
"Baaaaang!"
"Saaaaat!"
Satrio berdecak kesal dengan kelakuan Widuri dan Lukas.
Kelakuan Lukas tepatnya.
Orang itu pasti selalu ikut memanggilnya tiap kali Widuri memanggilnya.
Dan jadilah nama awkward itu.
Menyebalkan.
"Bisa nggak sih kalian nggak teriak- teriak?!" bentak Satrio kesal saat Widuri dan Lukas sudah berada di kiri dan kanannya. Ikut bersamanya meninggalkan kantor menuju parkiran untuk pulang.
Lukas hanya terkikik karena tahu pasti penyebab Satrio sewot. Apalagi kalau bukan karena panggilannya, xi...xi...xi....
"Wid, kamu bisa nggak manggilnya aku nggak usah BANG?" tanya Satrio dengan wajah sewot.
"Enggak." jawab Widuri santai.
"Kamu manggil Lukas, MAS. Kenapa nggak manggil aku MAS aja?" protes Satrio.
"Nggak sreg dihatiku, Baaaaang." kata Widuri merengek. Menyebalkan Satrio sekali.
"Bikin namaku yang gagah berani jadi kayak sampah, tahu nggak sih?" omel Satrio.
"Aku kan nggak pernah manggil namamu, Bang." beladiri Widuri.
"Tapi ku nyuk satu itu yang bikin namaku jadi jelek." sahut Satrio sambil menuding Lukas yang sedang memasang helm dan pura- pura tak mendengar, bahkan kemudian berlalu meninggalkan parkiran.
Dasar teman nggak ada akhlak.
"Lagian aku punya nama kesayangan buat kamu." kata Widuri dengan mata mengerjap.
"Apa?" tanya Satrio spontan.
"Bang Rio. Kan keren tuh. Udah tinggi, manly, nggak ganjen, motornya sport putih, namanya Rio. Kereeeen! " jawab Widuri sambil tersenyum manis.
"Nama siapa tuh?" tanya Satrio sambil nyengir malu dengan pujian yang mengalir lancar dari mulut manisnya Widuri.
Rasanya aneh mendengar nama itu, tapi terasa tak asing dihatinya.
"Itu kan namamu juga. Tiga huruf belakang namamu." kata Widuri menjelaskan.
"Hmmmm...."
"Boleh ya aku manggilnya Bang Rio?" pinta Widuri dengan tatapan berharap.
"Terserah!" jawab Satrio kemudian mulai menyalakan mesin motor sport putihnya.
"Oke deeeh. Bye, Bang Rio." kata Widuri sambil melambaikan tangannya kemudian bergegas menuju motornya sendiri.
Satrio sendiri kemudian melajukan motornya pelan untuk meninggalkan perusahaan dan menikmati sore yang mendung di perjalanan menuju rumahnya.
Cuaca yang redup seperti ini sangat nyaman bagi Satrio .
Melajukan motornya dengan kecepatan standard cenderung santai, tak lebih dari 50 km/ jam. Menyenangkan.
Bibir Satrio tak berhenti tersenyum di balik helm full face nya.
Merasa nyaman dan senang bisa menikmati suasana sore seperti ini walaupun sendiri
Yeah, tiga bulan di Jogja dan dia belum laku juga.
Gimana mau cari pacar, dia nggak pernah tebar pesona di area yang banyak cewek cantik dan modisnya sebangsa di mall atau minimal di cafe.
__ADS_1
Tiga bulan ini dia baru ke mall dua kali, bareng dengan Widuri dan Lukas.
Kunjungan pertama ke mall bener- bener cuma muterin mall doang sambil cekikak- cekikik nggak jelas, kemudian ngobrol ngalor ngidul di depan mall ditemani sebotol minuman kemasan dan jajanan yang dibeli di pedagang kaki lima di dekat mall.
Se absurd itu kelakuan mereka menikmati acara hang out dan Satrio sangat bisa menikmatinya.
Dan kunjungan ke mall yang kedua, setelah nongkrong ngeliatin orang- orang lalu lalang di dalam mall, ketiganya akhirnya cuma beli masing- masing satu potong celana harga tiga ratus ribuan yang lagi diskon hingga harganya jadi hampir dua ratus ribu saja.
Satrio ikut beli celana itupun karena Lukas dan Widuri yang maksa karena mereka berdua juga beli sepotong- sepotong.
Nah sampai di kasir -dan yang maju bayar Satrio- ternyata masih dapat diskon lagi karena belinya tiga. Sepotong celana jatuhnya jadi seratus limapuluh ribu per potong.
Satrio terkekeh sendiri saat ingat gimana senangnya Widuri saat itu karena dapat double diskon.
"Besok- besok lagi kalau nge mall kita harus bertiga lagi. Siapa tahu pas ada diskonan kayak gini buat sepatu." kata Widuri saat mereka sedang mampir jajan di warung bubur milik seorang artis yang kondang dengan dua wajahnya.
Di warung itu Satrio dengan hati yang meringis- antara rasa heran, terharu dan tersentuh- terpaksa menerima uluran uang ganti pembayaran celana milik Widuri dan Lukas waktu di mall tadi.
Awalnya Satrio sama sekali nggak ada kepikiran bakal diganti oleh keduanya. Dia sudah biasa bayarin belanjaan dan jajanan teman- temannya dari dulu.
Tapi Widuri dan Lukas memaksanya.
"Kita nyari uang bareng- bareng. Tahulah range gaji satu dan lainnya. Kalau kamu mau nraktir karena habis gajian, nraktir makan ini aja, Bang. Sayang kamu buang uang tiga ratus ribu buat bayarin celana kami. Mending kamu kasih ke ibumu.Pasti beliau seneng banget." kata Widuri yang membuat Satrio tertegun.
Memberi uang mamanya? Sumpah, nggak pernah terbersit dalam agenda hidupnya. Secara orangtuanya tajir melintir. Apalagi hanya uang dalam hitungan ratusan ribu.....bisa- bisa mamanya ngakak.
"Bukan jumlahnya, Bang, tapi niat tulusnya yang bikin ibu kita senang kalau kita kasih uang atau sesuatu dari hasil kerja kita. Itu tanda kita nggak lupa berterima kasih pada beliau walaupun beliau nggak minta." kata Widuri, membuat Satrio tertegun.
"Dari mukanya keliatan nih, nggak pernah ngasih uang ibumu ya?" tembak Lukas sambil mengacungkan sendoknya ke depan muka Satrio yang meringis malu.
"Hah? Beneran? Kamu nggak pernah ngasih ibumu, Bang?" tanya Widuri dengan tatapan prihatin.
"Orangtuaku nggak bakalan mau kalau aku kasih uang. Uang mereka banyak." sergah Satrio sebelum di bully dua ekor sahabatnya ini.
"Ya kreatif dikit kek, di beliin baju atau dikumpulin dulu trus nanti kalau udah cukup bisa kamu beliin cincin kek buat ibumu. Dijamin nggak bakalan nolak perempuan tuh kalau dikasih perhiasan." kata Widuri menggurui yang didukung Lukas dengan anggukannya berkali- kali.
"Iya. Besok aku beliin ibuku cincin. Aku kasih kalau aku mudik. Biar dia bahagia dan bangga punya anak Satrio." kata Satrio kemudian yang mendapat senyuman lega dari keduanya.
.
Ternyata dalam kesederhanaan dan keapa- adaan pertemanan mereka, dia malah menemukan ketenangan dan kelegaan seperti ini.
Gaya bergaul dengan mereka amat jauh berbeda dengan gaya bergaulnya selama ini.
Dulu yang ada teman- temannya berlomba- lomba minta ditraktir apa aja padanya.
Nggak ada yang pernah ngajak patungan beli makanan atau gantian bayarin saat nongkrong di cafe padahal jelas teman- temannya secara ekonomi pasti di atas kondisinya Widuri dan Lukas.
Sedangkan kalau bersama Lukas dan Widuri, bahkan teman- teman kerjanya yang lain, mereka saling gantian mentraktir kalau dapat rejeki nomplok, atau rame- rame patungan hanya untuk bikin seblak atau lotis dan nantinya dimakan rame- rame.
Sesederhana itu menggambarkan SALING GANTIAN atau dalam bahasa Jawa istilahnya genti genten. Bukannya hanya saling mencari keuntungan pribadi dan saling mengakali.
"STOOOPPPP !!!!" teriakan seorang cewek yang menghadang laju motornya yang sudah memelan - karena sudah masuk area kompleks- membuat lamunan panjang Satrio porak poranda.
Dia kini sudah berhenti di depan seorang cewek yang nampak panik sambil menunjuk- nunjuk ke arah selokan air di sisi jalan.
"Tolong, Mas....Tolong...." kata cewek itu dengan gugup.
Walau belum mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi, Satrio bergegas turun dari motor dan segera berlari ke sisi selokan.
Cewek itu sudah berdiri di sampingnya dengan nafas yang terdengar memburu.
"Ada apa?" tanya Satrio bingung karena nggak melihat apapun di sana.
"Tristan tadi kecemplung disitu dan hanyut." kata cewek itu dengan panik.
"Tristan? Siapa?" tanya Satrio bingung.
__ADS_1
Adiknya? Ponakan?
"Kucingkuuuu! Dia ada di bawah beton itu. Tolong, Mas....nanti dia keburu mati." kata cewek itu dengan wajah yang sangat cemas bahkan terlihat hampir menangis.
Satrio bergegas menyerahkan tas ranselnya pada cewek itu, lalu melepas sepatunya, menggulung celananya lalu masuk ke parit yang barusan terisi aliran air hujan yang baru saja turun.
Dengan membungkukkan tubuhnya, Satrio mencoba mencari posisi kucing yang di maksud.
Ternyata benar, kucing itu ada dibawah lempengan beton yang menutupi sebagian atas parit.
Kucing itu nampak kebingungan berdiri diatas balok kayu yang tersangkut di tumpukan sampah.
"Kamu coba hadang di seberang beton." perintah Satrio pada gadis itu.
Yang langsung dituruti gadis itu walau dengan tangan yang masih memegang ranselnya.
"Tasku di taruh di motor aja. Tolong." kata Satrio lagi. Yang kemudian segera dilaksanakan gadis itu.
"Aku coba raih baloknya. Syukur kalau kucingnya nggak lompat. Nanti kalau lompat dari balok dia akan hanyut ke situ. Kamu siap- siap nangkap ya!" seru Satrio melawan suara hujan yang mulai mengguyur dengan cukup lebat.
"Iya!" seru gadis itu sambil ikut turun ke parit dengan hati- hati.
"Aku mulai ya?!" seru Satrio.
"Iya!" jawab cewek itu dari sebrang beton.
Dengan bantuan ranting lumayan besar, Satrio mencoba menggeser balok tempat kucing itu berdiri walau dengan agak susah karena harus melawan arus air dan tumpukan sampah yang mengepung balok itu.
"Jangan gerak. Disitu aja kamu. Aku tolongin ya." kata Satrio pada kucing itu yang seperti mengerti dengan apa yang diomongin Satrio.
Kucing itu nampak berusaha tetap bertahan duduk tenang di atas balok yang mulai bergerak keluar dari bawah beton penutup selokan air.
"Sedikit lagi, boy...." kata Satrio dengan wajah riang.
Kurang sedikit lagi Satrio bisa meraih kucing itu dengan tangannya saat sebuah kain yang hanyut membelit bagian bawah kaki Satrio dan membuat cowok itu kaget dan spontan melepaskan kayu yang tadi menahan balok si kucing.
Satrio bahkan langsung melonjak naik keluar dari parit karena mengira ular tengah membelit kakinya.
"Alhamdulillah.....!!!" teriakan riang dari cewek yang masih ada di dalam parit mengagetkan Satrio yang masih deg- degan.
"Astaga! Kucingnya....." gumam Satrio linglung saat melihat cewek itu agak kesusahan naik ke atas parit.
Baju gadis itu basah kuyup. Ya tentu saja. Hujan sederas ini.
"Terimakasih, Mas " kata cewek itu di tengah suara hujan.
Satrio baru bisa melihat wajah gadis itu dengan benar.
Cantik namun terlihat agak galak. Tapi sangat mempesona.
Bibirnya yang terbelah sempurna dan basah karena tetesan air hujan yang menerpa wajahnya, sangat simetris dengan hidung mungilnya.
Dan mata itu......Satrio pernah melihat mata di bawah alis serupa lengkungan sayap camar itu, tapi dimana?
"Ya. " jawab Satrio pelan saat gadis itu sudah menjauh darinya dengan langkah tergesa.
Kucing itu di lindunginya di dalam jilbab instant nya.
Dan Satrio masih terpaku saat mengingat nama kucing itu. Tristan.
Dan cewek itu tadi bilang Tristan adalah kucingnya.
Berarti cewek tadi adalah......
Ya, emak kucing Tristan yang memarahinya tempo hari di taman.
Satrio tersenyum di bawah guyuran hujan.
__ADS_1
Ternyata wajah di balik masker tempo hari secantik itu.
...🧚🧚🧚 be r s a m b u n g 🧚🧚🧚...