
Satrio menundukkan kepalanya mendengar cerita dari Wira soal mamanya Widuri, Tante Melly Ayuni.
"Kayaknya kita mending ngomong sama Mama deh, Mas soal Widuri. Biar Mama bilang pelan- pelan sama Tante Melly kalau anaknya masih ada dan nyariin. Siapa tahu bisa ngefek sama kesehatan mentalnya." kata Wira memberi usul.
Satrio berfikir sejenak dengan usulan Wira itu.
Nggak ada salahnya juga sih.
Toh semua yang jadi misteri sudah terjawab.
Tinggal ending-nya, yaitu mempertemukan Widuri dan mamanya.
Tapi kalau asal mempertemukan takutnya ada pihak- pihak yang nggak baik -yang nggak suka dengan pertemuan kembali ibu dan anak itu- yang nggak Satrio kenali, yang nantinya malah akan mengancam keselamatan Widuri dan mamanya.
Mungkin ada baiknya juga jujur pada orang tuanya soal Widuri.
Satrio yakin orang tuanya lebih tahu soal orangtua Widuri ketimbang dia.
Siapa tahu ada masukan berarti yang akan dia dapatkan kalau jujur pada orangtuanya.
"Ya udah, kamu ngomong soal Widuri sama Mama deh. Tapi liat reaksi Mama dulu gimana. Kalau aman, baru ngomong jujur dimana Widuri berada. Kita nggak tahu masa lalu orangtua kita dan orangtua Widuri kayak gimana persisnya walau Mama bilang mereka bersahabat dekat. Bisnis kadang kejam, Wir. Kita bertiga jangan sampai jadi tumbal dan berakhir konyol." kata Satrio memperingatkan adiknya.
"Oke,Mas.Siyaaap!" kata Wira serius.
Dan begitulah akhirnya.
Dengan gaya ala anak mamanya, Wira berusaha mengorek bentuk hubungan antara kedua orangtuanya dan orangtua Widuri sebelumnya.
Dan berdasarkan penuturan dari mamanya, kedua keluarga mereka sangat dekat. Sudah seperti saudara.
Itulah mengapa, dulu keluarganya mencari keberadaan Widuri kecil untuk merawatnya.
"Mmmmm....Ma..." panggil Wira dengan wajah tegang.
"Ya? Ada apa? Kok tegang gitu wajahnya." tanya Bu Katarina keheranan dan penasaran.
"Aku mau cerita, tapi Mama nggak boleh interupsi dulu. Oke?" pinta Wira.
Dengan wajah kepo maksimal, Bu Katarina kemudian mengangguk.
Lalu Wira menceritakan soal perintah Satrio padanya untuk menelusuri tentang keluarga teman kantor Satrio yang bernama Widuri, yang setelah ditelisik ternyata adalah Hapsari.
Bu Katarina menatap Wira tak percaya.
"Yang bener kamu, Mas!" kata Bu Katarina setelah kembali bisa berpikir.
"Beneran, Ma. Wajahnya Widuri aja persis sama wajah Tante Melly. Nih liat..." kata Wira kemudian menunjukkan satu photo di ponselnya.
"Masyaa Allah...! Persis banget wajahnya..." desis Bu Katarina saat menatap photo itu.
"Kalau kata Mama kan Tante Melly sangat feminim. Si Widuri ini kata Mas Satrio tomboy anaknya. Kayak Mama." kata Wira sambil tersenyum jahil pada mamanya.
"Waaaah... beneran?!" tanya Bu Katarina senang. Dia merasa akan punya genk di circle keluarganya.
Walaupun selama ini dia tomboy, tetap saja dia satu- satunya perempuan tercantik di rumahnya. Nggak maksimal serunya.
"Menurut Mama kalau Tante Melly ketemu Widuri, bisa berdampak baik buat kesehatannya nggak?" tanya Wira kemudian.
Bu Katarina diam sesaat. Menimbang segala kemungkinan yang mungkin terjadi pada emosi sahabatnya itu.
"Bisa kita coba. Tapi kalau cuma mirip wajah, itu kurang mwyakinkan, Mas. Mama yakin, anak Melly pasti punya sesuatu yang bisa meyakinkan kalau dia benar- benar anaknya. Pastikan Widuri memiliki sesuatu itu sebelum ketemu Melly." kata Bu Katarina.
Wira mengernyit bingung soal 'sesuatu' yang dimaksud mamanya.
"Sesuatu itu apa maksudnya, Ma?" tanya Wira memilih bertanya daripada kelamaanikit.
__ADS_1
"Mama nggak tahu sesuatu itu berbentuk apa. Bisa benda, bisa tanda lahir atau lainnya yang hanya diketahui oleh keluarga inti mereka." jawab Bu Katarina gamang.
Semoga benar,gadis itu memiliki sesuatu itu.
"Jadi Widuri bisa kesini secepatnya, Ma?" tanya Wira dengan senangnya.
Terus terang saja,ada misi pribadi di Alik pertanyaannya kali ini.
"Bisa. Biar dia nginep disini aja. Sekalian Mama mau lihat seberapa miripnya dia sama Tante Melly." kata Mamanya dengan semangat 45.
"OK. Aku kabarin Mas Satrio biar bilang sama Widuri soal ini." kata Wira bergegas menjauh dari mamanya menuju kamarnya.
Ada hal lain yang ingin dia bicarakan dengan kakaknya itu tanpa boleh mamanya denger.
Urusan anak muda soalnya.
...🧚🧚🧚🧚🧚...
Wira bergerak grubak- grubuk di dalam rumahnya.
Hilir mudik nggak jelas, membuat orangtuanya pusing melihatnya wira- wiri di pandangan mereka.
"Kamu tuh ngapain sih, Mas kayak setrikaan gitu dari tadi? Bikin pusing aja!" tegur Mamanya kesal.
Wira hanya nyengir kuda.
"Kayak ayam mau bertelur. Nggak ada tenang- tenangnya." sambung papanya.
Wira hanya memajukan bibirnya disamain dengan ayam oleh papanya.
"Katanya mau ke stasiun jemput Widuri. Kenapa belum berangkat juga?" seru mamanya saat Wira baru turun dari kamarnya .
"Ini mau berangkat, Ma. Aku berangkat dulu ya." pamit Wira sambil melambaikan tangannya dan bergegas menuju garasi, menaiki mobil Tesla putih milik Satrio.
"Mau jemput Widuri." jawab Bu Katarina sambil tersenyum senang.
Pak Buwono sudah mendengar soal Widuri dari istrinya.
Ada kelegaan dalam hatinya saat mendengar kalau anak Bagus Adipati sahabatnya, malah ' ditemukan' oleh anaknya.
"Ngeliat kelakuannya tadi kayaknya anakmu lagi dalam rangka mau tebar pesona sama yang mau dijemputnya." kata Pak Buwono sambil mencibir untuk anaknya.
"Ya biarin aja kalau masih sama- sama sendiri." sahut Bu Katarina santai.
"Bisa- bisa kita dua tahun berturut- turut mantu ini, Ma." kelakar Pak Buwono mengajak istrinya mulai berkhayal.
"Aaaah Papaaaa.... Ternyata kita udah tua aja. Udah mau mantu." seru Bu Katarina merengut manja.
"Saking bahagianya kamu hidup sama aku, berasa baru kemarin kita jadi pengantin baru ya, Ma?" ledek Pak Buwono sambil terkikik- kikik.
"Iya...tau- tau udah mau mantu aja kita." kata Bu Katarina sambil tersenyum manis.
"Nggak nyesel kan hidup sama aku?" tanya Pak Buwono sambil mengerling genit.
"Tentu saja enggak!" jawab Bu Katarina cepat.
Walau di awal rumah tangga dulu mereka sempat merasakan hidup kekurangan, tapi nggak terlalu lama mereka mengalami kesusahan itu.
Bisa dibilang rejeki pernikahan mereka selama ini selalu bagus.
Dan Bu Katarina sangat bersyukur untuk anugerah itu.
...🧚🧚🧚🧚🧚...
__ADS_1
Widuri menajamkan pandangannya menyusuri peron stasiun.
Dicarinya wajah yang sepuluh menit lalu mengiriminya photo agar bisa segera dikenalinya saat mereka berjumpa.
"Widuri?!" sebuah suara dari arah sampingnya mengagetkan Widuri.
Sebuah senyum simpatik dari seorang cowok segera dia temukan disana.
"Mas Wira?" tanya Widuri meyakinkan dirinya.
"Iya. Kenalin. Perwira Dwi Buwono. Adiknya Satrio Eko Buwono." kata Wira sambil mengulurkan tangannya dengan riang.
Widuri menerima uluran tangan itu dengan sedikit kaget.
Wajahnya sih bener kayak yang di kirim tadi. Tapi kelakuannya diluar ekspektasi sih. Bisa bakal lebih nyeleneh dari kakaknya kayaknya nih.
"Widuri." kata Widuri sedikit tersipu melihat senyum Wira yang menggoyang- goyangkan genggaman tangan mereka, menunggunya menyebutkan namanya.
"Udah sah kenal. Let's go!" ajak Wira sambil mengambil alih tas kecil -berisi pakaian Widuri- dari jinjingan Widuri.
Wow... gentleman juga!
Widuri bergegas mengikuti langkah Wira sebelum dia harus berlari menyusul.
Hmmmm, nggak kalah kece dari abangnya, batin Widuri sambil sedikit melirik ke samping.
Widuri tingginya setelinga Wira. Tak terlalu jauh jarak tingginya.
"Udah diberitahu Mas Satrio kan kalau kamu bakal nginep dirumah kami?" tanya Wira sambil menoleh menatapnya sopan.
"Iya...Maaf ya ngerepotin." kata Widuri tulus.
"Nggak repot sama sekali. Jangan sungkan. Cuma..."
"Cuma apa?" tanya Widuri penasaran karena Wira menggantung kalimatnya.
"Jangan kaget kalau ketemu Mama. Berisik." kata Wira sambil berbisik di kata terakhir.
Widuri tertawa kecil.
"Oh...OK!" jawab Widuri kemudian.
"OK apa?" tanya Wira sambil mengarahkan langkah Widuri menuju parkiran mobil.
"OK...nggak akan kaget kalau mamamu berisik." jawab Widuri ikut berbisik di kata terakhir.
Wira tergelak mendengarnya.
Bener kata Mas Satrio...nih cewek gampang akrab. Nyenengin ini sih....
"Yuk!" kata Wira sambil mengarahkan Widuri menuju pintu penumpang mobilnya.
Widuri melongo melihat pintu mobil yang menjeplak ke atas.
Gusti Allah.....kayak lagi main sinetron aja aku nih...Turun dari kereta dijemput cowok tampan, naik mobilnya beginian pula...
"Wid...." panggil Wira menyadarkan keterpakuan Widuri.
"Eh iya...." jawab Widuri sambil tersenyum kikuk dan bergegas masuk mobil yang hanya pernah dia lihat di televisi.
Sekaya apa sebenarnya keluarga Bang Sat?
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...
Mohon maaf ya telat up nya.....Lagi agak ribet di RL 😅
__ADS_1
Happy reading gaes.....💖💕