
Pagi itu Beni terlihat sangat enggan meninggalkan Adis yang sudah ada di tanggal H-1 dari jadwal Adis masuk rumah sakit untuk jadwal operasi Caesarnya.
Dalam pemeriksaan selama kehamilan Adis didiagnosa mengalami *plasenta akreta***®**.
Karena itu untuk mencari amannya, dokter memutuskan akan melakukan operasi Caesar untuk kelahiran bayinya setelah mendapat persetujuan dari Adis dan segenap keluarganya.
"Kok malah belum mandi? Ini sudah jam berapa?" kata Adis yang mendapati Beni malah duduk manis sambil memegangi segelas air putih.
"Aku nggak usah masuk kuliah aja hari ini. Nanti kalau kamu sewaktu- waktu kontraksi kan repot kalau nggak ada temennya." kata Beni.
"Temenku di rumah banyak. Tinggal jalan lima langkah dari pintu, itu udah rumah Mama. Ada Mama dan Mbak di sana yang selalu standby nemenin aku." kata Adis sambil menarik tangan Beni agar lekas mandi dan berangkat kuliah paginya.
"Hari ini aja deh aku bolosnya. Besok udah nggak akan bolos- bolos lagi." rengek Beni sambil memeluk bahu Adis bermaksud merayu.
"Katanya mau rajin kuliah biar bisa cepat lulus. Kuliah baru masuk belum dua bulan udah ogah- ogahan. Papa apaan itu?" omel Adis sambil melepaskan pelukan tangan Beni di pundaknya dan mendorong punggung Beni sampai masuk ke kamar mandi.
"Cepetan mandinya!" seru Adis begitu menutup pintu kamar mandi untuk Beni.
"Aku nggak mau kuliah hari ini pokoknya, Adiiiiis." seru Beni yang mirip rengekan tapi langsung disusul suara guyuran air di kamar mandi.
Beni akhirnya berangkat kuliah juga walau dengan wajah ogah- ogahan, tidak seperti biasannya yang selalu bersemangat.
Dia bahkan memeluk Adis sangat lama sebelum menuju motornya.
"Nanti kalau kamu mau lahiran dan aku nggak bisa nungguin, maafin aku ya. Jangan di tahan hanya buat nunggu aku. Bilang sama Reta Papanya selalu sayang dia." kata Beni membuat Adis keheranan.
"Reta siapa?" tanya Adis bingung.
"Anak Papa Beni ini namanya Retania Kiyomi. Mama....." kata Beni sambil mengelus perut besar Adis.
Setelah menciumi berulangkali perut itu, Beni pun berangkat setelah mencium bibir Adis sangat lembut dan lama.
"Pengen ciumin dia besok. Tapi bisa nggak ya?" gumam Beni yang nggak terlalu di tanggapi oleh Adis.
"Sampai jumpa, Mama Adis." pamit Beni dengan tersenyum manis, membuat Adis keheranan dengan sikap Beni pagi itu.
"Sampai jumpa siang nanti, Papa Beni." balas Adis dengan lambaian tangannya.
Siang nanti Beni janji sudah sampai rumah karena sorenya Adis harus sudah masuk rumah sakit sebelum besok operasinya dijalankan.
Sampai jumpa.....
Ternyata itu adalah salam perpisahan dari Beni untuk Adis dan bayinya untuk selamanya.
Siang harinya Adis mengalami tanda- tanda akan melahirkan dan segera ke rumah sakit bersama Mamanya.
Itu tentu di luar perkiraan mereka semua.
Sesampai di rumah sakit ternyata Papa dan kedua mertuanya sudah berada di sana.
"Beni dari tadi ditelpon nggak diangkat- angkat. Tapi sudah kami kirimi pesan kalau kamu mau lahiran, Dis." kata Ibu Beni yang menerima anggukan dari Adis yang sudah mulai kesakitan.
Ada sedikit penyesalan di hati Adis karena tadi memaksa Beni berangkat kuliah.
Kalau tadi dia membiarkan saja Beni membolos hari ini, pasti dia akan bisa melahirkan ditemani oleh Beni.
"Beni sudah OTW katanya, Dis. Dia malah nitipin kamu ke kami semua. Apa- apaan anak ini." kata Ibu Beni sambil mengelus- elus punggung Adis yang meringis- ringis dari tadi.
Adis masih menikmati kontraksinya saat di dengarnya Ayah Beni memanggil Ibu Beni agar keluar ruangan bersalin sebentar dan kini posisinya di ganti oleh Papanya.
Adis sedikit keheranan melihat wajah pias Papanya. Dia mengira Papanya pucat karena melihatnya akan melahirkan.
__ADS_1
"Aku nggak papa kok,Pa.Pasti lancar proses ngelahirinnya." kata Adis dengan nafas pendek- pendek, bermaksud menghibur papanya yang nampak sangat cemas.
"Ya,Nak. Kamu harus kuat. Janji sama Papa Mama ya, kamu harus kuat." kata Papanya dengan wajah hampir menangis.
Adis hanya mengangguk dengan semangat.
"Ma, temenin aku ya.Beni bilang aku nggak perlu nunggu dia kalau merasa mau lahiran." kata Adis membuat Papanya malah menangis.
Setelah kepala bidan mengabarkan ruang operasi siap, Adis diiringi Mama dan Papanya menuju ruang operasi.
"Beni belum sampai , Pa?" tanya Adis pelan.
"Kamu fokus saja sama kelahiran kamu , Nak." kata Papanya tanpa menjawab pertanyaan Adis.
Sejujurnya Adis masih berharap Beni akan muncul di depan pintu sana untuk menggantikan posisi Mamanya yang menemaninya masuk ke ruang operasi.
Tapi rasanya sudah tak mungkin lagi berharap.
Operasi akan segera dilakukan dan Beni tak juga muncul.
Tak apa, batin Adis kemudian.
Dia memilih membayangkan wajah bahagia Beni nanti dengan kelahiran putrinya, Adis memiliki semangat sangat besar untuk menjalani proses kelahiran itu dengan lancar.
Sore itu, seiring adzan ashar yang terdengar sampai di ruangan melahirkan itu, tangis pertama Reta pecah dan senyum bahagia Adis merekah.
"Tunggu Papamu sebentar lagi, Sayang." kata Adis ditengah rasa sakit yang masih terasa mencengkeram perutnya.
Mamanya sesaat tadi nampak berbincang dengan wajah serius dengan salah satu dokter yang menanganinya melakukan proses melahirkan.
Lalu dilihatnya tatapan sedih Mamanya yang langsung keluar ruangan itu.
Hati Adis mulai tak enak.
Apakah ada yang salah dengan anaknya?
"Anakku gimana, Sus?" tanya Adis pada suster yang nampak masih sibuk dengan bayinya.
"Alhamdulillah sehat sempurna, Mbak.Sebentar ya, Saya dandanin dulu biar cantik kalau mau diadzani papanya nanti." kata suster itu sambil tersenyum.
Adis mengangguk kecil.
Dan Beni. Kenapa sangat lama tak juga sampai?
Padahal jarak kampus ke rumah sakit paling lama di tempuh lima belas menit juga harusnya sudah sampai.
Ini sudah hampir dua jam dari terakhir Beni bilang OTW.
Lalu kemana keluarganya sekarang? Kenapa dia ditinggalkan sendirian disini?
Atau mungkin mereka semua ada di depan ruangan ini. Menunggu dia selesai menjalani semua proses ini.
Ya, mungkin begitu.
...🧚🧚🧚🧚🧚...
"Kita pulang dulu yuk, Sayang. Udah mau magrib. Kasihan Reta nungguin kamu di rumah dari tadi." suara Mama dan ibu mertuanya berkali- kali mengucapkan kalimat yang sama sejak tadi.
Mengajak Adis pulang, meninggalkan makam Beni yang baru sekali dia datangi setelah dua bulan suaminya itu tiada.
Ya. Beni meninggal di hari yang sama dengan kelahiran Reta, putri kecil mereka.
__ADS_1
Beni meninggal di rumah sakit yang sama dimana Adis melahirkan Reta.
Satu datang, satu pergi tak kembali.
Beni menghembuskan nafas terakhirnya setelah ayahnya membisikkan padanya kalau putri kecilnya sudah lahir dengan selamat.
Ada senyuman dan setitik airmata mengantarkan jiwa Beni meninggalkan raganya saat itu.
Kecelakaan beruntun terjadi di seberang rumah sakit saat ia hendak menyebrang ke rumah sakit demi menemani Adis melahirkan.
Sebuah bis yang remnya blong tak ayal menabrak beberapa sepeda motor dan mobil, dan salah satu korbannya adalah Beni.
Benturan keras dengan kendaraan besar membuat beberapa organ vital Beni rusak parah, dan masih ditambah lagi dengan pendarahan hebat di kepalanya membuat pertolongan maksimal yang dilakukan di IGD tak mampu menyelamatkan nyawanya.
Papa muda itu menghembuskan nafas terakhirnya sebelum sempat melihat wajah putri kecilnya.
Datangnya ajal mendahului keinginannya merawat gadis kecilnya hingga dewasa bersama Adis.
Dia pergi meninggalkan Adis yang hancur jiwanya.
Kehilangan kekasih hatinya tanpa sempat berbagi kebahagiaan atas kelahiran putri mereka dan tanpa bisa melihat wajah Beni untuk yang terakhir kali membuat jiwa Adis terguncang.
Hampir dua bulan dia seperti kehilangan jiwanya.
Mamanya hanya bisa menangis sedih sambil memeluknya tiap kali Adis bertanya kenapa Beni nggak pulang- pulang untuk melihat Reta nya.
Beruntung Adis masih menyadari kalau memiliki Reta.
Sedikit- sedikit, dengan bantuan ahli kejiwaan juga, Adis mulai belajar menerima kenyataan.
Dukungan penuh orangtua dan mertuanya semakin menguatkan jiwa Adis hari demi hari.
Dan disinilah dia kini. Duduk lama tanpa suara sedikitpun di sisi makam Beni yang penuh dengan bunga.
Airmatanya sebisa mungkin dia tahan hingga dadanya rasanya ingin meledak.
Dia tidak ingin Beni sedih disana karena melihatnya bersedih.
Dia hanya ingin menengok pembaringan terakhir Beni untuk mengucapkan selamat jalan pada kekasih hatinya itu.
Ucapan selamat jalan yang sudah sangat terlambat darinya.
"Aku pulang dulu ya, Ben. Jangan lupa tengokin Reta ya. Bilang sendiri padanya kalau kamu sayang dia." kata Adis sambil mencium nisan Beni lalu beranjak dengan enggan untuk meninggalkan makam.
"Besok aku boleh kesini lagi kan?" tanya Adis sambil menatap bergantian pada mama dan ibunya.
"Ya. Besok dianterin kesini lagi kalau kamu pengen kesini." jawab mamanya sambil tersenyum sedih.
Dan sejak hari itu setiap hari Adis mengunjungi makam Beni. Berlama- lama disana untuk menceritakan pertumbuhan Reta pada makam suaminya seolah Beni hanya sedang berbaring mendengarkan dia bercerita seperti kebiasaan mereka saat bersama di rumah dulu.
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...
Plasenta akreta ® adalah kondisi ketika plasenta (ari-ari) tumbuh terlalu dalam pada dinding rahim. Kondisi ini merupakan salah satu masalah kehamilan yang serius karena dapat mengakibatkan perdarahan hebat dan kerusakan pada rahim.
Setelah seorang ibu melahirkan, plasenta yang normal biasanya akan terlepas dari dinding rahim.
Pada penderita plasenta akreta, sebagian atau seluruh plasenta tetap melekat erat ke dinding rahim karena tumbuh terlalu dalam. Hal ini dapat menyebabkan perdarahan hebat setelah melahirkan.
Persalinan pada pasien plasenta akreta dilakukan dengan operasi caesar.
Ada dua pilihan yang bisa dilakukan oleh dokter, yaitu operasi caesar dengan histerektomi ( prosedur medis untuk mengangkat rahim) dan operasi caesar dengan mempertahankan rahim.
__ADS_1
(Sumber : www.alodokter.com)