KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Kegundahan Adis


__ADS_3

Adis menelungkupkan wajahnya di meja makan dengan sedih.


Hatinya kacau sekali sejak kemarin.


Karena Panji, itu pasti.


Tapi sepertinya ada hal lain yang menambah kacau pikirannya.


Perlakuan Panji yang dirasakannya semakin hari semakin kasar dan nyaris di luar batas sangat membuatnya muak pada pria yang masih menyandang status sebagai kekasihnya itu.


Sesungguhnya sejak awal Adis setengah hati menerima lelaki itu sebagai kekasihnya.


Bila tidak mengingat agar orang tuanya merasa senang atas hubungannya dengan lelaki itu, Adis nggak mau berurusan dengan duda kaya yang berperilaku layaknya musang berbulu domba itu.


Semua Adis jalani karena dia sudah merasa sangat berdosa pada orang tuanya selama ini.


Dia juga merasa sangat merasa bersalah dan malu pada dirinya sendiri karena telah melakukan kesalahan besar walau orang tuanya tetap mau memaafkan bahkan merengkuhnya tanpa mengadilinya.


Itulah mengapa dia berjanji pada dirinya sendiri akan berusaha untuk selalu membuat senang orang tuanya.


Menerima Panji sebagai kekasihnya adalah salah satu hal yang akan menyenangkan kedua orangtuanya.


Adis berpikir mungkin deritanya saat bersama Panji adalah balasan di dunia baginya untuk kesalahan besarnya di masa lalu.


Orang tua Panji dan orangtuanya adalah teman lama.


Dari jaman mereka kuliah dulu.


Adis suka dengan orang tua Panji yang sangat baik menerima keberadaannya.


Tapi tidak dengan anak lelaki mereka.


Sejak awal dikenalkan, Adis tahu maksud kedua orang tua mereka adalah untuk menjodohkan mereka berdua.


Panji yang sangat bisa mencari muka di depan keluarganya tentu saja dengan sangat mudah diterima dan disayangi oleh kedua orang tua Adis.


Mereka berdua tidak pernah tahu perlakuan Panji pada Adis selama ini.


Lelaki itu kasar dalam bertutur kata, bahkan bila sedang badmood tak segan berlaku kasar pada fisik Adis sebagai pelampiasan emosinya.


Beruntung kini mereka terpisah jarak. Tak lagi sekota karena Adis memilih pindah ke Jogja.


Selain karena banyaknya pekerjaan di kota ini, satu- satunya hal yang membuatnya semakin merasa harus pergi dari kotanya adalah Panji.


Setidaknya jarak akan membuat mereka tak bisa sesering biasanya bertemu.


Panji tak akan bisa sesuka hatinya menghampirinya dan menyakitinya.


Adis sudah lelah dan ingin menyerah dengan hubungan toxic ini.


Dia sudah meminta selesai pada Panji. Tapi seperti dugaannya, lelaki itu tak mau melepaskannya.


Adis bahkan sudah mengadu pada ibunya soal perlakuan Panji padanya selama mereka menjalin hubungan. Tapi Ibunya tak percaya semau aduannya karena sikap manis Panji selama ini di depan mereka.


Adis akhirnya menyerah setelah berulangkali meyakinkan orangtuanya tapi tak dipercaya.


Dia tahu tak bisa mengharapkan bantuan orangtuanya untuk masalahnya dengan Panji.

__ADS_1


Mas Didit yang jadi sandaran terakhirnya sekarang.


Kakak lelakinya itu tak membantu dan melindunginya secara terang- terangan.


Tapi Adis tahu Mas Didit selalu mencoba mempersempit ruang temu antara Panji dan Adis.


Dan kejadian sebelum dia mengantarkan Panji ke stasiun tadi, semakin menambah kebencian Adis pada Panji.


Lelaki itu minta di jemput di hotel tempatnya menginap.


Adis sesungguhnya sangat enggan menuruti kemauan Panji itu.


Tapi akhirnya Adis menghampiri Panji ke hotelnya dengan perjanjian hanya menunggu Panji di lobby saja.


Dan tanpa bilang pada Panji, dia mengajak Reta yang dia harap bisa dia gunakan sebagai 'pelindungnya' bila Panji akan berbuat tak baik padanya.


Adis berpikir pasti Panji akan malu berbuat tak baik di depan seorang gadis kecil.


Tapi ternyata dugaannya salah.


Tatapan murka Panji langsung menusuknya saat lelaki itu tahu keberadaan Reta.


Salam gadis kecil itu hanya dibalas ala kadarnya oleh Panji tanpa ekspresi.


"Kenapa ngajak Reta?" tanya Panji sambil mengeram pada Adis yang duduk di sebelahnya.


"Buat nemenin aku jalan pulang nanti." dalih Adis manis.


"Alasan saja. Kamu sengaja kan biar dia menganggu kita? Biar aku nggak bebas berduaan sama kamu?" tuduh Panji tajam.


Sekalipun nanti Adis yang menang, pada akhirnya Adis akan sengsara juga oleh cengkeraman kasar tangan pria itu di lengan atau di wajahnya ditambah dengan kalimat mematikannya pada Adis.


"Kamu pikir kamu sebaik dan sebersih apa sampai mau bertingkah sok suci dan sok polos di depanku?" geram Panji dengan rahang yang terlihat menonjol karena menahan emosi.


Setiap kali Panji mengucapkan kalimat itu di depannya, Adis merasa langsung hancur.


Tulang belulangnya serasa raib dalam sekejap dari tubuhnya.


Menyisakan seonggok daging tanpa daya yang dengan jiwa meratap lara akan membiarkan tangan lelaki itu membelai wajahnya dengan gerakan kasar, lalu menciumnya dengan brutal.


Adis selalu semakin merasa dirinya adalah sampah tak berguna bila di depan Panji.


Airmata Adis kembali menetes saat diingatnya waktu di stasiun tadi Panji memaksa menciumnya di depan Reta namun Adis menolaknya secara halus.


Panji tak lagi memaksa tapi melepaskannya dengan sebuah ucapan yang merobek hatinya.


"Jangan sok jual mahal. Reta juga perlu mulai tahu kelakuanmu. Sebobrok apa kamu." geram Panji sambil mencengkeram tangan Adis dengan kuat lalu menghempaskannya sekuat tenaganya.


Adis sampai terhuyung nyaris jatuh karena hempasan kuat tangan lelaki penuh amarah itu.


Reta yang tak berbicara apapun hanya langsung memeluk pinggangnya erat.


"Aku takut." gumam Reta sambil mengeratkan pegangan tangannya dan menatap Adis yang sekuat tenaga berusaha terlihat baik- baik saja.


Beruntung kereta Panji segera datang dan lelaki itu harus segera meninggalkan mereka.


"Aku balik dulu." pamit Panji sambil menarik paksa tubuh Adis dan mencium keningnya cepat lalu berlalu tanpa menoleh sedikitpun pada Reta yang menatapnya takut.

__ADS_1


"Aku nggak suka sama Om Panji." kata Reta setelah Panji berlalu dan mereka berdua melangkahkan kaki bermaksud segera pulang.


Tapi tarikan tangan Reta menuju arah lain mengusik langkah Adis.


"Om Rioooo." dan terasa tiba- tiba saja gadis kecil itu sudah berpindah nemplok ke lelaki yang nampak menawan dengan jumper abu- abu dan chinos hitamnya itu.


Tas punggung menutup sempurna bagian belakang tubuh lelaki itu.


Dan yang sangat mencuri perhatiannya adalah satu kardus bergambar air mineral kemasan yang di tentengnya tanpa malu.


Senyum lelaki itu merekah hangat dan sempurna untuk Reta yang menengadah menatapnya.


Adis sungguh tersentuh melihat pemandangan sederhana itu.


Namun Adis memilih segera menyadarkan diri dari semua hal manis di depannya itu saat ingatannya kembali pada dua hari lalu saat di mall.


Adis yang sedang duduk sendirian menikmati minuman dinginnya di sebuah bangku mall menatap iseng ke arah toko perhiasan yang lumayan ramai di depannya.


Dan atensinya semakin menjadi saat dilihatnya dua orang yang dikenalnya tengah berjalan santai dengan berbincang masuk ke dalam toko emas itu. Widuri dan si Bapak kucing.


Nalarnya yang memerintah untuk tak perduli, tak sejalan dengan keinginan hati yang menuntun matanya semakin lekat menatap dari jauh Satrio dan Widuri yang nampak serius memilih perhiasan.


Hatinya tiba- tiba merasa hampa saat dilihatnya beberapa kali Adis mematut cincin di jemarinya dengan mengangkat tangannya di depan dada dan nampak. beberapa kali sedikit berdebat dengan Satrio.


Mereka membeli cincin.


Adis masih terus melihat pergerakan keduanya yang kini telah ada di wilayah kasir.


Rupanya mereka sudah menemukan cincin yang mereka sepakati.


Nalarnya yang memaksa untuk segera berpaling dari keduanya tetap saja kalah.


Matanya terus mengikuti pergerakan keduanya yang telah kembali berjalan santai keluar dari toko itu dengan jalan berdampingan tanpa bersentuhan sedikitpun dari tadi.


Sopan sekali mereka.


Adis kesal dengan dirinya sendiri kini.


Kenapa dia harus sesengukan sendiri di tengah malam bila mengingat hal itu?


Apalagi di dengarnya Satrio pulang ke Jakarta karena ada perlu dengan orangtuanya.


Apakah dia pulang untuk membicarakan hubungannya dengan Widuri? Ya pastilah itu. Apalagi? Keduanya bahkan sudah membeli cincin kemarin.


Adis mendongakkan kepalanya. Mencoba mencari udara sebanyak- banyaknya agar nyeri di hatinya sedikit terkikis.


"Sudah punya calon istri aja masih sok perhatian nanyain kami sudah sampai rumah belum. Dasar buaya!" gumam Adis kesal dan sedih.


Dan wajah cantiknya semakin menggelap saat diingatnya ucapan Reta.


"Om Rio baik. Sama kucing yang hewan aja dia baik. Sama aku juga baik. Tadi waktu di peluk dia rasanya tenaaaang banget. Kayak di peluk Papa." kata Reta dengan mata berbinar- binar bahagia..


Dan Adis tak kuasa lagi menahan laju airmatanya.


Malam ini dia menangis pilu. Entah untuk kesedihan yang mana.


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...

__ADS_1


__ADS_2