
"Saya nggak papa, Om. Insyaa Allah Saya bisa menerima itu asal itu hanya masa lalu." suara Adis yang sedikit berseru membuat Satrio dan kedua orangtuanya terlonjak.
"Adis ada disitu, Mas?!" tanya Bu Katarina kaget.
Satrio hanya nyengir kuda.
"Bocah e dan!" kata Pak Susilo sambil terkekeh- kekeh jengkel.
Satrio bergegas memutari meja kemudian duduk di samping Adis yang langsung blingsatan karena Satrio langsung menghadapkan layar ponselnya ke arah Adis.
"Nih calon mantunya." kata Satrio sambil tertawa-tawa senang.
Adis yang tadi reflek menutupi wajahnya dengan ujung kerudungnya, pelan- pelan menampakkan wajahnya yang tersipu- sipu sambil sedikit melirik ke arah Satrio.
Membuat Bu Katarina gemas dan Pak Susilo tertawa geli.
"Selamat malam Om...Tante..." sapa Adis malu- malu dengan wajah merona sambil menatap Maluku ke arah layar ponsel.
"Aduuuh cantiknyaaa kalau tersipu- sipu gitu. Mama jadi pengen nyubit pipinya." seru Bu Katarina dengan riang sambil menepuk- nepuk paha suaminya gemas.
"Aku cubitin, Ma." kata Satrio sambil mengarahkan jemarinya ke pipi Adis yang dengan sigap langsung menutup wajahnya dengan kerudungnya.
"Jangan pegang- pegang, Mas!" seru Adis dengan nada kesal dibalik telapak tangannya.
"Iya...iya..." kata Satrio sambil menarik lagi tangannya dengan wajah kecewa.
"Dis... Coba pikirkan kembali soal keputusanmu mau nerima Satrio. Om khawatir sama kesejahteraan lahir batinmu kalau jadi sama dia." kata Pak Susilo sambil tersenyum meledek pada Satrio yang merengut.
"Ih, nggak ada ngebantu anaknya sama sekali." omel Satrio dengan wajah bersungut- sungut.
Pak Susilo terkekeh- kekeh senang melihatnya.
"Om nggak bisa jamin kamu nggak akan sengsara kalau hidup sama dia." tambah Pak Susilo membuat Satrio semakin cemberut.
"Yang penting Om dan Tante berkenan menerima Saya dan keberadaan Reta. Kalau soal kesejahteraan Saya, bisa Saya usahakan sendiri nanti." kata Adis sambil tersenyum malu dan melirik Satrio yang cengar- cengir malu.
"Tentu saja kami menerima kalian berdua, Sayang. Ya kan, Pa?" kata Bu Katarina sambil menatap suaminya yang kemudian mengangguk- angguk.
"Itu sudah sebuah bekal yang lebih dari cukup untuk Saya menerima Mas Satrio. Terimakasih Om, Tante." kata Adis terbata- bata karena dia kembali menangis.
Bu Katarina ikut menitikkan airmatanya karena terharu.
Jangan salah, walaupun berisik dan berpembawaan ceria, mama Satrio adalah perempuan yang sangat gampang tersentuh dan menangis oleh hal- hal melankolis seperti ini.
"Ya udah, baik- baik kalian disitu. Jaga diri kalian masing- masing. Kalau sudah siap menikah, buruan bilang Papa, Sat. Kita segera ketemu orang tua Adisty saja." kata Pak Susilo memungkasi acara melow- melow lewat sambungan seluler itu.
"Adisty, jangan mau kalau di ajak aneh- aneh sama Mas ya. Tendang aja. Kalau maksa, putusin aja ya! Jangan takut. Bilang sama Mama kalau dia kurang ajar sama kamu." kata Bu Katarina penuh semangat.
Adis hanya mengangguk- angguk sambil tertawa walau airmatanya masih mengalir.
"Ya Allah....yang anak mereka itu sebenarnya siapa sih?" gumam Satrio dengan nada iri sambil melirik Adis yang kini tersenyum- senyum malu padanya.
"Mas, awas ya, jangan macam- macam sama Adisty. Beneran nggak boleh ya, Mas!" ancam Bu Katarina sambil menatap tajam kepada sulungnya itu.
"Iyaaaa..." jawab Satrio dengan wajah bersungut- sungut.
"Awas aja kalau kamu sampai kebablasan. Bakal jadi karyawan seumur hidup kamu." timpal Pak Susilo sambil mengancam yang semakin menambah keruh wajah Satrio.
"Iyaaaa!" jawab Satrio kesal.
"Ya udah. Cepat pulang kalian. Jangan terlalu malam- malam berduaannya. Pulang ke rumah masing- masing ya." kata Pak Susilo karena melihat background percakapan mereka seperti sebuah tempat makan.
"Iyaaaa. Makasih ya Ma, Pa." kata Satrio sambil tersenyum senang.
"Terimakasih Om, Tante." kata Adis menimpali.
"Byeee..." pamit Bu Katarina sebelum menutup telpon.
Satrio masih menyunggingkan senyum manisnya sambil menoleh kepada Adis yang juga nampak masih sedikit tersenyum.
"Udah plong?" tanya Satrio sambil tersenyum meledek.
"Apaan sih!" dengus Adis malu- malu.
Satrio hanya menunduk sambil tertawa.
Menahan sekuat tenaga tangannya yang ingin memeluk Adis saat ini.
"Pulang yuk!" ajak Adis sambil bergegas berdiri.
"Jadi kita udah resmi jadian kan?" tanya Satrio yang berhasil menyambar pergelangan tangan Adis yang sudah berdiri.
__ADS_1
"Aku kan udah bilang...."
"Nggak mau pacaran. Oke. Kita nggak pacaran. Tapi kamu cinta sama aku kan?" tanya Satrio sambil menatap Adis dengan serius.
Adis mengangguk malu.
"Kamu percaya kan kalau aku serius sama kamu?" tanya Satrio lagi.
"Percaya." jawab Adis sambil mengangguk.
"Mau berkomitmen serius akan nikah sama aku?" tanya Satrio lagi.
"Iyaaaa." kata Adis sambil menarik tangannya dari genggaman Satrio.
"Coba bilang I love you." kata Satrio sambil menyusul langkah Adis yang meninggalkan Satrio.
Satrio sudah meninggalkan tiga lembar uang merah di mejanya setelah melambai pada seorang karyawan tempat makan itu.
Sudah dipastikan sisa uang itu masih lumayan. Bisa untuk bonus karyawan itu.
Nggak papa sekali- kali berbagi kebahagiaan untuk hari bahagia ini, pikir Satrio.
"Apaan sih?! Lebay deh!" kata Adis melirik galak walau hatinya tersipu- sipu.
"I love you,Mas. Gitu aja." kata Satrio merengek.
"Iiiiiih, kayak Reta deh!" kata Adis kesal.
"Ya biar aja. Aku kan ayahnya juga." kata Satrio masih berjalan dengan terus memutari langkah Adis, membuat Adis berkali- kali akan menabrak tubuh Satrio.
"Ayah apa?!" tanya Adis sambil tersenyum geli dengan kepedean kata- kata Satrio barusan.
Pengen disebut ayahnya Reta rupanya bapak ini.
"Masih calon sih. Tapi Reta udah sayang kok sama aku." kata Satrio yakin.
"Narsisnya ya Allah ya Rabbi...." geram Adis sambil tertawa.
"I love you gitu doang Adisty...." rengek Satrio belum berhenti walau Adis sudah sampai di depan motornya dan kini sudah duduk di jok motornya kemudian menyalakan mesin motornya.
Adis hanya menggelengkan kepalanya malu.
"Jaket kamu mana?" tanya Satrio saat melihat Adis nggak juga memakai jaket.
"Tunggu dulu." kata Satrio kemudian melangkah ke arah motornya yang berjarak enam motor dari motor Adis lalu menyambar jaketnya.
"Pakai jaketku." kata Satrio sambil mengulurkan jaket denim miliknya.
"Nggak usah. Aku nggak dingin kok." tolak Adis.
"Jangan ngeyel. Atau mau aku peluk aja?" ancam Satrio sambil merentangkan kedua tangannya hendak memeluk Adis.
"Nggak!" sergah Adis sambil bergegas menyambar jaket Satrio.
"Dipakai yang bener." kata Satrio sambil tersenyum melihat Adis yang kelihatan tenggelam di dalam jaketnya.
"Kegedean." kata Adis sambil meringis dan mengancingkan bagian depan jaket.
"Nggak papa. Biar berasa di peluk Mas Satrio." kata Satrio sambil terkekeh.
"Idih!"
"Idih apa? Emang bener kayak dipeluk aku. Coba aja ntar dirasain." kata Satrio sambil tertawa.
Adis hanya mencibirkan bibirnya.
"Aku jalan dulu ya." pamit Adis sambil melambaikan tangannya.
Duh, didadahin gitu aja manis banget rasanya dihati.
Satrio bergegas menuju motornya sendiri sambil tersenyum kemudian menyusul laju motor Adis.
Selama di jalan keduanya terus beriringan. Saat kena lampu merah, baru Satrio menjajari Adis hanya untuk sekedar saling lempar senyum.
Keduanya baru berjalan bersisihan begitu masuk kompleks mereka.
Nggak ada obrolan sama sekali.
Satrio sudah sangat bahagia bersisihan di atas motor masing- masing begitu.
Padahal dulu belum greng rasanya kalau nggak ada sentuh- sentuhan sama cewek. Kurang afdol aja rasanya dia jadi cowok.
__ADS_1
Dan perasaan berbahagianya saat ini benar- benar perasaan aneh dan lucu menurutnya.
Hatinya terima- terima aja, ikhlas- ikhlas aja hanya dengan senyum- senyuman bersama kekasihnya. Tanpa bersentuhan.
Gila sih menurutnya
Bucinnya rasanya lebih alay dari bucin anak- anak SMP yang sedang menikmati cinta monyetnya.
"Cepet masuk sana. Aku juga mau langsung pulang." kata Satrio yang menatap Adis yang hanya tersenyum- senyum setelah membuka gerbangnya.
"Iya. Sebentar aku lepas dulu jaketnya." kata Adis sambil mulai meraba kancing jaket yang dipakainya.
"Nggak usah. Kamu bawa aja. Buat kamu peluk- peluk." kata Satrio sambil tertawa kemudian berlalu dengan motornya. Adis hanya tertawa gemas.
"I love you!" seru Satrio dari tempatnya berhenti setelah berjalan sepuluh meter dari tempat Adis yang masih berdiri menatapnya.
"Iya." jawab Adis sambil tertawa.
"Nggak mau jawab 'love you too' gitu?" tanya Satrio sambil nyengir dan sengaja kembali menghentikan motornya.
"Besok aja kapan- kapan." jawab Adis sambil bergegas melewati gerbangnya sambil tertawa meledek.
Satrio hanya terbahak sebelum kembali melajukan motornya untuk pulang.
...🧚🧚🧚🧚🧚...
Adis kembali memeluk jaket Satrio yang wanginya terasa enaaaaak banget di hidungnya.
Dia sedang tak ingin perduli dengan sisi hatinya yang seperti berteriak- teriak mengingat nya perihal kenangan manis tentang Beni sekaligus kelakuan keji Panji.
Dia hanya sedang ingin menikmati rasa bahagia yang sepertinya belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Bahagia ini beda dengan yang dia rasakan saat bersama Beni dulu.
Kebahagiaan yang beda rasa dan warna.
Ah entahlah, bagaimana cara menjelaskan dengan kata- kata yang pas.
"Semoga aku benar- benar bisa kembali bahagia ya, Ben. Seperti katamu semalam. Makasih kamu mau menemuiku setelah sekian tahun kamu pergi walau hanya untuk bilang kalau aku harus bahagia dengan apa yang ada di dekatku saat ini. Dia satu- satunya yang selalu mendekat padaku dan juga Reta. Semoga memang dia orangnya. Yang akan menyayangi kami berdua seperti kamu dulu. Aku janji akan baik- baik saja. Aku janji." bisik Adis dengan menengadah seolah Beni sedang berdiri memeluknya dan dia bersandar di perut Beni,seperti yang sering dia lakukan dulu.
Sedang jaket Satrio tengah dia dekap erat di dadanya.
...🧚🧚🧚🧚🧚...
"Pa, kamu beneran kan merestui Satrio sama Adis?" tanya Bu Katarina pada suaminya saat mereka berdua sudah rapi jali duduk berdampingan di atas ranjang mereka dengan setengah tubuh yang sudah disembunyikan di balik selimut.
"Restuku nggak lebih penting dari restumu buat anak- anak lelaki, Ma. Kalau kamu sudah merestui, aku ikut aja." kata Pak Susilo santai.
"Kamu sebenarnya suka nggak sih Satrio sama Adis, Pa?" tanya Bu Katarina khawatir.
"Suka. Kayaknya bisa mengimbangi Satrio anaknya. Anak rumahan juga, nggak bergaya glamour kayak yang sudah- sudah. Track recordnya bagus, bersih. Ya cuma pernah MBA ( married by accident) itu aja sih. Tapi selama Satrio bisa menerimanya, no problem buatku." kata Pak Susilo dengan gaya andalannya. Santuy.
"Kamu udah menyelidiki Adis, Pa?!" tanya Bu Katarina terkejut.
"Ya iyalah! Semua yang bergaul dekat dengan keluargaku, aku tahu semua track record nya. Apalagi calon mantu. Nggak mau aku beli kucing dalam karung. Untungnya Satrio kali ini bener milih calon istri." kata Pak Susilo sambil tersenyum tipis.
"Keluarga Adis gimana kondisinya?" tanya Bu Katarina kepo.
"Orang cukup juga sih.Ya kelas menengah lah. Bapaknya jaksa. Kayaknya sudah mau pensiun. Punya usaha tambak lumayan gede.Dia punya kakak lelaki satu, di Jogja juga. Satrio udah kenal juga sama kakaknya Adisty. Bisalah kita jadikan besan." kata Pak Susilo sambil terkekeh.
"Alhamdulillah.....Makasih ya Pa nggak rewel lagi soal jodohnya Satrio. Aku udah pengen punya cucu tau!" kata Bu Katarina manja.
"Kita kan begitu nanti punya Adis langsung punya cucu, udah langsung bisa dimintai tolong pula anaknya. Nggak usah gendong- gendong lagi." kata Pak Susilo sambil tertawa.
"Iya. Kita langsung punya cucu cewek yang cantik dan nyenengin. Jadi nggak sabar kapan mereka mau minta nikahnya." kata Bu Katarina dengan nada gemas.
"Sambil nunggu mereka minta nikah, mari kita nikmati dulu malam dalam pernikahan kita,Ma." kata Pak Susilo sambil mengedipkan matanya.
"Issshhh.....kakek tua masih aja bergaya." ledek Bu Katarina kemudian menghujani wajah suaminya dengan ciuman gemasnya.
"Kakek tua yang tetap perkasa kan...?" kekeh Pak Susilo narsis.
Dasar bapaknya Satrio.
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...
Jangan lupa doooooong, habis senyum- senyum tuuuu gambar jempolnya di kiri bawah itu di sentuh ya....
Selamat menyambut Sabtu malam semuanya....
Happy reading....💖💕
__ADS_1
Siap- siap besok Senin keluarkan stock emosinya ya.....😛🙊