KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Jodoh Lukas


__ADS_3

Bu Katarina mengernyitkan dahinya saat membaca pesan dari suaminya yang pamit harus ke Jogja hari ini juga dan akan berangkat langsung dari kantor.


Apa ada sesuatu yang terjadi pada Satrio dan keluarganya?


Bu Katarina bergegas menelpon Adis untuk menanyakan keadaan anak, menantu, dan cucunya. Alhamdulillah Adis melegakan hatinya karena mengabarkan kabar baik- baik saja.


Bu Katarina kemudian berpikir berarti benar- benar ada masalah bisnis yang memaksa suaminya harus ke Jogja.


Tapi setahunya mereka tidak punya usaha di Jogja.


"Trus ngapain Papa kesana?" gumamnya sendirian.


Karena penasarannya belum terjawab dengan tuntas, Bu Katarina menelpon Satrio.


Bukan kebiasaannya sih menelpon anak- anak di tengah jam kerja mereka. Dan tentu saja Satrio kaget saat melihat panggilan telpon dari mamanya.


"Assalamualaikum,, Ma....tumben Ma...Ada apa?" tanya Satrio agak heran.


"Wa' alaikumsalam, Mas....Kalian semua sehat kan? Baik- baik aja kan?" tanya Bu Katarina cepat dan sedikit cemas.


"Kami semua sehat, baik, Ma... Alhamdulillah...Kenapa, Ma?" tanya Satrio heran.


"Enggak...Kok Papa mau kesitu hari ini. Kirain kalian nyembunyiin sesuatu dari Mama." kata Bu Katarina penasaran.


"Mungkin ada kerjaan, Ma..."


"Tapi kan kita nggak punya usaha di Jogja, Mas..." potong Bu Katarina yang diiyakan Satrio dalam hati.


Diam- diam dia juga keheranan.


"Mungkin rekan bisnisnya bisanya ketemuan di Jogja,Ma...Siapa tahu..."kata Satrio kemudian.


"Iya juga sih. Mungkin itu. Karena Papa dadakan kesitunya. Ya udah kalau begitu. Sehat- sehat ya kalian disitu. Assalamualaikum..." kata Bu Katarina kemudian menutup telpon.


"Mama, Bang?" tanya Widuri yang sepintas menguping percakapan Satrio.


"Iya. Penasaran kenapa Papa mendadak pamit ke Jogja hari ini." kata Satrio yang di sambut anggukan mengerti Widuri.


"Berarti hari ini Papa kesini,Bang?" tanya Widuri lagi.


"Iya." jawab Satrio santai.


"Mbak Adis udah kamu kasih tahu belum? Siapa tahu mau mampir rumahmu kan?" tanya Widuri mengingatkan.


"Oh iya...Lupa aku kalau ada mantunya Papa." kekeh Satrio kemudian menulis pesan pada Adis.


"Payah!" cibir Widuri dengan wajah sebal.


"Ternyata Papa udah nelpon Adis, katanya nanti mau makan siang di rumah." kata Satrio setelah membaca balasan pesan dari Adis.


"Kamu nanti mau pulang, Bang?"tanya Widuri.


"Enggak. Ngapain? Lagian Adis bilang barusan Papa minta supaya nggak ngasih tahu aku. Apa- apaan coba itu? Mau main belakang?" sungut Satrio dengan wajah kesal.


Widuri tertawa melihatnya.


"Mungkin Papa mau menikmati rasanya punya anak cewek dan nggak direcokin. Masak gitu aja cemburu." kata Widuri menghibur.


"Adis kan istri gue." sungut Satrio masih nggak terima.


"Iyaaaa...Makanya aku bilang Mbak Adis itu anak ceweknya Papa, karena dia istrimu. Ih, nyebelin banget ngeliat kamu cemburu. Amit- amit...semoga suamiku nggak cemburuan kayak gini." kata Widuri ikut- ikutan kesal melihat kecemburuan Satrio.


"Lu belum tahu aja kelakuan Wira kalau lagi cemburu. Lebih parah dari gue." ledek Satrio berdusta.


Lagian seumur hidupnya kayaknya Wira nggak pernah nunjukin pernah jatuh cinta sama seorang cewek.Gimana bisa dia akan keliatan cemburunya kan?


"Lha kok jadi bergeser ke Mas Wira. Lagian apa urusannya aku sama cemburunya Mas Wira?" elak Widuri dengan wajah ditekuk.


"Ya siapa tahu ntar kalian jadi beneran pacaran. Lu udah gue kasih tau dulu kalau dia cemburuan parah." kekeh Satrio yang mendapat cibiran sengit dari Adis.


"Nggak usah benci- benci gitu sama adik gue. Ntar bucin mam pus lu." ledek Satrio belum selesai.


"Aku nggak benci sama dia. Sebel aja sama kamu Bang, jodohin aku terus sama Mas Wira. Kayak anak kecil aja." sergah Widuri cepat.

__ADS_1


"Ya kan karena gue sayang kalian berdua. Lagian Wira itu suka beneran sama lu...."


"Heleh! Berdusta!" potong Widuri cepat.


Satrio berdecak kesal dengan kengeyelan Widuri itu.


"Beneran! Masak lu nggak bisa baca sinyal- sinyal cinta dari dia...Jual mahal ya lu? Nyesel lu nggak mau sama Wira. High quality jomblo tahu nggak sih?" ledek Satrio sambil menunjuk muka Widuri.


Widuri masih bergeming dengan kecuekannya.


Dibiarkannya Satrio terus saja menggiringnya untuk terus membicarakan soal Wira.


Dan semua kebaikan Wira yang dibicarakan Satrio memang sesungguhnya Widuri percaya.


Dan soal Wira yang menaruh hati padanyapun dia sebenarnya juga bisa merasakan itu walau Wira belum ngomong padanya.


"Pak Cahyo kemana sih?" tanya Widuri setelah akhirnya Satrio berhenti ngoceh.


"Tadi sih katanya mau meeting. Nggak tahu meeting apa. Yang diundang tadi kalangan manager ke atas.". terang Widuri kini sudah mulai kembali menekuni kerjaannya.


Satrio terus terang saja sudah nggak terlalu kepo dengan segala sesuatu yang akan berlangsung di perusahaan ini ke depannya. Toh dia akan segera meninggalkan perusahaan ini.


Yang penting baginya sekarang menyelesaikannya yang jadi tanggung jawabnya hingga nanti saat hari dia keluar dia tidak meninggalkan tugas yang belum kelar.


Dia ingin pergi dengan meninggalkan kesan baik bagi semuanya.


Bagaimanapun disinilah dia pertama kali belajar hidup dan membuka mata pada kenyataan lain dari kehidupan.


Disini pula dia merasakan bekerja dengan sebenarnya dan merasakan sensasi kebahagiaan lain setiap kali menerima gaji.


"Denger gosip terbaru nggak, Bang?" tanya Widuri setelah cukup lama mereka berdua saling membisu dan tenggelam dengan tugas masing- masing.


"Gosip apaan?" tanya Satrio ogah- ogahan.


"Katanya perusahaan ini mau dijual." kata Widuri memelankan suaranya.


"Yang bener lu?!" tanya Satrio setengah khawatir.


Dia khawatir dengan nasib kawan- kawannya.


"Trus nasib karyawannya gimana?" tanya Satrio kemudian.


"Katanya sih dibeli sekaryawannya sekalian. Jadi perubahan hanya di pemilik usaha. Kalau lainnya nggak ada yang di utak- atik. Katanya sih begitu...Tapi nggak tahu nanti ke depannya gimana. Semoga aja nggak nyusahin karyawan." kata Widuri penuh harap.


"Kalau ntra elu udah nggak nyaman, cepetan resign aja. Urusin perusahaan lu sendiri." kata Satrio sok menasehati.


"Hmmm..." jawab Widuri asal.


"Beneran ini gue ngomongnya...!" kata Satrio merasa diabaikan.


"Iyaaaa..." sahut Widuri cepat sebelum abangnya itu merepet bibirnya macam petasan banting.


Pak. Cahyo belum juga balik sampai memasuki jam istirahat.


"Kayaknya beneran serius meetingnya." gumam Satrio sambil melenggang ke parkiran untuk mengambil motornya.


Lukas sudah menunggunya di depan pos satpam untuk memboncengnya nanti.


"Widuri nggak ikut?" tanya Lukas saat dia tidak melihat penampakan Widuri di sekitar mereka.


"Enggak. Katanya tadi ikut rombongan pesen beli mi ayam sama orang packing." jawab Satrio menjelaskan.


"Jadi pengen mie ayam..." gumam Lukas.


"Ya udah kita beli mie ayam aja." kata Satrio sambil mengarahkan motornya ke warung mie ayam langganan mereka.


"Puas- puasin jajan makanan rakyat jelata mumpung masih disini, Sat. Besok kalau udah di Jakarta kamu udah jadi boss, makan siangnya harus di resto." kata Lukas sambil tersenyum. Tangannya sedang menyendok saus sambal murahan yang entah kenapa bisa bikin rasa mie ayamnya jadi yummy banget di lidah Satrio.


"Ngadi- ngadi aja lu kalau ngomong." sergah Satrio sambil menyendok sambal yang banyakan airnya daripada sambal aslinya.


"Lha kan lucu kalau kamu pake jas, pake dasi, makannya di warung mie ayam bakso atau di warmindo..." kata Lukas setelah menelan mie ayam sendokan pertamanya.


"Jas dan dasi kan bisa gue comot dulu, Bambaaaang!" ketus Satrio kesal kemudian menyumpal mulutnya sendiri dengan banyak mie ayam dengan sumpitnya.

__ADS_1


Lukas hanya terkekeh- kekeh melihat kekesalan Satrio.


"Besok kalau aku piknik ke Jakarta boleh mampir ke rumahmu nggak, Sat?" tanya Lukas dengan wajah serius.


Satrio terkekeh melihat wajah Lukas itu.


"Ya haruslah! Kalau ke Jakarta lu harus ngabarin gue. Tidur di rumah gue aja. Nggak usah nyari hotel. Mayan kan irit duit lu." kata Satrio sambil tertawa.


"Beneran lho ya..." sahut Lukas senang.


"Iya! Lu mau ajak piknik siapa? Ibu sama ponakan lu?" tanya Satrio serius.


"Ya iya...Ya sama seseorang juga kalau dia mau." kata Lukas dengan wajah malu- malu.


"Seseorang siapa? Widuri? Nggak bakalan mau dia. Yakin gue." kata Satrio serius.


"Bukaaaan. Aku lagi berusaha move on seperti katamu." kata Lukas sambil tersenyum- senyum.


Satrio menatap Lukas sekilas dan bisa melihat raut bahagia di wajah Lukas.


Wajah orang yang lagi jatuh cinta sih kayaknya


"Alhamdulillah kalau lu udah bisa jatuh cinta lagi. Ikut seneng gue. Tapi nggak salah orang lagi kan?" tanya Satrio cepat.


"Mudah-mudahan enggak salah jatuh cinta lagi." jawab Lukas sambil tertawa malu.


"Anak mana?" tanya Satrio penasaran.


"Aslinya orang Salatiga. Pindah kesini ikut simbah nya ( kakek neneknya) karena orang tuanya meninggal bersamaan karena kecelakaan." jawab Lukas sedikit sedih.


"Innalilahi wainna ilaihi rojiun...."


"Yang ngenalin malah Sabina, ponakanku." sambung Lukas sambil tersenyum sebelum kembali menyuap mie ayamnya.


"Kok bisa?" tanya Satrio di tengah-tengah kunyahannya.


"Nolongin Sabina jatuh pas lagi sekolah Minggu. Nggak tahu gimana ceritanya dengkulnya sampai luka lumayan banyak dia. Nah Lydia yang ngobatin si Sabina. Pas aku jemput Sabina, aku malah dikenalin sama dia.Manis, Sat." puji Lukas sambil mengacungkan jempolnya.


"Bener ya, anak gereja ya...?" kata Satrio menegaskan.


"Udah bener. Aku udah sering ke gereja bareng sama dia." kekeh Lukas senang.


"Wah! Bergerak di bawah tanah juga ternyata lu! Kirain lagi naksir- naksir aja. Udah jalan aja lu. Udah jadian belum?" tanya Satrio antusias.


"Udah. Baru jalan dua bulan ini." jawab Lukas sambil tertawa malu.


"Wah, kelewatan lu! Punya pacar baru nggak bilang- bilang. Mau menghindari pajak jadian lu?!" sungut Satrio dengan wajah kesal.


Lukas terbahak mendengarnya.


"Nggak mau tahu. Nih mie ayam lu yang bayar semua. Trus besok lu traktir gue sama si Tomboy maksi lagi. Gue mau makan udang asam manis besok." kata Satrio nggak mau tahu.


Lukas hanya tertawa- tawa menanggapinya.


Apa yang diminta Satrio bukan hal berat lagi bagi kondisi kantongnya sekarang.


Tentu saja dengan senang hati dia akan menuruti keinginan Satrio itu.


"Ngerampok itu namanya kamu, Sat. Aji mumpung. Udang asam manis mahal, Sat. Belum lagi nanti Widuri pasti mintanya ayam ingkung...Mie ayam lagi aja ya?" bujuk Lukas dengan wajah memelas walau tetap tertawa.


"Nggak! Mau gue pecat lu jadi direktur Batakoo?" sergah Satrio dengan gaya soknya.


Dia pura- pura lupa kalau Batakoo sudah jadi milik Lukas sepenuhnya.


Di dalam hatinya Satrio sangat senang bila pada akhirnya Lukas sudah bisa menemukan cintanya yang baru.


Semoga saja Lydia adalah jodoh terbaik bagi Lukas nantinya.


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚 ...


Mohon maaf lagi ya, kemarin nggak bisa up karena RL sedang mengejutkan 😅


Semoga besok Minggu bisa up buat ganti kemarin 😀

__ADS_1


Happy reading semuanya....💖💕


Jaga kesehatan selalu ya....❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2