
Satrio menendang bokong Wira yang langsung merebut tas punggungnya yang berisi roti tiwul tanpa basa basi.
Tubuhnya sendiri masih dalam kekuasaan pelukan mamanya yang mengomel tak henti semenjak dia turun dari mobil.
Satrio bisa melihat senyuman Papanya dan tatapan bangga di mata pahlawannya itu, saat Satrio menghampiri dan mencium tangan pria setengah baya itu.
"Kurusan kamu." kata Pak Susilo sambil menepuk bahunya sekilas.
"Kamu tega ih nge prank mama!" sungut mamanya tadi sambil menghambur ke pelukannya lalu menangis.
"Maaf ya, Ma." kata Satrio sambil tertawa dan terus berpelukan dengan mamanya hingga mereka sampai di ruang makan.
"Meluknya udah bisa milih sekarang." gerutu Pak Susilo yang dibalas cubitan Bu Katarina di punggungnya.
"Padahal Satrio belum mandi lho, Ma. Masih wangian aku yang udah mandi dari subuh tadi." kata Pak Susilo yang terus saja berjalan di samping anak dan istrinya yang berpelukan.
"Papa ih!" sungut Bu Katarina kesal lalu memukul lengan suaminya yang terkekeh tanpa dosa.
Satrio meringis malu dengan pikirannya sendiri tentang apa yang telah papanya lakukan sebelumnya sampai harus mandi subuh- subuh.
"Rotinya enaaak!" seru Wira yang sudah duduk manis menghadapi sekotak roti oleh- oleh dari Satrio.
"Dipindahin ke piring dulu dong Mas Kecil...." omel Bu Katarina sambil menatap kesal pada anak bungsunya lalu beranjak ke dapur.
Satrio sendiri langsung meluncur ke kamarnya yang telah dia tinggal enam bulan belakangan ini.
Wira hanya meringis tak bergeming.
Pak Susilo sudah ikut duduk menikmati roti tiwul itu lalu manggut- manggut menyetujui ucapan Wira tadi.
"Kok dulu kita nggak pernah tahu ya ada roti enak gini di Jogja?" kata Pak Susilo sambil kembali mencomot seiris roti itu.
"Mungkin belum lama adanya, Pa. Aku aja tahunya di kampus karena ada anak Jogja mudik trus balik bawa roti tiwul. Tapi enakan ini sih dari yang dibawa temenku." kata Wira.
"Pinter Mas mu nyari rotinya." kata Pak Susilo memuji.
"Palingan minta rekomendasi teman kerjanya yang cewek- cewek." kata Wira masih dengan kunyahannya.
Bu Katarina masuk kembali ke ruang makan sambil membawa dua toples berisi keripik tempe dan peyek kacang ijo hasil hand made dari Mbak Puji.
"Alhamdulillah.....akhirnya anakku berguna juga." seru Pak Susilo melihat isi kedua toples itu.
"Husss!" seru Bu Katarina sebel.
"Ya kan minimal dia mudik bawa oleh- oleh yang disukai keluarganya. Oleh- olehnya beli pakai uang hasil jerih payahnya sendiri lagi. Kan keren tuh. Patut disyukuri dan diapresiasi." kata Pak Susilo sambil tersenyum senang.
"Tapi dia agak kurusan. Pasti dia ngirit banget disana. Nggak bisa jajan bebas karena gajinya kecil." kata Bu Katarina setengah berbisik dengan nada sedih.
Wira menghentikan kunyahannya.
Mendadak jadi iba pada kakaknya.
Apa benar yang dikatakan mamanya barusan?
"Itukan pilihan dia, Ma. Kita kan tetap ngasih jatah ke dia. Tapi dia memilih nggak memakai uang itu. Itu pilihan dia. Kita harus menghargai keputusan dia." kata Pak Susilo tenang.
"Kamu kelakuannya yang bener, biar nggak dihukum kayak Mas mu." kata Bu Katarina sambil menatap Wira yang dengan cepat mengangguk.
"Cari pacar yang bener. Jangan kayak kakakmu. Bikin jengkel aja." sambung Pak Susilo yang disambut acungan jempol Wira.
...π§π§π§π§π§...
Satrio menubruk kasurnya dengan perasaan rindu lalu diedarkannya pandangannya ke seantero kamarnya yang tak berubah sedikitpun.
Ini adalah kamarnya sedari kecil dulu.
Dulu saat dia masih kecil dia sekamar dengan Wira karena sama- sama penakut.
Tapi setelah dia SMP dan sudah merasa butuh privacy dia minta kamar sendiri dan mendepak Wira keluar dari kamarnya ini dan Wira menghuni kamar di sebelah kamarnya.
Satrio tersenyum haru mengingat seruan bahagia Papanya -karena mendapat oleh- oleh darinya- saat dia baru sampai di depan pintu kamarnya.
__ADS_1
Oleh- oleh receh yang bahkan kalau mau, papanya bisa membeli toko kuenya dengan sangat mudah.
Tapi oleh- oleh receh itu dia beli dari gajinya. Hasil dia bekerja
dengan gaji tak seberapa bila dibandingkan dengan gaji karyawan yang tiap bulan diberi upah oleh papanya.
Tapi Satrio merasakan ada sedikit kebanggaan saat membawa oleh- oleh itu pulang.
Dia meraih tas gendong yang teronggok di sampingnya, lalu meraba saku ber ritsleting di bagian dalam tas itu.
Dikeluarkannya kotak kecil berlapis beludru berwarna merah berbentuk mawar.
Dibukanya kotak itu dan ditatapnya cincin emas putih mungil di sana.
Dia memaksa Widuri menemaninya mencari cincin itu karena Satrio berpikir selera sesama tomboy antara mamanya dan Widuri pasti nggak jauh- jauh amat bedanya.
Cincin ini yang akan dia berikan sebagai hadiah ulang tahun untuk mamanya nanti malam.
Semoga Mama suka....
Ketukan beberapa kali di pintu kamarnya membuat Satrio bergegas melempar hadiah itu segera ke dalam tasnya.
"Sarapan dulu, Mas." panggil mamanya dari depan pintu.
"Aku mandi dulu, Ma. Sebentar." jawab Satrio kemudian berlari kecil ke dalam kamar mandinya dan mandi mode kilat khusus.
Hanya lima menit ritual di kamar mandi dan kemudian dia sudah keluar kamar sambil memakai kaosnya.
"Mandi bebek lagiiiii....Mandi bebek teroooosss....." olok Wira yang sudah memulai makannya.
Satrio hanya menoyor belakang kepala adiknya itu sampai nyaris mencium permukaan piring yang penuh kuah.
"Kampret lu!" umpat Wira kemudian memukul kepala Satrio dengan sendok yang dipegangnya.
"Udah deh! Jangan mulai deh!" seru mamanya dengan tatapan galak ke arah kedua anaknya.
"Si Sableng yang mulai." gumam Satrio sambil mencentong nasi dengan gaya santai.
"Kalian ku iket di pohon rambutan sana ya kalau nggak diem mulutnya." lerai mamanya lagi.
Pak Susilo asik saja menyuap sarapannya sambil melihat kegaduhan kecil kedua anak bujangnya.
Dalam hati dia bersyukur masih bisa melihat dan menikmati tingkah kekanakan kedua anak lelakinya walau mereka sudah dewasa.
Kelakuan mereka barusan seperti kelakuan mereka saat mereka masih TK dan SD dulu.
Sama- sama jahil dan nggak ada yang mau mengalah.
Harusnya sudah ada anak kecil di rumah ini untuk menyaingi kelakuan Satrio dan Wira.
"Rendangnya enak banget, Ma." puji Satrio membuat wajah sewot mamanya langsung tersenyum merekah.
Trik jadul Satrio yang selalu ampuh untuk membuat mamanya berhenti mengomel.
"Sengaja mama masakin buat Mas. Besok kalau balik ke Jogja Mama bikinin buat lauk disana. Pulangnya pakai pesawat aja biar cepat sampainya." kata Bu Katarina.
"Gaji dia nggak cukup buat beli tiket pesawat biar kelas ekonomi juga, Ma. Tanggal tua ini." seloroh Pak Susilo sambil terkekeh.
Satrio menunduk malu sambil tersenyum membenarkan ucapan Papanya itu.
"Aku udah beli tiket kereta, Ma." kata Satrio membuat Bu Katarina sedikit kecewa.
"Mama bikinin serundeng aja ya, biar awet." ide lain langsung muncul di kepala Bu Katarina demi tetap memberikan bekal lauk untuk anak kesayangannya.
"Di Jogja banyak kali yang jual serundeng." gumam Wira sambil melirik mamanya.
Satrio menginjak kaki adiknya itu agar nggak usah komentar.
"Aduh! Ngapain sih nginjek- nginjek?!" seru Wira sambil menatap Satrio kesal.
"Keinjek keleeeees....." sahut Satrio berdusta.
__ADS_1
"Nanti kita jadi langsung jalan, Mas?" tanya Wira sambil mengunyah.
"Jadi." jawab Satrio singkat.
"Mau pada kemana?" tanya Pak Susilo penasaran.
"Nyari alamat keluarga temenku, Pa." jawab Satrio cepat.
"Janji pulangnya sebelum magrib." kata Bu Katarina serius.
"Iyaaaa." jawab Satrio dan Wira kompak.
Mereka merasa kayak bocah TK yang pamit mau main ke lapangan.
"Kita dinner dimana sih nanti, Ma?" tanya Satrio kemudian.
"Di cafe barunya Wira." jawab Bu Katarina dengan tatapan bangga.
"Lu punya cafe? Kereeeeeen!" seru Satrio sambil meninju lengan Wira.
"Joinan sama dua temenku. Baru soft opening kok." kata Wira sedikit tersipu.
"Kelola dengan bener. Bisa buat latihan sebelum kamu pegang perusahaan." kata Pak Susilo sambil menatap Wira serius.
"Perusahaan kan urusan Mas, Pa. Aku penggembira saja." kata Wira sambil terkekeh mencoba mengelak dari kewajibannya.
"Kamu lupa perusahaan kita ada berapa? Mana mungkin Masmu pegang sendiri. Bisa- bisa dia nggak kawin seumur hidupnya." sahut Pak Susilo cepat.
"Nikah kali, Pa....Kawin sih ud.....aduuuh!" kalimat Wira terhenti karena Satrio mengemplang kepalanya memakai sendok.
"Saat umurmu tiga puluh, kamu sudah harus memegang perusahaan, Sat. Kalau bisa sebelum itu kamu sudah beristri. Tapi istri yang bener." kata Pak Susilo masih dengan mimik serius.
"Tahun depan dong deadline nya." sahut Wira.
"Kamu juga kalau mau nikah nggak papa, Wir....udah pantes 25 nikah." kata Bu Katarina menimpali.
"Belum ada yang bisa di ajak nikah, Ma." kata Wira sambil nyengir malu.
"Ya Allah.... perasaan anak- anakku ini tampan dan tajir. Tapi kenapa nggak laku- laku?" kata Bu Katarina sambil mendongakkan kepalanya.
"Bukan nggak laku, Ma....Nyari yang high quality jadi mantu Buwono itu nggak gampang." kata Wira membela diri.
"Pacarmu di Jogja belum mau kamu kenalin ke kami, Sat?" tanya Pak Susilo santai.
"Ha?! Siapa bilang aku punya pacar di sana? Mbak Puji?" tanya Satrio kesal.
"Baru PDKT, Pa." kata Bu Katarina sambil mengerling.
"Kelamaan. Kalau udah sreg, langsung lamar aja. Yang penting dia perempuan baik- baik." kata Pak Susilo.
"Kriteria perempuan baik- baik itu yang gimana?" tanya Wira.
"Yang tahu sopan santun. Yang tahu dan menjalankan agama. Tahu cara menghargai suami dan orang tua. Dan yang pasti harus bukan istri atau tunangan orang." kata Pak Susilo.
"Susahnyaaaa....." sahut Wira.
Satrio hanya menunduk. Dia mulai risau dengan ucapan Papanya yang harus nikah sebelum umur 30.
Waktunya untuk mencari istri hanya tinggal tahun depan.
Lamunan Satrio di sela acara sarapannya terganggu saat ponsel di sakunya bergetar kemudian melengkingkan nada panggil.
"Pasti pacarnya." tebak Wira sotoy.
Satrio hanya melirik dingin ke adiknya dan matanya berbinar saat melihat layarnya dipenuhi satu wajah.
...π§π§π§ b e r s a m b u n g π§π§π§...
Alhamdulillah.....di episode ini author remahan dapat kabar kalau novel ini sudah lulus kontrak π
Yuk banyakin komen dan jempolnya βΊοΈ itu jadi upahku lho....π
__ADS_1
Makasih ya readers yang udah mau sabar ngikutin alur slowly ini...πππ