
Satrio menerima uluran jabat tangan dari Antoine, Boss barunya dengan tersenyum ramah.
Mereka berdua sudah duduk berhadapan di ruang tamu rumah joglo yang desainnya sudah sedikit berubah dari terakhir Satrio memasukinya dulu.
Sekarang lebih terkesan simple traditional. Mungkin mengikuti selera jiwa muda Boss baru ini.
Tapi tetap OK sih menurut Satrio. Ruangan malah berkesan menjadi lebih terang dan lapang.
"Sepertinya jarak umur kita nggak terlalu jauh ya, Bro..." kata Antoine sambil menatap Satrio santai.
"Mungkin." jawab Satrio singkat sambil tersenyum.
"Sudah ada kepala 3? Kalau boleh tahu..." tanya Antoine lagi.
"Belum. Tapi hampir. InsyaAllah tahun depan..." jawab Satrio sambil kembali tersenyum.
"Ternyata aku lebih tua dua tahun darimu." kata Antoine sambil tertawa.
"Really? Kenapa Saya merasa wajahku lebih tua darimu, Sir..." kata Satrio dengan wajah dibuat sedikit kesal.
Antoine tertawa bangga.
"Mungkin karena aku belum memikirkan masalah keluarga, jadi jiwaku selalu merasa ABG saja setiap harinya." seloroh Antoine sekenanya.
Satrio mengangguk- angguk profesional saja.
"Anda memanggilku bukan hanya untuk di ajak ngobrol seperti ini saja kan, Boss? Maaf, ada beberapa pekerjaan yang harus Saya selesaikan hari ini." kata Satrio setelah senyuman dari Antoine mereda.
""Ah ya...sure...Saya ingin membicarakan soal rencana resign mu....Apa tidak bisa dipikirkan kembali?" tanya Antoine to the point.
Tepat seperti dugaannya dan Pak Cahyo kemarin. Ternyata Antoine membahas rencana pengunduran dirinya.
"Sayang sekali, tidak bisa, Sir. Saya sepertinya memang harus resign." jawab Satrio tegas walau tetap tersenyum.
"Apa alasanmu sebenarnya memutuskan resign dari sini? Kalau masalah salary bisa kita bicarakan lagi. Saya juga ingin mengangkatmu jadi asisten Saya sebenarnya. Pasti cool..." kata Antoine sambil tersenyum senang.
"Maaf sekali. Sepertinya Saya harus melewatkan kesempatan itu karena Saya harus menjalankan kewajiban Saya. " kata Satrio tetap bertahan dengan keinginannya.
"Kewajiban?" tanya Antoine keheranan.
"Iya...Saya harus meneruskan usaha keluarga, Sir. Papa Saya sudah ingin pensiun katanya." kata Satrio sambil tersenyum.
"Keluargamu juga punya perusahaan?" tanya Antoine takjub.
"Hanya usaha kecil- kecilan." jawab Satrio merendah.
"Jangan merendah seperti itu. Besar kecilnya yang kita miliki biar orang lain saja yang menilai. Tugas kita hanya terus menjaga dan mengembangkan apa yang kita punya dengan sebaik mungkin." kata Antoine bijaksana.
Satrio mengangguk setuju.
"Well, karena alasanmu tidak mungkin bisa Saya bantah,dengan berat hati harus Saya relakan kepergianmu, Bro... Padahal sesungguhnya Saya punya rencana besar untukmu. Tapi karena alasanmu menyangkut keluarga,Saya tidak berani mengusiknya lagi. Saya sangat menghargai siapapun yang mengutamakan keluarganya." kata Antoine sambil mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
Satrio tersenyum mengerti.
"Maafkan karena Saya harus mengecewakan Anda di pertemuan pertama kita, Sir." kata Satrio tulus.
"Tak apa... Kadang memang apa yang kita inginkan tak tercapai bukan? Semoga ke depannya kita bisa bertemu lagi di kesempatan yang lebih baik." kata Antoine sambil berdiri dan kembali mengulurkan tangannya.
Satrio bergegas mengikutinya dan langsung menerima jabat tangan itu kemudian pamit dari hadapan Antoine untuk kembali meneruskan pekerjaannya yang dia targetkan harus selesai semua sebelum dia meninggalkan perusahaan ini beberapa hari lagi.
🧚🧚🧚🧚🧚
Satrio sedikit berdebar saat turun dari mobil yang membawanya bersama kedua orangtuanya, juga Adis dan Bian yang kini mengulurkan kedua tangannya minta gendong padanya.
"Sama Mama dulu aja ya?" bujuk Adis pada Bian. Tapi bocah itu menggelengkan kepalanya cepat sambil tetap mengulurkan tangannya pada ayahnya.
"Pengen ngasih tahu orang- orang kalau Ayahmu ini udah sold out ya? Pinter amat kamu bantuin Mamanya." kata Satrio sambil mencium pipi Bian yang kini sudah ada di gendongan sebelah lengannya.
Bian hanya tertawa- tawa menanggapinya.
Adis hanya melirik keki mendengarnya. Sementara Bu Katarina hanya tertawa kecil.
__ADS_1
"Punya suami somplak kayak gitu kamu, Dis?" gumam Pak Susilo dengan wajah kesalnya.
Adis hanya meringis mendengar omelan mertuanya itu.
"A..yah...ja..?" tanya Bian sambil menunjuk ke arah pabrik.
Satrio menatap Adis karena tak mengerti maksud ucapan Bian.
"Ayah kerja..?" kata Adis menjelaskan.
Satrio mengangguk mengerti kemudian tertawa senang.
"Iya...Ayah kerja...Kita lihat tempat kerja Ayah ya...? Mau?" tanya Satrio riang.
"Au..." jawab Bian sambil mengangguk senang.
"Nanti nggak boleh rewel ya...Nggak boleh nangis ya..." kata Adis sambil merapikan topi yang dipakai Bian.
"Ya..." jawab Bian sambil mengangguk- angguk riang.
"Pinter anak Mama..." puji Adis sambil tersenyum.
"Bi...teeeey..." celoteh Bian senang sambil bertepuk tangan.
"Ngomong apalagi dia?" bisik Satrio pada Adis.
"Bi pinter..." jawab Adis sambil terkekeh. Satrio hanya ber O tanpa suara.
"Itu Pak Heru, yang selama ini Papa mintai tolong megang perusahaan ini, Sat." kata Pak Susilo sambil menatap ke arah pintu depan kantor yang masih lumayan jauh.
Rombongan Satrio membalas senyuman pria paruh baya yang sengaja menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang, Bapak Ibu Susilo...Pak Satrio dan Ibu..." sambut Pak Heru sambil mengulurkan tangannya yang disambut ramah oleh semuanya.
"Kenalkan ini Satrio anak Saya...bawa istri dan anak juga dia. Nggak mau kalah sama Papanya." kata Pak Susilo yang disambut anggukan dan tawa Pak Heru.
"Saya Satrio, Pak. Ini Adisty istri Saya." kata Satrio sambil menjabat tangan Pak Heru ramah.
"Saya Heru Pak Satrio, Bu Adisty. Kemarin Pak Susilo menelpon, memberitahu kalau calon pimpinan kami akan datang hari ini. Alhamdulillah benar datang hari ini..." kata Pak Heru senang.
"Mari silakan...Kita masuk dulu Pak...Bu..." ajak Pak Heru mempersilakan mereka semua masuk ke dalam loby kantor yang lumayan luas.
Lalu berbelok ke samping kanan dan menyusuri jalan yang dipasangi kerikil yang tertata rapi kemudian bertemu dengan sebuah pintu yang membawa mereka ke sebuah ruangan kerja yang lumayan besar.
"Disini nanti rencananya ruangan untuk Pak Satrio. Nanti bisa kita ubah desainnya kalau Pak Satrio kurang cocok dengan desain saat ini. Ruangan ini biasanya kosong. Sengaja disediakan untuk Pak Susilo kalau berkunjung kemari. Tapi cuma berapa kali beliau kesini...?" kata Pak Heru mengambang.
"Baru dua kali kesini. Tiga kali ini." sahut Pak Susilo sambil duduk di sofa diikuti yang lain.
"Bisa minta tolong nggak, Pak? nanti makan siang staff tolong dikumpulkan di ruang meeting. Kita makan siang bersama sekalian berkenalan sama Satrio." pinta Pak Susilo.
"Siap, Pak. Makanan seperti biasa atau mau yang lain,Pak?" tanya Pak Heru kemudian.
"Biasanya aja. Enak kok." jawab Pak Susilo santai.
"Baik, Pak. Ada lagi yang harus Saya kerjakan, Pak?" tanya Pak Heru lagi.
"Sudah. Terimakasih." kata Pak Susilo sambil tersenyum.
Pak Heru bergegas keluar ruangan untuk menjalankan perintah Pak Susilo diikuti Satrio yang ingin ditemani melihat langsung kegiatan produksi perusahaan yang akan dipimpinnya.
"Karyawannya lumayan banyak." kata Satrio saat Pak Heru bilang ada sekitar 250 orang karyawan disini.
"Kata Pak Susilo nanti Saya yang akan jadi asisren Anda, Pak. Apa Pak Satrio. tidak keberatan dengan kinerja Saya?" tanya Pak Heru sambil menemani langkah Satrio.
"Kita lihat saja nanti, Pak. Kita juga belum saling kenal dekat. Tapi sementara ini kita ikuti arahan dari Papa saja dulu. Saya harap Anda juga tidak keberatan dengan keberadaan Saya yang mungkin akan selalu merepotkan nantinya." kata Satrio sambil tersenyum.
"InsyaAllah tidak akan merepotkan, Pak. Saya malah senang akhirnya punya pimpinan yang bisa tiap hari mengawasi dan bisa dimintai arahan sewaktu- waktu. Selama ini berbagai keputusan suka terlambat karena harus menunggu jawaban dari Pak Susilo langsung. Sedang beliau kadang nggak bisa diganggu." kata Pak Heru yang membuat Satrio kembali merasa bersalah pada Papanya.
Selama ini Papanya pontang- panting memikirkan semua perusahaan mereka sendiri. Sedang dia malah berpangku tangan padahal seumur hidupnya dia yang memakan hasil kerja Papanya.
Astagfirullahaladzim....Maafkan aku, Pa...
__ADS_1
"InsyaAllah ke depannya kita bisa lebih baik lagi nanti." kata Satrio sambil tersenyum.
"Aamiin..."
🧚🧚🧚🧚🧚
Satrio dan Pak Susilo kembali masuk ke ruangan Direktur setelah acara makan siang dan ramah tamah selesai.
Adis dan Bu Katarina makan di ruangan itu karena menemani Bian yang memang sudah jamnya tidur siang.
"Kita pulang sekarang atau nunggu Bian bangun dulu?" tanya Pak Susilo sambil duduk di sofa, bersebelahan dengan Bian yang terbaring tenang.
"Sekarang atau nanti, Yang?" tanya Satrio sambil menatap Adis.
"Sekarang aja nggak apa- apa. Biar Mama sama Papa bisa istirahat di rumah. Bian sebentar lagi juga bangun kok." jawab Adis sambil menatap kedua mertuanya.
"Kita nanti nginep ya, Pa?" pinta Bu Katarina pada suaminya.
Mereka sudah ada di jalan menuju pulang.
Bian nampak mulai terjaga di pangkuan Adis.
"Boleh. Semalam aja tapi." jawab Pak Susilo sambil tersenyum.
"Bing...." kata Bian sambil menunjuk mobil di depan mereka, menarik perhatian semuanya.
"Eh, anak Ayah udah bangun..." kata Satrio sambil menoleh sekilas dari balik kemudi.
"Yah, bing..." kata Bian lagi sambil menatap Ayahnya dan telunjuknya menunjuk mobil di depan mereka.
""Iya...mobil. Banyak ya mobilnya?" tanya Satrio sambil mengelus kepala Bian yang sudah duduk tenang di pangkuan Adis.
Anak itu mengangguk- angguk.
"Sini sama Oma, Bi..." kata Bu Katarina dari belakang.
Adis mendirikan Bian agar bisa melihat ke belakang.
"Sini sama Opa sini..." kata Pak Susilo ikut mengulurkan tangan yang ternyata di sambut oleh Bian.
"Opa..." katanya, yang membuat Pak Susilo tersenyum riang sambil melirik Bu Katarina yang tadi dicuekin Bian.
"Oma ngambek tuh..." kata Pak Susilo setelah Bian duduk di pangkuannya.
Bian menatap Omanya kemudian tertawa.
"Oma..." panggilnya sambil menelengkan kepalanya menatap Bu Katarina dengan tatapan jenaka.
"Ya sayang..." sahut Bu Katarina gemas. Wajah cemburunya langsung hilang melihat tatapan cucunya itu.
"Tatik...," kata Bian yang membuat Opa dan Omanya saling tatap dan orangtuanya tertawa keras.
"Dia ngomong apa sih?" tanya Pak Susilo penasaran dengan tawa anak dan menantunya.
"Cantik. Oma cantik." jawab Satrio sambil terkikik.
"Yang ngajarin Ayahnya itu, Pa. Suka ngajarin bilang Mama cantik." sambung Adis sambil tertawa malu.
Pak Susilo tertawa mendengarnya.
"Omamu cantik ya?" tanya Pak Susilo sambil menatap Bian yang mengangguk- angguk.
Bu Katarina mencibir malu.
"Kelakuannya persis ayahnya ini. Pinter merayu. Dulu Satrio juga gini nih kalau Mama cemberut,Dis." kata Bu Katarina sambil tertawa.
"Berarti bener- bener anakku dia." kekeh Satrio sambil menatap Adis yang ikut tersenyum.
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...
Sekedar menginformasikan...besok eps terakhir ya....😁😁😁
__ADS_1
Happy reading semuanyaaaaa.....💖💕