KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Mengintai


__ADS_3

Lumayan lama Satrio ngobrol dengan Mas Didit.


Adis yang khawatir kalau Satrio diapa- apain oleh abang semata wayangnya itu berulangkali mengintip interaksi keduanya lewat jendela ruang makan.


Dari yang awalnya keduanya nampak bicara dengan wajah sangat serius dan sama- sama saling duduk tegak, lalu berganti dengan tangan keduanya yang bertumpu di meja, lalu berganti lagi dengan punggung yang sama- sama bersandar di sandaran kursi masing- masing.


Nampak tak ada jeda dalam pembicaraan mereka.


Nggak ada berhentinya sama sekali.


Dua kali Mas Didit bertelepon entah dengan siapa.


Adis penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.


Dan kini saat Adis kembali mengintip untuk kesekian kali, nampak keduanya sudah tertawa- tawa.


Adis mengernyit keheranan.


Kok bisa mereka haha hihi gitu?


"Gimana? Aman?" tanya Mbak Desi ikut mengintip.


"Kayaknya aman." jawab Adis dengan nada heran.


"Dia naksir kamu ya?" tanya Mbak Desi sambil kembali mengintip keluar jendela.


Adis dan Desi duduk di kursi makan, di dekat jendela yang menghadap ke arah kedua lelaki di luar.


"Katanya sih gitu." jawab Adis sebiasa mungkin.


"Keliatan sih..." kata Mbak Desi membuat Adis penasaran.


"Keliatan gimana maksudnya?"


"Ya keliatan kalau suka sama kamu. Walaupun agak tengil kayaknya ya?" tanya Mbak Desi sambil tertawa.


"Nyebelin dia sih." kata Adis cuek.


"Nyebelin tapi ngangenin?" ledek Mbak Desi.


"Apaan sih?" elak Adis sambil cemberut.


"Kayaknya dia baik. Ya minimal lebih baik dibanding si Panji. Tapi beneran dia tadi baku hantam sama Panji?" tanya Mbak Desi dengan wajah mode kepo.


Adis mengangguk.


Tiba- tiba dia merinding ingat kejadian di rumahnya tadi.


"Kalau nggak ada Satrio, mungkin aku di rumah sakit sekarang, Mbak." kata Adis pelan.


"Astagfirullah!!! Segila itu Panji?! seru Mbak Desi.


Adis hanya menghela nafas berat.


"Kayaknya mau pulang tuh." kata Mbak Desi tiba- tiba.


Adis yang barusan menunduk langsung mengarahkan pandangannya keluar.


Dilihatnya Satrio dan kakaknya sudah berdiri.


"Keluar dulu sana. Siapa tahu dia mau pamit." kata Mbak Desi sambil tersenyum menggoda.


Adis mencibir walau tetap beranjak ke depan.


"Belum dipanggil udah nongol aja dia. Jangan- jangan dia ngintipin kita dari tadi, Sat." kata Mas Didit begitu melihat Adis sudah muncul di depan pintu rumah.


"Dih!" sungut Adis pura- pura nggak perduli.


"Aku pulang dulu ya, Dis. Jangan kemana- mana sendirian dulu. Calling me." kata Satrio sambil tersenyum.


Adis hanya mengangguk kecil.


"Aku pulang dulu, Mas." pamit Satrio sambil menjabat tangan Didit yang kemudian mengangguk dan menepuk- nepuk bahunya.


"Ati- ati di jalan. Makasih ya." kata Didit sambil tersenyum.

__ADS_1


Satrio menjawabnya hanya dengan tersenyum.


Saat pandangannya beralih pada Adis, baru dia bersuara.


"OK, nanti aku kabari kamu kalau aku udah sampai rumah." kata Satrio PD.


"Idih! Emangnya aku ngomong apa?" kata Adis keki.


"Ngomong 'kasih kabar kalau udah sampai rumah ya, Mas'...gitu." kata Satrio sambil terkekeh.


Didit sudah membuang muka sambil menahan tawanya.


Adis hanya mendecih kesal.


Setelah melemparkan senyum manisnya pada Adis, Satrio segera bergegas menuju mobilnya.


Adis dan Didit beriringan masuk ke dalam rumah setelah mobil Satrio berlalu.


"Beraaaat." kata Mas Didit sambil tertawa.


"Berat kenapa?" tanya Adis dengan tatapan curiga.


Dia tahu, kakaknya ini sedang menyindirnya. Tapi menyindir dalam bab apa, dia belum tahu.


"Berat kalau mau nolak dia." kata Mas Didit sambil terkekeh.


"Siapa?" tanya Adis ambigu.


Didit tergelak melihat ekspresi Adis yang campur aduk antara malu, bingung, dan kesal.


"Cewek....." jawab Mas Didit sambil menatap Adis dengan tatapan meledek.


Adis hanya mencibirkan bibirnya sewot.


"Flamboyan gitu gayanya. Aku yang cowok aja terpesona sama cara ngomong dia. Gimana kalau dia ngegombalin cewek....?" kata mas Didit kemudian.


"Kamu pernah di gombalin dia nggak,Dis?" tanya Mbak Desi yang sedari tadi hanya menyimak.


"Nggak! Ini ngapain sih malah ngomongin dia?!" sentak Adis dengan wajah kesal.


"Udah bubar yuk. Tidur...tidur...." kata Didit sambil menarik tangan Desi.


"Aku belum ngantuk, Maaaaas." kata Desi merengek.


Dia masih ingin ngobrol sama Adis.


"Di ngantuk- ngantukin aja." kata Didit ngasal, membuat Adis terkikik.


"Kenapa cekikikan gitu?" tanya Didit dengan galak.


"Nggak papa." jawab Adis sambil melenggang masuk ke kamar tamu sambil terus terkekeh.


"Aku kan masih pengen ngobrol sama Adis." omel Desi yang bergelayut di lengan Didit menuju kamar mereka.


"Ngobrol sama aku aja." sahut Didit santai.


"Ngobrol sama kamu mah cuma opening doang. Hasil closing nya beda." kata Desi.


"Hasilnya enak dan bahagia." kata Didit sambil tertawa.


"Nyebelin!" kata Desi sambil terkekeh.


Adis tersenyum mendengar celotehan itu dari balik pintu kamarnya.


...🧚🧚🧚🧚🧚...


Satrio tersenyum saja dari tadi walau hanya sendirian di dalam mobil itu.


Keadaan jalan raya tak terlalu ramai, membuatnya merasa tenang menikmati jalanan Jogja di waktu malam walau sendirian.


Penerimaan kakak Adis padanya yang membuatnya sangat senang. Amat sangat senang.


Setidaknya sudah ada dua backing untuk terus maju meraih hati Adis sebelum akhirnya nanti menghadap kepada orangtua Adis.


Dari obrolannya dengan Mas Didit tadi Satrio semakin mantap untuk mendekati Adis.

__ADS_1


Modal awal dia sudah punya. Yaitu rasa sayang pada Reta.


Modal kedua adalah restu dari kakak Adis tadi. Yang jelas- jelas mengatakan dari awal tidak menyukai Panji dan tidak menyetujui Adis dengan Panji.


Mas Didit tadi bahkan menitipkan Adis padanya. Dan berjanji akan membantu Satrio mendekati Adis dengan syarat Satrio harus bisa memiliki bukti kuat yang bisa dilaporkan kepada orangtua Adis soal kelakuan minus Panji.


Sedang sasaran tembak utama, yaitu Adis malam ini sudah mulai membuka dirinya.


Sudah mulai mau bercerita hal yang mungkin dia rahasiakan selama ini dari siapapun.


Malam ini Adis mau bercerita padanya. Dan itu membuat Satrio merasa Adis menganggapnya sebagai seseorang yang istimewa.


Satrio kembali tersenyum sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling karena lampu traffic light baru saja menyala merah dan membuat mobilnya berhenti di barisan paling depan.


Pandangan matanya terpaku pada pemandangan seorang wanita berpakaian seksi berwarna putih sedang tertawa manja dan tangannya bergelayut mesra pada seorang pria.


Satrio yakin mereka pasti baru saja keluar dari club yang ada di seberang traffic light.


Sepertinya mereka sedang menunggu taksi,dilihat dari gelagat si cewek yang berulang kali menatap ponselnya.


Satrio baru akan mengalihkan pandangannya saat dia baru saja menyadari pria yang bersama perempuan itu.


Panji!


Satrio kembali menoleh ke arah pasangan itu berdiri.


Syukurlah mereka belum pergi dari sana.


Begitu lampu traffic light berwarna hijau,Satrio langsung putar balik di depan dan langsung menuju ke arah pasangan yang untungnya Satrio bisa melihat sedang menaiki sebuah taksi.


Satrio tersenyum senang.


Inilah yang dia nanti.


Saatnya melancarkan aksinya menjadi detektif untuk lelaki yang membuatnya naik darah tadi.


"Malam- malam keluar dari club sama cewek seksi. Pasti mau nyelup dia. Minimal mau nyabu. Dasar Panjul!" geram Satrio sambil terus menempel taksi di depannya.


Setelah dengan deg- degan mengikuti taksi, ternyata taksi itu memasuki sebuah hotel.


" Habis lu malam ini Panjuuul!!!!" geram Satrio s bahagia.


Dilihatnya Panji dan perempuan itu turun dari taksi.


Satrio bersyukur ada parkiran di depan hotel, jadi Satrio bisa cepat mengikuti pasangan itu memasuki hotel.


Satrio dengan tergesa mencari kacamata bening dan topi base ball yang selalu ada di mobil itu.


Entah untuk apa Wira selalu menyimpan benda itu di mobilnya.


Dan kedua benda itu sangat mendukungnya kali ini.


Satrio bergegas menuju resepsionis dan mencoba mencari tahu kamar yang dipakai Panji.


"Saya mau ke kamar atas nama Bapak Panji. Nomor berapa ya, Mbak? Dia Saya hubungi dari tadi untuk nanya kamarnya nggak di angkat." tanya Satrio ramah dalam berdusta.


"Sebentar ya Pak. Saya carikan dulu." jawab resepsionis itu sangat ramah.


"Di kamar nomer 1077, Pak. Ada lantai 6. Lift ada disebelah kanan ya,Pak." jawab resepsionis itu ramah sambil menunjuk ke arah lift berada.


"OK,makasih, Mbak." kata Satrio sambil memberi senyum manisnya.


Jelas sekali cewek resepsionis itu terlihat tersipu- sipu.


" Maaf, apakah ada kamar kecil di lantai ini,Mbak?" tanya Satrio kemudian.


"Ada di sudut kiri, Pak." jawab resepsionis itu malu- malu.


"Makasih, Mbak cantik." kata Satrio sambil berlalu.


Tidak dilihatnya wajah merona cewek yang baru saja di sebutnya dengan panggilan Mbak Cantik itu.


Satrio harus bergegas untuk menelpon Mas Didit sebelum bertindak lebih lanjut.


"Nggak nyangka, kita berseterunya bersambung di hari yang sama, Njuuul Panjul !!!

__ADS_1


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...


__ADS_2