KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Heart to heart


__ADS_3

"MasyaaAllah cakepnya suamiku ini kalau pakai jas gini. Jadi pengen morotin." kata Adis sambil terkikik tengil sambil menatap Satrio yang menatapnya dengan tatapan protes.


"Aku telanjangin lho kamu kalau ngeledek mulu." balas Satrio dengan tatapan mengancam.


Satrio yang sedang berdiri gagah di depan cermin melihat tampilannya diam- diam juga ikut memuji dirinya sendiri.


Tubuhnya yang gagah nampak semakin terlihat 'mahal' dengan balutan jas mahal yang dibeli mendadak oleh Adis atas perintah Papanya siang tadi.


Ya, di rumah ini memang tidak ada jas milik Satrio.


Jas yang dimilikinya dia tinggal semua di rumah Jakarta.


Cakep emang nggak bisa lama- lama disembunyikan....


"Wow...wow ...wow....sabar, Boss...masalah itu bisa kita bicarakan lain waktu. Yang penting sekarang kamu nanti harus berusaha membawa pulang hasil yang baik bareng Papa." kata Adis sambil menepuk- nepuk pundak Satrio lembut.


"Doakan ya...Semoga hasilnya tidak mengecewakan." kata Satrio sambil meraih pinggang Adis merapat ke tubuhnya dan kemudian mengecup bibir Adis sekilas.


"Pasti aku doakan, Mas. Semangat ya, Ayah..." kata Adis sambil mengepalkan tangannya penuh semangat.


Satrio memeluk erat tubuh Adis, sengaja mencari semangat dan kekuatan yang sepertinya dia butuhkan saat ini.


"Udah yuk buruan turun. Nggak enak kalau nanti Papa nungguin kamu." kata Adis sambil mengusap- usap punggung Satrio yang masih memeluknya.


Satrio melepaskan pelukan Adis kemudian mendekati box Bian.


Anak itu sudah tidur setelah tadi sempat bermain dengan Opanya.


"Bobok yang tenang ya. Jangan rewel. Temenin Mama sebentar ya. Ayah temenin Opa dulu kerja sebentar." bisik Satrio sambil mengelus pipi gembul anaknya itu sebelum mengecup kening Bian.


"Aku juga mau..." kata Adis sambil memegang lengan Satrio.


"Mau apa?" tanya Satrio keheranan.


"Dicium sini." kata Adis sambil menyentuh dahinya.


Satrio tertawa sebelum mengecup dahi, pipi, dan bibir Adis.


"Dah!" kata Satrio sambil tertawa.


"Banyakan bonusnya daripada main request nya." kata Adis sambil menarik lengan Satrio keluar kamar.


"Itu artinya aku murah hati." kata Satrio sambil tersenyum jahil.


"Bukan murah hati, tapi maruk." sergah Adis yang malah mendapat balasan kecupan di pipinya.


"Ih! Nanti keliatan Papa, malu. Kebiasaan deh!" geram Adis yang malah mendapat balasan kerlingan mata Satrio.


Somplak !!!


🧚🧚🧚🧚🧚


Mr. Katsuro Mamoru akhirnya menyetujui usulan Satrio untuk memberi waktu pada perusahaan Satrio untuk menghitung dan menentukan mesin apa saja yang diperlukan.


Perusahaan diberi waktu seminggu untuk memberikan jawaban pada perusahaan Mr. Katsuro.


"Kamu beruntung bertemu lawan yang bisa di ajak bicara soal pengunduran waktu." kata Pak Susilo setelah mereka melepas kepergian Mr.Katsuro dari ruangan VVIP resto tempat mereka mengadakan pertemuan tadi.


Satrio sendiri sedang sibuk melepas dasi dan jasnya.

__ADS_1


"Mungkin karena dia ngebet banget pengen invest kali, Pa.Jadi mau nurut." kekeh Satrio.


"Dia pengusaha yang sedang malang sebenarnya. Nyaris bangkrut dan ini sedang kembali mencoba bangun lagi. Makanya nyari perusahaan- perusahaan yang mau menerima investasinya yang nggak terlalu besar." kata Pak Susilo sambil mencomot dessert yang tadi belum habis.


"Mau bangkrut kenapa?" tanya Satrio penasaran.


"Dikadalin adik iparnya. Adik iparnya yang sekarang jadi kaya raya."


"Edan!" sahut Satrio kesal.


"Kamu sadar nggak kalau tadi kamu yang akhirnya bernegosiasi sama dia? Padahal harusnya kamu hanya jadi penerjemah Papa?" tanya Pak Susilo tiba- tiba, membuat Satrio tersedak minuman yang sedang diseruputnya.


"Maaf, Pa..." kata Satrio penuh sesal.


"Sekarang sih nggak papa. Bagus malah. Lagian itu juga perusahaanmu. Berarti deal ya Sat, kamu pegang perusahaan ini ya?" kata Pak Susilo dengan wajah serius.


Satrio nampak terpaku sesaat.


"Kamu mampu. Dan ada Papa yang bisa kamu ajak berdiskusi. Mumpung Papa masih sehat, masih bisa ngajarin kamu. Kapan lagi suksesi akan dimulai kalau nggak mulai sekarang?" kata Pak Susilo sambil sedikit tersenyum memberi semangat pada Satrio.


"Besok seminggu lagi Papa kesini lagi sama Mamamu. Kita lihat perusahaan kamu, sekalian kita kenalan ke para staff." kata Pak Susilo lagi.


Dada Satrio tiba- tiba deg- degan nggak karuan.


Beneran mau jadi Boss nih gue?!


"Oke ya,Sat? Bengong aja kamu!" kata Pak Susilo sambil menepuk lengan Satrio di atas meja.


"Iya...Tapi aku boleh banyak nanya kan sama Papa nantinya?" tanya Satrio penuh harap.


"Boleh dong! Justru kamu harus banyak nanya ke Papa karena Papa yang tahu seluk beluk semua perusahaan kita. Dalam waktu kurang dari lima tahun dari sekarang, Papa harap kalian berdua sudah bisa mengambil alih semua perusahaan kita. Papa pengen pensiun dan cuma punya agenda liburan dan main sama cucu- cucu kesana kemari." kata Pak Susilo sambil tersenyum. Matanya menerawang mengkhayalkan cita- citanya itu.


"Ngomong tuh sambil ngaca! Kamu yang seger buger dari dulu malah lontang- lantung ngabisin duit aja, nggak mau kerja bantuin Papa. Punya otak cerdas malah disimpen di dengkul. Punya otak tuh dipakai, bukan cuma di pasang doang!" geram Pak Susilo membuat Satrio meringis malu.


Mulut petasan cabe merah keriting Papanya itu kadang memang sangat mengerikan kalau sudah pecah.


"Ini kan aku lagi mulai insyaf,Pa..." kata Satrio malu- malu.


"Alhamdulillah kamu insyafnya nggak nunggu Papa mati dulu. Bersyukur sekali Papa melihat hidup kamu disini. Terlihat sudah sangat tenang dan nggak pecicilan lagi. Alhamdulillah Adis mau sama kamu." kata Pak Susilo dengan tatapan haru dan bangga yang terselip di sana.


"Maafin aku ya, Pa. Selama ini nyusahin Papa dan Mama aja kerjaannya." kata Satrio dengan suara bergetar yang sangat terdengar oleh Papanya.


"Iya. Sudah kami maafkan sejak dari awal kamu nyebelin dulu. Sekarang yang penting kamu mulai hidup yang bener. Jangan sampai Bian nanti mengulang kenakalan kamu. Didik dia dengan bener dari kecil. Biar kalaupun nantinya ada nakal- nakalnya, tetap nakal yang nggak kelewatan batas." kata Pak Susilo bijaksana.


"Nakalku kelewatan batas nggak, Pa?" tanya Satrio sambil nyengir.


"Pikir sendiri saja. Sebulan minimal dua ratus juta hanya untuk dihambur- hamburkan. Bahkan pernah sampai habis limaratus juta. Sekarang gaji kamu berapa sebulan? Kelewatan nggak itu? Untung bapakmu ini kaya. Jadi nggak sampai bangkrut kamu porotin." kata Pak Susilo dengan wajah kesal.


Satrio meringis malu.


Malu sekali rasanya kalau mengingat gimana dulu dia nggak menghargai setiap rupiah yang dia punya.


Dia hambur- hamburkan hanya untuk royal pada teman- temannya yang semuanya ternyata parasit.


Belum lagi yang dia gunakan untuk memanjakan cewek- cewek anak orang.


Hadyeeeeh.... sekarang dia malah harus berusaha keras untuk menyejahterakan istri dan anak- anaknya.


"Cukup disesali dalam hati. Dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi. Kemudian berusaha keras menjadi pribadi yang selalu lebih baik dari kemarin. Itu baru namanya bertobat dan berkembang. Dan Papa yakin kamu bisa melakukannya. Karena kamu anak Papa yang baik." kata Pak Susilo dengan tatapan teduh.

__ADS_1


Satrio sampai pengen menangis saat melihat tatapan itu.


Hatinya sangat terharu. Suaranya tercekat di tenggorokan hingga dia hanya bisa mengangguk.


Seperti inikah harunya rasa saat bicara hati ke hati yang mendalam antara seorang ayah dan anak laki- lakinya?


Apakah kelak dia akan memiliki moment seperti ini dengan anak lelakinya?


"Soal pernikahanmu...Kalian mau dipestakan yang seperti apa?" tanya Pak Susilo kemudian mengalihkan pembicaraan.


Satrio sedikit kaget dengan pertanyaan itu.


Dia malah nggak mikir sama sekali soal pesta pernikahan.


Yang penting sudah sah aja, cukup baginya.


"Aku malah belum ngomongin soal itu sama Adis, Pa." kata Satrio dengan tersenyum kikuk.


Pasti Papanya akan ngomel lagi nih...


"Ya diomongin dong, Sat! Kita ini pihak laki- laki. Harus proaktif sama keluarga Adis. Malu kalau kita nggak ngapa- ngapain. Masak ngambil anak orang asal bawa aja. Nggak ada terimakasih- terimakasihnya sama orangtuanya Adis kalau begitu."


"Iya...nanti aku bicarakan sama Adis."


"Secepat-cepatnya! Nggak cuma mikir nidurin aja kamu. Istri nggak dipikirin."


"Astagfirullahaladzim Pa...Aku mikirin istriku juga kali..."


"Mikirin apa?! Belum ngasih apa- apa sama istrimu kamu tuh...Belum ada pesta, belum ada hadiah..."


"Iya...iya Papa... secepatnya aku nanti ngomong sama Mama dan Papa soal pesta ya..." sahut Satrio cepat sebelum Papanya ngomel semakin panjang.


Perasaan Papanya ini hobby banget ngomelin dia. Kalau sama Wira kalem- kalem aja bawaannya.


"Udah. Pulang yuk. Bisa- bisa kena darah tinggi berdua sama kamu lama- lama." kata Pak Susilo sambil beranjak berdiri.


"Bayarin bill nya." kata Pak Susilo dengan entengnya.


Satrio otomatis panik secara dia nggak punya uang banyak di dompetnya.


"Nggak bawa kartu kamu yang hitam?" tanya Pak Susilo dengan wajah kesal karena melihat kepanikan di wajah Satrio.


Oh iya...


"Bawa kok, Pa. Ini." kata Satrio sambil tersenyum setelah bergegas mengeluarkan kartu yang sudah sangat lama tidak dia sentuh, bahkan dia simpan jauh diujung dalam laci meja kamarnya.


Baru tadi dia masukkan kartu itu lagi ke dompetnya karena di paksa Adis.


"Bawa aja. Buat jaga- jaga. Kamu sedang membawa nama baik Papa juga di pertemuan nanti. Malu kalau nanti di tembak nggak bisa bayar karena nggak punya uang." kata Adis sambil tersenyum.


Untung dia menurut tadi.


Setidaknya omelan Papanya tak bertambah panjang judulnya.


"Tumben pinter." puji Pak Susilo sadis.


Kalau bukan bokap gue,udah gue hiiiiiiih dari dulu. Ngomel mulu kerjaannya....


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...

__ADS_1


__ADS_2