KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Menikmati ranjang bersama


__ADS_3

Didit terpaku saking kagetnya saat dia hendak menemui para orangtua namun malah menemukan mama dan papanya sudah berdiri di balik partisi tanpa sepengetahuannya.


Melihat mamanya yang bersandar lemas sambil menangis di pelukan papanya yang juga nampak sangat sedih, bisa dipastikan kedua orang tuanya sudah tahu sedikit banyak soal yang dialami Adis.


Didit tak mengucapkan apapun selain langsung memeluk kedua orangtuanya yang semakin terisak.


"Adis bagaimana sekarang? Apa lebih baik kita bawa ke ahlinya?" tanya Pak Hendarwan dengan gemetar.


"Mama menyesaaaal sekali. Mama Ibu yang sangat berdosa. Kenapa saat Adis mengadu dulu malah berpikir kalau Adis hanya mengada- ada karena nggak mau move on dari Beni. Padahal Adis anak mama. Dia bukan anak yang berani bohong. Kenapa Mama sebodoh ini? Kenapa Mama setega ini sama anak Mama sendiri?" Bu Hendarwan meratapi kesalahannya sendiri tanpa ampun. Tangannya berkali- kali memukuli dadanya sendiri yang terasa sangat sesak.


Hatinya remuk redam saat dia mendengar dan melihat begitu pilunya Didit menceritakan soal Adis pada Satrio.


Didit yang 'hanya' kakaknya saja bisa sepilu itu meratapi nasib adiknya. Apalagi dia yang telah mengandung dan merawat Adis sedari pertama anaknya itu menghirup udara dunia.


Rasanya langit menjatuhinya berulangkali. Jantungnya terasa tertikam ratusan pedang dan belati.


"Peri kecilku sayang..." Pak Hendarwan hanya mampu bergumam pilu.


Dia menangis sesengukan di pelukan Didit.


"Semua udah terlanjur terjadi. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah membantu Adis mengatasi traumanya itu. Jangan pernah menatap iba padanya. Itu malah akan menyusahkan hatinya." kata Didit setelah kedua orangtuanya sudah mulai tenang.


"Kita harus saling dukung untuk membantunya. Ayo kita obrolin sekalian dengan kelurganya Satrio." ajak Didit sambil membimbing kedua orangtuanya kembali ke ruang tengah.


Untuk mengantisipasi kalau- kalau nanti mereka keasikan bicara dan untuk mencegah Adis sampai mendengar, mereka memutuskan membicarakan itu diluar rumah.


Mereka duduk di bawah tenda putih di depan garasi yang baru akan dibongkar besok pagi.


Didit menjelaskan secara gamblang penyebab trauma yang dialami oleh Adis.Lalu menjelaskan apa saja yang bisa dilakukan oleh keluarga untuk membantu Adis self healing atas traumanya itu.


"Melihat masih bisa cepat diajak komunikasi kembali tadi, kayaknya kita masih bisa mengatasi ini tanpa harus ke ahli jiwa. Semoga dugaan saya benar." kata Didit akhirnya.


Pak Susilo menghembuskan nafas prihatin dan sedih.


"Kamu punya datanya si Panji itu, Dit?" tanya Pak Susilo.


"Ada, Om." jawab Mas Didit cepat.


"Besok tolong kirimkan kepadaku." kata Pak Susilo dengan wajah datar.


"Papa mau ngapain dia?" tanya Bu Katarina khawatir.


"Nggak mau ngapa- ngapain. Cuma mau waspada aja. Sama menutup akses menjalin kerjasama bisnis sama dia. Kamu juga, Wir. Jangan buka kerjasama sama dia." kata Pak Susilo dengan nada memerintah pada bungsunya.


"Iya. Pasti itu. Udah nyakitin kakakku kayak gitu kok. Tolong aku juga dikirimin profil usahanya dia ya, Mas." kata Wira pada Didit.


"Siap!" jawab Didit mantap.


Ada sedikit kelegaan di hati Didit melihat reaksi anti Panji dari keluarga Buwono.


Dia merasa sakit hatinya sedikit terbalaskan.


"Maafkan putri kami kalau nantinya akan merepotkan keluarga Mas Susilo karena kejadian ini." kata Pak Hendarwan sepenuh hati.


"Sekarang sudah nggak ada istilah anak kalian atau anak kami. Yang ada sekarang adalah anak- anak kita. Adis sudah jadi anak kami sekarang. Jangan lupa itu." kata Pak Susilo dengan wajah tersenyum.


"Dan jangan pernah lupa juga, Satrio itu trouble maker. Jadi siapkan jantung kalian kalau nanti suatu hari tiba- tiba ada perempuan ngaku dihamilin atau apalah. Maklum saja, dia menawan dan mapan. Tapi yang bisa kupastikan soal Satrio adalah, dia sangat bertanggungjawab dengan apapun yang dia lakukan. Dia juga jujur. Mau mengaku salah kalau memang salah." kata Pak Susilo sombong namun dengan terkekeh.


Pak Hendarwan ikut tertawa.


Besannya ini sungguh sosok yang menyenangkan.


"Yang harus selalu kita lakukan adalah selalu mendukung Adis. Bukan hanya untuk menyembuhkan traumanya, namun juga agar bisa tabah mendampingi Satrio." kata Bu Katarina menambahkan.


Keluarga Adis mengangguk mengerti dan menyetujui untuk hal itu.

__ADS_1


🧚🧚🧚🧚🧚


"Masuk ke rumah sekarang yuk?" ajak Satrio pada Adis.


Angin malam sudah lumayan membuat badan menggigil.


Adis mengangguk dan menerima uluran tangan Satrio yang terulur padanya.


Dengan santai Adis mengikuti langkah pelan Satrio yang selangkah di depannya.


Adis tersenyum menatap tangannya yang berada dalam genggaman Satrio.


Adis merasakan genggaman tangan Satrio tak erat di telapak tangannya, namun tetap mampu membuat tangannya tersimpan aman dalam genggaman telapak tangan lebar itu.


"Lhoh, kok sepi? Pada kemana orang- orang nih?" tanya Satrio kaget karena tak di dengarnya satu suara pun padahal semua lampu ruangan di dalam rumah masih menyala semua.


"Mungkin udah pada tidur. Udah lewat tengah malam kan?" kata Adis menduga- duga.


"Masak nggak ada yang pamit sama kita? Mama Papaku dan Wira kan harusnya pamit kalau mau pulang." kata Satrio dengan wajah sedikit cemberut.


"Mungkin tadi nggak mau menganggu kita, jadi nggak pamit." kata Adis bermungkin ria kembali.


Satrio mengecek ponselnya. Siapa tahu keluarganya pamit lewat pesan. Tapi nggak ada pesan yang masuk sedari tadi.


Baru Satrio akan berjalan ke ruang depan, di dengarnya suara Mas Didit dan mertuanya dari arah depan.


"Lho, dari mana kok dari arah depan? Kirain udah pada tidur." tanya Adis keheranan.


"Dari depan nganter keluarganya Satrio pulang. Sekarang baru mau tidur nih." jawab Pak Hendarwan sambil tersenyum.


"Kalian juga cepetan tidur sana." kata Mas Didit sambil tersenyum simpul.


Satrio tahu maksud kakak iparnya itu.


Nggak tau aja kalau adiknya lagi pasang tanda DILARANG MASUK. 🚫


"Nggak usah,Mas. Biar malam ini dia tidur sama kami aja nggak papa." cegah Satrio.


"Lhoh ya nggak boleh gitu..." kata Pak Hendarwan dengan wajah nggak enak hati.


"Reta besok sudah harus ikut pulang Papa dan Mama. Jadi malam ini biar dia dikelonin mamanya. Kasian kalau nggak dibiarin." kata Satrio menjelaskan.


"Tapi ini kan malam pertama kalian lhoh." kata Mas Didit sambil menahan tawa.


"Malam pertama kami sih terserah kaminya yang bikin jadwal, Mas. Nggak harus malam ini juga. Bisa besok atau lusa atau seminggu lagi atau kapanpun. Tergantung kesepakatan kami berdua itu sih." kata Satrio sambil terkikik- kikik melirik Adis yang wajahnya sudah sangat merona.


Pak dan Bu Hendarwan ikut tertawa geli.


"Ya udah kalau gitu. Dia yang ngomong ya, Dis. Jangan nangis kalau sampai sebulan ke depan dianggurin sama dia." ledek Mas Didit sambil meledek Adis yang tersenyum malu. Satrio hanya meringis salah tingkah di depan keluarga istrinya itu.


"Kalian ini bikin malu kami aja ngobrolnya. Udah ayo bubar...bubar! Masuk kamar masing- masing." kata Pak Hendarwan sambil bertepuk tangan pelan dan meninggalkan anak- anaknya.


""Udah sana kalau mau ke kamar! Ngapain pada ngeliatin aku?" tanya Mas Didit setelah ketiga saling pandang.


Satrio tertawa geli sambil menatap malu pada Mas Didit.


"Ya udah, kami masuk dulu ya,Mas." kata Satrio kemudian meraih pinggang Adis lembut.


Adis hanya langsung berlalu tanpa melihat kakaknya. Sedang Satrio kembali terkekeh saat Mas Didit menggoyangkan telunjuknya dari atas ke bawah di depan mukanya, meledek 'kaciaaaan deh lu'.


Adis sedang berusaha merapikan posisi tidur Reta yang menguasai hampir semua area tempat tidur queen size itu saat Satrio memasuki kamar.


"Sebentar. Biar aku aja."kata Satrio bergegas mendekat saat dilihatnya Adis agak kesulitan untuk membopong Reta ke tengah ranjang.


Reta sudah berganti baju dengan piyama bergambar hello Kitty.

__ADS_1


"Mas tadi udah sholat isya' belum?" tanya Adis seperti baru teringat.


"Udah tadi pas kamu di kamar mandi." jawab Satrio sambil melepaskan kemejanya dan kini tinggal menyisakan kaos oblong berwarna putih.


Tanpa canggung dia melepas celana panjangnya di depan Adis yang menunduk malu.


"Kenapa nggak di kamar mandi sih ngelepasnya?" gerutu Adis sambil sedikit melirik.


"Lupa." jawab Satrio sambil tertawa malu.


"Lagian kan pakai boxer ini, bukan pakai CD doang. Liat aja kalau nggak percaya." kata Satrio sambil tersenyum menggoda dan gemas dalam hati melihat Adis yang nampak kelimpungan hendak membuang muka.


"Stttt....liat sini..." goda Satrio sambil menahan tawa.


"Nggak! Cepet pakai celananya!" kata Adis menggumam kesal.


"Dari tadi aku udah pakai celana. Mau aku pakai celana panjang aja?" tanya Satrio menawarkan.


"Ya nggak papa kalau mau pakai celana training. Emangnya Mas bawa training di tas?" tanya Adis masih dengan memunggungi Satrio.


"Enggak. Bawa kolor doang." jawab Satrio santai sambil merebahkan diri di seberang Adis, di samping Reta.


Adis menoleh kaget ke arah Satrio yang telah terbaring sambil menatapnya.


Santai sekali dia. Nggak ada tegang- tegangnya tidur sekamar sama cewek.


Haha...Adis nyaris saja lupa kalau suaminya itu punya jam terbang tinggi soal berbagi ranjang plus kehangatannya bersama cewek.


"Aku boleh kan tidur disini?" tanya Satrio ragu saat dilihatnya Adis nampak kikuk melihatnya.


"Boleh...boleh kok..." kata Adis setelah sadar dengan sikap kakunya.


"Aku nggak papa tidur di bawah kalau kamu nggak nyaman." kata Satrio sambil beranjak bangun.


"Nggak! Jangan!" cegah Adis cepat.


"Tidur situ aja. Aku nggak papa kok. Lagian sekarang ranjang ini juga punya kamu." kata Adis kemudian.


"Kita berbagi ranjang ya?" tanya Satrio sambil tersenyum bahagia. Adis mengangguk malu.


Satrio kembali membaringkan tubuhnya dengan miring menghadapi punggung Reta dan menatap Adis yang masih duduk menghadap headboard ranjangnya.


"Udah... cepet baring." kata Satrio membuat Adis sedikit kaget.


"Atau aku keluar aja ya?" tawar Satrio karena merasa Adis nampak kurang nyaman saat ini.


"Jangan! Mas tidur sini aja. Aku juga mau tidur." kata Adis sambil beranjak berbaring di samping Reta memunggungi Reta dan Satrio.


Sebenarnya dia ingin berbaring miring menatap Reta, namun Adis malu kalau harus berhadapan dengan wajah Satrio sedekat itu.


"Nggak boleh lhoh tidur memunggungi suami..." suara Satrio membuat mata Adis yang baru saja dia pejamkan kembali terbuka lebar.


"Memunggungi anak pula...." sambung Satrio lagi.


Satrio tersenyum saat dilihatnya tubuh Adis bergerak pelan dan kini menghadap ke arahnya.


Jantung Satrio mendadak berdegup kencang saat menatap wajah Adis yang nampak mulai sayu. Apalagi mata ngantuk itu malah terlihat begitu sayu merayu.


Oh my God....


"Kamu keliatan tambah cantik banget kalau malem. Kamu bukan peri kan? Kamu Adis istriku kan?" tanya Satrio lembut sambil mengulurkan tangannya melewati atas kepala Reta untuk menyentuh lembut pipi Adis yang kembali merona.


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...


Tadinya mau bikin yang agak anget- anget...tapi hawa Jogja hari ini hareudang pisaaaan....πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„ Nggak kuat kalau harus ditambah anget- anget lagiπŸ™ŠπŸ™ˆ ( hilih, alesan banget πŸ˜’).

__ADS_1


Happy reading semuanyaaaaa....πŸ’–πŸ’•


__ADS_2