
"Jangan ngebut bawa mobilnya. Sekilo lagi kita sampai. Ambil lajur kiri aja." perintah Adis setelah beberapa saat menatap ponselnya.
"Sampai di rumah Mas Didit?" tanya Satrio.
"Bukan! Kita mampir makan dulu. Aku nggak mau besok kamu bilang maag kamu kambuh gegara aku nggak tanggung jawab sama acara makan malammu. Trus nanti kamu modus minta aku rawat. Ih, ogah!" kata Adis judes.
Kumat judesnya, batin Satrio nyengir.
Tapi Satrio senang. Setidaknya pikiran Adis tidak terampas sepenuhnya hanya untuk memikirkan masalahnya dengan Panji.
Setidaknya Adis memikirkannya walau masih dengan embel- embel 'tanggung jawab'.
Terserah apa dalihnya, yang penting dia masuk ke dalam perhitungan Adis.
"Menunya apa aja nanti?" tanya Satrio bersemangat.
"Tau ingkung?" tanya Adis. Satrio perlu beberapa detik agar otaknya loading secepat mungkin untuk mengingat masakan bernama ingkung.
Ketemu!
Ingkung adalah ayam kampung rebus yang diberi toping santan kental yang gurihnya tak ada tanding.
Ngebayangin gurihnya aja Satrio udah ngiler.
"Aku mau ingkung, Dis." kata Satrio dengan mata berbinar- binar.
"Nanti aku traktir ingkung yang potongan aja." kata Adis sambil menatap Satrio.
"Emang ada ingkung yang nggak utuh?" tanya Satrio heran.
"Ada. Kalau kita pesan satu ayam utuh, nanti nggak habis. Yang makan kamu sendirian." kata Adis.
"Lha kamu nanti nggak ikut makan?" tanya Satrio nggak nyaman.
"Aku barusan makan. Nanti aku minum sama ngemil aja buat nemenin kamu makan." kata Adis santai.
"OK. No problem." jawab Satrio ringan.
"Ikuti mobil yang belok di depan itu." perintah Adis.
"Siap!" jawab Satrio cepat sambil menghidupkan lampu sein ke kiri.
"Syahdu banget tempatnya." komentar Satrio begitu memasuki area parkir yang hanya berisi beberapa mobil namun ada banyak motor terparkir di sisi area mobil.
"Di dalam lebih enak lagi suasananya." kata Adis sambil melepas safety belt nya.
Satrio bergegas turun dengan maksud untuk membukakan pintu untuk Adis.
Tapi Adis yang tahu gerakan Satrio bergegas membuka pintu mobilnya lebih dulu. Membuat Satrio tersenyum keki saat tahu Adis sudah beranjak turun.
"Harusnya kamu biarin aku bukain pintunya, Dis." kata Satrio dengan nada merengek.
"Emangnya kenapa? Aku bisa buka pintunya sendiri." kata Adis.
"Biar kayak di film- film itu. Diliatin orang kan juga kesannya sweet bingit." kata Satrio sambil terkekeh.
"Kita kan nggak lagi syuting drama kehidupan. Biasa aja lah bersikap." kata Adis sambil mengelus bagian belakang tuniknya agar lebih rapi.
Satrio tertawa malu.
Adis berjalan selangkah di depan Satrio untuk mencari tempat duduk setelah sebelumnya mampir ke counter kasir untuk mengambil daftar menu dan nota order.
Satrio hanya diam tenang berjalan membayangi Adis yang berjalan ke satu sudut bagian rumah makan itu.
__ADS_1
"Di sini nggak papa? Atau mau yang indoor disana?" tawar Adis setelah berhenti dan menatap Satrio yang menebarkan pandangan ke setiap sudut tempat makan yang ternyata lumayan rame itu.
"Sini aja deh." kata Satrio sambil beranjak duduk sambil menatap sepeda yang menempel di tembok, di susul Adis yang kemudian mengulurkan daftar menu pada Satrio.
Satrio masih asik menikmati suasana sekitarnya yang sangat asik menurutnya.
"Aku tulisin. Kamu sebutin mau makan apa." kata Adis sudah siap dengan pulpen dan nota order di depannya.
"Baiklah, Ma." jawab Satrio sambil tertawa meledek.
Dia jadi inget kebiasaan mamanya kalau keluarga mereka lagi keluar makan.
Kelakuannya persis kayak Adis gini.Suka nulis sendiri menu yang dipilih di nota order walau kadang ada waitress yang bersiap menuliskan menu pilihan mereka.
"Ma....Ma....." sungut Adis sambil melirik galak.
Satrio tergelak.
"Kamu kayak mamaku kalau berhadapan sama nota order begitu. Sukanya nulis sendiri pesanan kami." kata Satrio sambil tersenyum.
Adis tersenyum malu.
Satrio menunduk menatap daftar menu dan pura- pura tak tahu senyum malu Adis itu.
Ada kebahagiaan dan rasa hangat menelusup ke dalam hatinya saat melihat senyum malu itu.
"Jadi mau ingkung?" tanya Adis sambil menatap Satrio yang masih asik menatap daftar minuman.
Jari telunjuknya nampak naik turun di antara nama- nama minuman yang tertulis.
"Iya." jawab Satrio.
Adis sudah menulis pesanan untuk dirinya sendiri yaitu float strawberry dan tahu crispy.
"Wedang uwuh aja gimana?" tanya Adis cepat.
"Ya udah. Nurut aja deh sama rekomendasi Ibu." kata Satrio sambil terkekeh.
"Ibu....Ibu...." omel Adis sambil beranjak berdiri setelah menuliskan sesuatu di nota order.
"Mau kemana?" tanya Satrio.
"Nganter nota ini." jawab Adis sambil melambaikan nota order.
"Aku aja sini. Kamu duduk aja." pinta Satrio sambil mengambil nota dari tangan Adis.
"Di balikin ke tempat tadi kan?" tanya Satrio.
"Iya." jawab Adis sambil mengulurkan daftar menu pada Satrio agarsekalian di kembalikan.
"OK! Don't go anywhere." kata Satrio menunjuk Adis dengan jempol dan telunjuknya yang seperti menembak.
Selain menyerahkan nota orderan mereka, Satrio ternyata memesan satu porsi ingkung utuh yang akan di bawanya ke rumah kakaknya Adis sebagai buah tangan.
Nggak enak rasanya datang pertama kali ke rumah orang di malam yang sudah agak larut tanpa membawa buah tangan.
Saat Satrio mendekat ke arah Adis, dari jauh dilihatnya perempuan itu sedang menelpon.
Tapi kegiatan itu berakhir begitu dia sudah tinggal tiga langkah di belakang Adis.
"Telpon siapa?" tanya Satrio mengagetkan Adis yang langsung membalikkan badannya.
__ADS_1
"Astagfirullah.....ngagetin aja!" seru Adis tertahan.
"Sorry...sorry....." kekeh Satrio.
"Siapa yang nelpon?" tanya Satrio lagi.
"Mbak Desi.Istrinya Mas Didit. Nanya aku sampai sana jam berapa? Naik apa? Aku bilang lagi mampir makan dulu sama temen." terang Adis.
"Nanya nggak temenmu cowok apa cewek?" tanya Satrio penasaran.
"Nanya. Aku jawab kalau cowok tetangga. Kenalannya Reta." jawab Adis dengan senyum salah tingkah.
"Heeeee?! Kenalannya Reta?!" tanya Satrio keheranan dengan model jawaban Adis pada iparnya barusan.
"Mereka lebih percaya Reta daripada aku dalam menilai seseorang. Kalau Reta feeling OK, berarti orang itu OK." kata Adis dengan wajah cemburu.
Satrio tersenyum geli melihat wajah itu.
"Berarti aku masuk kategori OK dong ya?" tanya Satrio dengan nada bangga yang dibuat- buat.
Adis hanya melengos.
Haduuuuuh, keceplosan! Di jamin deh,si Bapak kucing ini bakal over confidence setelah ini.
"Iya kan?" tanya Satrio sambil tertawa- tawa tengil.
"Hmmm...." jawab Adis dengan wajah kesal.
"Ada orang OK kok wajahmu kesel gitu. Nggak terima kalau aku OK?" ledek Satrio semakin menjadi saja.
"Biasa aja. Ngapain nggak terima? Nggak ngefek juga." kata Adis dengan wajah keruh.
Satrio semakin senang melihatnya.
"Papanya Reta dimana? Kalau boleh tahu." kata Satrio pelan.
Adis mematung. Ingat Beni.
Matanya menatap Satrio datar.
"Sorry....." kata Satrio penuh sesal.
"Meninggal di hari yang sama saat Reta lahir." kata Adis berat membuat Satrio tercekat.
Tak terbayangkan bagaimana perasaan yang harus ditanggung Adis waktu itu.
Kehilangan besar bersamaan dengan saat kedatangan hal besar lainnya.
Secampur aduk apa perasaan Adis kala itu?
"Innalilahi wa Inna ilaihi rojiun.....I' m so sorry." kata Satrio lirih.
"Nggak papa. Udah lama ini. Aku sudah melewati fase terberatnya. Yaaa walaupun belum pulih seutuhnya, tapi aku sudah ikhlas melepasnya kembali pulang." kata Adis dengan senyum getir.
Wajahnya nampak sekali menahan pilu.
Satrio sangat menyesal telah menanyakan hal barusan.
Apakah Adis masih sangat mencintai suaminya?
Kalau dilihat dari ekspresinya, sepertinya iya. Adis masih mencintai almarhum.
Ada sedikit nyeri yang tiba- tiba mencubiti batin Satrio.
__ADS_1
Sepertinya saingannya berat untuk meraih hati Adis.
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...