KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Kapan Jemput?


__ADS_3

Satrio dan Didit ngobrol hingga dini hari.


Menjelang jam 3 pagi Didit pamit pulang setelah dua kali VC dengan Desi yang mulai curiga tentang lokasi keberadaan Didit.


Satrio memilih untuk memulai tidurnya setelah Didit berlalu.


Untungnya ini hari libur, jadi dia akan menghabiskan setengah hari ini untuk tidur di kamar hotel ini.


Sayang rasanya kalau sudah membayar tapi tidak dinikmati tempatnya.


Setelah mengirimkan pesan ke Wira agar menelponnya setelah tengah hari, Satrio benar- benar langsung terlelap.


Satrio terbangun sudah hampir tengah hari.


Setelah menyegarkan badan dan otaknya dengan mandi, Satrio memutuskan untuk check out dan berniat untuk jalan pulang sekalian mencari tempat bakal makan siangnya hari ini.


Keluar dari area hotel yang tadinya sejuk dan kini menikmati jalanan yang lumayan terik di luar mobilnya, Satrio membunuh sepi dengan memutar radio di perangkat audionya.


Sepenggal lagu Di atas Meja milik Payung Teduh membuatnya ikut berdendang.


.........


Mengapa takut pada lara


Sementara semua rasa bisa kita cipta


Akan selalu ada tenang di sela- sela gelisah


yang menunggu reda....


..........


Lamunannya kemudian tergiring melayang kepada Adis.


Perutnya seperti di gelitiki saat mengingat percakapan mereka berdua semalam.


Percakapan terpanjang dan terdalam diantara mereka selama ini.


Semalam kenapa dia bisa semengerti itu memahami kesedihan Adis.


Dia bahkan bisa ikut merasakan kepiluan yang Adis rasa.


Dan dia bisa dengan begitu sabarnya mendengarkan kata demi kata keluh kesah Adis tentang rahasia kesedihan yang Adis rasa.


Tentang seorang pria lain di hati Adis.


Apakah pengertian dan kesabaran itu karena cinta?


Atau hanya karena iba?


Lamunan yang nyaris mendalam terusik oleh panggilan telepon.


Satrio melirik layar ponselnya.


Mas Didit calling.....


"Ya Mas...?"


"Masih di hotel?" tanya Didit to the point.


"Enggak. Udah otw pulang nih. Kenapa?" tanya Satrio kemudian.


"Adis barusan di telpon Papa. Ditanyain kenapa putus sama Panji. Adis bilang nggak tahu alasan kenapa diputusin Panji. Panji yang tiba- tiba mutusin Adis tadi pagi." kata Didit senang.


"Alhamdulillah......" gumam Satrio senang.


"Dan kayaknya Adis sudah aman kalau mau balik jadi tetanggamu lagi....." kata Didit sambil terkekeh.


Satrio langsung mengerti maksud Didit.


"Apa aku bawa pulang Adis sekalian sekarang aja? Aku jemput sekarang?" tanya Satrio kemudian.


"Ya jangan kamu bawa pulang ke rumahmu juga....Balikin ke rumahnya aja." seloroh Didit.


Satrio tertawa menyadari kalimatnya yang kurang tepat.


"Iya....Maksudku begitu, Mas." kata Satrio sambil tersenyum kecil.


"Tapi katanya dia belum mau pulang sekarang." tiba- tiba Didit bicara lagi.

__ADS_1


Mungkin baru saja Adis menginterupsinya.


"Oh....ya udah kalau belum mau balik. Suruh hubungi aku aja kalau udah pengen pulang, nanti aku jemput." kata Satrio kemudian.


"OK....kamu yang mengajukan diri yang menjemput lho ya....Aku nggak nyuruh." kata Didit sambil terkekeh.


"Iyaaaa.....Pokoknya aku mau sat set das des tap tap." kata Satrio sambil tergelak.


"Cakeeeep!" seru Didit senang.


Obrolan mereka bubar setelah terdengar rengekan anak Didit yang nampaknya pengen diperhatikan full oleh papinya.


Satrio mengarahkan mobilnya memasuki resto yang menu utamanya adalah spaghetti.


Lama dia tak pernah makan makanan sejenis itu.


Sejak berteman dekat dengan Lukas dan Widuri, tongkrongannya tak jauh dari tempat makan berbau nasi, lontong, bubur, siomay, warmindo dan sesuatu yang mengenyangkan perut namun tak mahal.


Rasanya warung- warung seperti itu yang mendapat referensi enak di semua penjuru Jogja telah dia datangi dengan dua ekor sahabatnya itu.


Dia hampir saja lupa berperan sebagai putra mahkota dari Susilo Buwono.


Jadi untuk kali ini, sekalian mengimbangi kereta besinya yang keren itu, biarlah dia menjadi sang putra mahkota yang tajir dan keren itu makan di tempat yang dilihat dari luar saja sudah terlihat sebagai tempat makan yang berkelas.


Berjalan sendiri memasuki resto di saat jam makan siang seperti ini, keberadaan Satrio cukup menarik perhatian beberapa pengunjung resto berjenis cewek.


Walau datang hanya berkaos oblong lengan panjang yang di tarik sampai bawah siku warna abu muda, jeans abu- abu dan bersandal jepit, tapi bagi mata yang tahu brand. terlihat jelas bila yang sedang berjalan santai mencari tempat duduk single itu adalah masuk kategori lelaki tajir.


Setelah memesan apa yang ingin dia jadikan pengganjal perutnya siang ini, Satrio kemudian asik dengan ponselnya.


Melihat beberapa pesan yang masuk dari pagi buta tadi.


Paling pertama dia buka. adalah pesan dari Wira yang melaporkan perkembangan soal pencarian keluarganya Widuri.


Sudah ada sedikit titik terang dari seseorang yang mengenal Pak Bagus Adipati.


Pak Bagus ternyata seorang pengusaha dan katanya memang memiliki seorang anak perempuan.


Istrinya bernama Melly Ayuni.


Kening Satrio sedikit mengkerut saat membaca nama Melly Ayuni.


Nama belakangnya sama dengan nama belakang Widuri.


Satrio mengamati lebih seksama photo yang diberi tanda Wira yang katanya anak dari Pak Bagus.


Satrio kembali seperti dejavu. Dia seperti pernah melihat photo gadis kecil itu sebelumnya. Bahkan seperti sangat familiar. Tapi dimana dia melihatnya?


Satrio mengangkat pandangannya dari layar ponsel untuk meredakan sebentar ketegangan pikirannya dan untuk menghela nafas lebih lega.


Siapa tahu dengan begitu dia akan mendapat ide untuk langkah selanjutnya yang harus dia lakukan untuk masalah Widuri.


Matanya menyusuri setiap sudut rumah makan itu dan matanya langsung tertumbuk pada sepasang manusia yang duduk di luar jendela.


Satrio memang memilih berada di area indoor resto namun dari tempatnya duduk sangat leluasa melihat area outdoor resto yang letaknya lebih rendah dari area indoor.


Jadi yang berada di area indoor punya keuntungan bisa leluasa menikmati area outdoor lewat bukaan jendela- jendela yang memenuhi hampir seluruh dinding bangunan resto.


Satrio semakin menegakkan tubuhnya untuk memperjelas penglihatannya pada sepasang makhluk berbeda jenis yang nampak berbincang mesra di satu sofa berpayung di satu sudut resto.


Sangat jelas dilihat dari tempat duduk Satrio bahwa si lelaki adalah Panji dan perempuannya bukan yang semalam dilihatnya.


"Bajiguuurrrr....." umpat Satrio sambil terkekeh sebal.


Don Juan juga ternyata bocah itu.


Tak mau kehilangan moment, Satrio bergegas memvideo kelakuan Panji dan pasangannya yang berlaku seolah dunia milik berdua.


Keduanya asik tertawa- tawa sambil saling meremas tangan. Kadang Panji mencium dahi dan pipi sang cewek yang tanpa malu kemudian bersandar di bahu Panji bahkan memeluk pinggang Panji.


Ah, tiba- tiba Satrio nggak suka dengan pemilihan tempat duduk resto ini.


Masih dengan tangan yang mengarahkan kamera ponselnya ke tempat Panji duduk, kepalanya berputar semaksimal mungkin untuk melihat desain interior resto ini.


Satrio kembali berdecak kesal.


Tersedia banyak meja dengan tempat duduk berupa sofa double seat untuk duduk para pengunjung.


Sofa yang sangat memungkinkan dua manusia dewasa duduk tanpa jarak semilimeterpun seperti yang sedang dipraktekkan oleh Panji dan ceweknya yang saat Satrio kembali menoleh ke arah kamera tertuju sedang menyuguhkan adegan ciu man.

__ADS_1


"Dasar bahlul!" umpat Satrio kesal.


Selesai acara ciu man Panji, Satrio menghentikan aksi perekaman.


Dia langsung mengirim video itu kepada Didit dengan caption berbunyi 'mungkin bisa dipakai sebagai amunisi cadangan bila nanti di butuhkan'.


Tak lupa juga dia sertakan jam dan lokasi perekaman di video itu.


Tak lama Satrio menerima balasan pesan berupa emoticon 🤣🤣🤣🤦👍.


Selesai urusan berbalas pesan dengan Didit, makanan yang di pesan datang.


Sambil menikmati makan siangnya, Satrio kembali membuka beberapa pesan yang dia ingat ada yang belum terbaca tadi.


Jempolnya yang akan men scroll layar, harus dia rem mendadak saat dilihatnya satu pesan baru saja masuk dari Adis.


Setelah menunduk dalam untuk menyembunyikan senyum bahagianya dari pandangan orang- orang yang tak diinginkan, Satrio kemudian membuka pesan itu.


Emak 🐈 : Aku mau pulang sendiri nggak boleh. Minta di anter mas Didit dianya sibuk banget. Katanya disuruh minta tolong jemput sama kamu. Kamu jam berapa bisa jemput aku besok?


Satrio mengulum senyumnya.


Alih- alih membalas pesan, Satrio memilih fitur VC untuk membalas pesan Adis.


Di hitungan kelima Satrio baru bisa melihat rupa lawan bicaranya di ponsel.


"Kenapa nggak sekarang aja di jemputnya?" tanya Satrio sambil tersenyum.


Adis nampak sedikit salah tingkah menatap layar ponsel.


"Udah janjian sama Mbak Desi mau nyobain resep baru. Kalau kamu besok nggak bisa juga nggak papa. Aku bisa paksa Mas Didit buat antar aku pulang." kata Adis dengan wajah nggak enak hati.


"Besok habis magrib aku jemput. Kelamaan nggak nunggunya? Atau aku jemput besok subuh- subuh? Atau aku pulang kerja langsung kesitu?" tawar Satrio dengan berbagai pilihan untuk Adis.


Adis meringis geli.


"Habis magrib aja nggak papa biar kamu nggak keburu- buru jalannya." kata Adis kemudian.


"OK, sip!" jawab Satrio kemudian menyuap spaghetti nya.


"Lagi makan?" tanya Adis kemudian.


"Iya. Sarapan sekalian makan siang biar irit. Maklum anak rantau." kata Satrio sambil terkikik.


"Aku juga nggak akan kasihan walau kamu ngomong gitu." kata Adis sambil mencibir.


Satrio tergelak.


"Ya udah kalau gitu. Kalau doyan spaghetti kapan- kapan aku bikinin." kata Adis dengan wajah datar.


Satrio mengacungkan jempolnya.


"Bikin yang banyak ya." kata Satrio riang.


"Buat apa banyak- banyak? Mubadzir ntar."


"Buat sedekah ke temen kantor." kata Satrio sambil mengerling.


"Buat Widuri?" tanya Adis dengan tatapan yang mulai berubah ke Satrio.


Beruntung Satrio langsung menyadari tatapan itu.


"Aku kan bilang buat temen kantor. Temenku kan bukan cuma Widuri. Lagian bocah itu nggak doyan spaghetti dan makanan barat lainnya selain ayam goreng." kata Satrio santai.


Adis mengangguk kecil.


"Nggak usah cemburu sama Widuri. Aku nggak bisa jatuh cinta sama cewek pethakilan kayak gitu. Tenang aja ya....." kata Satrio sambil tersenyum lembut.


Adis kaget mendengarnya.


"Siapa yang cemburu?! Ngasal aja nuduh orang cemburu." sungut Adis kesal.


Satrio tertawa melihat ekspresi Adis yang nampak kesal,malu, dan ingin marah.


"Ya udah kalau nggak cemburu sama Widuri. Yang penting sayang sama aku." kata Satrio sambil mengerling jenaka.


"IH!" sentak Adis kemudian langsung mematikan telepon.


Satrio terkekeh gemas sambil menatap layar ponselnya.

__ADS_1


"Dasar emak kucing....." gumamnya gemas.


🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚


__ADS_2