
Satrio menghentikan motornya dan membunyikan klakson motornya saat dilihatnya Adis sedang asik bermain selang air dengan bunga- bunganya di balik pagar sedada orang dewasa itu.
Namun bunyi klakson ternyata nggak bisa membuat cewek itu menoleh ke arahnya.
Gokil! , batin Satrio keheranan.
Nggak mungkin Adis nggak denger klaksonnya karena jarak mereka nggak ada sepuluh meter.
Bisa dibilang hanya berbatas pagar besi itu.
Satrio kembali membunyikan klaksonnya, dan Adis tetap tak menoleh.
Gadis ini ya.....bener- bener deh!
Satrio mengalah.
Menstandardkan motornya lalu mendekat ke pagar.
"Assalamualaikum....." salamnya dan membuat Adis mengalihkan pandangan padanya.
"Wa'alaikumussalam...." jawab Adis sambil menoleh ke arah pagar di mana Satrio berada tanpa rasa kaget sedikitpun.
Itu berarti Adis menyadari keberadaan orang lain di dekatnya sedari tadi.
"Ada apa?" tanya Adis datar sambil menatap Satrio dari tempatnya berdiri.
Tak ada antusiasme sedikitpun di suaranya apalagi di wajahnya.
Beneran ini begini ngobrolnya?, sungut Satrio yang menyadari Adis langsung mendekat ke arahnya. Bukannya membuka gerbang untuknya agar masuk.
"Ini. Buat kamu." kata Satrio sambil mengeluarkan paper bag berisi sekotak roti tiwul dari tas gendongnya lalu mengulurkan pada Adis melewati pagar yang jadi penghalang mereka.
Adis menerimanya walau dengan dahi mengernyit.
"Roti tiwul rekomendasi darimu tadi pagi. Aku tadi nyoba beli dan aku makan sama temen- temen di kantor. Aku beliin kamu juga, sebagai ucapan terimakasih karena rekomendasimu memuaskan." kata Satrio sambil tersenyum dan mengacungkan jempolnya dengan semangat dan ceria.
Adis hanya mengangguk pelan. Tanpa senyum apalagi wajah ceria seperti Satrio.
Membuat Satrio menyurutkan semangatnya.
"Makasih." kata Adis pelan.
"Sama- sama." jawab Satrio kemudian.
Kebisuan kemudian mendominasi atmosfir keduanya untuk beberapa saat.
"Kenapa nggak noleh waktu kupanggil barusan?" tanya Satrio kemudian.
"Kapan?" tanya Adis tanpa rasa bersalah.
"Barusan. Aku klakson- klakson nggak mau nengok. Kenapa?" tanya Satrio dengan wajah kesal.
"Aku kira orang lewat. Klakson kan buat di jalan. Bukan buat manggil orang. Lagian aku punya nama, nggak sedang di jalan. Nggak harus perduli dengan suara klakson." kata Adis sambil menatap Satrio tajam.
"Astagaaaa....." gumam Satrio lirih.
"Tristan sehat?" tanya Satrio kemudian. Asal tanya aja sih,untuk mengalihkan suasana yang mulai keruh seperti air beras cucian pertama.
Siapa tahu dari pertanyaan soal hewan kesayangan itu bisa mengajak Adis ngobrol lebih lama lagi kan.
Dan nggak pakai emosi juga tentunya.
"Sehat." jawab Adis singkat.
Kebisuan melanda terlalu cepat dari dari harapan Satrio.
"Dia di kurung terus di dalam rumah ya? Nggak pernah main?" tanya Satrio lagi. Masih soal Tristan.
__ADS_1
"Iya. Kalau dibiarin keluar takutnya makan sembarangan." jawab Adis yang terasa menyindir Satrio.
"Aku kan ngasihnya juga makanan kucing ke dia Bukan makanan gajah atau makanan burung." kata Satrio yang merasa tersindir.
Masih diinget aja ya sama Adis.....
"Aku kan nggak nuduh kamu." sergah Adis jutek.
"Tapi kesannya nyindir karena Tristan pernah diare dulu, waktu dia ikut makan kucing- kucing lain di taman Aku masih inget." sahut Satrio nggak mau kalah.
"Kamu aja yang sensi." kata Adis sambil melengos sebel.
"Ya udah, aku pulang dulu." kata Satrio karena dongkol dan menghindari perdebatan lebih panjang.
"Ya." jawab Adis cuek dan Satrio berlalu tanpa pamit lagi.
"Cowok ngambekan." gerutu Adis sengit.
"Cewek pendendam ternyata." sungut Satrio kesal.
"Itu kejadian kan udah lama. Aku udah minta maaf walau aku ngerasa nggak salah. Eh, masih diinget juga. Buat nyindir- nyindir pula! Menyebalkan." omel Satrio di atas motor yang melaju pelan menuju motornya.
"Eh mas Satrio." Mbak Yanti muncul dari arah garasi rumahnya dan tergesa menuju gerbang untuk membukakan untuknya.
"Kok kamu disini, Mbak?" tanya Satrio sambil melepas helmnya.
Mbak Yanti kembali menuju ke arahnya setelah menutup pintu gerbang.
"Baru selesai ngerokin Mbak Puji, Mas. Dia tadi muntah- muntah katanya. Ternyata masuk angin." kata Mbak Yanti menerangkan sebab keberadaannya di rumah Satrio.
"Mbak Pujinya dimana sekarang?" tanya Satrio khawatir.
Langkahnya bergegas masuk lewat pintu garasi menuju dapur.
"Katanya sakit. Kok malah di depan kompor. Ngapain, Mbak?" tanya Satrio keheranan.
"Mau! Mau!" sahut Satrio riang.
Dia bergegas melepas kancing kemejanya kemudian melepasnya, menyisakan kaos oblong berwarna abu muda di tubuhnya.
"Aku naruh tas dulu ke kamar." kata Satrio sambil beranjak menuju tangga.
"Mbak Yanti ikut makan disini aja. Sekali- sekali." kata Satrio setengah berseru sesampai di pertengahan tangga.
Mbak Yanti memandang mbak Puji minta persetujuan yang disambut anggukan Mbak Puji.
"Siap Mas Boss." jawab Mbak Yanti kemudian sambil tertawa.
"Boss opoh! ( Boss apah!)" gumam Satrio sambil nyengir.
"Ternyata bakmi godog bikinanmu enak, Mbak." puji Satrio setelah melahap setengah piring mie yang terlihat berkuah ruwet karena telur yang diceplok asal di atas kuah mie yang mendidih.
Mereka bertiga sedang menghuni meja makan di rumah itu.
"Masakanku kan kata suami dan merrtuaku memang enak, Mas. Mas Satrio aja yang nggak mau dimasakin tiap hari." kata Mbak Puji sambil tersenyum bangga.
"Nggak usah. Ribet." kata Satrio santai.
"Enak calon istrinya kalau gitu. Nggak usah pusing mikirin menu." kata Mbak Yanti di sela kunyahannya.
"Yo lebih bagus makan di rumah to, Yan. Lebih terjamin kebersihannya. Lebih romantis." kata Mbak Puji.
"Romantis apaan? Masak aja romantis." sahut Satrio sambil terkekeh.
"Waaa...ya gini ini orang kota yang biasa apa- apa instant. Apa- apa tinggal beli. Nggak ngerti rasanya bahagia makan masakan istri." kata Mbak Puji sambil menunjuk Satrio dengan sendoknya.
"Ya iyalah nggak tahu! Aku belum punya istri." kata Satrio sambil mencibir.
__ADS_1
"Lagian aku juga nggak pernah berkhayal harus makan masakan istriku. Kasihan dia kalau harus masak terus." kata Satrio santai.
"Seorang istri itu kalau masak dan masakannya di makan suaminya, apalagi sampai tandas, apalagi sampai di puji, itu bahagianya nggak karuan, Mas. Beneran itu." kata Mbak Puji berceloteh dengan semangat.
Satrio hanya terkekeh.
"Di puji doang, nggak di kasih uang juga nggak bakalan bahagia yang katanya nggak karuan itu." kata Satrio sinis.
"Itu udah beda urusan! Kalau nggak di kasih uang mana sudi juga masakin. Mau masak apa, wong nggak bisa beli yang mau dimasak?" sergah Mbak Puji.
"Mas Satrio nggak suka masakan rumahan ya? Lebih suka jajan?" tanya Mbak Yanti.
"Aku sih gampang soal makanan mah. Di rumah ada ya aku makan. Kalau nggak ada ya aku beli. Santai saja." kata Satrio kemudian melahap sendokan terakhir bakminya.
"Nambah Mas? Masih ada di kompor." tawar Mbak Puji.
"Udah kenyang. Lumayan, ngirit nggak perlu nyari makan malam nanti." kata Satrio sambil nyengir.
"Itu masih banyak e, Mas bakminya. Nanti malem kalau mau makan lagi, kuahnya tinggal dipanasi, trus dituang ke atas mi nya." kata Mbak Puji bingung.
"Bawa pulang kamu aja." kata Satrio santai.
"Orang rumah nggak ada yang suka bakmi godog." jawab Mbak Puji sambil menatap Satrio yang sedang mengisi gelasnya.
"Mbak Yanti bawa pulang bakmi nanti. Siapa tahu si Emak kucing doyan." kata Satrio dengan wajah sebel kemudian meminum airnya.
Sebel ingat kejadian tadi.
"Emak kucing....." kata Mbak Yanti kemudian terkikik geli.
"Kenapa cekikikan gitu?" tanya Mbak Puji keheranan.
"Ternyata sudah pada punya panggilan kesayangan, Mbak. Kita ketinggalan berita, Mbak. Mereka bergerak lebih cepat." kata Mbak Yanti sambil mengerling.
"Siapa?" tanya Satrio penasaran.
"Ya Mas Satrio sama Mbak Adis." jawab Mbak Yanti.
"Ha?" tanya Satrio nggak paham.
"Panggilan kesayangannya apa?" tanya Mbak Puji kepo.
"Emak kucing dan Bapak kucing." jawab Mbak Yanti sambil terkikik.
"Uhuk.....uhuk....uhuk...." Satrio tersedak minum terakhir yang sedang sampai di ujung kerongkongannya.
"Ha....ha....ha....ha....." tawa Mbak Puji memenuhi ruangan.
"Heh!" seru Satrio sambil menunjuk Mbak Puji yang meledeknya dengan gelasnya.
Wajahnya sudah merah padam karena malu.
Mbak Yanti terkikik- kikik sambil menutup mulutnya.
"Kenapa nggak ada manis- manisnya panggilan sayangnya, Yaaan?" tanya Mbak Puji disela tawanya.
Mbak Yanti hanya menggeleng- gelengkan kepalanya masih dengan membekap mulutnya agar tawanya tak meliar.
"Awas aja ya kalau ini jadi bahan gosip kalian. Aku deportasi ke Afrika kalian." ancam Satrio kemudian bergegas melarikan diri ke kamarnya.
"Melarikan diri, Mas? Mau ngadu sama Mbak Adis ya, Mas?" tanya Mbak Puji penuh dengan ledekan.
"Bubar! Pulang sana kalian! Bikin rusuh aja." teriak Satrio dari depan pintu kamarnya.
Di dengarnya tawa Mbak Puji semakin keras.
Dasar mbak- mbak durjana.
__ADS_1
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...