
Wira memeluk bahu mamanya kemudian ikut duduk di sebelah mamanya yang sedang asik menonton acara penjelajahan tempat angker.
"Kamu udah dirumah? Kirain belum pulang dari siang tadi." kata Bu Katarina sambil menyuapkan potongan apel pada mulut Wira yang mangap minta disuapin.
"Udah dari sebelum magrib tadi. Tapi habis sholat magrib ketiduran di atas sajadah, hehehe..." kata Wira.
Bu Katarina melirik sebel.
Kebiasaan Wira dari dulu seperti itu. Sering ketiduran di atas sajadah selesai sholat.
"Nggak nengok cafe mu? Weekend ini...." tanya Bu Katarina sambil tersenyum meledek.
"Males. Lagian bukan giliranku nengokin cafe. Mending di rumah sama Mama yang lagi jomblo karena cowoknya lagi ke Swiss." kata Wira kemudian kembali mangap. Kali ini jeruk yang masuk ke mulutnya.
"Mama sih sendirian nggak papa.Kamu tuh yang harus sering-sering keluar rumah biar cepet ketemu jodohnya. Harusnya kan weekend gini kamu nongkrong di cafe mu, pasti banyak cewek- cewek pengunjungnya.Siapa tahu kan salah satunya calon mantu Mama." kata Bu Katarina dengan tersenyum.
"Jodoh nggak usah dicari juga kalau udah saatnya ketemu sendiri,Ma. Repot amat." kata Wira kemudian beranjak berbaring di pangkuan mamanya.
"Ya Allah.....umur segini papa kamu udah tiduran di paha istri, Wir. Kamu masih tiduran dipangkuan emak kamu." kata Bu Katarina sambil tertawa gemas pada bungsunya itu.
"Papa nikahnya umur 25 ya, Ma?" tanya Wira.
"Iya.Tapi punya Mas di usia perkawinan kami yang ketiga. Mama nggak langsung hamil." kata Bu Katarina sambil tersenyum.
"Sengaja nggak hamil dulu?" tanya Wira kembali bertanya.
Sebenarnya sudah berkali- kali mamanya bercerita soal pernikahannya, tapi ya hanya sekilas- sekilas saja, sepotong- sepotong.
"Ya enggak juga. Tapi mungkin kami dianggap sudah mampu mengurus anak di umur segitu. Jadi baru di kasih rejeki anak setelah nikah tiga tahun." kata Bu Katarina santai
"Waktu itu nggak ada perasaan yang saling curiga gitu, Ma? Mungkin Papa curiga mama nggak subur, atau Mama curiga kalau Papa yang bermasalah di kesuburannya." tanya Wira.
"Ada masanya saling curiga gitu. Mau periksa juga sama- sama nggak siap mental kalau hasilnya nggak baik. Akhirnya kami sepakat buat nggak periksa aja sampai nanti lima tahun pernikahan. Kalau setelah lima tahun belum hamil juga, baru kami akan cek ke dokter." cerita Bu Katarina.
"Untung belum sampai lima tahun Mama sudah hamil Mas." kata Wira sambil tersenyum senang.
"Alhamdulillah.....Waktu tahu hamil, Mama malah seharian nangis saking nggak percayanya." kata Bu Katarina sambil tersenyum geli.
"Papa gimana tuh reaksinya tahu Mama hamil?" tanya Wira penasaran.
"Mengecewakan ekspresi Papamu tuuuuh. Sakit hati Mama liat ekspresinya. Datar banget. Cuma bilang 'beneran hamil?' Mama aja ngangguk sambil nangis terharu. Eh papamu datar aja sambil bilang alhamdulillah." kata Bu Katarina sambil emosi.
Wira terkekeh.
Dasar Papa. Nyebelin banget.
__ADS_1
"Oh ya, Ma. Aku kemarin liat- liat album photo pas kecil. Ada photo aku sama Mas dan satu cewek lebih kecil dari aku. Aku tanya Mas, dia lupa siapa cewek itu. Mama inget nggak siapa dia?" tanya Wira sambil beranjak duduk.
"Yang mana? Coba Mama liat dulu photonya." kata Bu Katarina.
Wira kemudian bergerak ke kamarnya dan mengambil selembar photo yang sudah dia lepas dari album photo keluarga.
"Cewek ini, Ma. Mama inget nggak dia siapa?" tanya Wira sambil menunjuk satu gadis kecil yang berdiri di antara Wira dan Satrio kecil.
Senyum sedih Bu Katarina langsung terbit sambil mengelus photo itu.
"Mama inget. Dia anak sahabat Mama. Tapi kami nggak tahu sekarang dia dimana. Terjadi tragedi di keluarga besarnya, mengerikan. Namanya Hapsari. Hapsari Tyas Adipati kalau nggak salah. Dia dua tahun lebih muda dari kamu. Ulang tahunnya selisih sehari dari kamu.
Kalau dia masih ada, pasti dia sudah jadi gadis cantik. Dulu Mama malah sempat bercanda mau jodohin salah satu anak Mama sama Hapsari. Sayangnya kita nggak tahu gimana kabarnya sekarang." kata Bu Katarina sedih.
"Keluarga mereka menghilang atau gimana?" tanya Wira penasaran.
Bu Katarina menggeleng sedih.
"Melly, sahabat Mama sekarang ada di RSJ. Suaminya, Bagus Adipati di penjara karena difitnah dan baru dua bulan di penjara, dia meninggal. Hapsari hilang. Mama dulu sudah pernah mencoba berusaha mencari anak itu, ingin Mama rawat sebagai adik kalian berdua. Lagian Mama juga nggak ada anak cewek, pasti seneng kalau bisa mengasuh dia. Tapi dua tahun pencarian, nggak ada hasil. Jadi Mama hentikan pencarian. Yang bisa Mama lakukan sampai sekarang hanya terus merawat Melly, mamanya Hapsari." kata Bu Katarina.
Wira terpaku.
"Mama masih sering nemuin Tante Melly?" tanya Wira.
"Ya nggak mungkinlah kami kayak gitu, Ma. Lagian dari awal Papa juga udah selalu jelas membagi kepemilikan kami." kata Wira sambil tersenyum.
Dalam hati Wira bersyukur. Papanya selalu adil membagi harta padanya dan Satrio.
Semua selalu dibagi dalam jumlah yang sama karena mereka sama- sama lelaki.
Dalam pemberian apapun, Pak Susilo selalu membagi dengan nominal yang sama.
Jadi, walaupun seleranya dan Satrio berbeda, tapi kalau di total, pemberian papanya selalu sama padanya dan pada Satrio.
"Aku kalau ikut Mama nengokin Tante Melly boleh nggak Ma? Penasaran aku secantik apa Tante Melly." kata Wira sambil tersenyum merayu.
"Boleh....boleh....Tante Melly cantik tahuuuu. Semoga anak gadisnya, dimanapun sekarang berada juga cantik dan ada dalam lindungan Tuhan. Mama selalu berdoa semoga anak itu baik- baik saja." kata Bu Katarina sedikit sendu.
Wira tersenyum dalam hati.
"Mama kapan ke tempat Tante Melly?" tanya Wira.
"Besok siang Mama rencana kesana. Kamu mau ikut?" tanya Bu Katarina. Wira mengangguk cepat.
"Mama ada photo Tante Melly nggak? Penasaran aku secantik apa Tante Melly." kata Wira sambil memasang wajah penasaran.
__ADS_1
"Ada..... Sebentar...." kata Bu Katarina sambil kemudian mengulik galeri photo di ponselnya.
Sementara mamanya mengulik galeri ponselnya, Wira mengirim pesan pada Satrio untuk meminta photo Widuri.
Satrio tentu saja menuduh Wira sedang modus karena minta photo Widuri.
Tapi setelah dijelaskan untuk mencari kemiripan dengan orangtuanya, akhirnya Wira mendapatkan satu kiriman photo Widuri di sebuah tempat makan dengan tiga orang cowok yang salah satunya adalah Satrio.
Cantik. Itu yang langsung terlintas di pikiran Wira begitu melihat wajah Widuri yang sedang tersenyum riang ke arah kamera.
"Ini photo Tante Melly pas muda sama Om Bagus, suaminya. Cantik kan?" kata Bu Katarina sambil menunjukkan photo sepasang suami istri muda yang sedang tersenyum ke arah kamera.
Senyum Widuri lebih mirip senyum Papanya.
"Dan ini photo Tante Melly yang sekarang. Masih tetap cantik kan?" kata Bu Katarina setelah beberapa kali menggeser layar ponselnya dan menampakkan seorang wanita seumuran Mamanya dengan memakai seragam rumah sakit menatap datar ke arah kamera.
Senyum Wira mengembang. Wajah Widuri lebih mirip ke mamanya.
"Mama mau ambil minum. Kamu mau minum nggak?" tawar Bu Katarina.
"Mau teh manis anget, Ma." kata Wira sambil tersenyum manis.
Dengan tangkas Wira menyambar ponsel mamanya yang tergeletak di meja, lalu mengirimkan dua photo yang tadi ditunjukkan mamanya tadi ke ponselnya.
Dia berencana akan mengirim photo itu ke Satrio nanti.
Setelah menghilangkan jejak di ponsel mamanya, Wira kembali membaringkan tubuhnya di sofa.
Jalan menuju akhir cerita detektifnya sepertinya akan segera berakhir.
Widuri akan segera bertemu Mamanya.
Senyum bahagia Wira terbit tanpa sadar.
"Ngapain senyum- senyum sendiri gitu?" tanya Bu Katarina sambil meletakkan segelas teh manis permintaan Wira.
"Nggak papa." jawab Wira sambil kembali tersenyum.
Widuri udah punya pacar belum yaβ¦...?
...π§π§π§ b e r s a m b u n g π§π§π§...
Udah kebayar ya utangku.....π
Jangan lupa jempolnya mampir dulu. Juga kembang dan kupinya βΊοΈ
__ADS_1