
Satrio menerima uluran kue ulangtahun dari tangan Reta dengan hati trenyuh. Bagaimana dia tidak trenyuh bila anak itu sudah berlinang airmata saat menyerahkan kue itu.
Dia adalah orang kedua yang menerima potongan kue ulang tahun itu. Setelah Adis tentu saja.
"Terimakasih, Sayang." kata Satrio pelan sambil memeluk Reta lembut.
Ini adalah perayaan ulang tahun kedua setelah mereka menjadi ayah dan anak.
Dan perasaan haru yang tengah menyelimuti mereka seperti ini seperti dejavu seperti perayaan tahun lalu. Dan mungkin akan terus terulang tiap tahunnya kelak.
Satrio sungguh berharap dia tak akan pernah kehilangan moment- moment manis pertambahan usia anak- anaknya seperti ini.
"Terimakasih, Ayah. Sudah selalu sayang sama aku dan Mama juga adik- adik. Selalu mengingatkan aku untuk selalu mendoakan Papa Beni juga." kata Reta dipelukannya.
"Sama- sama, Sayang. Terimakasih juga kamu selalu jadi anak yang penurut dan sayang dengan keluarga kita. Ayah selalu berdoa semoga kamu sehat selalu, panjang umur,dan jadi anak yang solehah. Ayah dan Mama berdoa semoga semua cita- cita kamu akan tercapai ya,Nak." bisik Satrio dengan suara parau menahan haru.
"Aamiin. Terimakasih, Ayah." sahut Reta dengan terbata disela linangan airmatanya.
Tak pernah terbayangkan dalam kehidupannya akan mengalami moment haru seperti ini setiap kali merayakan ulangtahun anak- anaknya.
Apalagi menghadapi anak selembut Reta yang selalu mampu membuatnya terharu tiap kali berkata- kata serius.
Sekarang baru Reta yang mampu berkata- kata menyentuh hati.
Mungkin beberapa tahun lagi nanti satu lagi bidadari kecilnya yang lain, yaitu Prisha mungilnya akan mampu menciptakan moment haru seperti ini lagi saat kelak dia berulangtahun.
"Aku juga mau dibagi kuenya, Kak." suara Bian memecah keharuan yang tercipta.
Reta segera melepaskan pelukannya pada Ayahnya kemudian menyusut airmatanya.
Dia kemudian memotong lagi kue ulangtahun mungilnya untuk dia berikan pada Bian.
"Telimakasih, Kak. Selamat ulang tahun ya... Semoga kakak selalu baik dan cantik kayak Mama. Cepat gede bial bisa sekolah jauh. Bial aku jadi anak paling gede dilumah, hihihi..." kata Bian sambil menutup mulutnya.
Suasana haru langsung menguap dan berganti suasana riang begitu celotehan Bian mulai menguar.
Adis sudah menyusut airmata harunya dalam pelukan sebelah lengan Satrio.
Prisha kecil bertepuk tangan riang dikursi mungilnya sambil menatap kue yang belum dia dapatkan.
"Pica mau kuenya kakak juga?" tanya Adis pada bungsunya itu.
"We..akak..." celoteh Prisha sambil menunjuk- nunjuk kue ulangtahun kakaknya.
Reta bergegas memotong kue lagi lalu dia letakkan di depan Prisha yang menatap kue dengan sangat antusias.
"Pelan- pelan ya makannya, Dek." kata Reta lembut.
"Ya..." jawab Prisha dengan wajah serius.
"Bilang telimakasih dong Dek sama kakak." kata Bian sambil menatap Prisha yang memperhatikan ucapannya.
"Aciiiih..." kata Prisha kemudian sambil menundukkan kepalanya khidmat.
Satrio dan Adis tersenyum melihatnya.
"Sama- sama, Dek." kata Reta kemudian memeluk Prisha sekilas.
"Mam we, Ma..." kata Prisha sambil menunjuk kue dan menatap Mamanya penuh semangat.
"Pengen makan kuenya kayak Abang ya?" tanya Adis sambil mendekat ke arah Prisha yang nampak sudah tak sabar ingin mencicipi kue ulangtahun kakaknya seperti Abangnya yang sudah asik mengunyah kuenya disamping ayahnya.
"Yah, we..." kata Prisha sambil menatap Ayahnya yang sedang tersenyum- senyum melihat Bian yang nampak sangat menikmati kuenya.
"Iya, Sayang. Ayah juga makan kuenya." jawab Satrio saat mendengar suara anak bungsunya.
Reta sendiri masih sibuk memotong- motong kuenya dan membaginya untuk semua ART yang ada di rumah.
Satrio dan Adis memang selalu merayakan ulangtahun anak-anaknya hanya selalu di rumah bersama orang yang kerja di rumah saja. Tak pernah mengundang lainnya.
Hanya untuk sekedar have fun saja saat anak- anak masih kecil agar mereka punya kenangan tentang kue ulang tahun seperti teman- teman mereka.
Nanti saat mereka beranjak besar, rencananya, mereka tidak akan merayakan ulang tahun dengan tiup lilin dan potong kue lagi, tapi akan mengarahkan anak- anak bersedekah lebih banyak dari biasanya saat ulang tahun mereka sebagai ungkapan rasa syukur.
Tadi pun Reta sudah menyerahkan uang celengannya kepada Mamanya agar bisa dibuatkan nasi bungkus untuk dibagikan ke orang yang kurang mampu.
__ADS_1
Kebetulan besok hari Jum' at, sekalian untuk menambah jumlah nasi box yang selalu dibuat Adis tiap hari Jum' at untuk acara Jum' at berkah.
"Assalamualaikum...." semua menoleh ke asal suara yang mengucapkan salam.
Seorang Mbak bergegas menuju pintu depan untuk melihat siapa yang datang.
Dan tak berselang lama nampak Widuri datang diikuti Wira dibelakangnya yang membawa satu tas besar dan diikuti Mbak tadi yang juga membawa satu tas tak kalah besar.
"Om Wilaaaa...!" seru Bian bergegas berlari ke arah Om kesayangannya lalu memeluk pinggangnya.
"Tante Widuri..." sapa Reta yang langsung salim pada Widuri yang kemudian memeluknya.
"Selamat ulang tahun ya, Cantik." kata Widuri sambil mencubit pelan pipi Reta yang tersenyum manis.
"Terimakasih, Tante." kata Reta yang kemudian mendekat ke arah Wira dan kembali salim.
"Selamat ulang tahun kakak Reta... Tuh Om bawa hadiah banyak banget titipan dari Oma dan Opa juga." kata Wira sambil mengelus kepala Reta lembut.
"Waaaaaawwwww, banyak banget!" seru Reta dengan wajah yang tak bisa menyembunyikan keriangannya.
"Itu buat kakak semua, Om?" tanya Bian keheranan.
"Iya. Kan kakak yang lagi ulang tahun." kata Wira sambil mengulum senyum.
Bian nampak terdiam.
"Ma, Abang ulangtahunnya masih lama nggak?" tanya Bian sambil menatap Mamanya.
"Enggak. Dua bulan lagi. Kenapa?" tanya Adis penasaran.
"Besok kalau Abang ulang tahun dikasih hadiah yang banyak gini juga ya,Om." pinta Bian sambil menatap Wira penuh harap.
Semua terkekeh mendengarnya.
"Ya kalau Om pas punya uang nanti Om kasih hadiah banyak kalau kamu ulangtahun. Tapi kalau Om nggak punya uang ya nggak Om beliin." jawab Wira sengaja meledek keponakannya itu.
Bian langsung terdiam dan menunjukkan wajah yang menahan kecewa.
Satrio menendang pelan kaki Wira yang duduk di sebelahnya.
"Itu ada hadiah buat Abang juga kok, Bang. Yang bungkusnya biru buat Abang semua." kata Widuri yang membuat wajah Bian langsung sumringah.
"Benelan Tante?! Abang juga dapat hadiah?" tanya Bian sangat gembira.
Dia langsung membongkar tas dan mencari hadiah berbungkus biru miliknya.
"Alhamdulillah...Abang dapat empat..." serunya senang sambil memeluk empat kado berukuran lumayan besar di dadanya. Wajahnya sangat berseri- seri karena kegirangan.
"Bilang apa Bang sama Om dan Tante?" tanya Satrio kemudian.
"Telimakasih, Tante..." seru Bian riang.
"Kok nggak terimakasih sama Om?" protes Wira kemudian.
"Nggak! Om nakal! Bohongin Abang!" jawab Bian dengan wajah kesal kemudian duduk merapat ke mamanya.
"Mampus lu!" ejek Satrio sambil bergumam pada Wira.
"Kelakuan anak lu!" balas Wira sambil terkekeh pelan.
Semua ART sudah kembali ke rumah belakang untuk menghabiskan kue ulangtahun yang sudah diserahkan Reta dan diangguki oleh Adis.
Reta dan Bian sudah asik membuka kado yang ternyata untuk tiga anak Satrio.
Karena besok hari libur, Reta dan Bian boleh berangkat tidur jam sembilan nanti.
Sedang Adis sudah menghilang bersama Prisha untuk mengganti baju dan menidurkan anaknya itu di kamar.
"Nanti jam sembilan, nggak usah di minta, Kakak dan Abang langsung masuk kamar ya... Ayah sama Om dan Tante mau ngobrol di teras samping." kata Satrio setelah sebentar ikut mengamati dan mengomentari hadiah- hadiah untuk anak- anaknya.
Kedua bocah itu mengangguk patuh.
Prisha tentu saja mendapat hadiah beberapa baju dan mainan.
Sedang Reta mendapat hadiah baju, tas, dan buku bacaan.
__ADS_1
Sedang sang pangeran Bian sangat senang mendapat hadiah alat gambar, mainan senapan,dan helikopter remote.
"Ayah,aku coba helicoptel dulu boleh?" tanya Bian sambil menyusul langkah ayahnya dengan mainan helikopter hadiahnya yang lumayan besar itu di dekapannya.
"Besok aja, Bang. Ini udah gelap, kalau helikopternya nyasar nanti bingung kita nyarinya." jawab Satrio menjelaskan.
"Ya udah besok aja." kata Bian tanpa membantah kemudian kembali berbalik menuju tempatnya duduk bersama Reta untuk kembali mengagumi hadiah- hadiah yang di dapatnya.
"Kok bisa nurut banget anak- anak lu,Mas." kata Wira dengan tatapan kagum pada kakaknya yang duduk santai di depannya.
Mereka bertiga duduk berselonjor santai di gazebo samping rumah sambil menikmati kopi dan cemilan.
"Siapa dulu dong Bapaknya." seloroh Satrio congkak.
"Heleh! Bapaknya elu, tapi yang ngajarin bener gue yakin emaknya. Bapaknya modelan kayak gini gimana bisa ngajarin anak...." sahut Wira sengit.
"Enak aja lu! Gue juga ngajarin bener kalau sama anak." protes Satrio nggak terima.
Wira terkekeh- kekeh melihat wajah sewot kakaknya itu.
"Kalian ngapain ujug- ujug kemari? Kawin lari lu pade?" tanya Satrio ngasal.
Widuri mencebik kesal sambil mendelik. Sedang Wira kembali tertawa.
"Emang bisa kawin sambil lari?" seloroh Wira mulai error.
Widuri semakin mendecih kesal mendengarnya.
"Kawin enaknya sambil berdiri atau tiduran sih." sahut Satrio dengan wajah tanpa dosa.
Wira terkikik- kikik mendengarnya sambil melirik Widuri.
"Bang! Nyebelin ih!" bentak Widuri mulai jengah dwngan obrolan dewasa dua lelaki yang jadi kakaknya itu.
"Nyebelin apaan? Ngenakin tahu! Makanya buruan kawin lu, biar tahu rasanya. Nggak maju mundur nggak jelas kayak gini kalian mah. Inget umur!" kata Satrio setengah menasehati.
"Aku masih muda. Belum ada 30." sergah Wira cepat.
"Aku apalagi. Baru mau 25." sambung Widuri.
"Tahun depan lu 30, Sableng! Udah dead time lu! Gue nggak ada yang bantuin ngurus perusahaan kalau lu nggak kawin- kawin." seloroh Satrio yang dibalas cengiran Wira.
Lagi- lagi matanya melirik Widuri yang santai cengar- cengir.
"Udah, kawin aja deh kalian berdua. Gue restui deh. Daripada kelamaan HTS an ( Hubungan Tanpa Status) gini kan?" kata Satrio kembali memprovokasi.
"Gue sih dari dulu yes. Dianya yang nggak yes yes." kata Wira sambil menunjuk ke samping, ke arah Widuri yang tersenyum kecut.
Selalu begini kalau ada di antara dua lelaki ini.
"Move on, Tom...Mau sampai kapan lu begini terus? Adik gue kurang apa sama lu? Dia juga sholeh. Masih perjaka tingting juga." kata Satrio sambil menatap Widuri yang tersenyum samar walau terlihat getir di wajahnya.
"Udaaaah...Ganti topik ajah." potong Wira setelah melihat raut wajah Widuri yang nampak muram.
Satrio berdecak pelan, menahan kesal.
Dalam hati dia kesal dengan kesabaran Wira memburu Widuri yang seolah- olah jinak- jinak burung merpati.
Mau sampai kapan seperti itu?
Dia bahkan pernah memprovokasi Wira untuk move on saja dari cewek tomboy itu. Tapi Wira tak tertarik menurutinya.
"Gimana bisnis kalian? Lancar kan semua?" tanya Satrio setelah beberapa saat udara hanya diwarnaii aroma kopi.
"Alhamdulillah lancar. Kemarin aku baru membahas rencana buka cabang. Tapi baru rencana awal aja." kata Widuri mulai bersemangat.
Tiga bulan setelah Satrio resign waktu itu, akhirnya Widuri menyusul resign dan mulai belajar memegang perusahaan miliknya.
Walau cukup berat hati dia meninggalkan ibu dan adiknya diJogja, namun ibunya menyemangatinya tiada henti agar dia gantian berbakti pada Mamanya, ibu yang telah melahirkannya.
Dengan bimbingan Pak Susilo dan tentu saja sering berdiskusi dengan Wira soal bisnis, akhirnya Widuri mampu mengelola perusahaan warisan Papanya itu dengan baik.
...1 episode lagi...
...š§š§š§ T A M A Tš§š§š§...
__ADS_1
Happy weekend semuanyaaaa....šš