KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Kita kan....


__ADS_3

Satrio terdiam salah tingkah menghadapi Widuri yang menangis walau tak terisak- isak.


Jemari gadis itu mengusap- usap photo kedua orangtuanya di ponsel Satrio.


Melihat itu Satrio baru menyadari kebodohannya.


Harusnya kan dia bisa mengirim photo itu ke ponsel Widuri. Bukannya ditunjukin dengan ponselnya begitu.


Ealah Sat...Sat.... Pikiranmu terlalu fokus mikir urusanmu sendiri sama Adis.


"Kamu kirim photonya ke ponselku boleh ya, Bang?" tanya Widuri setelah menghapus airmatanya.


"Ah ya....ya...Boleh...boleh!" jawab Satrio setengah gugup.


Ternyata Widuri lebih cepat logis dibanding dirinya.


Widuri kemudian mengulurkan ponsel Satrio kembali pada empunya.


Dan tanpa diminta kembali Satrio kemudian mengirimkan dua photo yang dia dapat dari Wira kemarin.


Widuri tersenyum lembut setelah membuka pesan masuk di ponselnya.


Kiriman photo dari Satrio barusan.


"Kamu ternyata mirip mamamu wajahnya. Tapi nggak tahu mamamu tomboy nggak." kata Satrio mencoba mencairkan suasana sendu yang barusan tercipta.


"Papaku cakep ya,Bang?" tanya Widuri dengan tatapan bangga.


Satrio mengangguk setuju.


"Sayang, beliau udah nggak ada." kata Widuri kembali sedih. Matanya nampak kembali berkaca- kaca.


Satrio mengangguk, turut prihatin.


Widuri sudah mendengar cerita yang Satrio dapatkan dari Wira kemarin.


Saat ini mereka sedang duduk di salah satu sudut warung penyetan seusai bubar kantor.


Satrio sengaja segera membicarakan ini dengan Widuri agar cepat selesai.


Ada hal penting lain yang harus dia pikirkan setelah masalah Widuri ini.


Dia ingin fokus mengurus masalah percintaannya. Masa depannya.


"Seenggaknya sekarang kamu tahu ada yang harus kamu doakan juga selain Bapak dan Ibumu disini, yaitu Mama dan Papamu." kata Satrio setelah sesaat termenung.


"Mamaku kena gangguan jiwa sejak kapan, Bang? Apa sejak Papaku nggak ada? Atau karena kehilangan aku?" tanya Widuri penasaran.


"Belum tahu penyebabnya sih aku. Mungkin nanti adikku bisa dapat info soal itu. Hari ini katanya adikku akan mengunjungi Mamamu." kata Satrio sambil tersenyum.


Widuri mengangguk mengerti.


Sesungguhnya dia nggak sabar ingin segera bisa bertemu langsung dengan Mamanya. Memeluk beliau bagaimanapun keadaannya.


Tapi untuk terlalu agresif meminta tolong pada Satrio dia nggak enak hati.


Satrio mau menolongnya dengan suka rela saja dia sudah sangat terbantu.


Apalagi sekarang hasil sudah di depan mata.


Orangtuanya sudah bisa ditemukan tanpa dia susah payah sedikitpun.


Nggak tahu terimakasih banget kayaknya kalau dia nggak sabar sedikit lagi saja.


Nanti kalau sudah waktunya pasti Satrio akan menanyakan kapan dia akan menemui mamanya.


Widuri hanya tinggal menunggu saat itu saja.


Sabar sedikit lagi.


"Orang tua kamu ternyata sahabat keluargaku." kata Satrio setelah beberapa saat mempertimbangkan akan bilang atau tidak soal itu.


Akhirnya Satrio memilih bicara saja.


Toh bisa dibilang justru mamanyalah yang berhasil memecahkan teka- teki siapa orangtua Widuri lewat photo.


"HAH?!" Widuri sangat kaget mendengarnya dan Satrio sudah menduga itu.


"Photo kamu pas masih kecil yang diberikan nara sumber, sangat berguna untuk mencari tahu keluargamu." terang Satrio sambil menunjukkan photo dua gadis kecil pada Widuri.


Widuri sedikit mengernyit sebelum akhirnya bisa tahu salah satu gadis kecil itu adalah dirinya.


"Ini aku sama siapa?" tanya Widuri penasaran.


"Kamu sama anaknya tukang kebun keluargamu. Nara sumber utama adalah dulu tukang kebun keluargamu. Kebetulan beliau tinggal tak jauh dari alamat rumah lamamu." terang Satrio. Widuri mengangguk- angguk terharu.


Mungkin Allah jaga orang itu sampai sekarang agar bisa menemani takdir hidupnya bertemu kembali dengan keluarganya.

__ADS_1


Besok Widuri harus menemui Bapak itu dan berterimakasih padanya.


"Dari photo itu aku ingat pernah berphoto denganmu dan adikku. Aku punya photo masa kecil denganmu." kata Satrio lagi sambil tersenyum samar.


Widuri menatap Satrio tak percaya.


Matanya bahkan tak berkedip lama menatap Satrio saking kagetnya.


"Kedip Tom....Bikin takut aja." kata Satrio sambil nyengir kuda.


Widuri langsung tersipu malu.


"Kita kenal dari kecil, Bang?" tanya Widuri tak percaya.


"Kecil dulu pernah kenal." kata Satrio sambil mengangguk- angguk.


"Dan ternyata dulu kamu memang sudah memanggilku dengan sebutan BANG. Karena sebutan MAS kamu berikan buat adikku." kata Satrio sesuai dengan cerita Wira yang di dapat dari Mamanya.


"Allahu Akbar!!!" seru Widuri kemudian menutup mulutnya.


"Apa karena itu sejak awal aku kenal kamu disini ngerasa nggak mau banget manggil kamu dengan panggilan MAS?" tanya Widuri keheranan.


"Bisa jadi. Alam bawah sadarmu masih menyimpanku dalam memori." kata Satrio sambil tertawa meledek.


Widuri menyibirkan bibirnya.


"Adikmu secakep kamu nggak, Bang?" tanya Widuri sudah kembali ceria.


Mudah sekali membuat Widuri kembali ceria.


Asal diledekin saat sedih, pasti dia akan merengut tapi kemudian tertawa dan langsung kembali cerianya.


"Cakep dong! Jomblo pula." kata Satrio sambil tertawa.


"Hah? Jomblo juga?! Kayaknya kalian dikutuk deh,Bang. Cakep- cakep pada jomblo. Yang wajahnya pas- pasan aja pada selingkuh." kata Widuri sambil tertawa.


"Jangan ngarang lu! Kami yang cakep gini jomblo bukan karena nggak laku. Catet itu!" kata Satrio kesal.


"Trus karena apa? Karena nggak ada yang sudi?" ledek Widuri kemudian.


"Heh, bocah! Kami ini menghargai ketampanan kami. Makanya kami juga menyeleksi secara ketat siapa yang pantas mendampingi ketampanan kami." kata Satrio congkak.


"Heleh! Kakean ngomong! ( kebanyakan ngomong!). Kakean alibi." sanggah Widuri.


"Kamu mau aku kenalin ke si Sableng?" tawar Satrio untuk menghentikan ledekan Widuri.


"Adikku namanya Wira. Panggilannya Sableng." jelas Satrio.


"Kalau cuma kenal sih mau. Bahkan harus. Kan dia yang repot nyariin keluargaku. Aku harus berterimakasih sama dia." kata Widuri dengan senang.


"Pacaran sama dia juga boleh." kata Satrio sambil tertawa meledek.


"Kalau itu liat nanti aja deh." kata Widuri sambil nyengir.


"Adikku anak baik. Nggak pethakilan kayak aku. Recommended lah jadi suami." kata Satrio masih mempromosikan Wira.


Widuri hanya terkekeh.


Kalau si Sableng itu tahu kakaknya memuji- muji dia di depan cewek seperti ini, pasti bocah itu akan bersembah sujud padanya secara Satrio selama ini nggak pernah mau memuji adiknya.


"Ngaku dia kalau pethakilan." kata Widuri sambil tergelak menatap Satrio yang cengar- cengir.


Keseruan keduanya terhenti saat ponsel Satrio berdering.


Ada panggilan masuk dari kontak yang di beri nama NOMOR SINTING oleh Satrio.


Sejak beberapa bulan lalu nomor itu sering mengganggunya.


Namun tak pernah sekalipun Satrio menggubrisnya.


Dia selalu lupa untuk memblokirnya.


"Kok nggak diangkat, Bang?" tanya Widuri keheranan.


"Males. Ngapain!" jawab Satrio memilih mengecilkan volume ponselnya.


"Emang dari siapa? Kok sewot gitu mukanya? Dari mantan ya? Ngajak balikan?" duga Widuri.


"Katanya sih gitu. Nomor baru mantanku. Ngajakin ngobrol, tapi aku ogah." jawab Satrio dengan wajah yang kini di tekuk.


"Mungkin mau ngajak berteman aja, Bang. Nggak musuhan." kata Widuri kemudian, sok bijaksana.


"Idih! Ogah banget berteman sama mantan matre." sergah Satrio ketus.


Dia sedang memblokir nomer itu sekarang.


Dari pesan- pesan yang dulu Satrio terima dari nomer itu, dia mengaku sebagai Dea. Mantan pacar terakhirnya kemarin.

__ADS_1


Dia bilang harus ketemu Satrio Karena ada hal yang harus mereka bicarakan.


Hah! Memangnya masih ada yang bisa mereka bicarakan lagi setelah perempuan itu meninggalkan dia begitu saja?


Bisa saja Dea ngajak ketamu lagi karena tahu Satrio tak beneran bangkrut lalu dia akan ngajak Satrio balikan agar bisa menuruti keinginan- keinginannya lagi.


No way !!!


Satrio sudah move on.


Tak ada lagi sisa rasa untuk Dea sedikitpun juga di hatinya.


Lagian Satrio heran. Darimana Dea dapat nomer ponselnya yang baru? Secara nggak banyak temen- temen lamanya yang dia beri tahu nomor barunya ini.


Dan pemegang nomer baru Satrio adalah mereka yang tidak masuk circle pertemanan Dea.


"Sakit hati banget sama mantan, Bang?" tanya Widuri penasaran.


"Bisa dibilang begitu sih. Udahlah nggak usah dibahas lagi. Ngapain juga." kata Satrio kesal.


"Iya. Lagian sekarang kamu kan udah move on ya? Udah sama Adis kan?" tanya Widuri lagi.


"Hmmm." jawab Satrio sekenanya.


Biar aja Widuri taunya dia sudah jadian sama Adis. Biar nggak berisik dia.


"Aku doakan semoga kalian lancar sampai ke pernikahan. Langgeng sampai maut memisahkan." kata Widuri dengan tulus.


"Aamiin....." sahut Satrio sepenuh hati.


Satrio berharap semoga saja banyak malaikat lagi main di sekitar mereka saat ini dan ikut mengaminkan doa Widuri.


Satrio tiba- tiba merasa sangat butuh banyak doa agar bisa memiliki Adis sepenuhnya.


"Adis!" seruan Widuri membuyarkan lamunan Satrio.


Dia bergegas menoleh ke belakang dan mendapati Adis berdiri agak jauh disana tersenyum salah tingkah pada Widuri.


"Sini!" pinta Widuri riang dengan suara tertahan dan tangan yang melambai meminta Adis mendekat.


Aduh ini Bocaaaah!!!!


Adis salah sangka nggak ya saat ini?


Kok bisa Adis di daerah sini jam segini?


"Dis...." sapa Satrio kikuk setelah Adis mendekat dengan langkah ragu ke arah mejanya.


Adis hanya meliriknya sekilas.


"Ganggu ya aku?" tanya Adis sambil menatap Widuri nggak enak.


"Enggaklah! Aku yang minta maaf sama kamu karena ngrepotin Bang Satrio akhir- akhir ini. Jangan cemburu ya....Dia nggak doyan bentukan kayak aku. Serius!" kata Widuri sambil terkekeh.


Dalam hati gadis itu keheranan, kok bisa Adis yang berpembawaan nyaris lembut gini mau sama Satrio yang kadang keliatan kaku kayak kanebo kering dan dingin kayak kelamaan di freezer. Tengil pula.


"Aku pulang duluan ya." pamit Widuri sambil menepuk lembut lengan Adis.


"Lhoh? Kok pulang?!" tanya Satrio dan Adis bersamaan.


"Ya iyalah pulang! Ngapain aku jadi obat nyamuk kalian. Sorry banget! O ya....pesenanku itu masih utuh banget kok. Nggak aku sentuh sama sekali. Sengaja mesenin kamu sih." kata Widuri sambil tersenyum manis pada Adis yang salah tingkah.


Satrio melongo melihat keduanya.


"Kalian janjian disini?" tanya Satrio curiga.


"Iya. Adis bilang lagi ada kerjaan di sekitar sini. Aku minta aja dia kesini biar bisa ngobrol kalian." jawab Widuri sambil mengedipkan matanya pada Adis.


"Kamu ngerjain aku ih!" cicit Adis dengan wajah memerah.


"Ngerjain apa? Seneng dong ketemu pujaan hati, bukan begitu?" ledek Widuri sambil menowel pinggang Adis yang langsung berjengit kaget.


"Kelakuan di Tomi..." geram Satrio sambil tersenyum senang.


"Udah ah. Aku mau pulang. Silakan menikmati senja bersama Arjunamu." kata Widuri pada Adis kemudian melambaikan tangannya dan berjalan menjauh dengan langkah riang.


"Kalian beneran janjian tadi?" tanya Satrio masih dengan wajah tak percaya.


"Iya. Kenapa?" tanya Adis sambil duduk di tempat yang Widuri tadi duduki, berhadapan dengan Satrio.


"Nggak nyangka kalian seakrab itu." kata Satrio senang.


"Kami sering chattingan." kata Adis santai.


"Dia pasti laporan macem- macem ya sama kamu? Dia jadi mata- mata ?" tanya Satrio.


"Kadang laporan. Tapi aku nggak minta. Lagian ngapain aku dilaporin soal kamu? Kita kan....." ucapan Adis tak berlanjut saat dilihatnya wajah sedih Satrio yang menatapnya dengan tatapan terluka.

__ADS_1


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚 ...


__ADS_2