KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Bertemu Reta


__ADS_3

"Sore...." balas Bu Katarina sambil tersenyum dan menajamkan penglihatannya.


Nampak jelas dahinya mengernyit karena sedang mencoba mengingat- ingat.


"Oma...." sapa Reta riang sambil melambaikan tangannya dari balik pundak Satrio.


Bu Katarina semakin mengernyit nampak sedikit terkejut mendengar panggilan itu.


Adis yang melihat ekspresi itu semakin merasa tak karuan.


Jangan- jangan Reta dianggap lancang lagi....


"Masyaa Allah....Reta...! Adis...!" seru Bu Katarina setelah berhasil mengingat keduanya.


Dia bergegas mendekat ke gerbang.


"Ayo masuk...Masuk...." ajak Bu Katarina sambil menerima salim Adis yang nampak salah tingkah menatapnya takut- takut.


"Masuk dulu sebentar nggak papa. Ada Papa dan Wira juga." kata Satrio sambil menatap Adis sedikit memohon.


Reta yang sudah turun dari gendongan Satrio sudah digandeng Bu Katarina untuk masuk ke rumah.


"Nggak papa aku kayak gini menyapa orangtuamu?" tanya Adis setengah berbisik sambil menunduk menatap tampilannya yang senja itu memakai gamis rumahan berpotongan A line garis kecil horizontal berwarna hijau muda dengan jilbab instant kuning gading.


"Nggak papa. Cantik kok. Lagian kan nggak sengaja mau ketemunya." kata Satrio menyakinkan.


Adis mengangguk ragu.


Rasanya pengen lari pulang dulu buat berpakaian yang lebih baik.


Tapi kalau itu dia lakukan jelas nggak enak banget karena mama Satrio sudah melihatnya tadi.


Biarlah begini saja. Satrio juga bilang nggak papa karena nggak sengaja mau ketemu.


"Yuk" ajak Satrio setelah memindahkan motor Adis ke depan garasi.


Adis bergegas menutup pintu gerbang kecil di dekatnya sebelum dengan hati yang bertalu- talu mengikuti langkah santai Satrio memasuki rumahnya.


Ini kali pertama Adis memasuki rumah Satrio. Sekilas dia melirik interior ruang tamu yang di desain minimalis namun terkesan maskulin itu.


Keren.


Dan jantungnya seperti mau terjatuh saat dia mendengar celotehan riang Reta ditimpali tawa dua orang pria dewasa.


"Pa, kenalin ini Adisty." kata Satrio sambil menunjuk Adis yang dengan malu- malu mengulurkan tangannya pada Pak Susilo yang langsung berdiri menyambut uluran tangan Adis.


Reta langsung duduk tenang di pangkuan Wira.


Ya ampun Reta...Kamu nempel sama siapa itu,Nak....?


"Call me Mister Susilo." kata Pak Susilo dengan wajah serius. Membuat Adis kaku di tempat dan Satrio menepuk dahinya dengan kesal melihat gaya papanya itu.


Ngerjain anak orang aja sukanya.


"Becanda...." kata Pak Susilo kemudian sambil tersenyum riang. Membuat Adis yang nyaris mati kaku langsung menghembuskan nafas lega


Ternyata bercanda. Hufff....!


"Duduk Dis." perintah Pak Susilo sambil kembali duduk.


"Aku belum dikenalin,Pa." protes Wira sambil menatap papanya .


"Terus masalah buatku?" tanya Pak Susilo cuek. Membuat Satrio dan Wira menambah kadar kesal di wajahnya.


"Adisty." kata Adis sambil mengulurkan tangannya pada Wira malu- malu.


Ekor matanya menangkap Reta yang mengikuti ajakan Bu Katarina masuk ke dapur.


"Perwira. Panggil Wira saja. Kita seumuran kayaknya. Tapi berhubung kamu pacarnya kakakku, aku panggil Mbak nggak papa ya?" tanya Wira ramah.


"Ya iyalah lu harus manggil Mbak. Masak mau lu panggil 'Yang'. Yang ada lu harus baku hantam dulu sama gue." sergah Satrio sambil melirik sadis pada Wira.


"Iya,Mas...Iyaaaa!" kata Wira kesal.


"Sering main kesini, Dis?" tanya Pak Susilo ramah tak memperdulikan dua anaknya yang saling sewot.


Adis menggeleng malu.


"Nggak pernah, Om. Maaf. Ini pertama kali Saya masuk rumah ini." kata Adis dengan wajah khawatir.


"Hah? Seriusan kamu nggak pernah main kesini?!" tanya Wira kaget, menatap Adis dan Satrio tak percaya.


Adis mengangguk takut- takut.


"Ma...maaf...Saya nggak e...nak aja ka...kalau masuk rumah cowok sendirian." kata Adis salah tingkah.


Pak Susilo mengangguk- angguk saja.


Wira menahan tawanya setengah mati sambil mengolok Satrio dengan tatapan 'mam pus lu'.


"Katanya suka ngasih makan Satrio. Makasih ya udah mau ngasih makan dia." kata Pak Susilo kemudian sambil melirik kesal ke anaknya.


Adis melirik Satrio yang senyum- senyum senang di sampingnya.


Dih, dikasih makanan aja dilaporin sama bapaknya.


"Nggak sering juga kok, Om. Maaf kalau tidak berkenan." kata Adis takut.

__ADS_1


"Om sih berkenan- berkenan aja. Seneng malah. Masalahnya, kamu boros nggak ngasih makan dia?" tanya Pak Susilo membuat Adis meringis malu.


Oh, sungguh calon mertua yang anti mainstream.


"Nggak kok, Om. Nggak papa." jawab Adis kemudian.


"Minta Satrio nyetor uang kalau mau makan masakanmu. Jangan dibiarin keenakan numpang makan terus sama kamu, Dis." kata Pak Susilo dengan tatapan memperingatkan pada Satrio.


"Iyaaa...Besok aku setooor." kata Satrio dengan cemberut.


"Ya emang harus gitu. Apa hebatnya laki- laki yang maunya nerima makanan gratis terus dari cewek? Kalau Papa punya anak cewek, nggak bakalan Papa lepasin anak cewek Papa sama laki- laki yang suka gratisan." kata Pak Susilo sambil melihat wajah cemberut Satrio.


"Astaga Papa...Iyaaaa....aku bakal kasih uang Adisty, Papaaaa...." kata Satrio mulai malu karena diomelin Papanya di depan kekasih hatinya.


Dalam hati Adis tertawa melihat Satrio yang habis tak berkutik di bantai papanya sendiri.


"Ya memang harus begitu." gumam Pak Susilo setengah sewot.


"Reta dateng kapan?" tanya Satrio pada Adis untuk mengalihkan pembicaraan yang sangat menjatuhkannya itu.


"Belum lama. Begitu selesai mandi langsung ngotot ngajak kesini." jawab Adis dengan wajah minta maaf.


Satrio tersenyum senang.


"Jatuh cinta beneran sama aku kayaknya dia." kata Satrio sambil terkekeh songong menatap papa dan adiknya.


"Pameeerrrr." sungut Wira sambil menginjak kaki Satrio yang langsung mengaduh.


"Tamu nggak ada akhlak lu! Tadi udah nendang pan tat gue. Sekarang nginjek kaki gue. Bentar lagi berani lu noyor pala gue, gue kutuk lu!" omel Satrio kesal.


Wira hanya terkikik- kikik cuek.


"Mama..." Reta melangkah cepat menuju pangkuan Adis sambil memegang potongan kue di tangannya.


Dibelakangnya Bu Katarina membawa satu gelas berisi minum untuk Adis.


"Makan apa?" tanya Adis sambil menatap kue yang sudah tinggal beberapa gigitan itu.


"Kue... Hokkaido chocolate cheese tart. Bener ya Oma?" tanya Reta sambil menatap Bu Katarina setelah sebentar mengingat nama kue kecil ditangannya yang namanya panjang itu.


"Betul! Pinter Reta." jawab Bu Katarina sambil mengacungkan satu jempolnya.


Reta hanya tersenyum malu sambil kembali menggigit sisa kuenya.


"Sudah bilang terimakasih belum sama Oma?" tanya Adis pelan.


"Sudah." jawab Reta sambil mengangguk.


"Pinter." puji Adis sambil memeluk Reta.


"Di minum dulu Dis." kata Bu Katarina sambil menunjuk gelas di depan Adis.


"Nggak ada repot- repot. Santai saja." kata Bu Katarina sambil tersenyum.


"Reta ke Jogja sini naik pesawat tadi?" tanya Pak Susilo sambil menatap Reta.


"Iya." jawab Reta setelah menelan kunyahannya.


"Sama siapa naik pesawatnya?" tanya Satrio kemudian.


"Sama Kakek dan Nenek." jawab Reta senang.


Satrio menatap Adis kaget.


"Orangtuamu?" tanya Satrio kaget. Adis mengangguk kecil.


"Dadakan juga. Papa dan Mama nggak ngabarin dulu kalau mau kesini." kata Adis menjelaskan.


"Tadi dari bandara di jemput sama Papi dan Mami dan Adik Cleo juga." kata Reta bercerita.


"Siapa itu Papi dan Mami?" tanya Bu Katarina sambil menatap Adis penasaran.


"Kakak dan ipar saya, Tante. Sama ponakan." jawab Adis yang disambut anggukan mengerti oleh kedua orangtua Satrio.


Percakapan mereka kemudian berlanjut tak lama karena Adis kemudian berpamitan karena suara adzan magrib baru selesai berkumandang.


Reta bersikeras tidak mau di ajak pulang sekarang.


Setelah Reta berjanji akan pulang jam 7 nanti dan Satrio akan mengantarnya, Adis kemudian berpamitan.


"Ke masjid dulu yuk, Wir." ajak Pak Buwono pada Wira.


"Aku ganti baju dulu sama ambil sajadah." jawab Wira kemudian bergegas ke kamar yang kini ditempati Satrio.


Dan senyumnya mengembang lebar saat membuka pintu kamar dan dilihatnya Satrio sudah rapi dengan sarung dan baju kokonya.


Di tangannya sudah tergenggam sajadah.


"Tunggu.Gue ikut juga ke masjidnya." kata Wira tanpa mengomentari penampilan kakaknya.


"Gue tunggu di bawah." kata Satrio sambil menutup pintu kamar.


Satrio menangkap keterkejutan di mata Wira saat melihat penampilannya tadi. Beruntung mulut adiknya itu nggak mengeluarkan komentar sedikitpun selain seulas senyum lebar.


Dan tatapan terpana juga di dapatinya dari kedua orang tuanya begitu dia menginjak lantai satu rumahnya.


"Mau ke masjid juga,Mas?" tanya Mamanya.

__ADS_1


"Iya. Nunggu Wira bentar, Pa." kata Satrio berkata pada papanya sambil mengambil kunci motor.


"Motoran aja ya,Pa? Mobilnya belum dipanasin soalnya." tawar Satrio.


"Iya." jawab Pak Susilo santai.


"Let's go...." kata Wira setengah berlari menuruni tangga.


"Kami pergi dulu, Ma." pamit Pak Susilo sambil merangkul pundak kedua jagoan tampannya.


Satrio dan Wira melambaikan tangannya pada Reta yang menatap mereka tenang di samping Bu Katarina.


"Iya." jawab Bu Katarina kemudian menyusut airmata yang tiba- tiba terbit.


Melihat Satrio berangkat ke masjid seperti itu, sama sekali nggak pernah terlintas di benak keluarganya.


Mereka tahu bagaimana susahnya meminta dan mengajak Satrio sholat.


Apalagi dengan pergaulannya selama ini yang amat jauh dari nilai agama.


Satrio hanya bisa dipastikan ikut sholat pas hari raya Idhul Fitri saja.


Saat Idhul Adha hanya kalau dia pengen saja.


Tapi pemandangan yang tersaji di depan matanya barusan sungguh membuatnya ingin segera melakukan sujud syukur.


Ape perubahan Satrio ini karena Adis? Atau dia menemukan teman- teman yang bener disini?


Apapun itu penyebabnya, perubahan Satrio itu perlu disyukuri.


"Kita sholat dulu yuk,Reta." ajak Bu Katarina pada Reta yang berdiri setia di sampingnya.


"Aku nggak bawa mukena, Oma." jawab Reta kemudian.


"Hmmm...Ada mukenanya Oma di lemari. Kita pinjem atasannya aja, trus nanti di peniti di bawah dagu biar nggak kegedean bolongan kepalanya. Gimana?" tawar Bu Katarina.


"Iya. Nggak papa." jawab Reta kemudian mengikuti ajakan Bu Katarina untuk berwudhu.


"Om Rio kok belum pulang- pulang sih Oma ke masjidnya?" tanya Reta setelah keduanya selesai sholat dan kini duduk berdua menonton film Upin dan Ipin.


"Mungkin sebentar lagi. Kenapa? Udah pengen pulang?" tanya Bu Katarina.


"Nggak papa.Kangen aja." jawab Reta sambil tertawa, membuat Bu Katarina terperangah mendengarnya.


"Kangen? Sama Om Rio?" tanya Bu Katarina tak percaya.


"Iya!" jawab Reta yakin.


"Apa yang dikangenin dari Om Rio? Nakal gitu." pancing Bu Katarina.


"Om Rio nggak nakal, Omaaaa...Om Rio itu baik. Sayang sama Mamaku,sayang sama aku juga. Kata papaku,Om Rio yang akan jagain aku sampai aku gede. Jadi aku juga harus sayangi Om Rio." kata Reta menerangkan.


Bu Katarina agak heran dengan kata Reta soal papanya.


Bukannya papa anak ini udah meninggal ya?


"Papa Reta yang mana nih? Oma nggak ngerti." pancing Bu Katarina.


"Papa Beni. Papaku yang udah meninggal." jawab Reta santai.


Tiba- tiba Bu Katarina deg- degan takut.


Kok obrolan bocah ini agak horor sih?


"Papamu kan udah meninggal? Kok bisa bilang kalau Om Rio yang akan jagain kamu sampai gede? Oma bingung ah." kata Bu Katarina dengan wajah frustasi.


"Papaku suka nemuin aku di mimpi, Oma. Jadi aku bisa ngobrol sama Papaku. Mama kasihan deh, nggak pernah dimimpiin sama Papa." cerita Reta sambil tersenyum iba untuk mamanya.


Bu Katarina melongo sambil mengangguk- angguk mengerti.


Ya ampun....pasti semasa hidupnya mendiang Beni sangat sayang sama anak istrinya. Bahkan sampai sekarang saja masih berusaha ' mengasuh' anaknya.


"Reta mau kalau Om Rio jadi ayahnya Reta? Gantiin papa Beni jagain Mama dan Reta?" tanya Bu Katarina usil.


"Mau. Kalau yang sama Mama Om Rio, aku mau. Kalau Om Panji aku nggak mau. Aku nggak suka." kata Reta dengan wajah sedih.


"Memangnya Om Panji itu siapa?" tanya Bu Katarina semakin kepo.


"Temennya Mama. Jahat dia, Oma. Suka dorong- dorong Mama, suka bentak- bentak Mama. Dan dia nggak sayang sama aku." kata Reta sedih sambil menunduk.


"Astagfirullahaladzim...." seru Bu Katarina sambil membekap mulutnya.


"Mama suka nangis Oma kalau Om Panji marah. Tapi nggak pernah ngebolehin aku cerita sama siapa- siapa kalau Om Panji nakal." adu Reta lagi.


Bu Katarina segera memeluk Reta.


"Udah, jangan diinget- inget lagi ya. Om Panji udah nggak akan gitu lagi sama Mama.Kan udah ada Om Rio yang akan jagain Mama dan Reta. Kalau Om Panji mau nakal lagi, pasti Om Rio akan jagain kalian." kata Bu Katarina sambil menciumi puncak kepala Reta.


Kenapa aku jadi ngerasa sedih banget gini sih?


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g🧚🧚🧚...


Yang kangen Reta semoga seneng ya bisa ketemu Reta kali ini šŸ˜€


Dan dilarang protes kurang panjang karena sudah 1900 kata šŸ˜€ Udah mau mencapai batas maksimal penulisan 1 episode.


Terimakasih bunga- bunga, kopi- kopi, dan vote- vote nya....šŸ™šŸ˜

__ADS_1


Happy reading semuanyaaaaa....šŸ’–šŸ’•


__ADS_2