau putus dariku? Yakin ada yang mau sama kamu dan anakmu selain aku?" tanya Panji dengan congkaknya.
Ebuseeeet tuh cucut si Panjul....omel batin Satrio gemes.
"Aku juga nggak mengharap ada yang mau sama aku dan anakku. Aku nggak perduli. Aku bisa hidup hanya berdua dengan anakku saja. Kamu nggak perlu repot- repot memikirkan ada atau nggak ada yang mau sama kami." sahut Adis datar.
"Kamu bisa pulang, Mas. Makasih tumpangannya. Aku masuk dulu." kata Adis sambil menatap Satrio. Kemudian melangkah hendak melintasi Panji yang masih menatap kesal pada keduanya.
"Siapa yang ngijinin kamu masuk, hah?!" gertak Panji kasar sambil mencengkeram erat lengan atas Adis yang langsung meringis kesakitan karena cengkeraman erat Panji.
Satrio yang sedari tadi sudah menahan diri, kali ini sudah tak mau lagi menahan emosinya.
Sekuat tenaga diterjangnya lengan Panji yang mencengkeram Adis hingga cengkeramanan itu terlepas dan Panji terhuyung.
"Masuk, Dis! Kunci semua pintu." seru Satrio memerintah Adis cepat.
Adis bergerak cepat menuju pintu namun tangan Panji berhasil menarik ujung jilbab Adis hingga Adis nyaris terjengkang ke belakang dan jilbabnya nyaris melayang dari kepalanya.
Beruntung Satrio berhasil menahan tubuh belakang Adis sebelum tubuh yang sudah setengah melayang itu menyentuh lantai.
"DASAR BANCI LU!!!" teriak Satrio kemudian dengan emosi melayangkan pukulannya ke rahang Panji yang langsung tersungkur.
__ADS_1
🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚