
"Nggak mau pegangan gitu?" tanya Satrio jahil pada Adis saat mereka berdua sudah berpisah dari Didit.
Satrio jelas sudah tahu dengan pasti kalau Adis akan menjawab ' nggak' dengan nada tegas.
Tadi keluar dari rumah Lukas, Satrio dan Adis masih 'dikawal' Didit sampai mereka berpisah di traffic light sebelah desa Lukas.
Mereka berpisah di traffic light itu untuk kembali ke alamnya masing- masing.
Didit mengambil arah selatan,dan Satrio dengan Adis di boncengannya mengambil arah Utara.
"Langsung pulang tapi ke rumah masing- masing ya!" kata Didit kembali mengingatkan saat mereka tadi berjajar di depan traffic light.
Adis hanya mendengus kesal dan Satrio tersenyum sambil mengacungkan jempolnya.
Tak ada percakapan di antara keduanya selama perjalanan yang hampir satu jam.
Hanya sesekali saja mereka terlibat tanya jawab singkat di udara malam jalanan Jogja yang terasa sejuk malam itu.
"Beli jajanan dulu yuk. Mau nggak Dis?" tawar Satrio saat mereka berhenti di depan lampu traffic light kedua sebelum mereka sampai di kompleks.
"Mau jajan apa?" tanya Adis.
Satrio tersenyum senang.
"Sugar ( susu segar) dan tikar ( roti bakar) mau nggak?" tawar Satrio.
"Ya." jawab Adis pelan dan Adis langsung menyesali jawabannya barusan.
Ngapain juga nurutin nih orang? Hadeh, Diiiiis! Kenapa nurut banget sama dia siiiih????
"Kalau....." ucapan Adis nggak jadi berlanjut saat dia baru menyadari Satrio sudah menghentikan motornya di kedai kecil penjual susu segar dan roti bakar yang lumayan banyak pengunjungnya.
"Kalau apa?" tanya Satrio sambil menerima helm yang Adis serahkan padanya.
Oh ternyata Satrio dengar ucapannya.
"Kalau take away aja bisa nggak?" tanya Adis kemudian sambil sedikit melirik ke arah dalam kedai yang nampak homy itu.
Sebenarnya Adis pengen menikmati jajanan itu disini saja sekarang. Tapi ini udah hampir jam sebelas malam, bersama cowok pula.
Bagaimanapun dia harus jaga nama baiknya sendiri. Apalagi dia dan Satrio bertetangga.
Pulang dari sini nanti pun pasti sudah akan jadi bahan omongan, minimal oleh satpam.
Adis berjanji dalam hati kapan- kapan akan kesini lagi sendirian atau ngajak Mbak Yanti.
Dia ingin menikmati suasana di dalam sana.
"Bisa banget. Aku juga niatnya mau take away. Kamu nanti kemalaman sampai rumah, aku bisa dihajar Mas Didit nanti." kekeh Satrio kemudian meraih dan mendorong bahu Adis lembut agar berjalan di sampingnya.
'Kamu mau susu yang rasa apa?" tanya Satrio sambil menatap Adis yang duduk di sebelahnya sambil memegang kertas menu.
"Melon." jawab Adis singkat sambil melihat jemari Satrio yang sedang menulis di nota order.
Jari- jari tangannya panjang- panjang dan bagus. Berkesan kokoh tapi lembut.
"Oke. Rotinya rasa apa?" tanya Satrio dengan tangan yang masih asik menulis.
"Coklat kacang." jawab Adis sambil melirik tulisan tangan Satrio.
Hmmmm, bagus dan rapi juga tulisannya....
"Mbak Yanti dibeliin rasa apa nih?" tanya Satrio dengan mengangkat wajahnya yang tadi tertunduk.
Matanya menangkap tatapan mata Adis yang mengarah ke tulisannya.
__ADS_1
"Tulisanku keren kan?" kata Satrio pongah. Membuat Adis otomatis mendengus kesal.
"Semakin terpesona padaku ya?" ledek Satrio sambil terkekeh.
"Dih! Terpesona dari Hongkong?!" sungut Adis dengan wajah kesal.
"Dari Hongkong juga boleh.....Yang penting bagiku terpesonanya dari hati. Nggak usah jauh-jauh dari Hongkong." kekeh Satrio sambil mengerling.
Adis memanyunkan bibirnya.
"Mbak Yanti dibeliin rasa apa?" tanya Satrio mengulang lagi.
"Susu rasa strawberry.....Nggak usah dibeliin roti bakar. Dia nggak suka roti bakar SMA sekal. Dia sukanya roti kukus." kata Adis sambil tersenyum geli mengingat gimana gelinya wajah Mbak Yanti kalau melihat roti bakar. Kayak ngeliat ulat bulu aja.....
"Oke deh!" kata Satrio kemudian beranjakendekat ke meja kasir untuk order dan sekalian mengambil cemilan di dekat kasir untuk menunggu pesanannya siap.
"Nunggu pesanannya jadi sambil ngemil." kata Satrio sambil meletakkan sebungkus peyek kacang dan sebungkus kacang kulit serta dua botol air mineral.
Adis memilih mengupas kacang saat peyek kacang telah di dominasi oleh Satrio.
Dengan santai dia mengupas satu demi satu kacang tanah sangrai itu lalu memasukkannya ke mulutnya.
Karena kurang kerjaan, dia menata kulit kacang di mejanya hingga membentuk gambar lilin. Lalu merubahnya lagi menjadi bentuk rumah.
Satrio hanya diam saja mengamati kegiatan Adis itu.
"Sehari tadi Panji ada menghubungi kamu nggak, Dis?" tanya Satrio sambil menatap wajah Adis.
Hhhhhh, tambah malem kenapa keliatan tambah cakep ya nih cewek?
"Enggak." jawab Adis singkat.Satrio menghela napas lega.
Berarti ancamannya mempan. Panji menepati janjinya untuk melepaskan Adis dan tidak lagi mengganggunya.
"Kalian berdua ngelakuin apa sama Panji sampai dia mau mutusin aku dan nggak ganggu aku lagi?" tanya Adis sambil menatap Satrio dengan tatapan memaksa ingin tahu.
Dan dia juga yakin, pasti ada sesuatu yang membuat Panji tiba- tiba memutuskan dia.
"Kami.....melakukan apa yang bisa kami lakukan untuk menjauhkanmu dari Panji." jawab Satrio diplomatis.
"Iya....kalian ngelakuin apa?" tanya Adis mendesak Satrio.
"Ada.....Kami melakukan sesuatu yang membuat Panji nggak punya pilihan selain mutusin kamu dan nggak mengganggu kamu lagi." jawab Satrio tetap nggak mau bercerita detailnya.
"Detailnya yang kalian lakukan itu apa?" tanya Adis mulai emosi dengan jawaban Satrio
Satrio mengurut hidungnya pelan.
Nggak etis rasanya mengumbar aib Panji walau si bahlul itu sangat menyebalkan.
Apalagi dia mau menepati janjinya.
"Ada. Aku nggak bisa ceritain detailnya. Tapi intinya kami punya kesepakatan sama Panji untuk masalah ini. Dia lepasin kamu, dan kami simpan rahasianya. Semacam barter gitulah." kata Satrio dengan tatapan was- was.
Terus terang dia khawatir Adis tersinggung dengan istilah barter barusan.
Adis hanya mampu menghela napas berat.
"Semerepotkan itu ya aku buat kalian?" gumam Adis dengan tawa getir.
"Nggak repot juga sih, Dis. Aku melihatnya sebagai cara semesta menjagamu dan melepaskanmu dari si Panjul itu. Walau menurutku agak terlambat sih.....Kita telat kali ya kenalnya?" kata Satrio mencoba mengalihkan pembicaraan ke hal yang lebih ringan dan -dia harap- lebih menyenangkan.
"Telat gimana?" tanya Adis sambil mengerutkan keningnya.
"Ya mungkin kalau kita kenal lebih awal, kamu nggak perlu kenal si Panjul itu. Apalagi jadi pacarnya. Pasti kamu milih aku daripada si Panjul itu." kata Satrio sambil meringis.
__ADS_1
Adis melirik kesal padanya.
"Heran.....Ada orang over confidence nya kayak gini....Bikin eneg aja." sungut Adis sambil membuang pandangannya ke samping.
"Bukannya kepedean.Tapi aku melihat kelebihan dan mencoba menonjolkan kelebihan yang ada pada diriku." kata Satrio ngeles.
"Ya itu namanya kepedean! Ngerasa diri sendiri lebih. Ampun deh!" sergah Adis sambil menepuk dahinya sendiri.
Satrio tertawa melihat kegemasan Adis padanya.
Entah mengapa wajah bersungut-sungut Adis selalu membuatnya senang.
"Dikurang- kurangin ngegombalnya sama anak orang. Jangan bikin patah hati anak orang gegara gombalanmu." kata Adis dengan kesal.
"Anak orang yang mana? Aku nggak pernah ngegombal." sergah Satrio.
"Itu tadi.....yang di bilang ibunya Lukas? Pacarmu yang selalu kamu omongin sama Lukas, bukan anak orang?" tanya Adis kesal.
Entah mengapa dia kesal sekali mengingatnya saja.
"Yang dikira pacarku?" tanya Satrio sambil menatap Adis sambil tersenyum. Adis tak menjawab saking merasa kesalnya.
"Kenapa senyum- senyum gitu?! Sok kecakepan!" seru Adis kesal.
Bukannya menjawab malah bikin perkara baru aja. Menyebalkan!
"Harusnya tadi kamu tanya ke Lukas,aku ngobrolin siapa kalau lagi sama dia...." kata Satrio sambil tetap menatap Adis yang memilih membuang tatapan ke arah jalanan.
Terus terang saja, dia jengah ditatap Satrio selembut itu.
Rasanya pengen mengelus wajahnya. #eh....
"Mana mungkin aku nanyain kayak begituan. Hellooowww....siapa gue harus nanya- nanya gitu sama Lukas?!" sungut Adis makin sewot.
"Ya udaaaaah....Sekarang kamu jadi siapa- siapanya aku dulu aja deh....Biar kamu bisa nanya ke Lukas. Gimana?" tanya Satrio sambil menatap Adis serius.
Adis menatap Satrio nggak mengerti.
Maksudnya Satrio ngomong barusan apa?
"Gimana? Mau?" tanya Satrio lagi karena Adis hanya diam saja dengan kebingungan di dalam benaknya.
Satrio menggoda Adis yang terus diam dengan menowel- nowel lengan Adis dengan botol minumannya.
"Mau nggak?" tanya Satrio lagi.
"Apaaa?" tanya Adis kesal.
"Jadi siapa- siapanya aku." jawab Satrio sambil tersenyum malu. Membuat Adis gemas melihatnya.
"Nanti sampai rumah minum obat panas,biar kepalamu dingin dan nggak gesrek gitu." kata Adis kemudian.
Satrio berdecak.
"Ya udah kalau nggak mau. Seenggaknya aku udah ngomong sama kamu....Sedikit melegakan." kata Satrio akhirnya, dengan wajah sedikit kecewa.
Adis hanya terpaku menatap wajah kecewa Satrio.
Satrio patah semangat? Tentu saja tidaaaak....
Tapi dia merasa harus mundur dulu untuk mengambil ancang- ancang yang lebih meyakinkan untuk mendapatkan cinta Adis.
Mulai besok. Ya. Mulai besok dia akan mengambil ancang- ancang itu.
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...
__ADS_1
Belibet amat yak?!! 😜