
Satrio tersenyum lega seusai mengirim video juz kelima pada Mas Didit.
Ya, sehari setelah syarat diberikan, Satrio kembali 'berkenalan' lagi dengan ayat- ayat suci dibantu seorang takmir masjid yang juga biasa mengajar anak- anak TPA mengaji yang dikenalnya di masjid kompleks.
Beruntung otak cerdasnya sangat mudah diajak bekerja sama untuk membangunkan kembali memorinya tentang semua huruf di kitab sucinya yang semasa kanak- kanal hingga awal akhil baliq dulu akrab di seusai sholat magrib di dalam keluarganya.
Setelah sudah kembali fasih membaca, Satrio sudah mulai mengirim video bacaan Al Qur' annya pada Mas Didit.
Satrio menarget dirinya sendiri dalam seminggu bisa setor dua juz pada Mas Didit.
Video dia ambil seusai ikut jamaah shalat magrib di pojok masjid yang sepi sambil menunggu adzan sholat isya'.
Satrio sungguh merasa waktu seusai senjanya sangat berharga sekarang.
Tiap juz yang dia baca seakan merupakan satu langkah maju untuk semakin mendekat kepada tujuan mulianya. Melamar Adis secara resmi kepada orangtuanya.
Semakin hari hatinya semakin mantap untuk meminang emak kucing yang jutek namun bisa sangat lembut saat bersama orangtua dan anaknya, dan sangat menggemaskan bila di depannya.
Getaran ponsel di sakunya mengakhiri lamunan Satrio yang baru saja mulai.
Pesan dari Adis rupanya. Menanyakan malam ini jadi pergi keluar makan nggak.
Satrio : jadi dong. Nanti setelah isya' ya sayang...💗
Satrio mengirim pesan itu dengan tersenyum membayangkan wajah Adis yang tersipu- sipu karena dia panggil ' sayang'.
Uh, sungguh menggemaskan sekali cewek itu.
❤️Mamanya Reta ❤️ : OK (✷‿✷)
Hanya itu jawaban yang diterima Satrio kemudian.
Satrio : Luv U ⊂((・▽・))⊃
Satrio kembali mengulum senyum sembari mengirim pesannya.
Pasti dia nggak jawab, wakakak....
Dan senyum Satrio semakin merekah saat dilihatnya Adis masih mau membalas pesannya.
❤️Mamanya Reta ❤️ : udah tahu dari dulu 😛
Satrio nyaris tergelak membaca pesan itu.
Untung saja dia masih sadar posisi kalau masih ada di pojokan teras masjid.
Walau nggak ada orang di dekatnya, tapi di dalam masih ada beberapa jamaah yang memang setiap harinya nggak pulang seusai sholat magrib karena sekalian akan jamaah sholat isya'.
Baru akan membalas ledekan Adis, pesan dari Adis kembali masuk.
❤️ Mamanya Reta ❤️ : nanti g bisa pakai motorku. Lagi dibawa Mbak Yanti sore tadi ke buliknya.
Satrio mengangguk- angguk mengerti.
Satrio : y udah gpp, nanti pakai mobil aja. 😊
Send.
❤️ Mamanya Reta ❤️ : maticmu kan ada...yang biasa dipakai Mbak Puji itu...
Satrio : lagi rewel...tadi pagi dipake mbak Puji aja macet katanya. Besok baru mau kubawa ke bengkel.
Send.
❤️ Mamanya Reta ❤️ : Owh...y udah pakai mobil gpp ◉‿◉
Satrio : Sip ! 😘
__ADS_1
❤️ Mamanya Reta ❤️ : 🤡 🤛 B Y E ‼️
Satrio kembali tersenyum sebelum memasukkan kembali ponselnya.
Ya, bahkan hanya saling berbalas pesan seperti ini saja sudah bisa membuatnya sebahagia ini.
Benar- benar seperti kembali merasakan jatuh cinta untuk pertama kali seperti saat ABG dulu.
Besarnya ketulusan cintanya bahkan sanggup dengan mudah meredam hasratnya menyentuh Adis tiap kali mereka berdua.
Satrio merasa Adis sangat terjaga dan sangat membuatnya sungkan untuk sembarangan memyentuh.
Entah kemana hilangnya naluri Casanova dan penakluk perempuan yang dulu menjadi kelebihannya.
Bahkan saat menatap Adis terlalu lama pun tak sanggup Satrio lakukan.
Dia merasa malu pada dirinya sendiri.
Dia merasa tamak.
Entahlah bagaimana menjelaskan perasaan menghargainya pada Adis.
Ya Allah, mudahkanlah hamba mendekat kepadanya bila memang dia jodoh yang KAU beri untukku, doa batin Satrio saat dia beranjak untuk berwudhu karena adzan isya' baru saja selesai berkumandang.
🧚🧚🧚🧚🧚
Satrio tersenyum melihat Adis nampak cekatan mengunci gerbang lalu mendekat ke mobil.
Adis tampil sederhana namun cantik dengan dress kotak- kotak hitam yang dilapisi vest warna cream.
Satrio yang sudah turun dari mobil dengan cekatan membukakan pintu mobil untuk Adis.
"Berasa kayak jadi nyonya kalau dibukain pintu gini." kata Adis sambil tertawa geli.
"Secepatnya akan ku wujudkan gelar itu untukmu." kata Satrio sambil mengerling kemudian menutup pintu dan dengan langkah cepat memutari bagian depan mobil untuk masuk ke balik kemudi.
Adis hanya tersenyum kecil sambil mengaminkan dalam hati ucapan Satrio barusan.
"Kita ke atas yuk Mas. Mumpung bawa mobil, nggak dingin." ajak Adis sambil meringis.
"Oke. Kemana?" tanya Satrio kemudian.
Adis menyebut satu nama garden resto yang ada di jalan Kaliurang km.16.
Tak terlalu jauh dari rumah tinggal mereka.
"Reta udah pernah diajak kesini belum?" tanya Satrio saat mereka sudah sampai dan sedang mencari tempat duduk.
"Belum. Kemarin mau aku ajak kesini malah di ajak Mas Didit makan melulu di tempat makan di daerah dekat rumahnya." jawab Adis dengan wajah agak menyesal.
Satrio tersenyum mengerti.
"Besok kalau dia kesini lagi kita ajak kesini. Kalau siang bisa main ke Bumi Merapi juga. Pasti dia suka." kata Satrio penuh semangat.
"Kemarin cuma dua hari doang disini karena nggak libur sekolahnya. Cuma ngikut Papa yang ada tugas ke Solo." kata Adis kembali menerangkan.
Satrio mengangguk walau dia sudah mendengar soal hal itu di malam mereka bertamu ke rumah Adis.
Tapi karena perempuan sangat senang kalau apa yang dia bicarakan di dengarkan dan di tanggapi dengan baik, maka Satrio melakukan itu.
Keduanya berbincang dengan hangat sambil menunggu pesanan makanan mereka datang.
Adis sangat menikmati suasana out door resto itu.
Menikmati udara yang sejuk nyaris dingin sambil menikmati langit yang hanya berhias sedikit bintang dan bulan yang muncul separo lingkaran.
Bangku- bangku lawas di sekitarnya juga tak terlalu penuh terisi pengunjung membuat suasana semakin terasa nyaman untuk berbincang.
__ADS_1
"Sat! Satrio kan?" sebuah suara nyaring mengusik Satrio dan Adis yang sedang membicarakan soal Lukas.
Satrio menoleh cepat ke sampingnya dan mendapati seorang perempuan cantik dan tentu saja wangi sedang tersenyum manis menatapnya.
Adis menatap sekilas tampilan perempuan itu. Paha putih mulusnya terekspose sempurna karena dia hanya menggunakan hotpants.
Walaupun tubuh atasnya ditutupi jaket jeans, tapi innernya berdada rendah, nyaris menampakkan jalan di tengah gunung kembarnya yang terlihat montok
"Beneran Satrio?" tanya perempuan itu masih dengan tatapan terkejut namun juga nampak sangat senang.
"Iya. Ini gue. Apa kabar lu?" tanya Satrio sambil mengulurkan tangannya, menahan tubuh perempuan itu yang nampak sudah siap sedia akan memeluknya.
Dengan kaku perempuan itu menyambut uluran tangan Satrio.
"Baik...Gue baik. Ngilang gitu aja lu dari peredaran. Ngumpet disini lu?" tanya perempuan itu kemudian.
Matanya lalu tertumbuk pada Adis yang nampak tenang menatap mereka dengan tersenyum.
"Kenalin, namanya Adisty. Calon istri gue." kata Satrio sambil minta Adis berdiri dengan tatapannya pada Adis.
Adis bergegas berdiri kemudian mengulurkan tangannya dengan cepat pada perempuan itu.
"Sukma." kata perempuan itu dengan ramah sambil menjabat tangan Adis dengan hangat.
"Pindah haluan lu sekarang? Jadi sama ukhti- ukhti sukanya." kata Sukma sambil tertawa riang dengan menatap Satrio dan Adis bergantian.
Adis hanya tersenyum santai saja. Dia tahu Sukma nggak ada tendensi mengejeknya.
"Kita kan nggak tahu jalan kita ke depannya gimana. Alhamdulillah aku ketemu dia.Semoga kami berjodoh. Doain gue ya." kata Satrio sambil tersenyum pada Sukma.
"Gue doain lu,Bro. Biarpun lu somplak,lu aslinya orang baik. Jadi wajar kalau Tuhan kirim lu jodoh yang Sholehah gini. Biar lu jadi orang baik terus ke depannya. Biar nggak somplak lagi." kata Sukma sambil terkekeh.
"Lu lagi ngapain ke Jogja? Liburan apa kerja?" tanya Satrio kemudian.
"Gue kan kerja sambil liburan terus kerjaannya." kata Sukma sambil tertawa penuh arti yang disambut tawa mengerti oleh Satrio.
"Pasangan lu mana?" tanya Satrio kemudian karena tak dilihatnya seorang pria pun di dekat Sukma.
"Lagi Nerima telpon dari bininya. Bisa setengah jam nggak kelar kalau lagi telponan gitu." jawab Sukma santai membuat Satrio tertawa pelan sambil mengangguk- angguk mengerti.
Sedang Adis mulai mencerna percakapan di depannya dengan sedikit kaget.
Pasangan. Belum tentu suami ya kan?
Nerima nelpon dari bininya. Terus Sukma ini siapanya lelaki itu? Selingkuhan? Atau istri muda?
"Dea apa kabar, Sat? Masih keep contact kan?" tanya Sukma santai.
Satrio melirik Adis sekilas kemudian menggeleng cepat.
"Kami nggak contact lagi begitu bubar." jawab Satrio santai.
Diliriknya wajah Adis yang tetap tenang sambil menerima makanan dari pelayan.
"Kirain masih komunikasi kalian. Ya udah aku balik dulu ya. Besok undang- undang kalo mau nikah lu." kata Sukma sambil tersenyum dan menatap Adis yang membalasnya dengan senyuman pula.
"Liat besok aja deh gimana." jawab Satrio sambil nyengir.
"Gue cabut dulu ya. Dis, gue pamit dulu." pamit Sukma sambil mengulurkan tangannya pada Adis.
"Ya. Makasih ya udah nyamperin Mas Satrio." jawab Adis hangat.
"Waaaah? Jadi mas- mas lu sekarang?" tanya Sukma tak bisa menahan tawanya.
"Iya! Gue jadi mas- mas sekarang. Jogja punya." kekeh Satrio setengah kesal dengan ledekan Sukma yang kemudian berlalu karena ponselnya berdering
"Ikut ngetawain aku?" sungut Satrio dengan wajah bersungut- saat dilihatnya Adis tersenyum- senyum menatapnya.
__ADS_1
"Enggak Maaaas." jawab Adis sengaja meledek.
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...