
"Mbak." Sapa Mbak Yanti begitu sudah menutup pintu dan mendapati Adis duduk di kursi makan sambil mengunyah sepotong roti.
"Mbak Puji gimana, Mbak?" tanya Adis karena tadi dipamitin Mbak Yanti mau nengokin Mbak Puji yang meriang di rumah Satrio.
"Udah baik, Mbak. Tadi sudah aku kerokin. Cuma masuk angin. Mbak Adis mau bakmi godog nggak?" tanya Mbak Yanti kemudian.
"Ya?" tanya Adis kurang mengerti.
"Aku bawa bakmi godog. Mau nggak? Kalau nggak mau, aku masak dulu sebentar." kata Mbak Yanti.
"Mau. Itu aja nggak papa, Mbak." sahut Adis kemudian.
Mbak Yanti tersenyum senang lalu memindahkan bakmi godog yang tadi dibawanya dengan rantang ke dalam mangkuk dan di sajikan ke depan Adis.
"Kok cuma satu?" tanya Adis keheranan.
Biasanya mereka berdua makan bareng di meja makan.
"Aku barusan makan sama Mbak Puji tadi." kata Mbak Yanti sambil membuat dua gelas teh hangat untuk mereka berdua.
"Ya udah. Kamu ngemil roti aja nih." kata Adis sambil menyorongkan piring berisi roti yang sudah dipotong manis dan rapi ke depan Mbak Yanti yang langsung mengambil sepotong dan mengunyahnya.
"Enak rotinya. Mbak Adis beli dimana?" tanya Mbak Yanti basa- basi.
"Dikasih kok itu." kata Adis di sela kunyahannya.
"Dikasih siapa?" tanya Mbak Yanti penasaran.
"Bapak kucing." jawab Adis cuek.
"Uhuk....uhuk...!" Mbak Yanti tiba- tiba tersedak mendengar panggilan itu.
Dia tiba- tiba pengen ketawa karena ingat kejadian di rumah Satrio tadi.
Dilihatnya Adis santai saja mendengar dia tersedak dan buru- buru minum tehnya.
"Tadi Mas Satrio kesini to, Mbak?" tanya Mbak Yanti kepo.
"He em."
"Kapan? Kok aku nggak tahu." tanya Mbak Yanti.
"Tadi pas kamu ke tempat Mbak Puji. Kayaknya baru pulang kerja langsung mampir kesini. Kenapa?" tanya Adis kalem.
"Nggak papa, Mbak. Kirain kesininya pagi tadi. Kok aku nggak ngeliat. Ya pantes aku nggak ngeliat, wong datengnya pas aku masih di Mbak Puji." kata Mbak Yanti.
"Bakminya enak. Beli dimana, Mbak?" tanya Adis mengalihkan topik.
"Yang bikin Mbak Puji kok." jawab Mbak Yanti waspada.
"Ooooo.....enak ini." kata Adis kembali mengulang pujiannya.
"Iya. Tadi Mas Satrio juga bilang enak." kata Mbak Yanti santuy tapi mampu membuat perjalanan sendok Adis berhenti di depan dadanya.
"Kok dia makan bakmi juga?" tanya Adis keheranan.
"Ya kan yang bikin Mbak Puji di rumahnya Mas Satrio. Karena tadi bikinnya banyak, aku disuruh bawa sama Mas Satrio buat Mbak Adis." terang Mbak Yanti sambil menatap Adis santai tapi hatinya sedang menghitung mundur reaksi apa yang akan dilakukan Adis setelah mendengar kalimatnya.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" reaksi Adis sama persis seperti dugaan Mbak Yanti.
"Minum Mbak. Santai saja." kata Mbak Yanti sambil tertawa meledek.
Adis meminum tehnya dengan hati yang menggerutu atas kebaikan Satrio memberinya bakmi godog yang enak ini.
"Tadi berantem ya sama Mas Satrio?" tanya Mbak Yanti setelah Adis menyuap bakminya lagi.
"Enggak. Kenapa?" tanya Adis cuek. Tepatnya pura- pura cuek.
"Tadi sampai depan rumah wajahnya Mas Satrio di tekuk. Kan tadi dari sini kan?" tanya Mbak Yanti lagi.
Adis hanya mengedikkan bahunya tak perduli.
Kayak gitu aja marah. Dasar ambekan.
__ADS_1
"Memangnya dia bilang kalau kami berantem?" tanya Adis mencoba menyuguhkan wajah datar.
"Enggak sih. Nggak ngomong apa- apa soal Mbak Adis. Kenapa? Penasaran ya?" tanya Mbak Yanti menggoda.
"Dih! Penasaran. Ngapain juga penasaran sama cowok ambekan gitu? Kayak gadis aja. Debat nggak mau ngalah. Kalau kalah debat ngambek.Nyebelin." kata Adis panjang semacam curhat.
Mbak Yanti manggut- manggut sambil menahan tawa.
Katanya nggak perduli....Kok ngomelnya kayak curhat gitu....
"Memangnya tadi debat apa sama Mas Satrio sampai dia kalah?" tanya Mbak Yanti santai sambil mencomot satu potong roti lagi.
"Dia protes kenapa waktu tadi manggil aku pakai klakson aku nggak mau noleh. Ya kali! Dikiranya aku cabe- cabean? Orang juga udah tau namanya ngapain manggil pakai klakson?" dengus Adis kesal.
"Ooooo....."
"Trus ngira aku nyindir saat ngomongin Tristan. Dia bilang aku nyindir dia karena Tristan pernah diare karena makan makanan kucingnya. Padahal aku nggak maksud gitu. Aku aja udah lupain masalah itu. Malah dia nuduh aku nyindir dia. Nyebelin kan?" tanya Adis nyari dukungan.
"Maklumin aja, Mbak. Orang pulang kerja, capek. Jadi sensi. Mungkin juga di kantornya tadi ada kerjaan berat juga." kata Mbak Yanti menenangkan.
"Tapi kan nggak harus dilampiaskan ke orang lain dong." sergah Adis masih nggak terima.
"Iya. Besok dibicarain lagi." kata Mbak Yanti menenangkan.
Adis hanya terdiam.
Ngapain juga harus dibicarain sama dia?
...🧚🧚🧚🧚🧚...
Satrio tersenyum manis pada gadis kecil yang duduk di bangku taman yang biasanya dia duduki sambil menunggu kucing- kucing mendatanginya.
"Om boleh ikut duduk disini?" tanya Satrio setelah menstandardkan sepedanya kemudian mendekat ke arah gadis berambut lurus sebahu dan hitam mengkilap itu.
Matanya bulat dan berwarna coklat terang, menatap Satrio dengan tenang dan lembut.
"Boleh." jawab gadis kecil itu sambil menggeser duduknya agak ke pinggir.
"Sama siapa kesini?" tanya Satrio sambil melirik layar ponsel anak itu.
"Sendiri. Aku berani kok." jawab anak itu dengan suara bangga.
"Rumahnya nggak jauh dari sini?" tanya Satrio lagi.
"Enggak jauh."
"Udah pamit sama mama kalau main kesini?" tanya Satrio lagi.
"Udah. Tadi mama bilang mau mandi dulu trus mau nyusul nanti. Om bawa apa itu?" tanya gadis kecil itu saat dilihatnya Satrio mengeluarka satu toples bekas kue dari tas yang tadi dicantolkannya di stang sepeda.
"Ini? Ini makanan kucing. Nanti sebentar lagi pasti banyak kucing kesini minta makan. Kamu takut kucing nggak?" tanya Satrio semakin ramah.
"Enggak. Aku kira tadi Om bawa kue, hihihi...." gadis itu terkikik lucu.
"Ini memang kaleng bekas kue, tapi isinya makanan kucing." kata Satrio ikut tertawa.
"Nama kamu siapa?" tanya Satrio semakin tertarik pada gadis kecil yang mungkin anak salah satu tetangganya ini
"Retania Kiyomi." jawab anak itu fasih.
(Retania (Jawa) berarti permata. Kiyomi (Jepang) berarti anak perempuan yang berharga dan cantik).
"Bagus banget namanya. Panggilannya siapa?" tanya Satrio lagi.
"Reta."jawab anak itu riang.
"Satrio mengamati wajah anak itu.
Dari namanya ada bau- bau Jepangnya.
Tapi kayaknya anak ini pribumi banget wajahnya.
"Om namanya siapa?" tanya Reta dengan wajah penasaran.
__ADS_1
"Panggil saja Om Rio." jawab Satrio spontan.
Dia jadi geli sendiri mengenalkan namanya sebagai Rio,seperti panggilan Widuri padanya.
"Om Rio sudah punya anak?" tanya Reta sambil ikut mengambil makanan kucing di kaleng yang di pegang Satrio.
Sudah ada lima kucing yang duduk manis di sekitar kaki Satrio dan sedang memakan hidangannya.
"Belum. Kenapa?" tanya Satrio sambil menatap lengan mungil Reta yang kini bertumpu di lengannya.
Menggemaskan.
"Kirain sudah punya anak. Mau aku jadiin temen main disini." kata Reta dengan nada sedikit kecewa.
Satrio terkekeh getir.
Mana mau punya anak, pabriknya aja belum nemu....
"Udah mendung. Kita pulang yuk!" ajak Satrio setelah semua kucing tak lagi nampak di sekitar mereka.
Reta hanya mengerjapkan matanya menatap Satrio.
"Kenapa?" tanya Satrio saat menangkap sepertinya anak itu ingin bicara sesuatu.
"Aku pulangnya bonceng Om Rio boleh nggak? Duduk di situ." kata Reta sambil menunjuk palangan depan sepeda Satrio.
"Nanti sakit kalau duduk situ. Om temenin jalan aja ya?" tawar Satrio yang mendapat gelengan sedih anak itu.
"Ya udah kalau nggak boleh. Aku pulang sendiri aja." kata Reta sambil membalikkan badannya sedih.
Entah mengapa hati Satrio merasa sedih saat melihat sorot mata ceria penuh harap gadis kecil itu langsung meredup mendengar penolakannya.
Tapi membiarkan gadis kecil itu duduk tanpa alas di palangan sepedanya juga kasihan.
"Duduknya dialasi kaos Om mau nggak, Ta?" tawar Satrio menghentikan langkah lunglai Reta yang baru dua langkah meninggalkan Satrio.
"Mau! Mau!" jawab Reta langsung membalikkan badan dan sedikit melonjak- lonjak kegirangan.
Jadilah sore itu Satrio melepas kaos berwarna maroon yang membungkus tubuhnya lalu melipatnya sedemikian rupa agar bisa jadi alas yang empuk untuk paha mungil Reta yang duduk menyamping di palangan sepedanya.
Satrio malah nyaris menangis saat anak itu melingkarkan kedua lengannya mengelilingi dada dan punggungnya.
Setengah wajah gadis kecil itu menempel di dadanya yang terlapis singlet warna abu- abu.
Bahkan wangi shampo anak itu sampai ke indera penciumannya.
Kehangatan dan kelembutan macam apa yang rasanya seindah ini?
"Ayo Om. Rumahku yang pagarnya putih di sebelah sana." kata Reta riang sambil menunjuk ke arah dimana rumah Adis berada.
Satrio mengernyitkan keningnya.
Seingatnya di barisan rumah Adis yang pagarnya berwarna putih cuma rumahnya Adis.
Gadis ini siapanya Adis?
"Kamu ponakannya Tante Adis?" tanya Satrio sambil memulai mengayuh sepedanya.
Pelukan Reta di tubuhnya ternyata tak menyulitkan pergerakannya.
"Iya. Aku anaknya mama. Om kenal?" tanya Reta masih dengan wajah yang menempel di dada Satrio walau wajahnya mendongak menatap Satrio.
"Kenal dong. Kan tetanggaan." jawab Satrio sambil tersenyum.
Reta ini pasti anak kakaknya si Emak kucing itu.
"Bener rumahnya ini?" tanya Satrio saat menghentikan sepedanya di depan gerbang rumah Adis yang sepi.
"Iya. Makasih ya Om Rio." kata Reta saat Satrio menolongnya turun dari boncengannya.
"Sama- sama." jawab Satrio sambil bergegas memakai kaosnya lagi.
"Aku masuk dulu ya. Dadah!" pamit Reta kemudian berlari kecil melewati gerbang yang gampang dibukanya.
__ADS_1
Satrio berlalu setelah melihat anak itu menghilang ke dalam garasi.
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...