KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Oooo...Ternyata...


__ADS_3

Satrio membelokkan mobilnya ke parkiran sebuah swalayan karena Adis memintanya mampir untuk membeli keperluan Bian.


Keluar dari mobil, Bian yang sudah bangun dari tidurnya dan sudah berada dalam gendongan Adis ternyata merengek mengulurkan tangannya pada ayahnya.


"Minta gendong kamu, Mas." kata Adis sambil tertawa.


"Mau sama ayah? Biar kita yang kece keliatan semakin shining ya?" kata Satrio sambil memasukkan tubuh Bian ke hip seat yang sudah terpasang di tubuhnya.


Adis menggeleng keki dengan ucapan Satrio.


Sangat PD sekali menyebut dirinya sendiri kece. Ya walaupun bener juga sih.


Dan lihat saja, walaupun kini di dadanya sudah menempel anaknya yang seperti ukuran mininya,dia malah kelihatan semakin seksi.


Astagfirullahaladzim....


"Ternyata kamu masih saja terpesona pada kami." kata Satrio sambil menowel lengan Adis yang tanpa sadar tadi terpaku melihat tampilannya.


"Hot Daddy dong ya?" tanya Satrio sambil menoleh, menatap Adis yang sudah berjalan dengan satu tangan dalam genggaman Satrio.


Bian berceloteh riang dengan bahasanya sendiri.


Tangannya bergerak kesana kemari sesukanya.


"Iyaaa! Besok nggak usah bawa kalian deh kalau aku belanja." kata Adis setengah kesal.


"Kenapa?" tanya Satrio sambil menatap meledek.


"Menghindari panas hati aja. Siapa yang kuat lama- lama miliknya dilirik cewek lain? Nggak cuma bapaknya aja, anaknya juga. Bikin insecure aja." sungut Adis kesal.


Satrio terkekeh.


"Punya suami dan anak cakep bukannya bangga malah kesel." kekeh Satrio sambil sebelah tangannya ikut mendorong trolly yang sudah di pegang Adis.


"Nanti sekalian beli bajunya Bian ya, mas? Satu atau dua aja." pinta Adis.


"Terserah kamu aja. Yang penting uangnya cukup." kata Satrio sambil tersenyum.


Dia nggak tahu masih ada saldo berapa di ATM yang sudah dia serahkan kepada Adis. Dia lupa belum nanya.


"Saldo di ATM masih ada nggak sih,Dis?" tanya Satrio penasaran.


"Masih cukup kalau buat belanja sekarang. Aku beli yang urgent dulu aja. Aku juga ada kok kalaupun kurang. Kita belanja bulanannya nunggu kamu gajian. Lima hari lagi kan?" kata Adis sambil tersenyum.


Satrio malu bukan main saat Adis bilang barusan.


Ini hari pertama Adis jadi istrinya. Sudah dia repotkan mengurusi kebutuhan Bian, anaknya. Masih harus mikir kalau- kalau uangnya kurang pula?


Astaga Sat, dimana harga dirimu sebagai lelaki?


"Maaf ya kalau kamu harus repot berhitung soal pengeluaran buat rumah tangga kita." kata Satrio penuh sesal.


"Semua memang harus diperhitungkan, Mas. Biasa aja kali. Pasti cukup kalau kita pinter perhitungannya. Masih Alhamdulillah gaji semua mbak bukan kita yang ngasih. Kalau kita yang ngasih,habis uang kita." kata Adis sambil tertawa.


Satrio hanya tersenyum kecut.


Ini hari pertama pernikahannya. Dan matanya langsung dihadapkan pada realita kebutuhan domestik orang berumah tangga.


Masih untung dia nggak mikir bayar sewa rumah, bayar listrik, bayar ART juga.


Kalau itu semua jadi bebannya, betapa nggak mungkinnya gajinya bisa mengcover semua itu.


Saat dia melihat harga susu Bian saja dia sedikit kaget saat dia bandingkan dengan gajinya.


Bisa nggak makan mereka kalau Bian minum susunya ngamuk.


"Kok ambilnya yang paling kecil?" tanya Satrio berbisik pada Adis, saat Adis memasukkan susu kardus dengan ukuran terkecil.


"Buat nyoba dulu Bian mau nggak kalau kita ganti susu ini. Yang kemarin di kasih mama harganya mahal bangeeet." kata Adis ikut- ikutan berbisik seolah mereka takut Bian mendengarnya.


"Emang kemarin mama beliin yang mana?" tanya Satrio.

__ADS_1


Adis kemudian menunjuk ke barisan paling atas susu yang berada di dalam kotak kaca.


Satrio membaca harga dibawah susu itu.


"Kalau sekaleng gitu buat berapa hari?" tanya Satrio.


"Sekitar tiga mingguan kayaknya. Kemarin kami beli kaleng yang paling kecil buat nyoba kan, belum dua minggu udah mau habis." kata Adis.


"Yang segini?" tanya Satrio sambil menunjuk kaleng berukuran 400 gr. Adis mengangguk.


Otak Satrio menghitung cepat untuk kebutuhan susu Bian saja harus minimal sejuta kalau dengan merk ini.


"Itu apa?" tanya Satrio saat Adis memasukkan satu plastik dari rak makanan bayi.


"Cemilan buat Bian." jawab Adis santai.


"Snack khusus bayi?" tanya Satrio keheranan.


"Iya. Kan udah tujuh bulan kan dia. Udah mulai di kasih MPASI dan di kasih snack sesekali." terang Adis.


"MPASI itu apa?" tanya Satrio dengan wajah bingung.


"Makanan Pendamping ASI., ayah yang keren tapi nggak tauan..." kata Adis sambil meledek.


Satrio meringis malu.


"Ini apa?" tanya Satrio sambil meraih kardus kecil yang baru saja di masukkan Adis ke dalam trolly.


"Itu MPASI nya." jelas Adis.


"Kok dikit banget?" tanya Satrio pelan.


Hatinya sedih saat berpikir Adis membeli semua kebutuhan Bian dengan ukuran yang kecil pasti karena memperhitungkan uang mereka yang nggak banyak.


"Cuma buat jaga- jaga aja kalau kita urgent nggak bisa masakin Bian. Lebih baik bikin aja sendiri. Atau beli tiap hari kan ada yang jualan bubur bayi tiap pagi. Nggak instant jadinya." terang Adis.


Satrio mengangguk mengerti.


"Kalau beli kebutuhan bayi itu mending beli yang ukuran kecil. Kondisi bayi itu kadang bisa berubah- ubah setiap saat. Kadang sekarang nggak papa dikasih sesuatu, nanti lain hari bisa dia tiba- tiba alergi atau nggak mau sama sekali. Kalau kita belinya banyak kan sayang sisanya." terang Adis.


Memang beda ya cara berhitungnya perempuan dan laki- laki.


Perempuan mikirnya detail banget sampai jauh.


"Sekarang pindah ke area popok." kata Adis sambil tersenyum.


"Tumben nggak ambil yang paling kecil." seloroh Satrio saat dilihatnya Adis memasukkan popok seukuran sedang.


"Yang paling kecil itu isinya satu doang. Kamu mau tiap hari aku tiripin buat beli popok?" tanya Adis meledek. Satrio hanya nyengir kuda.


"Beli baju yuk...Dua dulu aja ya...Nanti kalau ayah gajian kita beli lagi." kata Adis lembut dan tersenyum sambil menggoyangkan telunjuknya yang sedang dipegang Bian.


Bayi itu tertawa- tawa senang.


"Ma....mam...ma..." celotehnya sambil tertawa.


"Iya...beli baju sama Mama. Di gendong ayah ya?" tanya Adis sambil menowel- nowel pipi Bian.


"Ya....ya...ya...." celoteh Bian lagi.


Satrio tersenyum dalam hati saat dia menyadari kondisinya saat ini.


Dia sekarang adalah seorang ayah, dari dua anak pula.


Seminggu lalu dia baru berkhayal ingin punya anak dengan Adis nanti. Seorang bayi yang lucu pastinya.


Baru berkhayal saja dia sudah senangnya minta ampun.


Dan sekarang dia sudah menggendong seorang bayi walaupun bukan buah cintanya dengan Adis.


Tapi bocah ini darah dagingnya.

__ADS_1


Anak yang baru dipeluknya dua hari belakangan ini namun langsung bisa sedekat ini dengannya.


Bersyukurnya dia karena Adis dan semua keluarganya menyambut gembira keberadaan Bian di tengah- tengah mereka.


Satrio menangis haru dalam hati.


Begitu baiknya Tuhan dan semesta pada hidupnya ini.


"Mas Satrio?" lamunan Satrio buyar saat di dengarnya panggilan dari arah sampingnya.


Seorang ibu- ibu yang dia kenali sebagai salah satu karyawan bagian finishing di pabrik nampak tersenyum senang menatapnya.


"Eh Bu..." kata Satrio sambil tersenyum.


"Kok belanjanya sampai disini?" sapa ibu itu sambil kini menatap Adis dengan sopan kemudian beralih kepada Bian.


"Habis jalan- jalan nih ya, anak ganteng?" tanya ibu itu sambil memainkan kaki Bian yang kini tertawa- tawa padanya.


"Anaknya mirip banget wajahnya sama papanya, Mbak." kata ibu itu pada Adis yang kini berdiri di samping Satrio sambil tersenyum.


"Iya, Bu, Alhamdulillah mirip ayahnya. Jadi nggak usah nanya lagi dia anaknya siapa kalau udah kenal bapaknya." jawab Adis sambil tertawa.


Ibu itu ikut tertawa membenarkan.


"Iya. Langsung yakin dan percaya kalau ini sih anaknya Mas Satrio. Mirip banget! Pinter bikinnya." seloroh ibu itu sambil tertawa.


"Nggak kerja, Bu njenengan?" tanya Satrio kemudian.


"Cuti,Mas. Mas Satrio juga cuti kan?" tanya ibu itu balik.


"Kok tau kalau aku cuti, Bu?" tanya Satrio sambil tertawa.


"Waaaah, Mas Satrio kalau nggak keliatan itu pada jelalatan nyariin,Mas." kata ibu itu sambil tertawa malu.


"Maaf ya, Mbak sebelumnya. Mas Satrio ini kalau di pabrik bisa dibilang jadi vitamin C buat ibu- ibu kayak saya ini." kata ibu itu sambil tertawa malu.


"Vitamin C?" tanya Adis sambil tersenyum heran.


"Vitamin Cakep maksudnya, Mbak." terang ibu itu yang. membuat Adis langsung tertawa.


"Nggak nyangka lho kalau Mas Satrio udah punya anak satu. Kirain masih single." kata ibu itu sambil menatap kagum pada Satrio dan Adis.


"Anak kami dua, Bu. Bukan cuma satu ini. Kakaknya cewek, udah TK B." ralat Satrio sambil tertawa.


"Beneran, Mbak?" tanya ibu itu sambil menatap Adis tak percaya.


"Iya. Wajahnya nipu ya?" seloroh Adis.


Ibu itu tertawa.


"Untung saya nggak ikut jatuh cinta sama Mas Satrio. Kalau yang pada naksir Mas Satrio tahu kalau ternyata anaknya Mas Satrio udah dua, pasti pabrik banjir airmata patah hati." kata Ibu itu dramatis.


Adis dan Satrio saling pandang lalu tertawa.


"Jadi enaknya ini jadi rahasia aja atau nggak, Bu?" tanya Satrio bercanda.


"Wah, ya jangan dirahasiakan, Mas. Kasian istrimu yang cantik ini." kata ibu itu sambil menatap Adis.


"Memangnya Mas Satrio selalu ngaku kalau masih single ya,Bu?" tanya Adis penasaran.


"Ya nggak juga sih,Mbak. Kami sih mengiranya begitu. Mas Satrio kalau ditanya udah punya pacar belum cuma menjawab 'rahasia' gitu.Bahkan kami kira dia pacaran sama Mbak Widuri." kata ibu itu yang kemudian langsung menutup mulutnya karena barusan merasa keceplosan.


"Widuri itu sepupunya Mas Satrio." kata Adis menjelaskan.


Wajah ibu itu nampak langsung lega.


"Oalah, sodaraan to..." kata ibu itu.


Obrolan mereka langsung bubar saat anak ibu itu datang dan menarik ibunya untuk mengajak pulang.


"Ooooo...ternyata pacarnya Widuri..." gumam Adis kesal kemudian mendahului berjalan ke arah baju- baju bayi sambil mendorong trolly dengan cepat.

__ADS_1


"Dih, mamamu ngambek Bi..." gumam Satrio sambil meringis dan menyusul Adis.


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...


__ADS_2