KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Pertemuan


__ADS_3

Satrio seperti kejatuhan bulan di pagi buta saat Adis berbisik lirih di telinganya.


"Boleh buka yang bawah."


Satrio sampai harus menatap Adis dengan seksama untuk meyakinkan dirinya kalau telinganya barusan nggak salah dengar.


Ini kan baru dua hari. Katanya tiga hari lagi....


"Beneran?" tanya Satrio dengan ragu.


Adis hanya mengangguk malu- malu.


Secepat kilat Satrio menarik turun celana pendek yang di pakai Adis.


Bahkan dia mengamati dengan seksama area segitiga bermudanya.


Bersih.


Girang tak terkira hati Satrio saat ini.


"Ini yang special?" tanya Satrio sambil menunjukkan CD bersih Adis.


"Nggak special ya?" tanya Adis dengan sorot mata sedih walau bibirnya tersenyum malu.


Satrio bergegas menubruk kembali tubuh Adis yang sudah bersembunyi di bawah selimut.


Bisa tutup dadakan nih pintunya si Juminten.


"Kejutan yang sangat menyenangkan sekali, Sayang. Ku kira baru besok aku bisa nemuin Paijo sama Jumintennya." gumam Satrio sebelum kembali me lu mat bibir Adis yang langsung menyambutnya dengan gembira.


"Anggap saja ini soft opening." bisik Adis senang.


Satrio tak lagi berbicara.


Saat ini bukan waktunya banyak bicara.


Sekarang saatnya untuk banyak bekerja dan berkarya.


Walaupun pagi ini waktunya nggak leluasa, tapi dia harus bisa menunjukkan performa terbaiknya.


Memberikan menciptakan suasana intim yang total untuk bidadarinya ini.


Bagaimanapun ini adalah kali pertama mereka bercinta yang 'seutuhnya'. Jadi dia harus memberi sesuatu yang akan selalu terkenang manis selamanya.


Lihat saja, Adis bahkan terlihat seperti jadi orang lain saat benar- benar dikuasai hasrat yang sengaja di kobarkan oleh Satrio.


Dalam hati Satrio tersenyum puas saat dia tahu Adis sudah mencapai kli maks nya dua kali.


Tangan gue emang tangan surga... Istri gue nggak rugilah cinta dan ngarep sama gue...servis gue memuaskan....


"Boleh sekarang Paijo ketemu sama Jumintennya?" bisik Satrio di tengah hasrat yang masih membakar Adis.


"Iya! Dia nunggu dari tadi, Mas..." jawab Adis dengan gerakan gelisah.


"O ya?! Kenapa nggak bilang, Sayang?" bisik Satrio kemudian merangsek memposisikan Paijonya di tempat terfokus agar bisa segera berjumpa dengan pasangan halalnya.


Setelah yakin Adis juga menginginkan pertemuan senjata andalan mereka itu, Satrio dengan gagahnya menuntun Paijonya menuju gerbang Juminten yang terlihat sudah sangat siap menerima kedatangan kekasihnya.


Pintu pagar sudah bisa dilewati dengan sangat mulus. Satrio mulai merasakan surga dunianya mulai melingkupinya.


Tapi ini baru masuk pintu pagar.

__ADS_1


Harus lebih masuk lagi agar bisa lebih merasakan dan menikmati keindahan surga dunia ini.


Deg!


Kok kayak pintunya belum kebuka...🙄


"Yang, kok susah ya?" bisik Satrio keheranan namun tetap berjuang merangsek masuk dengan pelan- pelan.


"Nggak tahu..." jawab Adis ikut bingung.


"Aku agak ngotot boleh nggak?" tanya Satrio yang hasratnya sebenarnya sudah ada di ubun- ubun.


"Nanti sakit nggak?" tanya Adis yang juga sudah sangat gelisah karena dia sudah sangat menunggu sesuatu yang bisa memuaskan has rat nya.


"Harusnya sih nggak..." jawab Satrio nggak yakin.


Ya harusnya juga nggak sesempit ini, Dis...kamu udah pernah ngelahirin lho.... Kenapa kayak yang belum pernah dipakai gini jalannya ??


"Maaf ya Sayang, aku paksa sedikit....Aku nggak tahan lagi. Nanggung ini..." bisik Satrio sambil menatap Adis memohon.


"Aku gigit kamu boleh kalau sakith? eggh...!!" tanya Adis saat merasa Paijo mulai merangsek.


"Gigit aja..." bisik Satrio sudah mulai berjuang membawa Paijo yang tadi sempat kebingungan.


Peluh akhirnya tak terhindar mengalir dari tubuh keduanya saat pelan namun pasti Paijo mulai bisa benar-benar bercengkrama dengan Jumintennya.


Saling memanjakan dan memuja, saling mengerti dan menyenangkan, kemudian bersama berlarian menuju pusat surga dunia mereka pagi itu.


Ternyata Satrio hanya perlu terus memberi kelembutan di hidden apple agar Jumintennya mau memberi akses masuk untuk Paijonya.


Hmmmm..... password yang menyenangkan bukan?


"Dikeluarin di dalam ya, Yang?" pinta Satrio dengan nafas yang sudah tak lagi beraturan.


Semua kenikmatan sedang berkumpul di raganya saat ini dan siap meledakkan kebahagiaan sesaat lagi.


Adis sendiri sudah tak perduli dengan pertanyaan itu. Setiap suara yang keluar dari mulut Satrio terdengar bagai de sa han yang semakin membuatnya terbakar nyaris tak tertolong lagi.


Dan pagi itu, saat mentari baru saja menampilkan semburat sinar pertamanya di ufuk timur, de sa han dan le ngu han panjang terdengar dari atas ranjang yang dihuni sepasang insan yang baru saja merayakan pencapaian mereka di puncak asmaranya.


Dengan tubuh bersimbah keringat, keduanya tersenyum lega dan bahagia saling me nge cup bibir kekasihnya.


"My best morning. Makasih, Sayang. Paijoku bahagia bangeeeet." bisik Satrio sambil memeluk gemas istrinya. Adis hanya membalas dengan kembali memeluk erat suaminya.


"Juminten bahagia banget nggak ketemu Paijo?" tanya Satrio sambil mengangkat dagu Adis yang kemudian malah me lu mat bibirnya sesaat.


"Banget! Juminten langsung kontrak mati sama Paijo ya? Janji ya?" pinta Adis dengan wajah serius.


"Janji! Sejak aku menikahi kamu, tentu saja Paijoku sudah kontrak mati sama Juminten. Dia hanya akan pulang pada Jumintennya." janji Satrio serius.


"Ma....ma....ma....Ya...ya...ya...." celotehan Bian dari box nya membuat Adis dan Satrio kaget.


"Ya Allah, hampir lupa kalau udah punya anak." gumam Satrio sambil memukul dahinya sendiri.


"Ih! Kok ngomongnya gitu sih?!" sungut Adis sambil bergegas mencari baju- bajunya di sekitar ranjang, kemudian dengan berlari ke kamar mandi.


"Ayo mas cuci dulu itumu." teriak Adis dari depan pintu kamar mandi.


"Ya....ya...ya..." suara ceria Bian kembali terdengar karena merasa sudah ada teman yang hidup di kamar.


"Ya....ayah ke kamar mandi sebentar ya Sayang." kata Satrio sambil melambaikan tangannya pada Bian yang sudah duduk dan melihatnya.

__ADS_1


"Ma....ma...ma...." serunya lagi.


"Tunggu ya....jangan nangis ya...." seru Satrio kemudian cepat masuk ke kamar mandi menyusul Adis.


"Kamu mandi sekalian aja, Ma. Bian biar aku pegang dulu. Dibikinin susu langsung?" tanya Satrio sambil mengguyur seluruh tubuhnya cepat, kemudian menyabuninya sangat cepat, kemudian langsung membilasnya dan bergegas keluar hanya dengan berbalut handuk.


Tidak ada dua menit. Dan Adis yang tadi niatnya hanya akan bersih- bersih mini, akhirnya tertawa melihatnya kemudian bergegas mandi besar.


Saat Adis keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan handuk kimono, Satrio yang sedang duduk di atas karpet kamar bersama Bian yang bermain dengan botol susunya yang sudah kosong, langsung tersenyum menatapnya.


"Segarnya mamamu,Bi...Hmmm...bikin pengen aja." gumam Satrio yang mendapat cibiran dari Adis.


"Ma...ma...ma..." Bian kembali menyapa mamanya dengan riang dan mengangkat kedua tangannya minta gendong pada Adis yang tadi melewatinya sambil tersenyum.


"Sebentar ya ganteng, Mama pakai baju dulu." kata Adis kemudian cepat menghilang ke area walking closet.


Rengekan Bian sudah mulai terdengar. Mungkin batas kesabarannya ingin di gendong mamanya sudah hampir habis.


Bujukan ayahnya sudah tidak mampu lagi menenangkannya.


"Ma...ma...ma... "


"Mau di gendong Mama ya? Mama lama ya? Maaf ya..." Adis bergegas meraih Bian dari gendongan Ayahnya. Tubuh bocah itu sudah meliuk- liuk minta mencari mamanya.


"Huuu...Mama terus yang di cari...Ayahnya nggak laku..." ledek Satrio sambil menowel- nowel pipi Bian yang kini sudah tertawa- tawa sambil menyembunyikan wajahnya di dada Adis.


"Heeei, itu wilayah punyanya Ayah. Kamu jangan ngumpet disitu..." kata Satrio sambil ikut menyembunyikan wajahnya di dada Adis.


"Ini ngapain siiiiih?!" kata Adis sambil menjauhkan wajah Satrio dari dadanya.


"Itu punyaku,Yang." kata Satrio nggak terima dengan wajah ditekuk.


"Punyamu kalau pas nggak pakai baju. Kalau pakai baju gini jadi punyanya Bian." kekeh Adis yang disambut wajah cerah dan lega Satrio.


"Kamu benar, Sayang. Masih menang aku banyak." kata Satrio sambil mencium pipi Adis senang.


"Ya...ya...ya..." Bian menepuk- nepuk wajah Satrio yang mencium Adis.


"Nggak boleh cium Mama juga? Punyanya Bian juga?" tanya Satrio tak percaya.


"An...an..." kata Bian sambil memeluk erat mamanya.


Adis tertawa senang.


"Senangnya jadi rebutan cowok- cowok cakep." kata Adis sambil menciumi pipi Bian yang terkekeh- kekeh senang.


"Ayah cepetan mandi. Udah siang ini. Bian juga mandi yuk." kata Adis sambil menatap Bian yang melonjak- lonjak senang.


"Aku tadi udah mandi kan, Yang?" tanya Satrio linglung.


"Belum. Bersih- bersih doang. Belum mandi junub." jawab Adis sambil mengerling sebelum membawa Bian keluar kamar.


Satrio tiba- tiba merasa Paijo dibawah sana seperti disapa.


Sial! Sensi amat lu, tong! Ntar malem lagi actionnya. Sekarang kita mandi. Kerja. Maunya enak- enak aja.


Satrio menyentil Paijonya pelan sambil meringis.


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...


Minggu yang panas ya....😅😅😅

__ADS_1


Anggap saja ini gantinya up kemarin 😀


__ADS_2