KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Oleh- oleh


__ADS_3

Kedatangan Satrio memasuki kantor yang diiringi Mas Hanif - satpam yang sedang tugas pagi ini-- sambil masing- masing membopong satu kardus tentu saja menjadi center point Senin pagi itu.


"Makasih Mas Hanif." kata Satrio setelah Mas Hanif meletakkan kardus bawaannya ke atas meja kerjanya Mbak Ema.


"Siap Mas Satrio. Makasih juga tadi Saya dapat jatah." kata Mas Hanif sambil tertawa senang.


"Santai saja, Mas. Pisto. /tipis roto.( biar dikit/ tipis yang penting rata buat semua.)" kata Satrio sambil terkekeh.


"Wuaaaaah I like Sunday kalau kayak gini." seru Mbak Lia yang sudah mendekat dan menatap mesra pada isi dua kardus di depannya.


"Titipan oleh- oleh dari Ibuku, Mbak. Mohon diterima walau ala kadarnya." kata Satrio sambil meringis malu.


"Alhamdulillah..... sampaikan terimakasih kami buat Ibumu ya, Sat. Sehat selalu dan rejeki selalu berkah melimpah pokoknya ,biar kalau kamu mudik bisa nitipin kayak ginian lagi buat kami." kata Mbak Ema sambil tertawa malu.


"Aamiin.....siap kalau itu. Yang ini tolong bagiin ya, Mbak." kata Satrio riang.


"Ini semua kebagian kan? Tanpa kecuali?" tanya Mbak Lia menegaskan.


"Iya. Semua yang punya meja di kantor ini, kebagian." kata Satrio sambil ngeloyor menuju tangga.


"Sebentar, Sat!" seru Mbak Lia mencegah kaki Satrio menjejak anak tangga pertama.


"Kenapa?" tanya Satrio hanya menoleh tanpa meninggalkan posisinya berdiri.


"Photo kami dulu. Biar sah jadi bukti kalau kamu sudah menyampaikan amanah ibumu buat kami." kata Mbak Lia sambil tertawa.


Dia dan Mbak Ema lalu memposisikan diri berdiri di belakang dua kardus oleh- oleh dengan senyum manisnya dan bersiap bergaya.


"Photo nih?" tanya Satrio sambil tertawa geli dan menarik keluar ponsel dari saku celananya.


Belum juga Satrio mengambil gambar keduanya, dari pintu muncul satu gelombang manusia yang kayaknya tunggu- tungguan di parkiran biar bisa masuk kantor barengan.


"Sini- sini! Pasang posisi semua disini.Kita photo keluarga dulu sebelum dibagi oleh- oleh dari Jekardah." perintah Mbak Lia pada Mbak Dwi,Bu Rista, Rita, Bu Bebeb, Nur, dan Fenty.


"Si Tomboy belum ada." kata Satrio setelah mengabsen satu- satu wajah para perempuan penghuni kantor.


Hanya kurang Widuri.


"Dia ntar aja bareng cowok- cowok. Dia tadi mampir di produksi sama Pak Cahyo." kata Bu Rista yang sudah pasang posisi duduk cantik sambil memeluk kardus.


"Oke." kata Satrio sambil mulai mencari posisi agar ke delapan perempuan di depannya bisa masuk dalam satu frame dengan bagus.


Setelah lima kali jepretan, barulah ke delapan perempuan itu mau membubarkan diri.


"Nah....ini kloter kedua datang, Sat." kata Bu Bebeb sambil menatap ke arah pintu masuk.


"Buruan sini photo keluarga dulu kalian." perintah Mbak Lia pada rombongan cowok dan Widuri.


"Ada yang bawa oleh- oleh nih." kata Lukas sambil mendekat ke arah kardus bermaksud hendak mengintip isi kardus.


"Oleh- oleh atau goodie bag itu?" tanya Widuri dengan nada khawatir.


"Oleh- oleh dari Jekardah buat kita.Katanya Ibunya yang nitip. Makanya kita photo dulu biar ibunya Satrio seneng karena kita udah terima titipannya dengan senang hati." kata Mbak Lia.


Satrio tercenung.


Bahkan keinginan membuat orang lain senang karena merasa diterima seolah sudah menjadi nafas keseharian disini. Menyentuh hati.


"Ayo...ayo...mapan yang rapi biar dapat jatah kita." kata Lukas sambil terkekeh dan memposisikan diri diikuti lainnya yang tersenyum- senyum.


"Mbak Tomi duduk depan, Mbak." atur Lukas pada Widuri yang nyengir namun menurut tanpa protes.


"Penampilan baru buat camer." ledek Pak Cahyo sambil menunjuk Widuri dengan dagunya.


"Enak aja camer- camer." salak Widuri cepat.


Rupanya pagi ini cewek itu menutup kepalanya dengan jilbab, bukan topi seperti biasanya.

__ADS_1


Dan itu membuatnya nampak imut dan tambah cantik.


"Duuuuh cantiknya Mbak Tomi." kata Satrio sambil mulai membidikkan kamera dan mengambil gambar teman- temannya berkali- kali.


"Dah! Sekarang silakan ambil jatahnya masing- masing di bawa ke mejanya sendiri- sendiri." kata Mbak Lia setelah acara photo- photo pagi di anggap selesai.


Ucapan terimakasih dan senyum riang serta celoteh senang tertuju pada Satrio seorang pagi itu.


Membuat hatinya hangat karena bahagia.


Dan cowok itu hanya tertawa- tawa saja menanggapinya.


"Waaah, ini sih niat banget oleh- olehnya." komentar Widuri meluncur setelah mereka berada di ruangan mereka.


Cewek itu mengeluarkan semua isi tas kecil yang berisi oleh- oleh lalu menjajarkannya di meja dan memotretnya.


"Alay!" seru Satrio melihat tingkah Widuri itu.


Dan dia meringis saat dilihatnya Pak Cahyo melakukan hal yang sama seperti Widuri.


"Ini anakku belum pernah makan nih roti buaya ini. Sama ini apa,Sat?" tanya Pak Cahyo menunjukkan naugat yang berbentuk permen.


"Naugat. Semacam permen. Enak itu, Pak. Dulu aku bebas makan kayak gitu kalau lebaran doang." kata Satrio sambil tersenyum.


"Ini dari kentang atau ketela?" tanya Widuri sambil menunjukkan pencok Betawi yang dikemas dalam mangkuk plastik.


"Kentang." jawab Satrio santai.


"Aku bawa pulang semua aja lah. Biar anak- anakku kenal makanan Betawi." kata Pak Cahyo kemudian memasukkan paper bag jatahnya ke dalam tas ranselnya.


"Nanti rebutan anakmu, Pak." kata Widuri karena ingat anak Pak Cahyo dua,sedang paper bag cuma satu.


"Enggaklah. Kalau adanya satu ya di cuil ( dipatahkan) jadi dua." kata Pak Cahyo sambil tertawa.


"Jatahku bawa aja,Pak buat anakmu." kata Satrio sambil menyerahkan paper bag jatahnya.


"Aku udah pernah makan semua. Nggak bakalan ngiler." kata Satrio sambil mengulurkan jatahnya pada Pak Cahyo.


Satrio tersentuh dengan perilaku Pak Cahyo yang langsung teringat anaknya saat menemukan makanan baru.


Padahal mungkin dia sendiri belum pernah tahu rasanya makanan itu.


Apakah semua orang tua akan berlaku seperti itu?


"Kamu berjilbab dalam rangka udah hijrah atau lagi ada keperluan, Tom?" tanya Satrio mengalihkan topik dan mengobati rasa penasarannya dengan tampilan barunya Widuri.


Pak Cahyo nampaknya kepo juga karena dia memperhatikan keduanya.


"In syaa Allah seterusnya bakal begini." kata Widuri sambil tersenyum malu.


"Dapet hidayah lu? Atau pencerahan?" tanya Satrio sambil menatap meledek.


"Kepo!" sungut Widuri.


"Pasti ada yang nyuruh nih. Bukan dari hati." tebak Satrio.


"Sotoy!" salak Widuri galak. Satrio hanya terkikik.


"Calon istri akhi pujaan hatimu itu berjilbab ya?" tanya Satrio tiba- tiba.


"Kita ngapain sih ini pagi- pagi? Bukannya mulai kerja malah ngobrol nggak jelas." sela Pak Cahyo.


"Bentar Pak, nanggung ini." tawar Satrio membuat Pak Cahyo meringis.


"Pastinya lah! By the way, dia belum mau nikah. Salah info ternyata aku. Ya Allah,aku bahagiaaa banget pas tahu kalau dia belum mau nikah." kata Widuri dengan riangnya.


Satrio hanya mencebikkan bibirnya sebel.

__ADS_1


"Lhah, emangnya kamu kemarin denger dia mau nikah dari siapa?" tanya Pak Cahyo akhirnya ikut nyemplung ngobrol pagi- pagi.


Dia tadi anteng hanya selama menghidupkan komputernya.


"Ibuku. Ibuku kan ngobrol sama Ibunya pas ibunya beli nasi kuning. Ternyata yang mau nikah temennya, tapi dia yang ngurusin. Dia punya WO cuy! Besok kalau kamu resepsi di sini, pakai WO dia aja, Bang." kata Widuri dengan semangat.


Satrio mencibir.


"Nanti salah info lagi, nangis lagiiii. Kamu tahu kalau dia cuma ngurusin nikahannya temennya dari siapa?" tanya Satrio.


"Dari dia sendiri Sabtu kemarin." kata Widuri dengan nada sombong.


"Sombong, Pak dia." kata Satrio sambil tertawa pada Pak Cahyo.


"Kalian malam mingguan?" tanya Pak Cahyo jadi penasaran.


Widuri hanya terkikik.


"Maunya ku anggap begitu. Walaupun aku cuma di rumahnya sampai magrib aja." kata Widuri sambill tersipu.


"Waaaaaawwwww, kemajuan dong udah ke rumahnya juga." kata Satrio senang.


"Kok kamu yang bahagia,Sat?" kata Pak Cahyo tertawa pada Satrio.


"Terbawa suasana, Pak. Si Tomboy udah mulai PDKT kayaknya." seloroh Satrio.


"Aku malah jadi mikir setelah tahu dalam rumahnya." kata Widuri sedih.


"Kenapa?" tanya Satrio penasaran.


"Rumahnya bagus banget, Bang! Dari kecil biasanya aku cuma ngeliat pagar rumahnya aja. " kekeh Widuri.


"Yang bagus kan rumah orang tuanya. Dia udah punya rumah sendiri belum?" tanya Satrio.


"Kata Ibunya sih udah."


"Ibunya cerita begituan juga?" tanya Satrio keheranan.


"Begituan apa?" tanya Pak Cahyo.


"Hartanya akhi itu." kata Satrio.


"Enggak! Cuma ngobrolin apa gitu trus ibunya kayaknya keceplosan bilang kalau dia kelak akan tinggal di rumahnya itu kalau udah nikah. Selama ini di kontrakin rumahnya." kata Widuri.


"Jiper aku, Bang. Dilihat dari rumah orang tuanya aja keliatan kaya banget. Apalah Upik abu ini." kata Widuri dengan mimik wajah sedih.


"Dari dulu bukannya kamu udah tahu dia kaya?" tanya Satrio.


"Iya. Tapi tahu luarnya aja ,dari pager rumahnya. Tapi kemarin aku ngeliat dalamnya, ya Allah...." kata Widuri sambil menutup mukanya.


"Nggak harus segitunya juga kali, Tom reaksimu...." kata Satrio sambil terkekeh.


"Kamu mah nggak ngerti gimana rasanya orang miskin masuk ke lingkungan orang kaya." sungut Widuri mendramatisir kondisinya.


"Emang rasanya gimana?" tanya Satrio.


"Ngerasa kecil dan nggak punya kebanggaan." jawab Widuri sedih.


"Ckkk....sikap nyebelin! Kamu kayak perempuan di sinetron ikan terbang tahu nggak sih?!" sentak Satrio dengan nada kesal.


"Kenapa?"


"Miskin boleh, insecure jangan. Semua orang dibekali kelebihan masing- masing sama Tuhan. Inget itu, Bocah!" kata Satrio.


"Dih!" sungut Widuri karena sebel di panggil Bocah.


"Udah. Kerja.... kerja....." kata Pak Cahyo begitu melihat percik pertikaian di antara dua bocahnya.

__ADS_1


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...


__ADS_2