
Satrio melirik jam tangan Bell &Ross di pergelangan tangan kirinya. Hampir jam setengah tujuh malam.
Makan malam setelah sholat magrib mereka berdua tak lebih dari lima belas menit.
Satrio tak menyangka Adis bisa mengimbangi gaya makan cepatnya kali ini.
Adis hanya lebih lambat satu suapan darinya saat menyelesaikan makannya.
Adis juga tak terlihat terburu- buru makannya.
Sebuah nilai plus lagi.
Adis bisa mengimbanginya.
Seusai mereka cuci tangan, kemudian Adis masih membasuh tangannya sendiri dengan hand sanitizer -dan Satrio mengikutinya- Satrio sudah kehilangan mood untuk membahas masalah cintanya.
Tapi ternyata Adis malah mulai membuka pembahasan masalah itu.
"Kita lanjutkan bahas masalah yang tadi ya?" tawar Adis setelah melihat Satrio selesai meneguk minumannya.
Satrio tertegun sejenak sebelum kemudian mengangguk.
"Tapi kalau kamu nggak nyaman, aku nggak maksa juga...." kata Adis ragu.
"Aku nyaman...aku nyaman...." potong Satrio cepat.
Ini hal yang nggak boleh dia lewatkan.
Entah apa yang terjadi selama Adis dia tinggal ke mushola tadi.
Tapi Adis mau duluan membahas tentang hubungan mereka, ini baru pertama kali kejadian.
Dan mungkin saja akan jadi satu- satunya moment dan nggak akan terulang lagi.
Maka haram hukumnya bagi Satrio melewatkan saat ini.
Satrio menatap Adis yang nampak bingung ingin memulai pembicaraan mereka.
"Oh ya, tadi ponselmu bunyi." kata Satrio mencoba meredakan ketegangan di wajah Adis.
"Sudah ku lihat. Tadi Reta yang nelpon. Dan dia kirim salam buat Om Rio." kata Adis sambil sedikit menunduk walau ada sedikit senyum di sudut bibirnya.
"Kenapa senyum- senyum gitu?" tanya Satrio sambil tersenyum meledek Adis.
"Siapa yang senyum?" sungut Adis kemudian memasang wajah cemberut.
"Ya udah, aku yang senyum- senyum karena barusan dapat salam dari gadis cantikku. Wa'alaikumussalam Reta..." kata Satrio sambil menatap Adis jenaka.
Adis sedikit terpaku.
Satrio memanggil Reta gadis kecilnya.
Manis sekali terdengar di telinganya.
"Jadi ngobrol nggak nih?" tanya Adis kemudian. Menyudahi ledekan Satrio padanya.
"Ya jadi dong! Aku nunggu ini..." kata Satrio kemudian memasang wajah penuh perhatian sambil menekuk kedua lengannya di atas meja seperti anak TK yang baru pertama kali masuk kelas.
Adis nampak beberapa kali menghela nafas panjang. Seperti sedang mengumpulkan tenaga dalam untuk menyerang Satrio saja.
Satrio tenang menunggu sambil menikmati wajah cantik yang sangat jelas terlihat tegang dan cemas itu.
Satrio tak ingin mengusiknya.
Memilih sabar menunggu Adis kembali mendominasi pembicaraan kali ini.
Setelah beberapa kali mengerjapkan matanya sambil menatap Satrio, Adis akhirnya bersuara.
"Aku kan udah bilang kalau kamu nggak usah menungguku." Adis nampak sekuat tenaga melawan tatapan tenang Satrio padanya.
"Aku nggak bisa." katanya lagi sudah dengan menunduk.
"Kenapa nggak bisa? Kasih alasan yang logis dan realistis saja padaku." tanya Satrio tenang.
Satrio tidak berani meninggikan intonasi suaranya karena takut Adis akan diserang rasa tak nyaman atau bahkan kecemasan.
Bisa nggak jadi kelar urusan perasaan mereka ini.
"Aku kayak gini." kata Adis pelan namun kembali berusaha menatap Satrio.
Tatapan itu malah menimbulkan rasa sedih di hati Satrio.
Adis menatapnya dengan tatapan tak berdaya.
"Kayak gitu gimana?" tanya Satrio lembut.
"Statusku...." kata Adis lirih dengan suara yang setengah gemetar.
Mungkin dia sedang berusaha menahan tangisnya.
"Aku kan udah tahu statusmu. Dan bagiku nggak ada masalah sama sekali. Aku udah pernah bilang kan tempo hari?" kata Satrio kembali mencoba meyakinkan.
"Tapi keluargamu? Mereka pasti ingin menantu yang masih gadis." kata Adis pelan.
Satrio terkekeh tanpa suara.
Adis terlalu overthinking menurutnya.
"Orangtuaku kayaknya nggak pernah ngomong kalau menantunya harus gadis. Yang penting dia seiman, perempuan baik- baik, bisa menghargai suami dan orangtua, sayang sama anaknya. Itu aja seingatku." kata Satrio.
"Aku kan bukan perempuan baik- baik." kata Adis semakin dalam menundukkan wajahnya.
"Karena kamu hamil duluan sama pacarmu?" tanya Satrio to the point.
__ADS_1
Adis mengangguk sambil menyusut airmata yang sudah mulai terbit dan meninggalkan kelopak matanya.
"Emang kamu ngelakuinnya berapa kali?" tanya Satrio lagi.
"Cuma sekali. Sumpah!" kata Adis sambil bergegas mengangkat wajahnya menatap Satrio untuk meyakinkan bahwa ucapannya benar.
"Sama Beni doang kan?" tanya Satrio lagi.
Adis mengangguk- angguk mantap.
"Kalian lakukan karena cinta kan?" tanya Satrio lagi.
Adis kembali mengangguk- angguk walau wajahnya kembali menunduk.
"Dan kalian melakukannya saat kalian masih SMA. Masih di usia labil dan belum maksimal dalam berpikir panjang .Itu masih bisa 'dimaafkan' dibanding yang hamil duluan saat udah dewasa. Saat sudah bisa berpikir panjang soal akibat dari perbuatan mereka. Itu baru bisa disebut murahan dan bahlul." kata Satrio kemudian.
"Tapi bagiku sama saja. Aku nggak bisa menjaga kehormatanku." kata Adis masih berusaha menyalahkan dirinya sendiri.
"Setelah Beni nggak ada, kamu pernah ngelakuin begituan lagi sama orang lain nggak?" tanya Satrio lagi.
"Ya enggaklah! Aku bukan perempuan murahan ya, Mas!" sergah Adis cepat dengan nada emosi.
"Nah itu kamu tahu.....Kamu bukan perempuan murahan. Itu artinya kamu perempuan baik- baik. Bisa jaga diri dan kehormatan. Kesalahan di masa lalu anggap saja pembelajaran. Semua orang punya kesalahan dan dosanya masing- masing, Dis. Yang penting adalah apakah dia menyadari kesalahannya itu lalu mau bertobat dan memperbaikinya atau enggak. Dan kamu masuk yang golongan menyesali dan berusaha memperbaiki. Apalagi yang dicemaskan?" tanya Satrio lembut.
Adis menatap Satrio ragu. Tapi Satrio kemudian tersenyum lembut padanya. Seakan berkata ' ngomong aja'.
"Aku belum bisa lupain Beni." kata Adis penuh sesal.
"Tapi kamu sudah mulai suka kepikiran aku belum?" tanya Satrio kemudian.
Adis mengangguk pelan walau malu.
"Lebih banyakan mana sekarang, antara keinget aku sama keinget Beni?" tanya Satrio lagi.
Untuk mendengar jawaban dari pertanyaan ini Satrio merasakan dadanya berdegup kencang.
"Kamu." kata Adis cepat kemudian menangkup wajahnya.
Satrio tersenyum lebar. Geli dengan kelakuan Adis dan senang mendengar jawaban cepat dari Adis.
Setidaknya Adis nggak perlu berpikir lama untuk memberi jawabannya barusan.
Satrio menganggap itu berarti Adis tak meragukan jawabannya sendiri.
Jawaban yang bukan untuk menyenangkan hati Satrio saja.
"Beneran banyakan mikirin aku daripada Beni?"" tanya Satrio dengan wajah meledek menatap Adis.
"Ya udah aku ganti aja jawabannya!" sungut Adis cepat.
"Eiittsss.....nggak ada ganti- ganti jawaban lagi! Jawaban pertama udah terkunci ya...." sergah Satrio sambil tertawa- tawa.
"Nyebelin!" sungut Adis.
"Dih! Narsisnya nggak ketolong deh kayaknya." kata Adis sambil melirik sebal.
"So...?" kata Satrio kemudian dengan wajah serius.
"Apa?" tanya Adis sambil tersenyum malu.
"Mau kan jadi pacarku?" tanya Satrio sambil tersenyum-senyum bahagia.
"Nggak usah pacaran." kata Adis mengejutkan Satrio.
Hati yang baru saja berbunga- bunga dan udara yang terasa harum semerbak di dunia Satrio, tiba- tiba terasa pengap dan menyesakkan.
Wajahnya bahkan langsung terlihat pias.
"Aku nggak mau pacaran. Kapok." kata Adis kemudian.
"Maksudnya?" tanya Satrio nggak ngerti.
"Aku kapok berbuat salah seperti sama Beni. Aku kapok takut di lukai kayak sama Panji." kata Adis menjelaskan ketakutannya.
"Lagian..." Adis tak meneruskan kalimatnya.
Dia tiba- tiba merasa malu.
"Lagian apa?" tanya Satrio kemudian.
"Nggak papa." kata Adis berusaha meredam hasratnya jujur dengan tersenyum.
Sayangnya senyum itu sangat terlihat dipaksakan.
"Lagian apa?" ulang Satrio lagi.
Dia ingin semua masalah cintanya jelas sampai ke akar- akarnya malam ini juga.
"Adisty...." panggil Satrio lembut namun terasa sangat mengintimidasi bagi Adis.
"Belum tentu orangtuamu setuju." kata Adis akhirnya sambil menatap Satrio. Berharap ada perubahan di raut wajah lelaki itu. Raut wajah yang mungkin akan terkejut atau menegang.
Namun wajah Satrio tetap tak beriak. Tetap santai kemudian terlihat mengulik ponselnya.
Adis merasa Satrio mengabaikan ucapannya barusan.
Pantesan nggak bereaksi. Ternyata nggak merhatiin.
" Hallo Ma...." sapaan Satrio yang sedang menatap ponselnya membuat Adis terperanjat.
Satrio VC sama siapa? Mamanya?
Satrio nampak tersenyum- senyum sambil menatap Adis sekilas.
__ADS_1
"Hei Mas....tumben nelpon duluan. Biasanya Mama yang nelpon duluan." terdengar suara Ibu- ibu dari ponsel Satrio yang sengaja di loud speaker.
Adis sampai mendelik- mendelik pada Satrio khawatir suara loud speakernya menarik perhatian pengunjung lain.
Untungnya setelah Adis menoleh ke kiri dan ke kanan nggak ada yang terlihat memperhatikan ke tempat mereka duduk.
"Ada Papa nggak, Ma?" tanya Satrio lagi.
"Ada tuh. Mau ngomong sama Papa?" tanya Bu Katarina.
"Mau ngomong sama Mama dan Papa sih." kata Satrio dengan wajah kalem dan santuyyy, padahal hatinya kayak sedang lompat- lompatan di trampoline.
Lalu terdengar suara Bu Katarina memanggil suaminya.
"Nih Papamu. Ada mau ngomong apa? Bikin penasaran aja." tanya Bu Katarina dengan wajah sudah kepo maksimal. Sedang Pak Susilo nampak santai sesekali menatap layar sambil sibuk memotong apel di tangannya.
"Apel dan pisaunya diletakin dulu,Pa. Ini masalah penting. Aku takut kalau Papa dengerin aku ngomong sambil megangin pisau, nanti tragedi di kisah nabi Yusuf yang ada orang kena pisau terulang kembali." kata Satrio masih dengan wajah dan suara tenang.
"Lebay!" terdengar suara Pak Susilo namun terlihat kemudian meletakkan pisaunya kemudian menggigit potongan apelnya.
"Ada apa? Mau minta ijin narik uang lagi? Saldomu kan masih banyak di rekeningmu. Kurang? Mau buka usaha apa lagi?" tanya Pak Susilo beruntun.
Satrio mendengus pelan.
"Nggak. Bukan masalah itu." jawab Satrio cepat.
"Lalu masalah apa? Perasaan masalah hidupmu hanya berkaitan sama persoalan uang." sahut Pak Susilo sambil terkekeh.
"Ini soal masa depanku." jawab Satrio cepat.
"Masa depan apa sih,Mas?" tanya Bu Katarina nggak sabar.
Satrio berdehem sebelum dengan suara mantap mulai berbicara pada orang tuanya.
"Aku jatuh cinta sama janda anak satu. Suaminya meninggal. Anaknya cewek yang tempo hari kita VC itu. Papa dan Mama keberatan nggak jadiin dia mantu?" tanya Satrio to the point
Bukan hanya Adis yang shock mendengar ucapan Satrio. Kedua orangtuanya nampak langsung tertegun tanpa bisa mengucap satu katapun saat itu.
"Hallo...." sapa Satrio sambil melambai- lambaikan tangannya di depan kamera ponselnya karena kedua orangtuanya hanya terpaku dan berkedip- kedip saja.
"Jangan becanda, Mas..." kata Bu Katarina dengan suara khawatir.
Satrio melihat papanya menghela nafas seperti baru tersadar dari mimpi saja.
"Aku serius Ma, Pa. Namanya Adisty...."
"Ooooh Adisty itu....!" seru Bu Katarina langsung heboh.
Membuat dada Adis berdebar kencang.
Pasti sebentar lagi akan di dengarnya hujatan dari mamanya Satrio.
"Iya...Adisty yang sempat VC sama Mama." jawab Satrio sambil tersenyum- senyum.
"Dia masih semuda itu udah ditinggal suaminya. Anaknya juga udah gede. Memangnya umur berapa dia?" tanya Bu Katarina dengan antusias.
Satrio menatap Adis bertanya.
Adis mengacungkan dua jarinya, kemudian empat jarinya.
"Dua empat. Mau dua lima." jawab Satrio.
Hening sesaat.
"Dia dulu nikah muda?" tanya Papanya yang sepertinya cepat berhitung soal umur Adis dan perkiraan umur Reta.
"Iya. Kelas tiga SMA akhir dia nikah sama pacarnya." jawab Satrio yang penjelasannya langsung bisa dimengerti oleh orangtuanya.
Dengan cepat orangtua Satrio mengerti kalau Adis hamil duluan.
"Kamu yakin bisa nerima kondisi Adis dan menerima anaknya seperti anakmu sendiri? Nggak gampang Sat ada diposisimu. Kamu harus bersaing dengan almarhum. Bukan hanya dengan kenangan Adis pada almarhum, tapi juga anaknya. Kamu yakin bisa lebih baik dari almarhum dalam menyayangi, memperlakukan dan menerima mereka berdua?" tanya Pak Susilo setelah sejenak hening.
"Yakin Pa!" jawab Satrio mantap.
Ditatapnya Adis yang sudah berlinang airmata bahkan sudah sesengukan.
Adis sangat terharu pada langkah nyata Satrio dalam meyakinkannya.
Dia terharu karena ternyata tak ada sedikitpun kata menyudutkan dari orangtua Satrio terhadap kondisinya.
Bahkan papa Satrio malah mengkhawatirkan kalau- kalau Satrio kelak tak bisa memperlakukannya dan Reta dengan baik.
Orangtua Satrio tak mempermasalahkan statusnya. Malah 'menuntut' anaknya sendiri agar bisa berlaku baik padanya.
Rasanya Adis ingin bersimpuh di kedua kaki orangtua Satrio saat ini.
"Kamu udah tahu kekurangan Adisty dan mau menerima. That' s good. Tapi dia sudah tahu kekuranganmu belum?" tanya Pak Susilo membuat Adis kembali menajamkan telinga.
"Keburukan apa?" tanya Satrio dengan wajah pilon.
"Biar imbang dan Adis nggak memandang kamu begitu sempurna, kamu juga harus ngaku kalau kamu dulu suka tidur sama cewek- cewekmu!" seru Pak Susilo sambil menyeringai.
"Pa!" seruan Satrio dan Bu Katarina terdengar berbarengan. Terdengar Pak Susilo hanya terkekeh.
Satrio nggak percaya kalau Papanya tahu juga soal kelakuan badungnya yang itu.
Adis melongo menatap Satrio. Dia hanya mengedip- ngedipkan matanya saking bingungnya harus bereaksi seperti apa saat mendengar seruan Pak Susilo.
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...
Ini dah panjang yaaaa....udah 1940 kata 😀
Well....udah lumayan seru belum nih? 🙈
__ADS_1