KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Mau Kan?


__ADS_3

Adis menatap tampilan Satrio pagi itu dengan tatapan sedikit kesal.


Satrio yang sudah tersenyum manis langsung mengkondisikan bibirnya saat Adis melirik kesal padanya.


Ada apa ini?


"Kenapa manyun gitu?" tanya Satrio sambil menatap Adis yang sedang bersiap dengan sepedanya.


Semalam mereka janjian akan bersepeda ke UGM sambil melihat sunmor.


"Nggak suka liat tampilanmu." jawab Adis kesal.


Hah? Tampilan sesporty ini masih bisa bikin nggak suka?


"Kurang keren ya?" tanya Satrio insecure.


"Terlalu keren. Aku nggak suka. Kesel tau nggak sih?" sungut Adis.


Satrio tertawa pelan.


Ternyata bisa cemburu juga dia. Susah amat ngomong kalau takut aku dilirik cewek lain karena berpenampilan sekece ini.


"Sepedaan kalau celananya itu dilapisi celana yang nggak ketat bisa kan? Biar sedikit lebih sopan." kata Adis sambil melirik malu ke arah paha Satrio yang terbungkus ketat oleh bike short berwarna hitam kombinasi hijau serupa dengan jersey yang sedang dia pakai.


Helm putihnya berwarna sama dengan cleated bike shoes nya.


Dan bersepeda tampannya semakin paripurna dengan kacamata yang bertengger sombong di atas hidungnya.


"Terlalu seksi ya?" ledek Satrio sambil terkekeh meledek.


Adis hanya memanyunkan bibirnya dengan pipi yang sedikit memerah.


Melihat tampilan Satrio dengan kostum lengkap bersepedanya rasanya pengen memakannya bulat- bulat. Seksi maksimal.


Membuat pikirannya udah terbang membayangkan body yang tercetak ketat itu.


Huh....Beraaaat nian godaannya Tuhan....


"Ya udah. Nanti mampir rumah aku dobelin pakai celana pendek. Biar kamu tenang." kata Satrio sambil tertawa meledek.


Satrio menatap tampilan Adis yang tetap sopan karena dia memakai setelan baju olahraga biasa dengan atasan yang panjangnya sampai sepaha.


Tetap terlihat sporty sih namun benar- benar tak ada yang bisa melihat area tonjolan di bawah punggung milik Adis.


Sebuah tas gendong serut kecil berwarna krem menghiasi punggung Adis, mungkin berisi botol minum, dompet dan ponselnya.


"Aku bawain tasnya?" tawar Satrio sambil menunjuk tas punggung itu.


"Nggak usah. Makasih. Ringan kok." kata Adis sambil tersenyum.


"Ya udah yuk, keburu siang." ajak Satrio mengajak Adis segera beranjak dengan sepedanya.


Berangkat dari rumah jam lima pagi ternyata di sepanjang perjalanan mereka banyak yang punya tujuan sama dalam bersepeda, menuju ke sunmor di UGM.


"Kita nyari sarapan disini atau kamu pengen kemana?" tanya Satrio setelah mereka bisa duduk berdampingan di pinggir jalan sambil meminum bekal air putih mereka sembari menatap kerumunan penjual dan pembeli di sunmor.


"Rame banget. Nggak nyaman kalau makan. Aku mau jajanan aja." kata Adis sambil menatap penjual jenang sungsum yang sedari tadi tak pernah sepi dari pembeli yang datang dan pergi.

__ADS_1


"Mau jajan apa? Aku cariin." tanya Satrio sambil mengikuti arah pandangan Adis.


"Jenang sungsum itu. Kita kesana aja yuk!" ajak Adis sambil berdiri kemudian diikuti Satrio kembali mengayuh beberapa kayuhan sepedanya untuk sampai di dekat Mbak penjual jenang itu.


Keduanya mendekat ke gerobak jualannya dan menatap ngiler ke arah barisan gelas plastik yang sudah berisi beraneka macam jenang.


"Aku mau yang warna- warni itu, Mbak." pinta Satrio sambil menunjuk satu gelas besar berisi jenang panca warna.


"Aku yang sungsum campur biji salak aja, Mbak." pinta Adis kemudian.


Dengan membayar sepuluh ribu berdua, keduanya sudah asik menikmati jenang mereka dengan duduk di samping sepeda mereka.


"Enak ternyata." kata Satrio yang sudah habis duluan lalu kembali mendekat ke arah penjual untuk membeli lagi.


"Kamu mau lagi nggak, Yang?" tanya Satrio setengah berseru sambil menatap Adis yang kemudian menggeleng karena mulutnya sedang berisi jenang.


Adis mencibir saat melihat Satrio mendekat padanya dengan membawa dua gelas berisi dua jenis jenang berbeda.


Kali ini satu gelas berisi jenang sungsum yang berwarna putih dan diatasnya jenang monte yang berwarna merah.


Gelas satunya berisi bubur kacang ijo, biji salak, dan jenang sungsum yang disusun bertumpuk di dalam gelas.


"Maruknyaaaa....!" kata Adis sambil tertawa melihat bawaan Satrio itu.


"Namanya nyobain....ya akan lebih afdol kalau semuanya. Biar tahu rasanya semuanya. Murah ini." kata Satrio membela diri.


"Alesan! Ngomong aja dokoh! ( doyan makan)." ejek Adis.


Satrio hanya mengerling nakal saja pada Adis dan dengan santainya melahap dua gelas susulan itu.


Dalam diamnya menikmati jajanan itu Satrio seperti baru tersadar kalau selama menjalin hubungan dengan Adis, belum pernah sekalipun dia mengajak Adis makan di tempat yang lebih 'layak' seperti dengan pacar- pacarnya dulu.


Kalau di tanggal- tanggal tengah bulan, Adis nggak pernah mau dia ajak makan di tempat yang agak mahal.


"Besok aja kalau kamu habis gajian." selalu begitu jawaban Adis tiap Satrio bertanya kenapa Adis nggak mau.


Ada rasa trenyuh menyelinap di hati Satrio.


Apa iya kalau dia menjalani pernikahan dengan Adis, dia akan begini- begini saja?


Tidak bisa menyenangkan keluarganya kapanpun mereka ingin, sekalipun hanya untuk makan di tempat yang agak berkelas?


"Dis...." panggil Satrio lembut saat dilihatnya Adis sedang asik dengan ponselnya.


"Ya?" jawab Adis cepat sambil menatap Satrio.


"Kamu serius kan mau sama aku?" tanya Satrio tiba- tiba, membuat Satrio sendiri kaget sesudahnya dengan pertanyaannya sendiri.


"Kenapa?" tanya Adis sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas kecilnya.


Sepertinya dia sedang akan diajak ngobrol serius nih.


"Aku baru bisa ngasih kamu kayak gini aja. Belum bisa nyenengin kamu yang lebih lagi." kata Satrio malu.


"Tenang aja. Aku bukan tipe penuntut kalau kamu khawatirkan soal kesejahteraan. Tapi nantinya kamu juga harus ngasih aku ijin tetap kerja kalau kamu belum bisa menuhin kebutuhanku sepenuhnya. Gimana?" kata Adis kemudian sambil tersenyum membujuk.


"Jadi kalau aku bisa menuhin semua kebutuhan, nantinya kamu mau kalau kamu ngurus rumah tangga aja?" tanya Satrio kemudian.

__ADS_1


"Mau. Tapi akan lebih seneng lagi kalau masih. boleh kerja walau sudah terpenuhi semuanya.." kata Adis sambil tertawa jahil.


"Maruk juga jatuhnya itu!" kata Satrio dengan wajah kesal.


"Memaksimalkan potensi itu...Bukan maruk." sanggah Adis mulai ngajak ribut dengan bantahannya.


"Nikah aja yuk!" kata Satrio dengan wajah serius sambil menatap Adis.


Wajah Adis yang tadinya riang langsung berubah tegang. Dan itu tak luput dari pengetahuan Satrio.


"Kenapa? Masih belum mantap ya hatimu padaku?" tanya Satrio karena Adis kini malah sibuk membuang pandangannya ke segala penjuru.


"Bukan itu. Tapi...."


"Kenapa?" tanya Satrio setelah Adis tak juga melanjutkan kalimatnya.


"Kamu belum kenal sama orangtuaku kan?" tanya Adis pelan.


Satrio mengangguk kecil.


"Aku udah kenalan sama orangtuamu." kata Satrio sambil mengerling. Membuat Adis menatapnya kaget tak percaya.


"Bohong! Kapan?" tanya Adis penasaran.


"Beberapa waktu lalu saat aku main ke bengkelnya Mas Didit. Kebetulan mamamu nelpon Mas Didit, trus aku dikenalin sama orangtuamu. Ya baru kenal lewat ponsel sih. Sama kayak kamu kenal orangtuaku baru lewat ponsel." kata Satrio sambil menatap Adis yang mwngangguk- angguk mengerti.


"Kenapa mama nggak pernah nanyain soal kamu sama aku? Mereka keliatan nggak suka ya sama kamu pas kenalan itu?" tanya Adis khawatir.


Satrio sejenak mengingat ekspresi kedua orangtua Adis saat VC dengannya tempo hari.


Kayaknya sih welcome- welcome aja sama dia.


Nanyain dia juga masih pertanyaan yang aman- aman buat dia.


Nggak ada hal yang membuatnya berpikir kalau orangtua Adis tidak menyukainya.


"Kayaknya suka- suka aja kok." jawab Satrio.


Adis terdiam berpikir.


Apa orangtuanya sekarang memilih ' membiarkan' Adis dengan siapa pun yang dia suka ? Nggak lagi memaksa Adis.


"Atau kalau kamu memang ingin aku ketemu langsung dulu sama orangtuamu untuk mengatakan niatku dulu, aku mau kok ke Sulawesi buat ketemu beliau berdua." kata Satrio meyakinkan.


Adis menggeleng cepat.


"Kesananya besok aja kalau mau melamar resmi. Sayang uangmu buat beli tiket bolak- balik cuma buat kenalan doang." kata Adis sambil nyengir.


Satrio meringis sedih.


Begini ya rasanya terlihat nggak punya kebebasan finansial?


"Ya udah kalau gitu maumu. Jadi....mau ya kalau aku ajak nikah?" tanya Satrio lagi untuk mencari kepastian.


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...


Ehehehe ......mohon maaf ya, kemarin nggak bisa up beneran....diganti yang ini ya....😊

__ADS_1


Kalau seminggu ke depan masih amburadul jam up nya, jangan marah ya....🙈


Happy reading gaeeesss.....💖💕


__ADS_2