
"Makasih,Bang. " kata Widuri pelan setelah Satrio berhenti di tempat yang Widuri tunjuk.
"Pulang jam berapa?" tanya Satrio kemudian.
"Jam sembilan." jawab Widuri tanpa semangat, membuat Satrio keheranan dengan perubahan sikap Widuri yang mendadak itu.
"Kenapa lu, manyun gitu? Grogi?" tanya Satrio meledek.
Widuri hanya mengangguk pelan.
"Semangat! Bawa nama baik perguruanmu lho." kata Satrio menyemangati.
"Udah masuk sana! Nanti aku jemput disini. Semangat!" kata Satrio lagi.
"Nggak usah dijemput, Bang. Nggak usah repot- repot. Nanti aku naik ojol aja." tolak Widuri masih dengan tak semangat.
Bahkan Satrio melihat gadis itu tengah berusaha menahan tangisnya, tapi Satrio memilih pura- pura tak tahu saja, daripada semakin menambah ambyar mood cewek tomboy itu
Bisa bahaya untuk tandingnya nanti.
"Ntar kalau aplikasinya masih error lagi yang ada kamu juga nelpon aku lagi minta dijemput. Sama aja." kata Satrio galak.
"Ya udah. Nanti aku tunggu di jemput kamu aja. Makasih ya, Bang." kata Widuri masih tanpa semangat walau berusaha tertawa malu.
"Iya. Aku pulang dulu, mau mandi." kata Satrio sambil terkikik.
"Kamu belum mandi?!" seru Widuri.
"Belumlah! Baru mau mandi kamu telpon tadi." kata Satrio cepat.
"Wid, ayo buruan masuk! " panggilan seorang pria dari arah pintu masuk membuyarkan obrolan mereka.
"Aku masuk dulu ya, Bang. Ati- ati pulangnya." kata Widuri sambil bergegas berlari kecil meninggalkan Satrio yang juga kemudian melajukan motornya kembali ke rumah.
...🧚🧚🧚🧚🧚...
"Pujaan hatiku kenapa, Sat? Sedih sekali wajahnya dari tadi pagi." tanya Lukas pada Satrio saat mereka sedang menikmati nasi Padang berlauk telur dadar di gazebo depan kantor mereka.
"Dari semalam tepatnya." jawab Satrio santai.
"Kok kamu tahu dia sedih dari semalem? Dia semalem curhat sama kamu?" tanya Lukas dengan atensi penuh.
"Nggak." jawab Satrio singkat kemudian kembali menyuap nasinya.
"Trus, kamu tahu darimana kalau dia sedih dari semalem?" tanya Lukas penasaran.
"Semalem kan dia sama aku."
"Uhuk....! Uhuk.....!" nasi yang hampir tertelan kini berhamburan keluar dari mulut dan hidung Lukas saat mendengar jawaban Satrio.
Matanya berkaca- kaca karena rasa panas dihidung akibat nasi Padang yang salah jalur.
"Biasa aja kali! Sampai segitunya kagetnya." kata Satrio sambil terkekeh tak perduli pada derita Lukas.
"Kalian kencan?" tanya Lukas setelah menelan beberapa tegukan es teh manisnya.
"Nggak lah!" jawab Satrio santai.
Lukas nampak menghembuskan nafas lega.
"Kenapa kayak yang lega gitu? Kayak yang bakal ngawinin aja lu." olok Satrio.
"Ya setidaknya aku nggak harus menahan pedih didada kalau dia nggak pacaran di depan mataku. Kalau kalian jadian kan mata dan hatiku sengsara dan merana barengan." kata Lukas sambil cengengesan.
"Move on makanya....."
"Lagi dalam usaha ini!" sahut Lukas cepat.
"Jangan- jangan kamu ya yang bikin dia sedih?" tanya Lukas nuduh.
"Mana ada kayak gitu? Aku nggak ngapa- ngapain dia juga." sangkal Satrio cepat dengan wajah nggak terima jadi tersangka atas sedihnya Widuri.
__ADS_1
"Emangnya semalam kalian ngapain sih?" tanya Lukas penasaran.
"Dia ada tanding di UNY tapi ban motornya bocor di depan kompleksku...dia nelpon mau nitip. motor karena nggak keburu kalau harus nungguin ban motornya beres."
"Trus minta anter kamu ke pertandingan?" tebak Lukas.
"Nggak. Dia pesen ojol tapi nggak dapat-dapat, jadi aku menawarkan diri buat nganter dia. Pas naik, dia masih OK moodnya. Tapi begitu sampai tujuan, turun dari motor, udah jelek gitu wajahnya. Perasaan sepanjang jalan aku nggak ngapa- ngapain dia deh."
"Modus ya kamu?" tebak Lukas dengan tatapan curiga.
"Enggak! Aku nggak bisa naksir cewek tomboy." kata Satrio akhirnya.
"Kenapa?" tanya Lukas penasaran.
"Emakku juga tomboy. Aku ngerasa kayak naksir emakku." jawab Satrio sambil nyengir yang disambut tawa berderainya Lukas.
"Kamu sukanya cewek- cewek yang manja ya?" tanya Lukas. Sudah mengganti tema obrolan.
"Nggak juga. Aku suka cewek yang mandiri, sporty, tapi tetap keliatan sisi feminimnya." beber Satrio.
"Udah nemu?" tanya Lukas penasaran.
Satrio hanya mengedikkan bahunya dan melempar pandangannya ke sepasang angsa yang sedang berteduh di bawah pohon mangga yang sedang mulai berbuah di seberang gazebo, di taman yang ada di depan kantor mereka.
"Noni- Noni atau ukhti- ukhti?" tanya Lukas lagi, saat ditunggunya suara dari Satrio tapi cowok itu malah nampak sedang termenung.
"Ukhti- ukhti....maybe...." jawab Satrio ragu.
"Udah nemu nih berarti?" tembak Lukas.
"Belum juga sih..." jawab Satrio sambil terkekeh.
"Kok bisa jawab ukhti- ukhti tadi?" tanya Lukas dengan nada curiga.
"Ya nggak gitu juga maksudku. Kalau noni- noni kan identik sama yang berbau girly and branded and make - up, baju kurang bahan dan sejenisnya. Tapi yang aku pengen tuh yang tetap keliatan sisi ceweknya, tapi nggak girly banget gitu lho. Kelihatan sporty tapi manis dan nggak sok imut." kata Satrio dengan tatapan menerawang.
Di dalam khayalannya di depan sana nampak jelas sosok bersepatu sneaker tosca, tunik selutut dan celana yang dilipat kecil di bagian bawahnya hingga kaos kaki warna cream sedikit terlihat, juga ujung jilbab yang melambai lembut menimpali langkah kaki lebar dan mantapnya meninggalkan dirinya yang ternyata terpana.
Siapa dia? Emak**nya Tristan.
...🧚🧚🧚🧚🧚...
Tak ada orang lain selain dirinya saat ini. Hingga ia merasa agak leluasa membaringkan tubuh langsingnya.
Wajahnya sengaja dia hadapkan ke tembok agar tak ada yang tahu kalau airmatanya nanti menetes lagi.
Mungkin seperti ini yang namanya patah hati. Ternyata memang benar- benar sakit dan mampu meluluhlantakkan mood.
Widuri meringis sedih dan malu.
Dia bahkan patah hati sebelum merajut cinta.
Ya, karena selama ini cintanya sepihak.
Dia yang mencintai cowok itu tanpa berani menunjukkan apalagi menyatakan.
Cinta pertamanya di saat dia kelas dua SMP.
Awalnya dia hanya tahu nama cowok sepantaran kelasnya itu.
Lalu dia tahu kalau dia tinggal tak jauh dari rumahnya karena cowok itu kadang membeli nasi kuning yang dijual tiap pagi oleh ibunya, bahkan sampai sekarang walau tak sesering jaman mereka sekolah dulu.
Tapi hanya sebatas itu.
Ngobrol? Sampai detik ini nggak pernah.
Paling banter cowok itu hanya sekilas menatapnya, lalu akan tersenyum tipis bila Widuri senyum dulu padanya.
Satu- satunya percakapan terpanjang ya jaman SMP itu, saat cowok itu menemukannya menangis terisak- isak di sudut luar gudang sekolah.
"Kamu kenapa?" tanya cowok itu sambil tetap berdiri menjulang didepannya yang tengah bersandar pada tembok dan tengah sibuk menghapus airmata yang berderai tak kunjung mau berhenti.
__ADS_1
Widuri menatap cowok itu dengan pandangan teramat sedih.
"Ada yang nakalin kamu? Tapi kayaknya nggak ada anak nakal yang nakalnya kelewatan di sekolah ini." gumam cowok itu lagi.
"Perlu bantuan nggak? Kalau cuma mau nangis doang, aku pergi." kata cowok itu kembali menatap Widuri yang terlihat nampak ragu- ragu ingin mengatakan sesuatu.
Dia khawatir reaksi cowok itu kayak teman- temannya di kelas tadi yang malah menyalahkannya karena nggak menyimpan dengan baik uangnya bahkan ada yang mengabaikan kepanikannya karena uang untuk membayar SPP tiga bulannya yang telah menunggak raib dari dalam tasnya..
Widuri jelas panik karena dia nggak mungkin berani bilang pada ibunya kalau uangnya hilang.
Dia nggak tega kalau harus melihat wajah sedih ibunya.
Apalagi Widuri tahu uang itu hasil pinjaman dari kas perkumpulan RT yang memang dipinjamkan pada anggota perkumpulan.
Itu uang hasil ibunya berhutang.
"Kalau aku bisa bantu, insyaa Allah aku bantu." kata cowok itu masih sabar menunggunya bicara.
"Uangku untuk bayar SPP tiga bulan hilang. Aku nggak mungkin bilang sama ibuku kalau hilang." kata Widuri kembali menangis walau kemudian dengan cepat menghapus airmatanya.
"Kenapa nggak mau bilang ibumu?" tanya cowok itu tenang.
"Ibuku pasti sedih. Uang itu susah payah ibuku nyarinya." kata Widuri sambil menunduk dalam kemudian kembali terisak.
Cowok itu diam tak bereaksi.
"Sebentar. Kamu tunggu disini. Jangan pergi." kata cowok itu kemudian bergegas menjauh.
"Tunggu disitu sebentar!" seru cowok itu - karena Widuri menatapnya bingung- kemudian berlari menuju ke kelas.
Widuri bingung dengan kelakuan cowok itu.
Dia mau ngapain nyuruh aku nunggu disini?
Tak lama cowok itu sudah terlihat kembali berlari ke arahnya.
"Ini. Pakai saja. Jangan sampai bikin ibumu sedih." kata cowok itu sambil mengulurkan sejumlah uang pada Widuri yang malah terpaku menatap cowok itu.
"Buruan ambil. Kita udah mau masuk ini." kata cowok itu masih tetap mengulurkan uangnya.
"Tapi aku telat bayar SPP tiga bulan." kata Widuri pelan.
"Aku tahu. Tadi kamu sudah bilang. Ini cukup untuk bayar SPP tiga bulan." kata cowok itu.
"Tapi aku bakal lama ngembaliinnya....." kata Widuri lagi dengan tatapan cemas.
Sungguh, dia sangat lega saat cowok itu mengulurkan bantuannya.
Setidaknya ibunya nggak harus tahu kesialannya hari ini.
Setidaknya dia tidak membuat ibunya sedih.
"Nggak usah dikembaliin. Yang penting besok lagi kamu harus lebih hati- hati kalau nyimpen apapun. Apalagi pemberian ibumu." kata cowok itu tenang.
Widuri menatap tak percaya pada cowok bermata tenang namun sangat tajam itu.
"Ambil! Aku harus balik ke kelas." kata cowok itu dengan kembali mengulurkan uangnya.
"Terimakasih banyak." kata Widuri kembali menangis dengan tangannya yang terulur menerima pemberian itu.
Cowok itu mengangguk kecil, kemudian berbalik untuk meninggalkannya.
"Aku akan berusaha balikin uang ini." seru Widuri dengan tersenyum.
"Nggak usah. Bayar dengan kehati- hatian dan sayang kamu pada ibumu." kata cowok itu kemudian bergegas meninggalkannya dengan setengah berlari.
Dan sejak hari itu, dunia Widuri hanya berisi nama dan wajah cowok itu.
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...
Gimana....gimana.....sudah mulai geregetan pengen tahu siapa itu? 😅
__ADS_1
Sebelum ku kasih tahu, tinggalin dulu jempol , komen, dan hadiahnya ya.....🙈
Happy reading.....💖💖💖