KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Anak


__ADS_3

"Nggak tahu juga kalau Mbak Adis ke rumahmu di Jakarta, Mas?" tanya Mbak Yanti dengan keheranan.


Satrio menggeleng malu.


"Astagfirullahaladzim... Baru pacaran aja abainya kayak gini. Gimana kalau udah nikah nanti? Aku kok nyesel ya dulu jadi tim suksesmu, Mas." kata Mbak Yanti dengan tatapan kesal.


Satrio mendelik keki.


"Ya nggak gitu juga kali, Mbak. Adis nggak ngomong kalau mau kesana. Masak aku harus nanya- nanyain kegiatan dia setiap saat. Aku kan belum ada hak buat itu." bela diri Satrio.


"Alesan aja terus, Mas. Lagian ya,Mas, orang tetanggaan aja kadang suka kepo kegiatan tetangganya dan kadang juga nggak keberatan tetangganya ngasih tahu. Lha sampeyan ki lho Mas pacare, mosok ngono- ngono banget cueke.( Lha kamu tu lho, Mas, pacarnya, masak gitu- gitu amat cueknya.)" sungut Mbak Yanti kesal.


"Iya deh aku salah kurang perhatian sama tuan putrimu yang cantik itu. Maaf ya,Mbak Yanti...Besok- besok aku rajin tanya ke Adis deh soal kegiatannya." kata Satrio akhirnya mengalah daripada dia dikuliti hidup- hidup sama Mbak Yanti.


"Mbak Adis itu orang baik, Mas. Kalau beneran niat sama Mbak Adis, perlakukan dengan baik, Mas. Yang setia, perhatian, tulus, gitu." kata Mbak Yanti masih memberi wejangan.


"Iya...Aku bakal selalu baik, setia, perhatian, dan tulus sama Adis." kata Satrio seperti berjanji pada sesepuhnya.


"Ya kalau perhatian kenapa nggak nelpon dari tadi?" sergah Mbak Yanti membuat Satrio gelagapan.


Gimana mau nelpon orang dari tadi dapat siraman rohani dari situ?


"Aku pulang aja dulu. Nelpon di rumah biar tenang." kata Satrio kemudian bergegas menuju motornya yang terparkir di depan pagar rumah Adis.


"Cepetan telponnya. Ntar tau- tau Mbak Adis dinikahin sama Mas Wira, nangiiis!" seru Mbak Yanti meledek.


"Nggak mungkin!" seru Satrio kesal kemudian melajukan motor putihnya menuju rumahnya.


Dalam hati dia kesal pada Wira yang tidak memberinya kabar apapun soal situasi rumah.


Mamanya juga biasanya sangat rajin update situasi rumah dalam dua hari ini anteng aja.


Ada apa sih sebenarnya?


Satrio hampir menabrak Mbak Puji di pintu yang menuju dapur saking tergesanya hendak ke kamar.


"Ngopo e, Mas, panik gitu?" tanya Mbak Puji dengan wajah khawatir.


"Nggak papa. Kebelet." dusta Satrio langsung berlari menuju kamarnya.


"Ealah, tak kira arep ndelik merga di oyak dept colector.( ealah, kukira mau ngumpet karena dikejar dept colector)." kata Mbak Puji sendirian.


Sesampai di dalam kamar, begitu melempar tas ranselnya ke atas .eja kerjanya, Satrio bergegas menelpon Adis. Tapi dua kali panggilan nggak nyambung. Mungkin ponsel Adis sedang off.


Dia kemudian menelpon Wira. Dua kali dering langsung di riject.


Edan bocah nih!, umpat Satrio kesal.


Sebuah pesan dari Wira masuk.


Wira : Sorry, gue lagi meeting penting. Ntar gue telpon balik.


Satrio hanya mendengus kesal.


Kembali Satrio menghubungi orang Jakarta. Kali ini mamanya.


Lima kali dering nggak juga diangkat.


Ini pada kenapa siiiiih?


Satrio mulai senewen.


Hampir Satrio menutup panggilan telpon saat di dengarnya suara mamanya.


"Ma, ada apa sih? Kok aku nggak dikasih tahu?" tembak Satrio langsung.


Mamanya tak segera menjawab.


"Ma...Hallo..." panggil Satrio melirih. Tiba- tiba saja dia dihinggapi kecemasan.


Apa Papa sakit? Tapi kok Wira santai aja nggak ngabarin gue apa- apa?


"Ma...Mama nggak kenapa- kenapa kan? Papa sehat kan?" tanya Satrio kemudian dengan nada sangat khawatir.


"Kami nggak papa, Mas. Alhamdulillah." jawab Bu Katarina akhirnya. Satrio lega mendengar suara riang mamanya yang seperti biasanya.


"Ma,beneran Adis ke rumah?" tanya Satrio kemudian.

__ADS_1


"Oh...iya. Kemarin dia kesini sama Didit. Sekarang lagi jalan- jalan dia." jawab Mamanya santai.


"Ada apa dia ke rumah? Soal pernikahan?" tanya Satrio semakin penasaran.


"Enggak. Cuma memang ada yang harus kita tunjukan sama dia secepatnya sebelum kita lamaran resmi." jawab mamanya.


"Nunjukin apa?" tanya Satrio keheranan.


"Nunjukin anak kamu." jawab Bu Katarina santai.


"WHAT??? Mama jangan becanda deh,Ma." seru Satrio panik maksimal.


Mamanya enteng banget ngomong soal anaknya. Lhah dia bapaknya nggak tahu apa- apaan. Kok bisa gini sih?


"Seriusan ini,Mas. Makanya Mama minta Adis kesini biar tahu." kata Mamanya cuek dengan kepanikan Satrio.


"Harusnya kan aku dulu yang dikasih tahu,Ma. Aku kan bapaknya. Kenapa malah Adis dulu sih?" sungut Satrio kesal.


Bisa- bisanya masalah sebesar ini dia nggak dikasih tahu. Dia masih dianggap penting nggak sih di keluarganya?


"Kalau kamu kan jelas tersangkanya. Kalau Adis kan bakal jadi korbannya. Makanya kita kasih tahu dia dulu. Kalau dia nggak terima kan dia bisa mundur dari rencana pernikahan kalian." jawab Bu Katarina enteng.


"Korban gimana? Korbannya kan emaknya bocah itu." debat Satrio.


"Anakmu ada atas dasar suka sama suka. Jadi emaknya bukan korban, tapi pelaku juga kayak kamu. Korbannya anak kalian dan calon istrimu." sergah Bu Katarina kesal.


Satrio bungkam. Bingung mau ngomong apa.


Lagian siapa yang hamil anaknya? Kenapa nggak nyari dia dari dulu?


Astagfirullahaladzim....


"Emaknya siapa, Ma?" tanya Satrio setelah bingung mau ngomong apa.


"Ya Allah,Mas...kamu nanam benih di siapa aja sampai nanya kayak gitu?" jerit Bu Katarina kesal.


Satrio meringis malu.


"Harusnya sih nggak ada yang jadi, Ma. Kan pakai pengaman." jawab Satrio dengan lugunya.


"Memangnya pengaman nggak boleh bocor?!" sergah Bu Katarina kesal.


"Ya boleh sih..." jawab Satrio pelan.


"Tapi kok yakin kalau itu anakku?" tanya Satrio cepat.


"Mas! Nyebelin banget sih nanyanya! Udah sekarang kamu pulang!" bentak Bu Katarina kesal.


"Sekarang?!" tanya Satrio kaget.


"Iya! Mama kirim helikopter buat kamu nanti malam." kata Bu Katarina kesal.


"Iya." jawab Satrio patuh.


Ya, dia memang harus pulang sekarang juga untuk tahu anaknya.


Astagaaaa....Satrio masih tak percaya kejadian ini.


Dia punya anak? Dan malah Adis yang di kasih tahu duluan?


Entah bagaimana cara berpikir orangtuanya. Satrio bingung.


Secara bisa dibilang itu aib keluarga mereka, kenapa mereka malah 'mengumbarnya' ke keluarga Adis? Apa- apaan ini?


Dan anak itu anak siapa?


Dan Wira, kenapa dia nggak ngasih laporan sama aku dulu kalau udah nemuin anakku?


Kenapa malah lapornya ke mama Papa duluan siiiiih?


Dan lagi, kok mereka yakin kalau anak itu anaknya? Seyakin itu?


Satrio mengacak rambutnya kesal. Otaknya ruwet nggak karuan. Bingung harus mikir gimana.


Mas Didit! Ya. Dia harus nelpon Mas Didit untuk nyari tahu tentang yang terjadi kemarin.


Satrio berdoa dalam hati semoga calon kakak ipar idamannya itu nggak ngamuk padanya.

__ADS_1


Dengan jantung bertalu- talu Satrio menunggu panggilan telponnya diangkat oleh Mas Didit.


Dan Satrio menghembuskan nafasnya dengan lega saat di dengarnya suara santai Mas Didit.


"Mas Didit beneran di rumahku?" tanya Satrio hati- hati.


Dia harus tetap waspada pada situasinya sendiri. Takutnya dia salah ngomong dan Mas Didit ngamuk padanya.Bisa runyam masa depan percintaannya.


"Iya. Adis katanya kemarin udah ngomong sama kamu." jawab Mas Didit sedikit keheranan dengan pertanyaan Satrio.


"Adis ngomongnya nggak komplit, Mas. Dia cuma bilang mau ke Jakarta. Kirain urusan kerjaan." jawab Satrio sambil nyengir.


"Mmmm...Mas...." panggil Satrio karena Mas Didit nggak merespon ucapannya.


"Apa?" tanya Mas Didit santai walau terdengar serius.


Satrio menelan salivanya dengan susah payah.


"Aku ternyata punya anak." kata Satrio tanpa sadar.


Dan tak disangkanya Mas Didit malah tertawa mendengarnya.


"Iya. Kamu ternyata sudah bapak- bapak." kata Mas Didit membuat Satrio nyengir malu.


"Tapi aku nggak tahu kalau aku punya anak. Jadi aku belum pernah ngeliat anakku." kata Satrio sedih.


"Kasihan..." sahut Mas Didit dengan nada prihatin.


Mas Didit kasihannya sama gue apa sama anak gue itu?


"Aku juga nggak ngerti kenapa ibu anak itu nggak nyari aku dari dulu kalau memang dia hamil anakku." kata Satrio kemudian.


"Tapi kamu percaya kan kalau kamu bisa menghasilkan anak?" tanya Mas Didit kocak.


"Ya percaya. Aku sehat, nggak ada gangguan di organ produksi ku." kata Satrio yakin.


"Yang penting kamu percaya kalau bisa bikin anak. Berarti kamu akan percaya kalau anak ini anak kamu." kata Mas Didit.


"Ya belum tentu juga itu anakku, Mas. Kita harus test dulu untuk lebih validnya." sergah Satrio cepat.


"Bisa dilakukan itu kalau memang kamu belum yakin. Yang penting kamu terima dulu kalau kemungkinan besar kamu ternyata seorang bapak." kata Mas Didit lagi.


"Iya. Aku akan terima kalau memang dia anakku. Tapi keluarga Mas gimana? Adis gimana?" tanya Satrio resah.


"Aku dan Adis sudah sampai di Jakarta berarti kami sudah mau menerima kondisimu. Papa mama juga sudah tahu soal ini dari orangtuamu, dan mereka nggak papa. Makanya aku dan Adis mau aja diminta ke Jakarta. Pesawat kelas bisnis kan jarang kami naik." seloroh Mas Didit.


"Aku ngerasa kayak sembunyi dari tanggung jawab kalau gini kesannya. Harusnya kan aku yang menghadap ke keluarga Mas Didit, mengungkapkan semuanya. Tapi apa ini? Aku tahu kalau aku punya anak aja malah belakangan. Duluan kalian semua." keluh Satrio sedih.


"Orangtuamu kayaknya lebih mementingkan perasaan calon mantunya daripada perasaan anaknya sendiri." kekeh Mas Didit membuat Satrio patah hati.


"Sakit hatiku, Mas." kata Satrio sedih.


"Karena kamu nggak dikasih tau duluan soal anakmu atau karena aku bilang orangtuamu lebih mentingin calon mantunya dibanding anaknya sendiri ?" tanya Mas Didit bingung.


"Dua- duanya." jawab Satrio.


"Jangan sakit hati. Pasti ada alasannya orangtuamu melakukan semua ini. Nanti kamu tanyakan sejelas- jelasnya. Tenang saja." kata Mas Didit bijaksana.


"Iya." jawab Satrio pelan.


"Mas..."


"Apa lagi?"


"Boleh liat wajah anakku nggak? Tolong photoin." pinta Satrio pelan.


"Nggak bisa sekarang." jawab Mas Didit.


"Kenapa?" tanya Satrio kaget.


"Lagi diajak jalan- jalan calon mamanya." jawab Mas Didit santai.


"Calon mamanya? Adis?!" tanya Satrio kaget.


"Lha iya. Siapa lagi di otakmu?" sergah Mas Didit galak.


Ya Allah,Dis....

__ADS_1


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...


__ADS_2