
"Segitu nggak ada artinya ya aku buat kamu, Dis?" tanya Satrio bergetar. Matanya menatap Adis dengan lekat dengan sorot mata putus asa dan sedih walau wajahnya terlihat datar saja.
Glekkk!
Adis merasa sangat kesulitan menelan salivanya kali ini karena mendengar kalimat Satrio barusan.
Tiba- tiba saja perasaan malu dan bersalah terasa menghimpit perasaannya.
"Aku bener- bener nggak ada pantes- pantesnya ya buat kamu?" tanya Satrio lagi dengan rahang yang mengeras.
Terlihat jelas Satrio seperti sedang berusaha menahan emosi.
Adis merasa takut dibuatnya.
Satrio pasti marah padanya.
Dan entah mengapa Adis merasa sedih karenanya.
"Maaf..." cicit Adis takut- takut.
Dia belum pernah melihat wajah Satrio yang seseram itu sebelumnya.
"Maaf buat apa?" tanya Satrio dingin.
"Kalau ucapanku barusan bikin kamu marah dan kesel." jawab Adis sambil menunduk.
Dia sangat ketakutan saat ini.
Ingatan tentang ekspresi Panji bila sedang marah padanya dulu, kini sedang berusaha keras mencengkeramnya lagi.
Dia takut Satrio akan berbuat kasar padanya. Seperti Panji.
Panji biasanya akan segera menggunakan tangannya dengan segenap kekuatannya untuk menyakitinya bila sudah menatapnya dengan tatapan setajam itu.
Dia takut sekali hingga tanpa sadar membuat tubuhnya gemetar hebat.
Satrio yang menatap Adis dari tadi mengernyitkan dahinya saat melihat tubuh Adis seperti menggigil.
Wajah perempuan itu tertunduk dalam.
"Dis, kamu kenapa?" tanya Satrio setengah berseru sambil tangannya reflek terulur ke arah Adis.
"Ampun Mas....Jangan! Jangan sentuh lagi..." dengan reflek Adis yang melihat kelebatan tangan Satrio segera menutupi wajahnya dengan ketakutan.
Tubuhnya terlihat semakin gemetar.
Satrio terpaku.
Panjul bang sat! umpat Satrio sangat kesal.
Dia segera sadar, Adis pasti trauma dengan kelakuan bar- bar Panji.
"Adisty...." panggil Satrio lembut tanpa berani menyentuh Adis.
Dia khawatir Adis akan menjerit bila tersentuh.
"Ini Satrio...." kata Satrio lagi saat panggilannya barusan nampak berhasil mengurangi gemetar yang dialami Adis.
"Tarik napas panjang pelan- pelan, Sayang." kata Satrio lembut dan sepelan mungkin sambil menyorongkan tubuhnya ke atas meja yang jadi penghalang mereka agar jarak mereka semakin terkikis.
"Ya begitu. Bagus. Terus....terus...." kata Satrio lembut saat dilihatnya Adis menuruti ucapannya.
Setelah agak lama Adis melakukan acara inhale exhale, perlahan tangan yang tadi menutupi wajah Adis meluruh.
Dan dengan pelan- pelan wajah Adis terangkat.
Masih ada ekspresi takut dan tatapan cemas yang dilihat Satrio dari wajah Adis.
Diam- diam Satrio sangat menyesal bersikap keras tadi.
Dia lupa Adis pasti trauma dengan perlakuan kasar.
Semua gara- gara si Panjul!
"Minum dulu." kata Satrio sambil menyorongkan sebotol air mineral yang sedari tadi sudah dia buka tapi belum juga sempat dia minum.
Adis meraih botol itu dan meneguknya beberapa kali.
"Ma....maaf...." kata Adis pelan sambil kembali menunduk.
Dia malu sekali dengan reaksinya barusan.
Traumanya pada perlakuan Panji dirasanya malah semakin parah setelah lelaki itu pergi dari hidupnya.
__ADS_1
Padahal dulu, saat menerima kekerasan dari Panji, mulutnya bahkan tak pernah bisa bersuara sekalipun hanya untuk berucap kata jangan.
Tapi barusan dia malah bisa minta ampun segala. Astaga.....
Mendengar suara agak keras saja kini bisa membuat jantungnya seperti ingin melompat keluar.
Dan gerakan tangan yang terulur ke arah tubuhnya bisa membuatnya terpekik karena kelebatan tangan besar dan berat milik Panji yang akan melukainya langsung memenuhi benaknya.
"Maaf ya.... sikapku kasar barusan." kata Satrio menatap Adis dengan sorot mata penuh sesal.
Adis menggeleng sedih.
Sedih pada keadaannya sendiri yang ternyata sangat rapuh.
Menyedihkan sekali aku ini....
"Menyedihkan sekali aku ini." gumam Adis lirih tapi terdengar jelas oleh Satrio.
"Bisa kita lanjutkan pembicaraan kita tadi? Tanpa emosi?" tanya Satrio lagi setelah dilihatnya Adis sudah bisa bernafas dengan normal dan sudah bisa bersikap biasa lagi.
"Tunggu dulu." kata Adis pelan.
Dia kini sudah mengikuti Satrio mengubah posisi duduknya menghadap ke barat, menikmati matahari yang sedang turun perlahan untuk pulang ke peraduannya.
Hamparan sawah yang ditanami padi di depan mereka membuat suasana menikmati sunset semakin adem ditambah dengan semilir angin yang berhembus lembut.
"Bagus ya?" tanya Satrio sambil tetap menatap ke arah matahari tenggelam. Adis hanya mengangguk. Tak perduli kalau Satrio tak melihatnya.
Dia sedang sangat mengagumi dan menikmati fenomena alam di depannya itu.
Langit yang berwarna jingga terang dan merah saga membuat hati Adis terasa begitu riang gembira.
"Disini aja bisa ngeliat sunset sebagus ini...." gumam Adis dengan tersenyum.
"Kapan- kapan kita liat sunset di tempat lain." kata Satrio sambil menoleh pada Adis yang ikut menoleh ke arah Satrio.
Satrio tersenyum lembut saat melihat keterkejutan di mata Adis.
Mungkin dia tak menyangka kalau Satrio sedang menatapnya.
Adis kembali menundukkan wajahnya, membuat Satrio tersenyum kecut.
Menggemaskan sekali kelakuan perempuan satu ini. Senangnya menunduk melulu.
"Mau sholat dulu, terus makan." jawab Adis sambil menunjuk makanan yang sudah merana dari tadi.
Kembali Satrio tersenyum kecut. Jawaban Adis kembali jauh dari ekspektasinya.
Sudah bisa dipastikan semuanya sudah dingin, nggak ada hangat- hangatnya.
"Makanannya udah dingin ini...." kata Satrio dengan wajah kecewa.
"Nggak papa. Kalau pengen anget, tinggal nambah pesen sup aja." kata Adis sambil beranjak berdiri.
"Mau kemana?" tanya Satrio sambil menatap Adis yang beranjak berdiri.
"Mau ke mushola, sholat sebentar. Mas pesen sup dulu biar anget. Nanti sholatnya gantian. Titip tasku." kata Adis sambil memasukkan ponsel ke dalam tasnya.
"Ya." jawab Satrio patuh.
Ditatapnya Adis yang dengan langkah cepat menuju sudut samping tempat makan, dimana terletak satu bangunan kecil berbentuk panggung dengan tulisan mushola di dinding depan dan sampingnya.
Satrio menunduk dengan pikiran kacau.
Bahkan dia tidak bisa memakai otaknya dengan benar saat ini.
Sulit sekali rasanya mengajak Adis berbicara untuk mencari kejelasan soal hubungan mereka.
Sulit sekali mencari kalimat yang bisa meyakinkan Adis kalau dia serius mencintainya.
Bahkan untuk menciptakan moment agar mereka bisa bicara hati ke hati saja rasanya sulit minta ampun.
Adis tidak bisa menerima desakan sama sekali.
Dia pasti akan memilih mundur bila merasa di desak padahal Satrio yakin Adis juga memiliki perasaan yang tak biasa padanya.
Perempuan itu seperti berusaha menutupi dirinya sendiri dari apapun yang ingin mendekatinya.
Satrio pusing sekali.
Apa iya dia harus berhenti untuk mendapatkan Adis?
"Maaf Mas, kata Mbaknya tadi Mas mau nambah orderan?" sebuah suara disampingnya membuat Satrio sedikit terlonjak.
__ADS_1
Seorang pria muda berseragam karyawan tempat makan itu sudah berdiri di sampingnya dengan seutas senyum manis.
"Oh ya.....mau nambah minta dua sup daging sapi. Dan dua lemon tea anget ya." kata Satrio setelah teringat kalau Adis belum memesan minuman.
Tadi minuman Widuri sudah disikat sang empunya.
Pemuda yang tadi berdiri di samping Satrio segera berlalu setelah mencatat tambahan pesanan Satrio.
Satrio menatap tas Adis yang teronggok di atas meja saat suara Toni Braxton terdengar dari dalam tas itu.
Sepertinya seseorang sedang menelpon Adis.
Walau penasaran Satrio tidak berani meraih tas itu, apalagi mengambil ponselnya.
Dia nggak punya hak sama sekali.
Sekarang giliran ponselnya yang berbunyi. Dari nomor yang tidak dia kenal.
Tentu saja Satrio tidak ingin mengangkatnya.
Dia paling ogah menerima panggilan lewat WA dari nomor yang tidak masuk ke dalam daftar kontaknya.
"Udah jadi pesen sup tadi?" suara Adis membuat Satrio mengangkat wajahnya yang tadi tertunduk menatap ponselnya yang dia pegang diantara kedua pahanya.
"Udah. Sama lemon tea." jawab Satrio sambil tersenyum.
"Ya udah. Aku gantiin nunggu. Giliran kamu sholat." kata Adis santai sambil menatap memerintah pada Satrio.
"Ha?" tanya Satrio bingung.
"Sholat magrib." kata Adis sambil mengangkat kedua telapak tangannya ke sisi telinga seperti orang sedang takbiratul ikhram dan mata menatap ke arah mushola.
Satrio tercenung walau kemudian berdiri dan berjalan ragu ke arah mushola.
Sholat magrib ya? Tiga rakaat kan ya? batin Satrio sambil berjalan menuju tempat wudhu.
"Mas, bisa tunggu sebentar? Saya ingin ikut jadi makmum." kata Satrio cepat saat seorang lelaki yang nampak berumur beberapa tahun di atasnya baru saja selesai memanjatkan doa selesai berwudhu.
"Ya Mas. Saya tunggu." kata lelaki itu ramah.
Satrio bernafas lega sambil kemudian bergegas berwudhu.
Untunglah Tuhan baik sekali padanya kali ini.
Dia tidak harus sholat sendirian.
Kalau bukan karena Adis, sudah pasti Satrio tidak akan melaksanakan sholat magrib ini.
Selama ini dia nggak pernah melaksanakan sholat lima waktu.
Sholat Jumat saja baru rutin dia lakukan semenjak jadi karyawan karena di paksa dan selalu diajak oleh Pak Cahyo bahkan kadang dpaksa oleh Lukas.
"Seminggu sekali dulu nggak papa sholatnya sambil terus berdoa minta hidayah. Seenggaknya kamu nggak melupakan gerakan sholat dan bacaannya. Belum lupa bacaan sholat kan?" begitu kata Pak Cahyo sambil memeluk bahunya saat pertama kali memaksa Satrio ikut sholat Jumat di masjid seberang tempat kerja mereka.
"Tadi istrinya jamaah sama istri Saya.". kata mas- mas yang barusan jadi imam sholat magrib Satrio saat mereka berdua duduk di undakan mushola sambil memakai sepatu mereka.
"Ha?" tanya Satrio tanpa sadar.
"Mbak yang pakai kerudung orange? Istrinya kan? Atau...masih pacaran?" tanya mas- mas itu sambil tersenyum.
Satrio segera tersipu malu.
Adis ya? Dia pakai kerudung orange tadi.
"Belum suami istri." jawab Satrio malu- malu.
Mas- mas itu tersenyum mengerti.
"Semoga disegerakan." katanya sambil tersenyum.
"Aamiin..Saya Satrio, Mas." kata Satrio kemudian bergegas mengulurkan tangannya.
"Saya Hanif." kata mas- mas itu menyebut namanya.
"Semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu. Dan semoga sudah dengan status baru ya." kata Mas Hanif sambil tertawa dan menepuk pelan lengan Satrio sebelum mereka berpisah menuju meja masing- masing.
Satrio tersenyum dalam hati.
Status baru.
Semoga saja nanti dia mulai bisa membicarakan secara serius dengan Adis menuju ke status baru itu.
Bissmillah....
__ADS_1
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...