
Satrio dan Wira asik bersisihan bersandar di gapura masjid sambil menunggu Papanya yang nampak sedang asik berbincang dengan seorang bapak-bapak seusianya
"Kayaknya kita sekalian sholat isya' disini kalau gini ceritanya,Mas." gumam Wira gelisah sambil menatap ke arah papanya yang masih tertawa- tawa.
Satrio sedang berkelakuan macam bocah dengan mencoba memeluk gapura masjid.
"Kelakuan lu,Mas! Malu gue diliatin cewek- cewek itu!" seru Wira begitu menyadari kelakuan abangnya yang masih memeluk- meluk gapura sudah jadi perhatian beberapa cewek jamaah masjid.
"Yang berkelakuan gue kenapa lu yang malu?" kata Satrio yang kini sudah ganti acara mengukur keliling gapura dengan jengkalan tangannya.
"Kelakuan lu kayak orang kurang satu strip! Gue kayak jadi baby sitter ngasuh orang stress." kata Wira kesal.
Satrio cuek saja dengan omelan adiknya itu.
"Kita tinggal aja apa,Mas?" tanya Wira sambil menatap Satrio yang kini duduk menunduk bermain dengan tali sandalnya.
"Bisa di kutuk jadi belalang lu berani ninggal Papa." sergah Satrio sambil mendongak menatap Wira yang menatap ke arah papanya tadi berdiri.
"Berdiri! Papa kesini sama temennya." gumam Wira -yang mampu di tangkap samar- samar oleh Satrio - sambil menendang kaki Satrio pelan.
Satrio bergegas berdiri saat dilihatnya papanya melangkah mendekat bersama pria yang tadi menjadi teman berbincangnya.
Satrio membalas senyuman pria paruh baya yang segera di cermati wajahnya.
Astaga! Bapaknya Adis!
"Maaf Om, Saya nggak ngenalin tadi." kata Satrio malu sambil cepat menjabat tangan papanya Adis.
"Nggak papa. Om juga kalau Pak Susilo nggak ngobrol barusan juga nggak ngeh kalau ada kamu disini. Malah jadi nggak sengaja kita semua kenalan dan ketemu disini." kata Pak Hendarwan, ayah Adis.
Wira bergegas ikut mengulurkan tangannya begitu menyadari siapa sosok berkumis yang bersama papanya itu.
"Saya Wira, Om. Adiknya Mas Satrio." kata Wira sopan sambil mengulurkan tangannya.
Pak Hendarwan tersenyum sumringah menatap Satrio dan Wira bergantian.
"Waaah, putra- putranya gagah dan ganteng semua, Mas. Kalau jadi cewek, saya pasti bingung mau milih kakaknya atau adiknya." seloroh Pak Hendarwan sambil tertawa.
Pak Susilo hanya tersenyum menanggapinya.
"Alhamdulillah Anda nggak harus bingung milih karena Anda bukan cewek." sahut Pak Susilo sekenanya yang kembali ditimpali tawa Pak Hendarwan.
Satrio dan Wira hanya tersenyum menikmati hidung mereka yang terasa mekar karena pujian yang baru saja mereka dengar soal ketampanan mereka.
Mereka bubar setelah Pak Hendarwan pamit pulang dulu.
"Kamu nanti mau nganterin Reta pulang ya?" tanya Pak Susilo dari arah belakang pundak Satrio saat motor matic yang biasa dipakai Mbak Puji sudah berjalan meninggalkan halaman masjid.
"Iya. Kenapa?" tanya balik Satrio.
"Papa mau ikut ke rumah Adis nanti." jawab Pak Susilo santai.
"Mau ngapain?!" seru Satrio kaget hingga membuat Pak Susilo kaget dengan teriakannya.
"Bocah geblek! Bikin kaget aja!" bentak Pak Susilo sambil menepuk keras pundak Satrio yang langsung meringis karena rasa panas di pundaknya.
"Maaf...maaf...." kata Satrio sambil meringis.
"Mau ngapain Papa ke rumahnya Adis?" tanya Satrio masih meneruskan pembicaraan mereka.
"Tadi diundang main catur sama Pak Hendar." kata Pak Susilo santai.
"Kirain mau ngelamarin Adis buat aku." kekeh Satrio dengan wajah malu karena pikirannya udah kejauhan.
"Begitu juga boleh kalau kalian mau." kata Pak Susilo sambil terkekeh.
"Jangan ngajak becanda bujangan yang pengen kawin deh, Pa." seloroh Satrio sambil tertawa malu.
"Nikah, geblek! Nikah! Kawin aja isi otakmu!" kata Pak Susilo sambil menoyor kepala Satrio pelan.
__ADS_1
"Iyaaa! Nikaaaah!" jawab Satrio mulai sebal.
Wira yang melihat dari arah belakang kakaknya dianiaya papanya hanya cengar- cengir geli.
Mam pus lu!, kekeh Wira sambil tertawa senang.
"Om Wira..!" Reta menyapa Wira ramah walau langsung memeluk pinggang Satrio yang baru saja turun dari motor.
"Yang dipanggil Om Wira kenapa nemploknya sama Om Rio sih?" protes Wira pura- pura cemberut.
Reta terkikik senang.
"Aku kangennya sama Om Rio." jawab Reta yang kini sudah menggandeng tangan Satrio yang tersenyum- senyum senang sambil menatap Wira dengan menaikkan turunkan alisnya. Membuat Wira melirik kesal padanya.
"Opa malah nggak disapa." kata Pak Susilo pura- pura merajuk sambil menatap Reta.
Bu Katarina tertawa geli melihatnya.
"Maaf, Opa. Aku lupa." jawab Reta sambil terkikik dengan menutup mulutnya memakai tangan mungilnya.
Semuanya tertawa dibuatnya.
"Kok nggak di dalam aja sih nunggunya?" tanya Satrio sambil menggandeng Reta masuk ke rumah.
"Tadi di dalem gelisah terus kenapa Om Rionya nggak pulang- pulang. Makanya terus nunggu di teras biar cepet ketemu katanya." terang Bu Katarina membuat Pak Susilo terkekeh.
"Bayangin Sat, besok kamu nggak bakalan tenang main karena anakmu nelpon melulu nyariin kamu." kata Pak Susilo meledek Satrio yang cengar- cengir.
Tapi entah mengapa dia merasa senang mendengarnya.
"Tersipu- sipu lu?" ledek Wira dengan wajah mengejek.
"Gak!" sergah Satrio sambil menyembunyikan senyumnya.
Reta yang melihat interaksi dua manusia dewasa di depannya hanya menatap keduanya dengan pandangan keheranan.
"Om Rio dan Om Wira keren." kata Reta membuat mereka berdua langsung terbahak.
Tak menduga ucapan Reta barusan.
"Kerenan siapa Om Rio sama Om Wira? Pasti Om Wira doooong!" tanya Wira dengan PD nya.
"Nggak! Keren Om Rio, hihihi...." jawab Reta cepat.
Satrio tertawa penuh kemenangan mendengar jawaban Reta itu.
"Aaahhh, Reta nggak asik!" sungut Wira dengan muka cemberut lalu meninggalkan Satrio bersama Reta.
"Beneran kerenan Om Rio timbang Om Wira?" tanya Satrio setengah berbisik pada Reta.
"Nggak juga sih..." jawab Reta santai.
"Hah?! Lhoh tadi katanya kerenan Om Rio..."
"Kan karena aku lebih sayang sama Om Rio, jadi Om Rio kubilang lebih ganteng." kata Reta sambil tersenyum malu.
"Wuaaaaah, pinter banget anak ayah ini..." kata Satrio sambil memeluk Reta dengan gemas.
"Aku? Anak ayah siapa?" tanya Reta bingung.
"Mau nggak panggil Om Rio dengan ayah aja?" tanya Satrio dengan tersenyum manis.
"Om Ayah gitu?" tanya Reta bingung.
"Ayah aja...nggak pakai om." jelas Satrio.
"Tapi kan om bukan ayahku." protes Reta.
"Lama- lama juga jadi ayahnya Reta." kata Satrio sambil tersenyum.
__ADS_1
Jangan ditanya pikiran Satrio kemana saat ngomong begitu.
"Kapan?" tanya Reta dengan semangat.
"Kalau mama dan ayah udah menikah nanti...Jadi anak ayah deh kamu!" kata Satrio senang sambil menyentil lembut ujung hidung Reta dengan telunjuknya.
"Trus jagain Mama dan aku sampai gede?" tanya Reta kemudian.
"Iya. Sampai Reta gede, sampai Reta menikah. Insyaa Allah." kata Satrio dengan tatapan menerawang.
"Ngayal teroooos!!!" teriak Wira dari balik tembok.
Satrio mengumpat dalam hati dengan kelakuan Wira.
"Sholat woyyy! Ngegombalin bayi mulu!" kata Wira dari pintu setelah agak lama Satrio ngobrol dengan Reta.
"Iya! Bawel!" kata Satrio sambil beranjak berdiri dan mengajak Reta ikut sholat berjamaah di dalam rumah.
"Buruan ganti baju kalian." perintah Pak Susilo setelah mereka selesai sholat isya'.
"Mau keluar kemana, Pa?" tanya Wira penasaran.
"Nganter Reta." jawab Pak Susilo santai.
"Alamakkk....Bukannya yang mau nganter Reta Mas Satrio?" tanya Wira kemudian.
"Enggak! Kita semua nganter Reta sekalian kenalan sama keluarganya Adis. Mumpung kita semua ada disini. Tadi kita diundang kesana sama papanya Adis." kata Pak Susilo sambil beranjak berdiri.
"Wuaaaaah...Mas..." kata Wira menatap Satrio dengan tatapan meledek.
"Apa?!" sungut Satrio kesal.
"Pertemuan resmi keluarga dadakan." kekeh Wira ikutan beranjak berdiri.
"Mau ngapain sih Papa, Ma?" tanya Satrio penasaran.
"Cuma mau memenuhi undangan keluarganya Adis. Kalau Papamu sih mau catur sama papanya Adis." jawab mamanya kalem.
"Jangan ngomongin yang aneh- aneh lho, Ma." ancam Satrio pada mamanya.
"Ngomong aneh gimana maksudnya?" tanya Bu Katarina keheranan.
"Ya masalah pernikahan mungkin...Aku takut Adis kaget trus spontan nolak." dalih Satrio.
Mamanya mengangguk- angguk mengerti.
"Udah...Sana ganti baju dulu." kata mamanya memerintah.
Satrio bergegas menuju kamarnya untuk berganti baju.
"Jangan- jangan Papa mau ngelamar Adis, Mas." kata Wira yang sedang menyisir rambutnya.
Dia sudah terlihat tampan dengan setelan celana chinos warna cream dan atasan kemeja semi jeans warna coklat.
"Jangan ngaco deh lu!" sentak Satrio kesal.
"Ya siapa tahu kan..." sahut Wira sambil terkekeh.
"Biar cepet dipanggil Om Ayah sama Reta." kata Wira kemudian tergelak.
Satrio mendelik kesal ke arah Wira.
"Cepetan! Om Ayah...." ledek Wira sambil erjalan melewati Satrio yang langsung menendang pan tat adiknya itu.
Sableng !!!
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...
Maapkeun ya up nya malem- malem... malah cibuk nonton Mas Wira di tipi 🙊🙈😀
__ADS_1