KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Mas Itu....


__ADS_3

Keluar dari kedai sugar keduanya dilanda kebisuan sampai motor berhenti di depan rumah Adis.


Adis merasa kikuk dan bingung harus bersikap bagaimana.


Apalagi selama ini dia memang tak pernah memulai percakapan bila berada di dekat Satrio.


Dan seperti inilah jadinya kalau Satrio tak membuka obrolan diantara mereka berdua. Jadi sepi dan dingin.


Terus terang saja dia bingung dengan apa yang Satrio bilang di kedai sugar tadi.


Menjadi 'apa- apanya' Satrio itu maksudnya bagaimana? Apa artinya sama dengan yang dia pikirkan? Yaitu menjadi someone special bagi Satrio?


Menjadi seseorang yang punya hak lebih pada Satrio?


Benarkah?


Secepat ini?


Baru kemarin dia 'diputus' seseorang yang berstatus sebagai kekasihnya.


Dan hari ini ada yang langsung 'menembaknya'?


Laku banget dia ya?!


Adis meringis sendiri dalam hati.


Tadi Satrio becanda atau serius sih?


Masak iya si Bapak kucing itu serius sama dia?


Si janda satu anak ini?!


Nggak mungkin deh kayaknya.....


Memangnya perempuan di dunia ini tinggal dia doang, sampai- sampai Satrio yang keren itu mau sama dia?


Eh, kenapa malah muji si Bapak kucing itu sih?!


"Belum puas duduk di bonceng aku? Belum mau turun nih? Terlalu nyaman ya?" pertanyaan Satrio di depan mukanya membuat Adis terlonjak kaget dan langsung memundurkan kepalanya.


Diliriknya kanan kirinya dengan cepat.


Ya ampun ! Udah berapa lama dia masih nangkring di atas motor yang udah berhenti di depan rumahnya ini?


Malu- maluin aja!


"Gerbangnya udah di gembok. Tolong telponin Mbak Yanti dong, Dis." kata Satrio setelah berusaha membuka gerbang namun ternyata sudah di gembok sama Mbak Yanti.


Memang sudah jadi kebiasaan Adis dan Mbak Yanti sih, akan menggembok gerbang setelah jam sepuluh malam.


"Iya." sahut Adis setelah turun dari boncengan dan bergegas menelpon Mbak Yanti.


"Tolong bukain gerbang, Mbak. Aku udah di depan rumah." kata Adis begitu di deringan kedua, telponnya diangkat oleh Mbak Yanti.


Dalam hitungan kelima, Mbak Yanti sudah terlihat tergopoh- gopoh keluar dari dalam rumah dan bergegas membuka gembok dan gerbang.


Dilihat dari wajahnya yang masih cerah kayaknya Mbak Yanti belum tidur.


"Belum tidur, Mbak?" sapa Satrio sambil membawa masuk motor Adis.


Adis mengekor di belakang Satrio sambil menenteng helmnya.


Dilihatnya motor Satrio terparkir di garasi motornya.


"Belum, Mas. Lagi nonton film Dilan." jawab Mbak Yanti sambil tersenyum.


Untung pas Adis nelpon tadi pas lagi mulai iklan.


Mbak Yanti bergegas masuk setelah menerima uluran tas kresek berisi sugar rasa strawberry jatahnya.


Dia nggak mau kelewatan nonton wajah gantengnya Iqbaal Ramadan.


"Aku pulang dulu ya." pamit Satrio setelah menempatkan motor Adis dengan apik dan mengeluarkan motornya sendiri.


"Iya. Makasih ya....Mas." jawab Adis sedikit gemetar.


Haaaah, kenapa jadi kaku gini sih suasananya?!


"Makasih untuk?" tanya Satrio sengaja ingin memperpanjang percakapan.


Dia sungguh nggak perduli ini sudah mau tengah malam.


Toh mereka ada di area terbuka. Nggak mungkin akan melakukan hal mesum.


Dan mungkin saja kan Mbak Yanti lagi ngintip dari salah satu sudut di dalam rumah.

__ADS_1


"Untuk semuanya sejak kemarin. Makasih udah mengusir Panji dari hidupku." kata Adis sambil menunduk menyembunyikan keharuannya.


Si Bapak kucing ini telah membelanya kemarin.


Dia yang terlihat tengil dan cuek ternyata bisa semurka itu melihat perlakuan Panji padanya kemarin.


Sungguh membuatnya tersentuh.


Selama ini dia mengira tak akan pernah bisa lepas dari belenggu Panji dan akan seumur hidup menanggung kepedihan dengan menanggung sendirian sakit hati dengan semua perlakuan Panji padanya.


Dia mengira nggak akan ada seorangpun yang mau dan bisa membantunya lepas dari Panji dan menyingkirkan lelaki biadab itu dari hidupnya.


Tapi ternyata Tuhan masih ingin memberinya kesempatan untuk bernafas lega dan tersenyum bahagia dengan lepas dari Panji.


Semua karena Bapak kucing yang menyebalkan ini.


Dia sungguh merasa harus banyak- banyak berterimakasih pada Satrio.


"Aku nggak perlu ucapan terimakasihmu. Aku ngelakuinnya juga nggak tulus cuma buat bantuin kok." kata Satrio sambil tersenyum dan menatap tajam pada mata Adis.


Raut terkejut dan takut yang sedang berusaha disembunyikan langsung terlihat di wajah Adis.


"Mak.....maksudnya apa?" tanya Adis dengan suara sedatar mungkin.


Dia tak ingin terlihat lemah di depan Satrio dengan menunjukkan rasa khawatir di depan lelaki di hadapannya ini.


"Aku punya pamrih dengan menyingkirkan Panjul itu. Aku ingin memiliki posisinya di hidupmu. Menjadi kekasihmu....Lebih tepatnya, ingin menjadi suamimu dan menemanimu menjaga Reta." kata Satrio sambil tersenyum.


Hati Adis mencelos.


Menjadi suaminya?!


Gila nih orang.


Menemaninya menjaga Reta.


Menjaga Reta.bersamanya.


Membuat anaknya itu memiliki figur seorang Papa, seperti yang Reta inginkan selama ini.


Dan senyum itu....Itu bukan senyum jahil yang selama ini biasa Satrio sematkan di wajahnya.


Senyum Satrio kali ini sungguh meneduhkan, dan menenangkan.


Seakan mampu menarik jiwa sepi dan kering kerontangnya untuk mendekat dan berteduh, lalu bersandar penuh.


Tapi dia masih ragu.


Dia takut.


Apa mungkin bisa.....?


"Aku nggak main- main dengan ucapanku tadi, Dis. Aku akan memberi waktu buat kamu untuk merapikan kenanganmu dengan Beni. Menyimpannya dengan baik sebagai kenangan manis. Aku akan menunggu sampai kamu memiliki tempat untukku di ruang hatimu. Tapi waktuku nggak banyak, Dis. Semoga ruang untukku itu segera ada di hatimu sebelum waktuku habis." kata Satrio dengan berdiri tegak di depan Adis yang hanya mampu berdiri kaku sambil menunduk di depan Satrio.


Dadanya rasanya penuh saat ini. Entah penuh oleh rasa apa.


Entah mana yang dominan dia rasakan kini.


Rasa kaget, rasa haru, rasa takut, rasa bahagia, rasa ragu, rasa diinginkan, rasa dikasihani, ,semua berlomba- lomba ingin menguasai hatinya kali ini.


"Semoga niat baikku ini bisa kamu pertimbangkan. Aku pulang dulu ya. Cepat tidur." kata Satrio sambil menepuk- nepuk lembut kepala berbalut hijab Adis sesaat.


Adis terpaku dibuatnya.


Dadanya berdentum- dentum seakan seluruh kompleks bisa ikut mendengarnya.


Tanpa menunggu jawaban Adis, Satrio bergegas menaiki motornya dan mendorong dengan kakinya untuk menjalankan motornya untuk mencapai gerbang.


Adis menatap pergerakan Satrio dengan berbagai perasaan yang campur aduk.


Semua seperti mimpi yang tiba- tiba berduyun- duyun muncul di hadapannya.


Membuatnya kebingungan dan nggak bisa berpikir dengan jernih agar bisa menelaah dengan benar satu demi satu.


Semua mengejutkannya, termasuk pria yang hampir melewati gerbang rumahnya itu.


Pria yang meminta satu ruang di dalam hatinya. Namun dia bilang waktunya tak banyak untuk menunggu.


*K*enapa tak bisa menunggu lama?


"Mas!" panggil Adis tak terkendali.


Satrio yang tak berani berharap akan mendengar suara Adis, tentu saja agak terkejut mendengar panggilan itu.


"Ya...?" kata Satrio sambil menghentikan jejakan kakinya untuk menjalankan motornya.

__ADS_1


Dia menoleh ke arah Adis di belakangnya.


Adis mendekat dengan langkah ragu.


Sesungguhnya Adis menyesal memanggil Satrio barusan.


Merasa seperti murahan....atau apalah namanya.


Seperti merasa menjatuhkan harga diri.


Ya ampuuuun.....kenapa sih iniiiiii?


Tapi dia sudah terlanjur memanggil. Dan Satrio pasti menunggu kata- kata selanjutnya darinya.


Kepalang basah untuk mundur.


"Jangan menungguku......" kata Adis setelah menarik napas panjang beberapa kali untuk menguatkan hati agar bisa mengucapkan kalimat itu dengan tenang dihadapan Satrio.


Ditatapnya mata coklat Satrio yang menatapnya tanpa keterkejutan atau lintasan kecewa setelah mendengar ucapannya barusan.


Kenapa dia tidak terkejut?


Kenapa dia tidak kecewa dengan penolakan halusnya barusan?


Satrio tersenyum kecil.


"Aku sudah ngantuk. Kamu juga pasti capek. Jangan diteruskan lagi ngomongin soal perasaan kita malam ini. Aku tahu kamu belum bisa berpikir dengan tenang. Jangan bilang apapun lagi padaku. Tenangkan diri kamu dulu, baru pikirkan aku. Pikirkan soal kita setelah kamu tenang." kata Satrio kemudian memakai helmnya dan menghidupkan mesin motornya.


"Aku pulang dulu.... Assalamualaikum...." pamit Satrio kemudian berlalu tanpa menoleh lagi pada Adis yang masih membeku. Bahkan salam dari Satrio pun hanya dia balas dalam hati.


Apa- apaan ini, Diiiiis?


'Pikirkan soal kita setelah hati kamu tenang' terus terngiang- ngiang di kepala Adis.


"Mbak, kok nggak masuk?" suara Mbak Yanti mengagetkan Adis yang termenung di kursi teras


Setelah menggembok gerbang tadi, Adis tak segera masuk ke dalam rumah.


Semua hal tentang Satrio malah berduyun- duyun muncul di kepalanya.


Meresahkan !!


"Udah selesai Dilan nya?" tanya Adis sambil beranjak berdiri kemudian mendekat ke arah Mbak Yanti yang berdiri di tengah pintu.


"Udah dari tadi." jawab Mbak Yanti sambil mendekati daun pintu untuk menutupnya setelah Adis masuk ke rumah.


"Mbak Adis nggak apa- apa kan? Baik- baik aja?" tanya Mbak Yanti dengan nada kuatir, berjalan mengikuti langkah Adis menuju ruang makan kemudian mengisi gelas dengan air putih dari dispenser.


"Nggak papa. Aku baik- baik aja." jawab Adis setelah menelan setengah gelas air putih.


"Mas Panji gimana?" tanya Mbak Yanti takut- takut.


"Kemarin dia mutusin aku. Alhamdulillah...." kata Adis sambil tersenyum pada Mbak Yanti yang nampak tak percaya.


"Kok bisa langsung mutusin?" tanya Mbak Yanti penasaran.


Dia kini sudah duduk di kursi makan di seberang Adis duduk.


"Berkat Mas Didit dan Mas itu...." kata Adis sambil tersenyum sedikit malu.


"Mas itu siapa?" tanya Mbak Yanti bingung.


"Bapaknya kucing." jawab Adis sambil menunduk malu.


"Oalaaaah....Mas Satrio to...." kata Mbak Yanti kemudian tertawa senang.


"Aku laper. Bikin mie yuk, Mbak!" tiba- tiba Adis tergesa berdiri dengan semangat kemudian mengambil panci dan mengisinya dengan air lalu merebusnya.


"Lhoh Mbak.....ini udah jam satu lewat lho!" kata Mbak Yanti keheranan.


Biasanya Adis sudah sangat malas untuk makan di atas jam delapan malam.


"Kamu mau nggak,Mbak?" tanya Adis menawari Mbak Yanti seolah tak mendengar apa yang baru saja Mbak Yanti ucapkan padanya.


Adis nggak perduli.


Dia hanya ingin makan pedas dan panas malam ini untuk menetralkan suasana hatinya yang campur aduk.


Dia ingin bisa segera menata hatinya agar cepat tenang dan bisa segera memikirkan tentang dirinya dan Satrio.


Mengapa mengingat rencana itu saja hatinya bisa merasa seadem ini?


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...


Bagaimanaaaaa?????

__ADS_1


Mau diteruskan lagi keuwuan ini atau stop sampai sini dan kita beralih ke bagian nangis- nangis lagi? 🙊🙈😀


__ADS_2